← Back to list

Menekan Tombol #Reset Indonesia

Series ODORO (One Day One Random Opinion) #59

Artefact by Diy · 2026-02-02 03:41 · 14 claps · 3.7 min read
#reset-indonesia #ekspedisi-indonesia-baru #farid-gaban #dandhy-laksono #dokumenter
Open on Medium ↗

Menekan Tombol #Reset Indonesia

Series ODORO (One Day One Random Opinion) #59

sumber: dokumentasi pribadi penulis

sumber: dokumentasi pribadi penulis

Dalam salah satu serial Ekspedisi Indonesia Baru Episode #17 berjudul Negeri Serba Beli yang tayang di YouTube, didokumentasikanlah salah satu daerah di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, bernama Desa Sanolo yang telah mengalami krisis air bersih sejak sekitar 30 tahun yang lalu. Kondisi ini mengakibatkan para warganya terpaksa mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah per bulannya untuk berlangganan membeli air bersih dengan harga Rp4.000,00 per 20 liter pada saat itu. Dan ironisnya, desa tersebut berjarak hanya 45 menit berkendara dari tempat saya bermukim sekarang.

Namun, meskipun berada di satu daerah, beruntungnya saya tidak mengalami nasib yang sama dengan warga Desa Sanolo. Untuk keperluan mandi dan mencuci, saya masih bisa memanfaatkan air sumur bor, meskipun terkadang harus berkompromi dengan air keruh yang berbau saat hujan deras melanda. Sedangkan untuk minum dan memasak, saya membeli air minum kemasan galon di toko — satu fenomena yang juga disoroti oleh buku ini tentang bagaimana “janggal”-nya kehidupan manusia zaman sekarang yang bahkan harus membakar uang untuk memenuhi kebutuhan fundamental.

Berbicara mengenai buku #Reset Indonesia, awalnya saya sempat skeptis dengan kehadirannya, sebab sebagai seseorang yang lebih menikmati konten audio visual, saya sudah rajin mengikuti serial dokumenter Ekspedisi Indonesia Baru melalui platform YouTube. Namun, di waktu yang sama saya juga semakin banyak melihat podcast yang menghadirkan dua dari empat orang penulisnya yaitu Farid Gaban dan Dandhy Laksono di berbagai kesempatan. Juga munculnya perasaan emosional setelah acara diskusi buku di Desa Gunungsari, Kabupaten Madiun, pada 20 Desember 2025 lalu, dibubarkan paksa oleh aparat dan pemerintah setempat. Jadi, pada akhirnya saya memutuskan untuk mengeluarkan buku tersebut dari keranjang e-commerce dan memroses pembeliannya.

Setelah menunggu lebih kurang satu bulan lamanya karena harus menunggu proses prapesan, akhirnya buku bersampul biru tua sesuai dengan warna favorit saya yang dilengkapi dengan tanda tangan basah keempat penulis ini sampai juga di genggaman tangan. Dan begitu membaca beberapa halaman pertama, saya sadar bahwa selama ini secara tidak sengaja saya meremehkan kualitas tulisan dari para jurnalis yang telah berkarier malang melintang di dunia tersebut tahunan lamanya. Dari yang saya pikir ini hanyalah karya biasa dari empat orang iseng yang berkeliling Indonesia dengan menaiki sepeda motor Supra mesra dan mengabadikan perjalanannya, rupanya di balik itu ada rencana dan mekanisme yang matang dalam upaya merekam Indonesia selama 424 hari lamanya.

Setelah melahap 448 halaman dengan penuh khidmat selama 3 hari, bukan sebuah hal yang dibesar-besarkan jika buku #Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru telah membuka mata saya tentang berbagai macam fenomena yang terjadi di negara Indonesia tercinta ini. Sebagai seseorang yang sedang merintis perannya dalam pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan mulai dari skala tempat tinggal, bahkan saya sudah tertarik dengan isu yang diangkat pada bagian Prolog dengan judul Mencari Ukuran Kemajuan: Ekspedisi Sungai Nusantara yang ditulis oleh Dandhy Laksono.

Resah hati saya ketika membaca data bahwa ada 6 miliar popok diproduksi setiap hari di Indonesia dan berakhir sebagai sampah di sungai serta berbagai sumber air baku lainnya. Belum lagi fakta tentang Indonesia yang menjadi negeri kedua di dunia yang paling banyak menyumbang sampah plastik ke laut yaitu sekitar 200.000 ton/tahun yang juga hanyut ke laut lewat sungai-sungai. Setelah saya tanyakan ke AI, jumlah ini setara dengan berat lebih dari 1.000 pesawat jet komersial berbadan lebar seperti Boeing 747 dan lebih dari 20.000 kontainer 20 feet yang tumpah ke laut per tahunnya.

Saya tidak akan berbicara banyak mengenai karya yang oleh beberapa pihak dilabeli Buku Panduan Makar ini, sebab para pembaca dan calon pembaca seharusnya menemukan perjalanannya masing-masing dalam mencerna isi buku ini. Namun, salah satu gagasan brilian yang ditawarkan oleh buku ini yang juga membuat saya tidak sabar untuk turut menekan tombol #Reset Indonesia adalah tentang konsep ekonomi biru (blue economy) yang bertumpu pada lokalitas dan prinsip tepat guna terhadap alam dan mengabdi pada pelestarian alam, dengan karakteristik sebagai berikut:

  • memperkuat ekonomi lokal,
  • sederhana sehingga yang paling marginal pun bisa terlibat,
  • mencari nilai tambah lewat inovasi berbasis alam,
  • melestarikan dan mendorong keragaman hayati,
  • koperasi dan kerja sama untuk berbagi risiko dan belajar bersama,
  • economies of scope atau keterpaduan ekonomi,
  • nirsampah atau zero waste.

Selain gagasan tersebut, banyak pula isu lain yang diangkat, seperti jebakan investasi asing, mundurnya sektor pertanian dan kelautan, banjirnya barang impor, kerusakan lingkungan akibat tambang, terkikisnya hak hidup masyarakat adat, omon-omon tentang energi terbarukan, money politic, tidak terjangkaunya harga rumah dan tanah, kebijakan publik yang salah kaprah, dan masih banyak lagi. Data-data yang rapat benar-benar disajikan secara apik beserta rekomendasi gagasan yang bisa coba untuk diterapkan. Pembaca seolah dibuat tidak sadar bahwa ia sedang membaca sebuah buku yang “serius”, namun disajikan seperti kisah dongeng yang tokohnya berasal dari ratusan tempat dari pelosok desa hingga ke kota di berbagai wilayah Indonesia.

Pada bagian Epilog, saya pun sempat berkaca-kaca saat membaca tulisan Yusuf Priambodo yang melangitkan doa dan harapan tentang masa depan Indonesia demi generasi-generasi baru seusia anak balitanya. Juga cerita Benaya Harobu yang meskipun usianya masih sangat muda, namun tekadnya dalam memperbaiki rumah Indonesia tampak dari setiap substansi yang ia tuliskan sebagai bagian dari intisari yang dibawa pulang setelah berhadapan langsung dengan beragam isu di berbagai daerah.

Akhirnya, pada kondisi — yang lebih sering cutloss dari pada take profit inieh, maksudnya yang tidak menentu ini, selain tetap beraktivitas seperti biasa, saya juga menyarankan para calon pembaca untuk mengintip buku #Reset Indonesia. Berawal dari membaca, siapa tahu nantinya akan ada aksi kecil yang bisa dilakukan mulai dari golongan akar rumput seperti kita yang petani garam, penjual sayuran, sopir angkutan, penjaga toko swalayan, ataupun anak kos-kosan.


메타데이터
post_id
9aeb4ef681d1
slug
menekan-tombol-reset-indonesia-9aeb4ef681d1
url
https://medium.com/@artefactbydiy/menekan-tombol-reset-indonesia-9aeb4ef681d1
canonical_url
https://medium.com/@artefactbydiy/menekan-tombol-reset-indonesia-9aeb4ef681d1
author_url
https://medium.com/@artefactbydiy
status
ok
fetched_at
2026-07-30 02:46:47