Buku vs Konten Instagram: Mana yang Lebih Meningkatkan Literasi?
Mudahnya akses untuk berpendapat di sosial media dapat dijadikan ladang untuk menyalurkan hobi yang sedang digeluti. Seorang pengguna akun…
Buku vs Konten Instagram: Mana yang Lebih Meningkatkan Literasi?
Mudahnya akses untuk berpendapat di sosial media dapat dijadikan ladang untuk menyalurkan hobi yang sedang digeluti. Seorang pengguna akun Instagram @naomi_kurta sering membagikan ulasan buku dengan cara yang unik dan khas. Pemilik akun instagram tersebut sering menggunakan kebaya saat menjelaskan mengenai buku yang telah dibacanya. Usaha ini dilakukan agar pengikutnya menjadi tertarik untuk membaca buku yang sedang diulas olehnya. Selain cara penyampaiannya yang unik, ia juga gemar collab dengan book reviewer lain untuk membuat konten lucu agar engagement terus meningkat. Jika diambil dari sisi positif, orang-orang yang gemar mengulas buku dan menjadikannya sebuah konten dapat memberikan pengaruh positif bagi penonton. Dampaknya, penonton menjadi tertarik untuk membaca buku yang sudah diulas oleh seorang influencer. Hal ini membuktikan bahwa konten Instagram tidak hanya menjadi hiburan semata, namun dapat dijadikan sebagai langkah kecil untuk mendekatkan diri pada literasi yang lebih baik.
Literasi tidak hanya mengarah pada pengertian membaca dan menulis, tetapi mengenai bagaimana seseorang dapat memahami sesuatu yang telah dibaca untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan pengertian literasi, tidak ada salahnya untuk mencoba melakukan hal yang sama untuk mendukung literasi yang ada di Indonesia, yaitu dengan memengaruhi orang lain lewat konten yang diposting lewat akun Instagram pribadi. Mulai tanggal 25 Juni 2025 saya mulai memposting konten pertama mengenai buku yang telah saya baca. Buku yang saya posting masih terbatas pada satu jenis, yaitu novel. Ternyata postingan yang menurut saya sepele dan tujuan awalnya hanya untuk berbagi bahan bacaan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan minat baca pengikut di Instagram. Ketika bersua di kampus atau di forum santai, mereka sering menanyakan rekomendasi buku untuk dibaca karena telah melihat konten yang saya post di Instagram pribadi. Dampaknya ternyata merembet pada mereka yang dulunya jarang membaca buku menjadi suka membaca buku, bahkan mereka kadang menceritakan mengenai apa yang telah dibacanya. Hal ini harus ditanggapi dengan positif karena telah terbukti bahwa membagikan sesuatu yang disukai lewat konten adalah salah satu cara untuk menularkan kebiasaan baik pada orang terdekat.

Perpustakan Jogja
Iklim literasi terlihat subur saat dilihat dari kacamata sosial media. Pemengaruh atau influencer memiliki berbagai jenis niche (segmen khusus untuk pembuatan konten) untuk meraih penonton dan menghasilkan engagement yang tinggi. Terdapat niche beauty dan skincare, kuliner, gaya hidup, travel, gaming, kesehatan, parenting, keuangan, dan edukasi. Konten edukasi adalah hal ramai diperbincangkan akhir-akhir ini dan biasanya memuat mengenai konten belajar bahasa asing, pengembangan diri, berbicara di depan umum, ulasan buku, tips beasiswa, dan tips kepenulisan. Hal-hal tersebut adalah kebutuhan manusia untuk berkembang, mendapatkan relasi, dan pekerjaan. Maka tidak heran jika konten tersebut memiliki peminat yang tinggi. Penonton akan mulai menerapkan ilmu yang didapat dari menonton suatu konten, mereka akan membaca, memahami, dan mulai menerapkannya dalam kehidupan nyata untuk mendapat hasil yang diinginkan. Ini tandanya ifluencer memang berhasil untuk menginfluence penonton dengan konten yang telah mereka buat. Tidak perlu kaget jika influencer dengan niche edukasi ulasan buku makin menjamur karena mereka tahu bahwa cara tersebut akan berhasil membuat penonton tertarik untuk membaca buku yang mereka ulas. Jika hal tersebut terjadi biasanya penonton akan mulai mengikuti akun Instagram influencer tersebut untuk mendapatkan rekomendasi buku-buku yang lain.
Literasi secara tidak langsung telah diterapkan oleh pengguna sosial media untuk memperoleh informasi dari suatu konten untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan. Namun, tidak semua konten Instagram memang dibuat oleh influencer yang expert di bidangnya. Terkadang ada influencer yang argumennya tidak berdasarkan fakta dan data, maka untuk mengkonfirmasi mengenai benar atau tidaknya suatu informasi diperlukan sumber yang kredibel seperti jurnal atau buku. Penonton konten Instagram yang telah saya unggah mungkin tertarik dengan buku yang saya ulas, namun mengenai isi, amanat, dan nilai yang terkandung dalam buku tersebut akan diperoleh jika penonton telah membaca buku tersebut secara menyeluruh. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa buku dan konten Instagram adalah dua hal yang tidak tumpang tindih, keduanya saling mendukung untuk meningkatkan minat literasi yang ada pada masyarakat.

Akun Instagram Reviu Buku
메타데이터
- post_id
- 9c1f71d25df5
- slug
- buku-vs-konten-instagram-mana-yang-lebih-meningkatkan-literasi-9c1f71d25df5
- url
- https://medium.com/@voletamarsha/buku-vs-konten-instagram-mana-yang-lebih-meningkatkan-literasi-9c1f71d25df5
- canonical_url
- https://medium.com/@voletamarsha/buku-vs-konten-instagram-mana-yang-lebih-meningkatkan-literasi-9c1f71d25df5
- author_url
- https://medium.com/@voletamarsha
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-15 20:49:13