← Back to list

Bapak

Sudah lima tahun berlalu sejak bapak saya jatuh sakit dan praktis hanya berdiam di rumah menikmati masa tua. Empat setengah tahun ia…

Yeuxdu · 2026-03-11 01:54 · 0 claps · 2.9 min read
#family #dads #fathers #fathers-day #self-reflection
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Bapak

Sudah lima tahun berlalu sejak bapak saya jatuh sakit dan praktis hanya berdiam di rumah menikmati masa tua. Empat setengah tahun ia menjalani hidup selayaknya orang-orang yang pensiun dini; ia tidak lagi bekerja, jalannya bisa dibilang normal meski tidak bisa berjalan cepat-cepat, tubuhnya masih sanggup mengurus dirinya sendiri meski bicaranya kadang kurang jelas. Meski ada beberapa perubahan, sakit bapak saya yang menahun itu tidak mengurangi sedikit pun ketenangan dan kebahagiaan keluarga kami. Hidup kami memang berjalan lebih lambat, tetapi kami masih bisa beraktvitas seperti kebanyakan orang.

Bapak menghabiskan hari-harinya dengan menonton film, mendengarkan lagu-lagu lama, bergurau dengan saya, sesekali bergurau dengan ibu atau adik saya. Empat setengah tahun itu kami jalani dengan suka cita.

Hari-hari berlalu. Adik saya yang dulu masih remaja tanggung sudah lulus SMA, saya yang dulu harusnya fokus menuntaskan skripsi beralih menuntaskan banyak pekerjaan kantor, ibu saya yang dulu setiap pagi harus pergi ke kandang untuk memberi makan ayam kini telah sepenuhnya berdiam di rumah. Begitulah keluarga kecil kami, yang hanya berempat, menjalani hidup selama empat setengah tahun setelah bapak saya diserang stroke.

Kami mengira bahwa hidup kami akan begini selamanya. Ketika kami mulai merasa nyaman dengan hidup kami yang baru, Bapak kembali terserang stroke untuk kali kedua yang lagi-lagi memporak-porandakan ritme hidup kami. Bapak tidak bisa berjalan, kakinya bahkan tidak bisa berselonjor sempurna, beruntung tangannya masih normal sehingga Bapak masih bisa makan dan minum sendiri. Saya akhirnya memutuskan untuk cuti panjang demi membantu Ibu mengurus Bapak.

Saya dan adik saya bergantian menggendong Bapak ke kamar mandi untuk buang air atau mandi sementara ibu bertugas memandikan Bapak. Enam bulan kami hidup dengan kondisi Bapak yang sudah tidak mampu berdiri sendiri. Muncul kesepakatan dan aturan baru selama enam bulan itu untuk mendukung Bapak secara penuh agar ia tidak merasa ditinggalkan.

Pada suatu pagi, Ibu yang menidurkan Bapak selepas sarapan tidak sengaja melihat sebuah tanda pada tubuh Bapak — tanda seseorang yang dekat dengan kematian. Ibu memanggil saya dan adik saya untuk memastikan dirinya tidak salah lihat. Kami berdua segera menghampiri Bapak dan memang benar tanda itu tampak jelas pada wajahnya yang kian hari kian tirus. Sejak hari itu kami menjalani hari dengan perasaan gamang dan cemas.

Dua hari kemudian tubuh Bapak mengalami kelumpuhan total. Kaki dan tangan kanannya yang semula bisa digerakkan juga ikut terasa lemas dan kaku. Bapak tidak lagi bisa makan dan minum sendiri, bahkan minum air satu dua teguk pun suka membuatnya tersedak berkali-kali. Bapak tidak lagi mampu duduk tegak; tubuhnya harus ditopang agar posisinya sempurna. Bapak tidak lagi bisa bergantian tidur telentang dan miring ke kiri secara mandiri.

Ibu, saya, dan adik saya bergantian menjaga bapak selama beberapa hari belakangan. Kami berusaha sekeras yang kami bisa agar tubuh Bapak tidak luka, tidak terkena dekubitus. Kami bekerja keras membuat Bapak merasa nyaman.

“Ayo, Bapak mau sholat. Bapak sudah mau mati.” Kata Bapak pada suatu sore ketika adzan maghrib berkumandang. “Kenapa?” “Biar ndak sakit lagi.” Suara dan kata-kata Bapak tidak begitu jelas tetapi saya merasa ia berusaha sekuat tenaga agar ucapannya terdengar jelas. “Kamu wes capek ta?” Ibu menimpali dengan ringan sembari berdiri di pintu kamar. “Iya.” “Ya wes kalau kamu wes capek, kami ikhlas.” Saya tidak melihat raut wajah Ibu ketika ia menjawab perkataan Bapak. Saya tak tahu apakah mata Ibu berkaca-kaca atau tidak, tapi saya tahu suara Ibu sore itu adalah suara seseorang yang pasrah dan lelah.

Anggukan pelan Bapak sore itu, percakapan itu, seketika memanggil gemuruh di dada saya. Saya tidak mampu berucap sepatah kata pun setelah percakapan itu selesai. Adik saya yang akhirnya mengambil alih tugas saya sore itu untuk membantu Bapak berwudhu.

Sejak tubuh Bapak lumpuh total, kami sering berdiskusi mengenai Bapak. Pada saat bergantian menjaga Bapak di malam hari, kami sering sekali mengamati tubuh Bapak yang sudah kurus dan tidur meringkuk karena kaki kanannya tidak bisa berselonjor, wajahnya yang terlelap, napasnya yang terdengar kasar. Tubuhnya dan hidup Bapak yang telah jauh dari sempurna itu kerap kali membuat kami berujar dalam hati bahwa mungkin akan lebih baik jika Bapak segera berpulang kepada Tuhan yang Maha Esa. Hidup dan sakit yang menyiksa Bapak ini sebaiknya segera diakhiri.

“Bapak sudah sakit begitu lama. Ibu ndak tega melihat bapakmu terbaring tidak berdaya seperti itu.”

Setiap kali menatap Bapak: raut wajahnya yang tidak lagi ceria, sorot matanya yang kosong itu selalu membuat saya memaksa diri untuk tidak menangis.

Beberapa hari belakangan, setiap kali duduk di kursi dan menunggui Bapak, saya selalu bertanya-tanya dalam hati apakah Bapak masih merasa ‘hidup’? Apakah Tuhan memang begitu tega untuk membuat Bapak hidup begini?

Apakah yang sedang disiapkan Tuhan untuk Bapak dan untuk kami?


메타데이터
post_id
9a04e79e57c7
slug
bapak-9a04e79e57c7
url
https://medium.com/@yeuxdu/bapak-9a04e79e57c7
canonical_url
https://medium.com/@yeuxdu/bapak-9a04e79e57c7
author_url
https://medium.com/@yeuxdu
status
ok
fetched_at
2026-06-22 17:31:34