Aku Benci Cinta
Ketika Aku Harus Belajar Bertahan tanpa Sesuatu yang Katanya Indah
Aku Benci Cinta
Ketika Aku Harus Belajar Bertahan tanpa Sesuatu yang Katanya Indah
Ada satu hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah, di rumah, atau di tempat ibadah: bahwa terkadang, membenci cinta adalah cara paling manusiawi untuk tetap hidup.
Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan. Dramatis. Seolah aku sedang bersiap menjadi karakter utama dalam novel murahan. Tapi jika kamu sudah pernah jatuh cinta sampai lupa bagaimana caranya berdiri, Kamu mungkin Mengerti mengapa kebencian terkadang terasa lebih aman daripada kerinduan.
Bagian 1 — Mengucap Benci
Aku benci Cinta.
Aku tidak mengatakan ini dalam kemarahan.
Aku tidak menulisnya sambil menangis di lantai kamar.
Aku mengatakannya sekarang, saat pikiranku jernih, saat emosiku tidak sedang menjerit, dengan kalimat puitis yang meromantisasi kata benci.
saat aku sudah cukup pulih untuk memahami luka tanpa membiarkannya mengatur napasku.
Aku benci cinta
Bukan karena cinta gagal padaku,
tapi karena cinta membuatku gagal memahami diriku sendiri.
Bukan lagi kuberikan kata manis kepada cinta.
Bukan karena aku takut tidak dibalas dan merasa hancur.
Bukan karena aku tidak mengerti apa itu cinta.
Bukan karena aku tidak mampu mencintai.
Bukan karena lima huruf itu terlalu rumit untukku.
Aku membenci cinta karena aku merasa dikutuk olehnya.
Dikutuk untuk selalu berharap, bahkan ketika kenyataan sudah selesai menjawab.
Dikutuk untuk tetap tinggal, bahkan ketika segalanya memaksaku pergi.
Dikutuk untuk masih peduli, bahkan ketika aku tidak lagi diizinkan untuk dekat.
Bagian 2 — Kutukan yang tidak dipahami Dunia
Cinta mengutukku dengan cara yang tidak terlihat oleh orang lain.
Tidak ada luka di tubuhku, tidak ada jahitan, tidak ada perban.
Mungkin sebagai mahasiswa kedokteran, jika cinta berbentuk luka fisik. Aku bahkan tidak akan bisa melihat seberapa dalam dan sakitnya luka dari cinta itu sendiri. Luka cinta mengalir di tempat tempat yang tidak bisa diperiksa oleh dokter mana pun.
Cinta mengutukku untuk:
- terikat, meskipun ikatannya bersifat sepihak,
- bergantung, meski aku tahu semua yang kutopang tidak pernah diminta berdiri di bahuku,
- menunggu, bahkan ketika tidak ada kepastian yang dijanjikan untuk kembali,
- percaya, bahkan setelah berkali-kali terbukti salah,
- menjadi baik, meskipun tidak ada yang memintanya.
ada yang bilang, “ Kamu terlalu baik.”
Aku selalu tersenyum jika mendengarnya, tapi jauh di dalam pikiranku aku memahami arti lainnya:
Menjadi terlalu baik dalam cinta adalah cara tercepat menuju kehancuran.
Karena mencintai tanpa batas seringkali membuatmu lupa bahwa kamu juga butuh ruang untuk bernapas.
Bagian 3 — Ketika Hidup Biasa Saja menjadi sebuah kesedihan
Ada titik dalam hidupku di mana segalanya terasa datar. Tidak naik, tidak turun. Hanya… biasa saja.
Dan entah mengapa, kebiasaan itu terasa seperti hukuman.
Mungkin karena setelah hidup dengan intentisat yang membakar, kebiasaan terasa seperti abu. Tidak menyakitkan, tapi juga tidak hidup.
Di titik ini, aku kembali menjadi diriku yang dulu:
Seseorang yang tidak punya siapa-siapa,
yang tidak disayangi siapa pun,
Yang tidak menggenggam apa-apa selain tubuhnya sendiri.
Aku bangun, belajar, makan, tidur. berulang. Seperti lagu yang diputar tanpa jeda. Aku berusaha mengisi kekosongan itu dengan rutinitas, tapi tetap saja ada ruang di dadaku yang terasa seperti ruangan kosong setelah pesta. Ada sisa tawa di udara, tapi tidak ada siapa siapa di sana.
Dan jauh lebih kejam dari rasa sakit, adalah rasa hampa.
Karena hampa tidak memberikan alasan.
Hampa tidak memiliki penyebab jelas.
Hampa hanya…. ada.
Bagaimana kamu bisa melawan sesuatu yang tidak punya bentuk?
Bagian 4 — Ketidakpercayaan yang Tumbuh Diam-Diam
Lama kelamaan, aku berhenti percaya.
Bukan karena aku ingin, tapi karena tubuhku seakan memutuskan sendiri.
Aku berhenti percaya pada orang lain.
Pada dunia.
Pada harapan.
Pada nasihat “ kamu cuma belum menemukan yang tepat. “
Pada motivasi yang berkata “ nanti juga sembuh sendiri. “
Pada siapa pun yang berkata “ kamu kuat kok,” seolah kekuatan bukan sesuatu yang bisa habis.
Yang lebih mengejutkan adalah ketika aku berhenti percaya pada diriku sendiri.
Bagaimana aku bisa percaya pada versi diriku yang dulu memilih dengan sepenuh hati, ketika pilihan itu justru menjadi alasan mengapa aku kehilangan arah?
Bagaimana aku bisa percaya pada intuisi yang berulang kali kusesuaikan dengan kenyataan orang lain?
Bagaimana aku bisa percaya pada suara hati yang ternyata tidak lebih dari gema harapan kosong?
Dan yang paling menyakitkan
bagaimana aku bisa percaya pada cinta, ketika ia membuatku tidak percaya pada diri sendiri?
Bagian 5 — Membenci Cinta Bukan Berarti Tidak Mampu Mencintai
Ada stigma bahwa seseorang yang membenci cinta berarti tidak mampu mencintai. Padahal, seringkali kebencian seperti ini justru lahir dari cinta yang terlalu besar.
Aku membenci cinta bukan karena aku tidak bisa mencintai, tapi karena aku telah meninctai sampai lupa caranya mencintai diriku sendiri.
Aku marah bukan karena kehilangan,
tapi karena dulu aku menyerahkan terlalu banyak dari diriku pada seseorang yang tidak memintanya sejak awal.
Dan mungkin ini penting untuk aku tulis dengan jelas, agar aku juga bisa membacanya lagi suatu saat nanti:
Aku berhak atas cintaku sendiri.
Aku berhak atas tubuhku, hatiku, waktuku, dan masa depanku.
Aku berhak untuk tidak selalu menjadi yang paling mengerti.
Aku berhak untuk tidak selalu kuat.
Aku berhak untuk pulih dengan kecepatanku sendiri.
Bagian 6 — Apakah Aku ingin Mencintai Lagi?
Jawabannya tidak sederhana.
Jika kamu bertanya sekarang, di detik ini, aku mungkin menjawab: tidak.
Bukan karena aku menutup diri selamanya,
tapi karena aku sedang membangun kembali diriku sendiri dengan bata-bata yang hampir tidak bersisa.
Aku mungkin akan mencintai lagi.
Tapi bukan hari ini.
Bukan sekarang.
Tidak ketika aku masih belum selesai berdamai dengan diriku sendiri.
Ada bagian dariku yang masih percaya cinta bisa indah.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku,
Aku ingin memastikan aku juga ada di dalam keindahan itu, bukan hanya menjadi seseorang yang membuat cerita orang lain menjadi indha.
Mungkin suatu hari nanti aku akan berdamai.
Mungkin aku akan membuka pintu itu lagi.
Mungkin.
Tapi jika hari itu datang, aku ingin masuk sambil menggandeng diriku sendiri terlebih dahulu.
Bagian 7 — Untuk Sekarang, Biar begini Dulu
Untuk sekarang, biarkan aku membenci cinta.
Biarkan aku membenci dalam diam.
Biar aku merasakan rasa itu tanpa merasa bersalah.
Biar aku belajar bahwa benci bukan kebalikan dari cinta, kadang benci adalah fase untuk kembali memahami diriku.
Aku tidak mencari akhir yang indah dari cerita ini.
Aku tidak menunggu seseorang datang dan berkata, “ lihat, cinta tidak seburuk itu.”
Aku tidak berharap perubahan ajaib yang membuat dunia tiba tiba terasa ramah.
Yang aku cari hanyalah satu:
Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus kehilangan apa pun.
Dan mungkin, tempat itu bukan pada seseorang.
Mungkin tempat itu adalah aku.
Mungkin sejak awal, seharusnya aku pulang kepada diriku sendiri.
Penutup — Jika Suatu Hari Aku Mencinta Lagi
Jika suatu hari nanti aku mencinta lagi,
aku ingin mencintai dengan cara yang berbeda.
Bukan dengan rasa takut.
Bukan dengan pengorbanan yang menghapus identitasku.
Bukan dengan harpaan yang kuletakkan di bahu orang lain.
Jika suatu hari nanti aku mencinta lagi,
Aku ingin mencintai tanpa kutukan,
tanpa ikatan yang memenjarakan,
tanpa lupa pada diri sendiri.
Dan jika hari itu tidak pernah datang
maka tak apa.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku,
aku sedang mencoba mencintai seseorang yang paling sering aku lupakan:
diriku sendiri.
메타데이터
- post_id
- 9bf28f1480b2
- slug
- aku-benci-cinta-9bf28f1480b2
- url
- https://medium.com/@drweirdprodigy/aku-benci-cinta-9bf28f1480b2
- canonical_url
- https://medium.com/@drweirdprodigy/aku-benci-cinta-9bf28f1480b2
- author_url
- https://medium.com/@drweirdprodigy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-17 08:20:12