EXP. DATE For Pain: ∞/∞/∞ — A Reply to “Kadaluwarsanya Rasa Sakit.” by skaraaa
Dapatkah rasa sakit memiliki kadaluwarsa? Mungkinkah kita terbebas darinya? Tak bisa.
EXP. DATE For Pain: ∞/∞/∞ — A Reply to “Kadaluwarsanya Rasa Sakit.” by skaraaa

Punpun Fanart by elianxiety on Instagram
Semalam saat membuka smartphone muncul notifikasi dari medium menunjukkan “kadaluwarsanya rasa sakit.” oleh skaraaa. Membaca tulisan tersebut membuat saya berpikir kembali mengenai rasa sakit. Apakah hal tersebut memiliki kadaluwarsa, dimana perasaan tersebut menjadi tidak layak lagi untuk dikonsumsi — tidak relevan lagi untuk dirasakan.
Karena konteks rasa sakit dirasa terlalu abstrak, mari kita fokuskan pembahasan ini kepada rasa sakit emosional. Rasa sakit karena perlakuan, pengalaman, perkataan yang dialami dan dirasakan oleh diri. Dengan memfokuskan pada hal ini, kita dapat dengan lebih mudah atau juga mungkin lebih sulit untuk mencari jawaban dari pertanyaan “mungkinkah rasa sakit kadaluwarsa ?”
Mengutip tulisan skaraaa:
Rasa sakit sendiri, secara emosional dan mental yang dirasa merupakan suatu hal yang tak berwujud fisik. Membuatnya menjadi suatu yang abstrak namun memiliki dampak langsung terhadap kondisi diri. Mungkin akan membuat sesak dada, serasa tersayat karena mengingat suatu yang terasa amat sakit — padahal tak ada goresan maupun luka nyata dapat terlihat mata. Membuatnya tak bisa diuji secara empiris batas waktu validitas rasa sakit. Menjadikannya objek kajian abstrak karena berhubungan dengan emosi, jiwa manusia itu sendiri.
Memandang rasa sakit serta memikirkan kapan kadaluwarsanya membuat kita berpikir, berapa lama kita dapat dengan pasti merasakan rasa sakit sampai nanti waktunya akan dibuang dan meninggalkan kenangannya saja. Rasa sakit yang diterima, tak jauh dari penerimaan kita atasnya. Menelan rasa sakit dan mengolahnya dalam diri, kemudian dimuntahkan setelahnya karena tak layak lagi untuk dikonsumsi. Tapi kapan?
Seperti pada judul, saya beranggapan bahwa penderitaan/rasa sakit tak memiliki kadaluwarsanya. Akan selalu terasa sampai kapanpun itu, akan selalu sakit hingga kita tak berpacu dengan waktu. Tak mungkin untuk menghilangkan rasa sakit yang telah ada karena sebagai manusia kita memiliki sebuah kesadaran akan masa lalu, masa kini, juga masa depan. Kesadaran tersebut merupakan anugerah juga kesialan secara bersamaan. Sebuah anugerah karena kita sadar akan konsekuensi segala pilihan dan apa yang kita lakukan — sebuah kesialan karena kita akan merasakan selamanya dampak dari pilihan tersebut.
“Hell is Other People”, kata Sartre. Menggambarkan bahwa perlakuan dari orang lain, bahkan sekedar pandangan orang lain terhadap kita adalah sebuah neraka — siksaan tiada akhir. Kita menerima rasa sakit yang disebabkan orang lain dimana siksaan tersebut sendiri tak memiliki batas waktu, selalu ada. Tidak memilih juga adalah pilihan, jadi meski kita tidak melakukan apa-apa bukan berarti kita terbebas dari rasa sakit yang diterima.
Dampak rasa sakit yang berkelanjutan, memuakkan, dan menyesakkan selalu menghantui kita yang merasakannya dan menciptakan suatu derita. Tak bisa kita mengabaikan dan menutupi rasa sakit yang ada, meski sudah muncul puluhan cabang dari rasa sakit tersebut. Karena keabsurdan eksistensi manusia, tak ada hal lain yang bisa diperbuat selain membiarkan dan menempatkan rasa sakit itu di sisi terdalam diri.
Emosi dan perasaan manusia ialah sepetak tanah gembur dimana berbagai rasa dapat tumbuh dengan subur. Rasa sakit yang tumbuh bercabang, jika kita memutuskan untuk memotong cabang tersebut malah akan menciptakan pohon baru penderitaan — kesakitan.
Saya sendiri setuju dengan apa yang ditulis oleh skaraaa, kebingungan terhadap diri sendiri mengenai apakah kita sudah mengikhlaskan rasa sakit yang diterima. Sedikit menambahi bahwa dalam kehidupan yang absurd ini, keikhlasan sendiri dapat kita artikan dengan kekuatan untuk menikmati kehidupan sebagaimana kita inginkan meskipun dibelenggu rasa sakit yang ada. Ketidakmungkinan penerimaan sepenuhnya bukan berarti kita tak mampu untuk menikmati kehidupan kita.
Alih-alih menganggap rasa sakit sebagai racun, cobalah untuk melihat rasa sakit sebagai satu makanan bernutrisi yang harus dikonsumsi meskipun rasanya membuat kita muntah-muntah. Tidak ada manusia yang alergi pada rasa sakit. Karena rasa sakit ialah suatu yang alami dan pasti, tergantung bagaimana kita mengolahnya menjadi satu makanan bergizi — tak mungkin nikmat karena rasa sakit bukanlah suatu yang bisa untuk dinikmati. Untuk itulah, kita harus membuat makanan lain yang dapat kita nikmati. Kebahagiaan merupakan suatu yang nikmat kan? tapi saat kita bahagia berlebihan, kita akan menjadi serakah dan melakukan segala hal hanya demi suatu kebahagiaan. Menghancurkan keseimbangan antara kebahagiaan dan rasa sakit yang berjalan beriringan.
Tulisan ini menyajikan pandangan lain daripada rasa sakit yang dialami dan berfokus kepada bahagia yang akan terjadi. Berharap agar saya, skaraaa, serta semua yang merasakan rasa sakit dapat menjalani kehidupan absurd ini dan mencipta bahagianya masing-masing. Semoga terlahir sukacita dari penderitaan yang ada, cheers🥂
Reference:
- Sartre, J.-P. (1954). No Exit (P. Mairet, Trans.). New York: Vintage Books. (Original work published 1944)
- Camus, A. (1955). The myth of Sisyphus (J. O’Brien, Trans.). Vintage Books. (Original work published 1942)
메타데이터
- post_id
- 9baa03973aef
- slug
- exp-date-for-pain-a-reply-to-kadaluwarsanya-rasa-sakit-by-skaraaa-9baa03973aef
- url
- https://medium.com/@nvtheism/exp-date-for-pain-a-reply-to-kadaluwarsanya-rasa-sakit-by-skaraaa-9baa03973aef
- canonical_url
- https://medium.com/@nvtheism/exp-date-for-pain-a-reply-to-kadaluwarsanya-rasa-sakit-by-skaraaa-9baa03973aef
- author_url
- https://medium.com/@nvtheism
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-21 15:40:34