← Back to list

Bagai Rumah Tanpa Jendela: Menilik KDRT dari Perspektif Psikologi

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan fenomena sosial yang kompleks dan tidak dapat dipandang hanya sebagai konflik rumah tangga…

Krismanjs · 2026-05-06 08:12 · 1 claps · 3.6 min read
#psychology #kdrt #family
Open on Medium ↗
Wiki topics: ML · Machine Learning PSY · Psychology 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Bagai Rumah Tanpa Jendela: Menilik KDRT dari Perspektif Psikologi

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan fenomena sosial yang kompleks dan tidak dapat dipandang hanya sebagai konflik rumah tangga biasa. KDRT meninggalkan luka mendalam bagi korbannya, terutama dalam aspek psikologis. Luka fisik mungkin dapat sembuh dalam waktu tertentu, tetapi luka mental sering kali bertahan lebih lama, bahkan berkembang menjadi trauma jangka panjang yang menurunkan kualitas hidup korban secara signifikan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru berubah menjadi sumber stres utama, sehingga korban kehilangan rasa nyaman dan perlindungan yang seharusnya mereka dapatkan.

Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yulianto dan Widiantoro (2025), secara psikologis korban KDRT menghadapi spektrum emosi yang luas. Rasa takut berkepanjangan, perasaan tidak berdaya, dan penurunan harga diri akibat intimidasi pasangan menjadi pengalaman yang umum. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga mengubah cara korban memandang diri sendiri dan lingkungan sosialnya. Mereka sering kali merasa terisolasi, kehilangan dukungan sosial, dan tidak mampu mengambil keputusan demi kesejahteraan diri. Akibatnya, korban rentan mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, depresi, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD). Tekanan ini menjadi beban berat yang menghambat korban dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurut Ryff (1989), kesejahteraan psikologis seseorang dapat dilihat dari enam dimensi: penerimaan diri, hubungan dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi. Yulianto dan Widiantoro (2025) menegaskan bahwa semua dimensi ini terdampak buruk ketika seseorang mengalami KDRT. Penerimaan diri melemah karena korban menginternalisasi pesan negatif pelaku, sehingga muncul rasa bersalah dan penurunan harga diri. Hubungan sosial terganggu karena pelaku sering menggunakan isolasi untuk mencegah korban memiliki dukungan. Otonomi hilang akibat ancaman dan ketergantungan finansial, sementara penguasaan lingkungan melemah karena korban merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya. Meski tujuan hidup kadang bertahan, misalnya demi anak, pertumbuhan pribadi tetap terhambat. Dengan demikian, penanganan korban KDRT harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan semua aspek kesejahteraan psikologis.

Pentingnya kesadaran kolektif dalam pencegahan KDRT tidak boleh diabaikan. Pendidikan publik yang masif melalui sekolah, media sosial, dan kampanye komunitas dapat mengubah norma sosial yang selama ini menoleransi kekerasan domestik. Dengan melibatkan tokoh masyarakat, agama, dan influencer lokal, pesan anti-KDRT dapat menjangkau lapisan masyarakat yang sulit diakses layanan profesional. Pendekatan preventif ini tidak hanya mengurangi insiden baru, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung korban untuk berbicara tanpa stigma, mempercepat akses ke bantuan psikologis dan hukum yang diperlukan.

Salah satu mekanisme penting yang menjelaskan hubungan antara KDRT dan depresi adalah kecemasan. Penelitian Lortkipanidze et al. (2025) menunjukkan bahwa kekerasan fisik meningkatkan kecemasan, dan kecemasan kemudian memprediksi depresi. Ketika kecemasan dimasukkan sebagai variabel mediator, pengaruh langsung kekerasan fisik terhadap depresi menjadi tidak signifikan. Hal ini berarti depresi muncul melalui jalur kecemasan. Secara biologis, kecemasan dipicu oleh aktivasi sumbu Hypothalamic Pituitary Adrenal (HPA) yang melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, membuat tubuh selalu waspada. Jika kondisi ini berlarut, maka kecemasan dapat berkembang menjadi depresi. Intervensi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) menjadi penting untuk mencegah gejala depresi mengakar lebih dalam.

KDRT sendiri memiliki berbagai bentuk. Data SIMFONI-PPA tahun 2022 menyebutkan tujuh jenis kekerasan, yaitu fisik, psikis, seksual, eksploitasi, trafficking, penelantaran, dan lainnya. UU PKDRT menjelaskan detail tiap bentuk, mulai dari menampar, mengintimidasi, hingga penelantaran finansial. Dampak KDRT mencakup ancaman jiwa, gangguan kesehatan fisik, dan gangguan mental. Korban sering mengalami murung, sulit tidur, kehilangan rasa percaya diri, bahkan percobaan bunuh diri. Motz (2014) menekankan bahwa kekerasan fisik biasanya didahului kekerasan psikologis berupa hinaan, ancaman, dan kontrol berlebih. Ketika kondisi mental korban melemah, kekerasan fisik lebih mudah terjadi. Siklus kekerasan berulang: ketegangan emosional, ledakan kekerasan, permintaan maaf manipulatif, lalu kembali ke awal. Siklus ini membuat korban terjebak secara emosional dan bergantung pada pelaku.

Dari perspektif teoritis, KDRT dapat dipahami melalui dua sudut pandang. Perspektif evolusioner melihat KDRT sebagai strategi adaptif untuk mengontrol pasangan demi kepastian garis keturunan (Howard & Gibson, 2022). Sementara perspektif feminis menekankan bahwa KDRT merupakan akibat ketimpangan patriarki yang melegitimasi dominasi laki-laki (De Coster & Heimer, 2021). Kedua perspektif ini dapat diintegrasikan dengan melihat bahwa dorongan biologis tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan konstruksi sosial. Norma gender dan struktur kekuasaan dalam masyarakat dapat memperkuat atau melemahkan kecenderungan kontrol.

Meski dampak KDRT begitu berat, resiliensi psikologis korban tetap mungkin dibangun. Resiliensi tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada dukungan eksternal. Keluarga, komunitas, dan lembaga sosial berperan penting dalam membantu korban mengatasi trauma, membangun kepercayaan diri, dan menemukan makna hidup baru. Intervensi berbasis komunitas terbukti lebih efektif dibanding pendekatan individual, karena menciptakan lingkungan suportif, memperkuat jaringan sosial, dan mendorong pemberdayaan korban untuk kembali mandiri (Yulianto & Widiantoro, 2025). Penelitian Lortkipanidze et al. (2025) menekankan bahwa intervensi psikologis harus fokus pada trauma, khususnya kecemasan, karena faktor ini berperan besar menuju depresi. Terapi harus disesuaikan dengan jenis kekerasan yang dialami korban. Selain itu, intervensi yang mengembalikan harga diri dan dukungan emosional sangat penting, serta strategi pemberdayaan ekonomi yang dapat meningkatkan kepuasan hidup korban. Pendekatan holistik yang mencakup aspek emosional hingga ekonomi diharapkan membantu penyintas menata masa depan yang lebih aman dan pulih dari luka lama.

Referensi

De Coster, S., & Heimer, K. (2021). Unifying theory and research on intimate partner violence: A feminist perspective. Feminist Criminology, 16 (3), 286–303. https://doi.org/10.1177/1557085120987615

Howard, J. A., & Gibson, M. A. (2022). Testing evolutionary conflict theories for sexual and physical intimate partner violence in sub-Saharan Africa. Evolutionary Human Sciences, 5, e6. https://doi.org/10.1017/ehs.2022.58

Lortkipanidze, M., Javakhishvili, N., & Schwartz, S. J. (2025) Mental health of intimate partner violence victims: Depression, anxiety, and life satisfaction. Frontiers in Psychology,16 :1531783. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1531783

Motz, A. (2014). Toxic Couples: The Psychology of Domestic Violence. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781315817996

Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081. https://doi.org/10.1037/0022-3514.57.6.1069

Yulianto, M. N., & Widiantoro, F. W. (2025). Dari ketakutan menuju harapan: Kesejahteraan psikologis korban kekerasan dalam rumah tangga. Psikostudia: Jurnal Psikologi, 14(4). 558–568 https://dx.doi.org/10.30872/psikostudia.v14i4.21143


메타데이터
post_id
9b3fdce9ddc2
slug
bagai-rumah-tanpa-jendela-menilik-kdrt-dari-perspektif-psikologi-9b3fdce9ddc2
url
https://medium.com/@krismanjs/bagai-rumah-tanpa-jendela-menilik-kdrt-dari-perspektif-psikologi-9b3fdce9ddc2
canonical_url
https://medium.com/@krismanjs/bagai-rumah-tanpa-jendela-menilik-kdrt-dari-perspektif-psikologi-9b3fdce9ddc2
author_url
https://medium.com/@krismanjs
status
ok
fetched_at
2026-06-21 07:44:09