← Back to list

Tamu Tetanggaku

Tamu siapa, sih? Kenapa selalu dini hari? Pemuda berbaju putih gading itu mengetuk pinu dengan kepalanya. Kenapa?

Sanjunisme · 2023-08-01 12:35 · 10 claps · 3.1 min read
#horror #indonesia #seram #hantu #true-story
Open on Medium ↗

Tamu Tetanggaku

Photo by Alexander Kaufmann on Unsplash

Photo by Alexander Kaufmann on Unsplash

Sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan kesibukan tetanggaku bahkan siapa saja yang berkunjung ke kamar kosnya. Hanya saja, akhir-akhir ini intensitas dan jam kunjung tamunya sangat mengangguku. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia menerima tamu jam sebelas malam bahkan jam satu dini hari juga jam tiga pagi. Maksudku, apapun yang dia lakukan tentu bukan urusanku, tetapi apa perlu tamunya mengetuk pintu sangat keras seolah kedatangannya tidak diharapkan? Kenapa tidak saling berkirim pesan lalu tinggal membuka pintu?

Tempat tinggalku memang indekos umum yang tidak punya jam malam maupun peraturan ketat lainnya seperti indekos mahasiswa (meskipun ada juga mahasiswa yang tinggal di sini), jadi kunjungan larut malam adalah hal biasa, apalagi pekerja-pekerja lembur yang harus menempuh jarak jauh sehingga sampai rumah saat sudah larut, atau keluarga-keluarga kecil yang kembali dari liburan maupun kampung halaman.

Selama dua tahun tinggal di sini, baru kali ini aku dibuat pusing dengan suara gaduh ketukan pintu saat malam. Aku berniat menegur, hanya saja aku tidak tahu kamar mana yang menerima tamu. Kupikir, nanti malam kalau ia menerima tamu lagi, aku akan lihat di kamar mana agar paginya bisa kusampaikan keluhanku.

Bangunan tempatku tinggal cukup tua, berbentuk U bertingkat dua dengan gerbang menghadap utara, cukup terawat dan asri dengan pohon trembesi di tengah-tengah memayungi sebagian besar teras dan lorong kamar.

“Kok tumben udah di rumah sore-sore begini, Bu?” tanyaku pada Bu Ratri tetangga kamarku yang sedang menyapu teras. Pekerjaannya sebagai baby sitter seringkali membuatnya pulang selepas matahari tenggelam menyesuaikan orang tua anak yang dijaganya.

“Iya, Mbak Kinan. Mau ke Jepang katanya, jadi pulang lebih awal.” jelasnya. “Jadi orang kaya tuh enak, ya, Mbak. Itu anaknya minggu lalu nangis minta ketemu Doraemon sampai gak mau makan, lha pikir saya kan tinggal ke Mall, ya, beli mainan atau undang badut, lah, kan ada uang. Ternyata langsung ke tempatnya eh, Mbak.” lanjut Bu Ratri.

“Ya benar to, Bu, ada uang.” sahutku sambil terkekeh. “Iya, ya, ada uang, makanya langsung ke tempat aslinya.” pungkasnya.

“Bu Ratri tau nggak siapa yang terima tamu tiap malam? kadang jam sebelas, kadang jam satu pagi. Berisik gitu, Bu gedor-gedor kayak debt collector?” tanyaku berharap ada penyelesaian dan bisa tidur lebih nyenyak.

“Tamu apa eh, Mbak? Ndak ada kok. Sepi banget sekarang sejak mahasiswa-mahasiswa pada pulang kampung.” jawab Bu Ratri. “Masa sih, Bu? Berisik banget lho. Saya udah capek biasanya pulang kerja apalagi kayak sekarang awal bulan waktunya pembukuan. Pengen marah tapi gak sanggup bangun, hehehe…”

“Nggak ada, Mbak. Apa aku yang terlalu angkles ya? Anakku ya nyenyak banget tidurnya.” Bu Ratri menutup pembicaraan kami sambil terheran-heran dan masuk ke rumah.

Aku mulai meragukan pendengaranku dan mengira itu mimpi. “Masa ngigau sampai tiap hari?” aku kembali masuk kamar kos setelah membuang sampah dan berusaha mengabaikan spekulasi-spekulasi yang muncul. “Apa jangan-jangan…anu ya?”

Hari berlalu dan aku terlalu asik menonton video YouTube hingga pukul 12 malam melupakan besok Jumat harus masuk kantor pagi-pagi sekali. Kumatikan ponselku dan berusaha terlelap secepat mungkin.

“DUK DUK DUK DUK”

“DUK DUK DUK DUK”

“DUK DUK DUK DUK”

Ketukan berulang dengan suara amat keras membangunkanku. “Ah, lagi-lagi.” batinku. Kulihat jam menunjukkan pukul 2 pagi. Aku memaksa badanku terbangun agar bisa menyampaikan keluhan tepat sasaran besok pagi.

Kubuka tirai kamarku, kulihat deretan kamar kos seberang dan tak ada siapa-siapa. Kulihat lantai atas juga tidak ada siapa-siapa. “Ah, lantai atasku?” aku bergumam sembari mengingat siapa saja yang tinggal di lantai atasku. Kunci pintu kubuka, mempertaruhkan rasa malu dan canggung yang akan kurasakan jika kami saling bertatap mata, aku berjalan ke luar.

Udara dingin menusuk, dahan-dahan pohon trembesi bergemersik tertiup angin yang lumayan kencang. Aku berjalan terhuyung mengumpulkan nyawa selepas terbangun tiba-tiba. Lantai atas kamarku tidak mudah dilihat karena tertutup dahan dan cabang pohon trembesi.

Aku melihat siluet kemeja putih gading di sebelah kamar atasku.

Aku menuju dekat gerbang agar bisa melihat lebih jelas.

“Huh? Mabuk kali, ya, ngetuk pintu pake kepala?” Mataku masih buram ditambah cahaya lampu temaram menyimpulkan itu adalah salah satu teman pemuda di lantai atas. Aku tidak terlalu akrab karena dia masih baru dan jarang terlihat. Postur yang kulihat begitu tinggi dan gempal membuatku yakin itu bukan si pemilik kamar, lagipula untuk apa pemilik kamar menggedor kamarnya sendiri?

Kukucek mataku sambil berjalan kembali ke kamar, memikirkan kata-kata yang tepat untuk menegur penghuni kamar atas. Di depan kamar, aku mendengar siulan, kudongakkan kepalaku ke atas, dan yang kulihat adalah…

Pocong.

Tinggi dan gempal, kafan putih kekuningan, wajah hitam dan mata yang entah di mana…

AAAAAAAAAAAAAAAAAAA…….

teriakanku menggema ke seluruh bangunan indekos lalu aku jatuh pingsan.


메타데이터
post_id
99311bf896a9
slug
tamu-tetanggaku-99311bf896a9
url
https://medium.com/@official-sanjunisme/tamu-tetanggaku-99311bf896a9
canonical_url
https://medium.com/@official-sanjunisme/tamu-tetanggaku-99311bf896a9
author_url
https://medium.com/@official-sanjunisme
status
ok
fetched_at
2026-07-25 11:00:36