Sapardi, Juni, dan Badai Menjadi WNI
Romantisasi musibah dan kekalahan sebagai warga negara istighfar
Kita terlalu sabar
Sapardi, Juni, dan Badai Menjadi WNI
Romantisasi musibah dan kekalahan sebagai warga negara istighfar

Tak ada yang lebih tabah dari WNI di bulan Juni Ditelannya pahit harga-harga naik sedang upah masih sekecil itu Tak ada yang lebih sabar dari WNI di bulan Juni tersahkannya RUU Polri padahal lebih banyak yang menganggur rakyat sipilnya itu
Dan berentet lagi kekalahan yang kalau dirunut bisa menjadi daftar tanpa ujung. Padahal, Juni masih belum sampai separuh waktunya.
Musibah Yang Menimpa WNI, Padahal Kata Sapardi: Juni Itu Arief
Di tempatku berasal, kota Medan. Sedang sering terjadi pemadaman lampu bergilir, bahkan beberapa kali secara bersamaan di beberapa kecamatan sekaligus. Penyebabnya; cuaca badai yang mengganggu pengarusan listrik, katanya. Namun sialnya, musibah yang diterima, tak hanya direncakanan oleh alam semata. Dollar melambung tinggi, MBG dikorupsi, harga BBM naik saat mata sedang terlelap dan asyik bergelut dalam mimpi masing-masing.
“o Tuhan, haruskah begini cara kami demi masuk surga-Mu?”
Seperti itulah suara-suara tertulis di sosial media. Kebanyakan orang terlihat sudah pasrah dan hanya bisa berserah atas apa yang terjadi, hanya kepada Tuhan, tempat terakhir perlindungan. Namun, itu pun bagi yang percaya.
Beberapa orang masih sempat melawan dengan cara apapun yang mereka bisa. Tapi, lihatlah negara yang adikuasa. Kebanyakan suara teredam, tokoh-tokoh pergerakan pun berhenti bermunculan. Hingga yang bisa kita lakukan hanya; duduk diam, melihat sebentar protes bersliweran, lalu lanjut scroll lagi, seolah semua hal ini sudah biasa terjadi.
Dulu, Sapardi menulis Hujan Bulan Juni sebab memang pada kalender, Juni memulai musim hujan di negara ini. Ia meromantisasi bahwa cuaca pun bisa menjadi puitis. Alam dan aktivitasnya merupakan keindahan baginya. Digambarkannya hujan sebagai yang tabah, yang bijak, dan yang arif. Dan sekarang kita mengenalnya sebagai syair paling populer seantero Indonesia.
Kini, Juni di tahun 2026 justru menggambarkan masyarakat sebagai pengganti hujan, yang tabah, yang sabar, tapi malah penguasanya jauh dari kata bijak dan arif. Maka, daripada disebut tabah dan sabar, lebih tepat sebagai pasrah dan lemah. Tak berdaya dihajar secara brutal hingga babak bundas, paling jauh ya hanya bisa mengoceh, seperti saya ini.
Rentetan Kekalahan dan Jadi Bulan-bulanan
Jum’at.22 Mei, 2026, sebab oleh amuk cuaca — Sumatera, mulai dari Jambi, hingga ujung Aceh Utara secara tiba-tiba terjadi pemadaman listrik sejak pukul 17:45 dalam durasi waktu yang cukup lama. Nyala kembali dalam waktu yang berbeda-beda.
Badai sejak akhir Mei menumbangkan pepohonan di jalanan Medan, curah hujan deras menghasilkan banjir di beberapa titik daerah. Walau tidak separah November tahun lalu, tapi tetap saja para terdampak lagi-lagi harus mengeluarkan tenaga ekstra.
Lalu apa yang dilakukan pemerintah?
Rabu, 3 Juni 2026, Dadan Hindayana dijadikan tersangka atas kasus korupsi program MBG, 1 Milyar per hari uang rakyat raup ditelan ikan buntal dan kolega-koleganya.
Kamis, 4 Juni 2026, dollar pertama kali menyentuh angka Rp18.015, IHSG anjlok menuju 5.839, tapi tidak apa-apa. Kata Pak Presiden “Warga desa tidak memakai dollar”.
Selasa, 9 Juni 2026, RUU Polri disahkan. Kini, polisi punya kesempatan untuk mendapatkan jabatan di ranah sipil. Sementara masih ada sebanyak 7,24 juta warga sipil masih menganggur. Persaingan antar sesama warga saja sudah berat — untuk naik jabatan, sudah sikut-sikutan dan mengorbankan persahabatan, toh, bukan di antara sipil juga yang mendapat jabatan.
Semalam, Rabu, 10 Juni 2026 pukul 00:00 WIB dinihari. Harga pertamax (RON 92) naik dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Memang benar, kok, menggunakan pertalite saja, motor kita sudah cukup untuk berjalan sampai ke ujung dunia. Buktinya, itu motor sedang di bengkel tak kunjung usai karena mesinnya brebet dan tarikannya berat.
Sebab Yang Fana Itu Persepsi Kita
Warga Negara Indonesia, kini mendapat plesetan juga Warga Negara Insya Allah masuk surga. Entah memang sudah tak ada harapan untuk bisa membalikkan keadaan, entah memang sudah menerima nasib saja.
Sejarah kita akan imperialisme dan penjajahan masih lebih panjang daripada masa Indonesia berdiri. 350 tahun, bayangkan dari kakek buyut hingga sekitar 11–12 keturunan berikutnya kita terbiasa hidup dalam penindasan dan hanya mengikuti perintah dari yang paling berkuasa. Menerima apa saja peraturan yang diberlakukan, walaupun semena-mena.
Dalam puisi Hujan Bulan Juni yang kini tengah banyak dijadikan ‘template’ oleh orang-orang untuk menyampaikan keresahannya atas keadaan negara dan menjadi warga. Saat ini menjadi bentuk kreatifitas untuk melakukan protes. Membuktikan bahwa bentuk protes bisa dilakukan tak hanya dengan cemoohan, atau sekedar laporan yang tak dilanjutkan. Sebab juga kata Sapardi
“Penyair, penulis cerita pendek, novelis itu kan namanya seniman bahasa, yang dihasilkan dengan seni bahasa. Dia tidak bisa berbuat lain kecuali memperbaiki bahasanya,” Dari sini kita bisa lihat sendiri bahwa, protes juga seringkali berbentuk indah. Tapi tentu kita tak tahu mana bentuk paling efektif untuk bisa mengubah keadaan.
Perkara didengar atau tidak, ditindaklanjuti atau tidak, bahkan jika sampai dipersekusi atau dibungkam. Kurasa, kita semua sudah sepakat bahwa jalan apapun yang mau diambil, selama pihak terkait tak benar-benar merasa adanya ancaman, tak ada juga yang benar-benar akan berubah. Maka, tebak, apa yang bisa kita lakukan? Tak lain dan tak bukan, hanya menunggu keajaiban.
메타데이터
- post_id
- 9b8b5c99900c
- slug
- sapardi-juni-dan-badai-menjadi-wni-9b8b5c99900c
- url
- https://medium.com/@mahdyzaky2015/sapardi-juni-dan-badai-menjadi-wni-9b8b5c99900c
- canonical_url
- https://medium.com/@mahdyzaky2015/sapardi-juni-dan-badai-menjadi-wni-9b8b5c99900c
- author_url
- https://medium.com/@mahdyzaky2015
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 18:46:00