← Back to list

Jiwa yang Tenang Tidak Lahir dari Jalan Pintas

Pagi setelah subuh, hari ke-23 Ramadan. Memasuki sepuluh malam terakhir, saya membaca Surah Al-Fajr. Sebagai pembaca biasa saja, bukan…

Usman Djabbar · 2026-03-12 08:21 · 17 claps · 3.7 min read
#ramadan #pendidikan #guru #murid #puasa
Open on Medium ↗
Wiki topics: SAF · Safety & Alignment

Jiwa yang Tenang Tidak Lahir dari Jalan Pintas

Pagi setelah subuh, hari ke-23 Ramadan. Memasuki sepuluh malam terakhir, saya membaca Surah Al-Fajr. Sebagai pembaca biasa saja, bukan ahli, bukan ustadz, apalagi mufasir. Mencoba memahami pelan-pelan pesan yang mungkin terlalu sering dilewatkan. Surah ini dibuka dengan sumpah-sumpah tentang waktu: demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, demi malam ketika berlalu. Saya membacanya seperti membaca kurikulum yang disusun oleh waktu. Tidak acak, tidak tiba-tiba. Ada urutan, ada ritme, ada proses. Seolah-olah waktu sendiri sedang mengajarkan kepada manusia bahwa perjalanan menuju sesuatu yang bermakna tidak pernah terjadi secara instan.

Di rumah, anak-anak telah libur sekolah. Rumah terasa lebih pelan dari biasanya. Tidak ada suara terburu-buru bersiap berangkat pagi. Mereka bermain, bercakap, sesekali bicara dengan dunia kecil mereka sendiri. Dari jauh saya memperhatikan. Dalam ketenangan pagi muncul sebuah pertanyaan yang pelan namun cukup mengganggu pikiranku. Apakah sekolah benar-benar menjadi tempat mereka belajar proses? Atau jangan-jangan sekolah lebih sering menjadi tempat mengejar hasil. Nilai, peringkat, dan angka-angka yang cepat selesai tetapi tidak selalu meninggalkan pemahaman yang mendalam tentang kehidupan.

Ketika membaca lebih jauh surah itu, saya sampai pada ayat tentang nafs al-muthmainnah, tentang jiwa yang tenang. Menariknya, ayat itu tidak hadir begitu saja. Datang setelah serangkaian teguran tentang manusia yang keliru membaca hidup. Manusia yang merasa dimuliakan ketika lapang dan merasa dihina ketika sempit, yang lupa pada anak yatim, yang tidak peduli pada orang miskin, dan yang terlalu mencintai dunia. Susunan ayat-ayat itu terasa seperti sebuah perjalanan batin. Seakan-akan Al-Qur’an sedang menuntun manusia melewati proses panjang dari cara pandang yang keliru menuju kesadaran yang lebih jernih. Dari kehidupan yang serba tergesa menuju pemahaman yang lebih matang tentang makna hidup.

Di situ saya seperti melihat satu pelajaran yang sangat pedagogis. Ketenangan jiwa tidak lahir dari hasil yang instan. Tumbuh dari proses yang berlapis. Ada pengalaman yang menguji cara pandang manusia, ada kesalahan yang menuntut koreksi, ada teguran yang menyadarkan, hingga akhirnya lahir kematangan. Dalam bahasa pendidikan, ini seperti perjalanan belajar yang tidak bisa dipersingkat. Seseorang tidak tiba-tiba menjadi matang tanpa pernah melewati proses memahami kesalahan, memperbaiki cara pandang, dan memaknai pengalaman hidup. Jiwa yang tenang, dalam arti itu, adalah buah dari perjalanan belajar yang panjang, belajar membaca hidup dengan benar.

Dari sana pikiran saya kembali pada sekolah-sekolah anak-anak. Betapa sering kita terlalu cepat menanyakan hasil. Nilai berapa? Rangking berapa? Seolah-olah belajar hanyalah garis lurus dari soal menuju angka. Padahal setiap tujuan membutuhkan perjalanan yang panjang. Seorang murid tidak tumbuh hanya karena ia mampu menjawab soal dengan benar. Ia tumbuh karena ia menjalani proses memahami, mencoba, keliru, lalu menemukan kembali makna dari apa yang dipelajarinya. Praktiknya, dalam laku sehari-hari, proses ini sering dipersingkat oleh kegelisahan kita sendiri yang ingin segera melihat hasil.

Mungkin di sinilah kita perlu kembali belajar dari cara Al-Qur’an menyusun pelajarannya. Surah Al-Fajr tidak langsung berbicara tentang jiwa yang tenang, tetapi terlebih dahulu menunjukkan proses yang harus dilalui manusia untuk sampai ke sana. Ada langkah-langkah yang harus ditempuh sebelum manusia sampai pada kematangan. Pendidikan pun seharusnya demikian. Belajar bukan sekadar menghasilkan nilai, melainkan perjalanan panjang menuju kedewasaan berpikir dan kehalusan hati.

Merancang pembelajaran, karena itu, seharusnya seperti membaca waktu dalam Surah Al-Fajr. Mesti sadar arah, sistematis, dan penuh makna. Kurikulum bukan sekadar daftar materi yang disalin dari buku panduan atau rutinitas yang diulang karena kebiasaan. Tapi sebuah peta perjalanan belajar yang disusun dengan kesadaran tujuan, berisi jawaban atas pertanyaan: ke mana murid akan dibawa dan bagaimana mereka sampai ke sana. Tanpa kesadaran itu, belajar mudah berubah menjadi rangkaian kegiatan yang tampak sibuk tetapi kehilangan arah.

Seorang guru belajar memahami hal ini dengan sabar. Ia tahu bahwa kelas bukan sekadar ruang menyelesaikan tagihan kurikulum, melainkan ruang merancang pengalaman. Diskusi kecil, permainan sederhana, percakapan ringan di sela pelajaran, bahkan keraguan yang muncul dalam proses belajar sering kali menjadi pintu bagi pemahaman yang lebih dalam. Dalam pengalaman-pengalaman kecil itulah belajar menemukan maknanya.

Tetapi perjalanan belajar tidak pernah benar-benar hidup tanpa tantangan. Proses yang menantang justru melahirkan pertumbuhan yang lebih kuat. Murid belajar bukan hanya ketika mereka berhasil, tetapi juga ketika mereka mencoba sesuatu yang sulit, menghadapi kebingungan, lalu menemukan cara untuk melampauinya. Tantangan yang dirancang dengan baik oleh guru bukanlah hambatan, melainkan undangan untuk bertumbuh. Seperti perjalanan jiwa manusia dalam Surah Al-Fajr, proses dari kesalahan memahami hidup hingga akhirnya menemukan ketenangan.

Dari sudut pandang itu, pendidikan yang berdampak tidak lahir dari hasil yang cepat. Lahir dari proses yang sadar tujuan. Setiap aktivitas di kelas, betapapun kecilnya, sebenarnya adalah langkah dalam perjalanan panjang menuju sesuatu yang lebih besar. Ketika guru menyadari hal ini, ia tidak lagi melihat kegiatan belajar sebagai sekadar tugas yang harus selesai hari itu juga, tetapi sebagai bagian dari perjalanan yang perlahan membentuk cara berpikir, cara merasa, dan cara murid memandang dunia.

Mungkin di situlah makna berpihak pada murid menemukan bentuknya. Kita tidak hanya memperhatikan apa yang mereka capai hari ini, tetapi juga perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai ke sana. Kita percaya bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu, kesabaran, dan tantangan yang bermakna. Sebab seperti yang diisyaratkan oleh Surah Al-Fajr, hasil yang paling berharga, bahwa jiwa yang tenang tidak lahir dari jalan pintas. Tumbuh dari perjalanan panjang yang dijalani dengan kesadaran, langkah demi langkah, hingga manusia menemukan ketenangan dalam memahami hidupnya.

Jeneponto, 12 Maret 2026


메타데이터
post_id
9ae79f60c73e
slug
jiwa-yang-tenang-tidak-lahir-dari-jalan-pintas-9ae79f60c73e
url
https://medium.com/@usmandjab/jiwa-yang-tenang-tidak-lahir-dari-jalan-pintas-9ae79f60c73e
canonical_url
https://medium.com/@usmandjab/jiwa-yang-tenang-tidak-lahir-dari-jalan-pintas-9ae79f60c73e
author_url
https://medium.com/@usmandjab
status
ok
fetched_at
2026-07-12 01:03:28