Ingat, Kita Hanya Manusia yang Lemah!
#26: Merasa “kuat” itu membawa nestapa
CATATAN
Ingat, Kita Hanya Manusia yang Lemah!
#26: Merasa “kuat” itu membawa nestapa
“Sudah, istirahat dulu. Besok masih ada hari. Badan punya hak untuk istirahat!”
Photo by Jake Nackos on Unsplash
Demikian nasehat istri kepada saya, saat terlihat letih di malam hari. Saya sering bawel kalau diberi nasihat istirahat.
Pada beberapa momen, saya merasa masih sanggup untuk menulis di malam hari. Cuma untuk kemarin, rasanya sangat letih, tidak tidur di siang hari, ditambah lagi kehujanan saat perjalanan pulang dari Kasiman, lengkaplah sudah.
“Ah, ternyata memang tubuh kita terbatas!”
Betapapun keinginan kuat kita untuk melanjutkan aktivitas, tetapi kalau tubuh sudah memberikan sinyal untuk istirahat. Sudah seharusnya untuk istirahat segera.
Akhirnya rencana untuk merampungkan tulisan mingguan di arrahim saya urungkan. Segera saya tutup laptop untuk persiapan tidur.
Belum jadi member? Silakan baca di link ini.
Tubuh manusia memang tercipta dengan keterbatasan. Betapa sehat dan kuatnya tubuh, kalau tubuh sudah mengajak istirahat, berarti sudah seharusnya istirahat dan tinggalkan aktivitas yang tersisa.
Kegiatan yang padat harus diimbangi dengan istirahat yang cukup. Memang benar, semakin kita minim waktu istirahat semakin sering tubuh kita “menagih” jatah istirahatnya.
“Manusia tercipta dengan (sifat) lemah.”
Penggalan surah An-Nisa ayat 28 tersebut mengingatkan bahwa kita adalah makhluk yang lemah. Manusia memiliki keterbatasan dalam setiap hal.
Sekalipun teknologi hari ini sangat membantu manusia dalam mengerjakan sesuatu, tetapi tetap manusia modern lebih mudah letih karena gejala-gejala modern.
Kesehatan Harus Menjadi Prioritas
Setinggi apapun impian kita, sekuat apapun tekad kita, sebanyak apapun target kita, sepadat apapun aktivitas kita, tentu kesehatan tubuh harus diprioritaskan.
Bayangkan saja kalau kita tidak sehat, banyak kegiatan yang akan terlewatkan. Bayangkan betapa banyak target akan sia-sia kalau kita tidak sehat.
Sehat itu Mahal
Memang sehat itu sangat mahal, oleh karena itu kita harus bisa menjaga kesehatan dengan menata pola istirahat yang cukup dan berolahraga. Senam, dan lari-lari kecil misalnya bisa sangat membantu kesehatan tubuh stabil.
Target menyelesaikan tulisan di hari kamis saya kesampingkan terlebih dahulu, mumpung belum sampai sakit. Saya kira menjaga stamina untuk esok hari lebih berguna dari pada sekadar mengejar target tulisan.
Tulisan ini selesai pun berkat tubuh yang sudah stabil dan tidak terlalu capek seperti kemarin.
Sebagai orang — yang dianggap — perfeksionis, saya berusaha berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan target yang belum tercapai dengan baik, kendati berdamai dengan diri sendiri perlu proses, pelan tapi pasti. Saya berusaha untuk tidak selalu menginginkan segala hal “terlihat” sempurna.
Memang kebahagian itu tergantung niatnya. Saya selalu menanyakan pada diri saya tentang niat saya menulis, apakah menulis menjadi hal yang lebih berharga dari kesehatan, apakah menulis itu lebih berharga dari hal-hal lain; tertawa bersama keluarga misalnya. Pertanyaan-pertanyaan senada akan selalu menagih jawaban, sebagai refleksi diri.
Baca Juga
[embed]Belajar Menempatkan Fokus #23: Evaluasi diri, menata ulang fokus.medium.com
메타데이터
- post_id
- 9c1fded52f44
- slug
- ingat-kita-hanya-manusia-yang-lemah-9c1fded52f44
- url
- https://medium.com/@syahrulansori/ingat-kita-hanya-manusia-yang-lemah-9c1fded52f44
- canonical_url
- https://medium.com/@syahrulansori/ingat-kita-hanya-manusia-yang-lemah-9c1fded52f44
- author_url
- https://medium.com/@syahrulansori
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 17:23:21