Tentang Namamu yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Jika suatu hari namamu tak lagi muncul di layarku, bukan berarti ia ikut hilang dari hidupku. Ada nama-nama yang memilih tinggal di dalam…
Tentang Namamu yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Jika suatu hari namamu tak lagi muncul di layarku, bukan berarti ia ikut hilang dari hidupku. Ada nama-nama yang memilih tinggal di dalam dada, menjelma rumah yang tak memiliki alamat, tetapi selalu berhasil kutemukan setiap kali rindu pulang.
Kau adalah musim yang datang tanpa aba-aba. Membuat taman dalam hatiku yang lama gersang tiba-tiba dipenuhi bunga, lalu pergi ketika aku baru saja belajar percaya bahwa keindahan bisa menetap selamanya.
Orang-orang mungkin mengira waktu adalah obat bagi segala kehilangan. Padahal bagiku, waktu hanyalah sungai yang terus mengalir, sementara kenangan tentangmu adalah batu yang tetap diam di pasir. Air boleh lewat berkali-kali, tetapi batu itu tidak pernah benar-benar berpindah.
Jika semesta adalah perpustakaan, maka kau adalah halaman yang paling sering kubaca, hingga setiap kalimatmu melekat lebih kuat daripada namaku sendiri. Dan jika takdir adalah langit, mungkin kita hanyalah dua bintang yang sempat terlihat berdekatan, padahal sejak awal telat ditentukan untuk bersinar di arah yang berbeda.
Aku pernah mengira mencintaimu hanya akan memenuhi sebagian kecil hidupku. Nyatanya, rasamu menjelma lautan yang menenggelamkan seluruh keberanianku untuk berpura-pura baik-baik saja. Bahkan ribuan matahari pun terasa tak cukup hangat untuk menggantikan satu senyummu.
Namun jika suatu hari kau menemukan seseorang yang mampu menjadi rumahmu, pergilah tanpa menoleh. Sebab cinta yang tulus tidak pernah meminta untuk dipilih. Ia hanya berharap orang yang dicintainya menemukan bahagia itu tumbuh di pelukan yang bukan miliknya.
Sebab pada akhirnya, kau bukan sekedar seseorang yang pernah singgah. Kau adalah puisi yang ditulis semesta di halaman hidupku. Tak panjang, tetapi cukup indah untuk kubaca berulang kali, bahkan ketika tintanya telah lama mengering.
“Yang fana adalah waktu. Kita abadi.”
- Sapardi Djoko Damono
Untukmu, yang pernah menjadi tempat pulangku. — K.
메타데이터
- post_id
- 9a4e1d0f75a1
- slug
- tentang-namamu-yang-tak-pernah-benar-benar-pergi-9a4e1d0f75a1
- url
- https://medium.com/@felitanathania8/tentang-namamu-yang-tak-pernah-benar-benar-pergi-9a4e1d0f75a1
- canonical_url
- https://medium.com/@felitanathania8/tentang-namamu-yang-tak-pernah-benar-benar-pergi-9a4e1d0f75a1
- author_url
- https://medium.com/@felitanathania8
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-07 23:02:39