← Back to list

MEMUTUS RANTAI AMARAH: MENJAGA KEWARASAN DI ERA INDUSTRI RAGE BAIT

“Sekolah itu tidak penting dan kuliah itu scam”, pernahkan kalian menemui narasi ini di internet? Narasi seperti ini akan membuat orang…

Renkadelay · 2026-04-24 15:00 · 0 claps · 5.2 min read
#ragebait #mindfulness #internet-culture #anger #content
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval PSY · Mental Health & Psychiatry CUL · Culture & Media 🧘 · Spirituality

MEMUTUS RANTAI AMARAH: MENJAGA KEWARASAN DI ERA INDUSTRI RAGE BAIT

“Sekolah itu tidak penting dan kuliah itu scam”, pernahkan kalian menemui narasi ini di internet? Narasi seperti ini akan membuat orang terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama adalah mereka yang menolak narasi tersebut karena itu pendidikan adalah bagian penting untuk meningkatkan nilai diri seseorang dan merupakan hak warga negara. Kubu kedua adalah mereka yang mendukung narasi tersebut karena pengalaman mereka yang merasa selama sekolah tidak mendapat apa-apa. Kehadiran dua kubu ini mendorong kita untuk terlibat dan mendebat pemahaman orang lain yang berbeda dengan kita. Akan tetapi, perdebatan pada narasi seperti ini sering kali tak menemukan titik tengah karena orang-orang akan tetap berdiri di posisinya masing-masing. Konten-konten seperti ini sering disebut sebagai rage bait. Kata “rage bait” menjadi word of the year yang diterbitkan oleh Oxford University Press (2026). Dilaporkan bahwa penggunaan kata ini naik 3 kali lipat selama tahun 2025. Peningkatan penggunaan kata rage bait bisa menandakan bahwa keberadaan konten rage bait semakin banyak selama 2025. Apa itu rage bait? Rage bait merupakan konten yang secara sengaja didesain untuk memicu emosi negatif, yaitu marah (Shin et al., 2025). Konten jenis ini efektif untuk mendapatkan atensi dan memicu reaksi amarah yang nantinya dapat menaikkan algoritma media sosial terhadap konten dan akun pembuat konten tersebut (Munn, 2020). Kehadiran konten seperti ini sudah bukan hanya sebuah perilaku acak dari oknum-oknum pengguna media sosial, tetapi sudah menjadi sebuah strategi yang efektif untuk memicu viralitas dan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk meraup keuntungan (Fox, 2024). Mengapa keberadaan konten rage bait bisa meningkat? Salah satunya Adalah kecenderungan manusia untuk mencari dukungan atas opini yang dimilikinya. Dalam Upaya tersebut manusia seringkali mengalami bias kognitif, yaitu confirmatin bias. Confirmation bias adalah kondisi di mana seseorang cenderung untuk mencari, menginterpretasi, dan membuat informasi yang mendukung keyakinan yang telah dimilikinya (Kassin et al., 2016). Berkembangnya teknologi dan meluasnya pengaruh media sosial membawa masyarakat sekarang ke era post-truth. Post-truth adalah era di mana fakta objektif memiliki pengaruh yang lebih lemah daripada emosi dan kepercayaan pribadi dalam membentuk opini publik (Cambridge Dictionary, 2026). Kekalahan fakta objektif terhadap keyakinan yang berdasarkan emosi merupakan implikasi dari kerentanan manusia untuk mengalami confirmation bias. Di era post-truth ini, media sosial telah menjadi salah satu media untuk seseorang memperoleh penghasilan. Penghasilan tersebut didapat berdasarkan jumlah engagement di akun mereka. Demi memperoleh keuntungan tersebut, mereka sengaja membuat konten provokatif yang menyentuh emosi pengguna media sosial untuk agar mereka melakukan interaksi dengan akun sang pembuat konten. Interaksi dapat berupa pemberian like, komentar, atau dengan membagikan konten tersebut ke orang lain. Motivasi finansial ini membuat konten rage bait tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini. Emosi memiliki peran penting dalam mendapatkan atensi dari pengguna media sosial. Kejelasan emosi dalam sebuah narasi di internet meningkatkan keterlibatan konsumen pada sebuah konten (Pezzuti et al., 2020). Emosi marah sebagai emosi yang jelas penyebabnya dan memiliki karakteristik arousal yang tinggi diketahui dapat dengan cepat menghasilkan engagement, baik melalui like, komen, maupun share (Zhang et al., 2018; Berger et al., 2023). Konten rage bait bekerja dengan memanfaatkan rasa marah untuk membajak respons emosional sebelum bagian rasional otak sempat memproses informasi atau disebut juga dengan amygdala hijack. Amygdala hijack menyebabkan bagian prefrontal cortex tidak sempat mengelola informasi sehingga menyebabkan respon perilaku yang irasional, perilaku impulsif, dan pengambilan keputusan yang tidak optimal karena hanya didasarkan pada emosi semata (Sergerie et al., 2008). Pada penelitian lain diketahui bahwa emosi marah membuat seseorang menjadi menghindari ketidakpastian (Zhang et al., 2018). Hal ini meningkatkan keterlibatan pengguna media sosial dalam konten rage bait karena mereka memiliki tujuan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya sebagai mekanisme penghindaran akan ketidakpastian (Zhang et al., 2018). Memanfaatkan kemarahan para pengguna media sosial, pihak-pihak tertentu mendapatkan keuntungan dalam bentuk atensi maupun finansial dari interaksi yang diproduksi secara sengaja melalui konten rage bait (Cover, 2025). Kenapa konten rage bait perlu untuk dihindari? Rage bait dapat menyebabkan seseorang marah, dalam kondisi marah seseorang seringkali melakukan tindakan irasional. Perilaku irasional akibat emosi marah diketahui dapat meningkatkan risiko kecemasan kronis, kelelahan emosional, dan risiko perilaku cyberbullying (Yasin et al., 2025). Selain itu, konten rage bait juga meningkatkan risiko kita terkena misinformasi karena kondisi marah membuat seseorang menjadi lebih mudah mengingat informasi (Lee et al., 2023). Di tengah industri media sosial yang memanen emosi negatif demi keuntungan, diperlukan strategi perlindungan diri agar kita tidak menjadi korban dari industri dan menjaga kesehatan mental. Lalu, apakah strategi efektif tersebut? Gunakanlah 4 langkah “MAIN” dalam mengonsumsi konten di sosial media. “M” untuk “Mindful. “A” untuk “Analisis”. “I” untuk “Isi”. “N” untuk “Nyata”. Pertama, “Mindful” dalam mengonsumsi informasi di media sosial. Mindful Adalah kondisi dimana kita benar-benar sadar denga napa yang sedang kita konsumsi. Dengan demikian, dalam menggunakan media sosial kita harus sadar, jangan mengonsumsi konten modia sosial dalam kondisi autopilit. Berilah jeda sejenak setelah menerima informasi sebelum memberikan reaksi terhadap sebuah konten. Pada sebuah penelitian diketahui bahwa mindful membuat kita lebih sadar dengan isi dari konten media sosial yang sedang kita konsumsi dan membiarkan prefrontal cortex untuk kembali bekerja sehingga dapat memproses dan memberikan respon terhadap konten secara rasional (Orji & Ita, 2024). Jeda antara waktu membaca informasi dan respon juga akan membantu kita melakukan langkah kedua. Langkah kedua adalah “Analisis”. Pengguna media sosial sebaiknya melakukan analisis terhadap informasi yang kita terima. Pengguna media sosial yang bertanggung jawab adalah mereka yang melakukan analisis terhadap informasi yang dapatkannya di internet. Analisis informasi dapat dilakukan dengan melakukan verifikasi sumber informasi, membandingkan judul dan gagasan yang dibawa dalam konten tersebut, serta melakukan pengecekkan mengenai informasi tersebut dari sumber informasi lain (Cherry, 2024). Melalui langkah ini, seseorang akan bisa membedakan apakah informasi yang dikonsumsinya adalah sebuah fakta atau hanya informasi yang dibuat untuk menarik atensi. Diketahui penjelasan yang seimbang dapat mengurangi terjadinya confirmation bias sehingga kemungkinan seseorang untuk menjadi korban dari konten rage bait juga berkurang (Schwind & Buder, 2012). Ketiga, “Isi”. Isi merujuk pada isi dari beranda media sosial. Kita mengatur preferensi konten yang akan direkomendasikan pada beranda akun media sosial kita. Rekomendasi konten yang muncul di beranda media sosial bergantung pada jenis konten-konten yang dikonsumsi oleh penggunanya. Hal ini membuat sebuah fenomena yang disebut sebagai echo chamber. Fenomena ini terjadi ketika seseorang akan lebih sering terpapar oleh konten yang sejalan dengan opini yang mereka dan jarang terpapar dengan konten yang berseberangan dengan opini mereka di media sosial (Jiang et al., 2021). Echo chamber dan confirmation bias yang merupakan bias kognitif yang dimanfaatkan rage bait memiliki hubungan yang saling menguatkan efek satu sama lain (Brugnoli et al., 2019). Dari sini, kita tahu bahwa penting bagi seseorang untuk punya kendali penuh atas konten apa yang disajikan pada rekomendasi media sosialnya. Jika bertemu dengan konten rage bait gunakan fitur mute atau block pada konten-konten dan akun yang menyajikan informasi bermuatan rage bait. Selain itu, pembentukan juga bisa dilakukan dengan mengonsumsi konten-konten “penawar”. Konten penawar dapat berupa konten-konten bermuatan edukasi yang dasar opininya dapat diverifikasi asal muasalnya. Terakhir, “Nyata” artinya ambil jarak dari media sosial dan libatkan diri dalam dunia nyata. Upaya ini sering disebut juga digital detox. Ketika kalian merasa informasi dari media sosial sudah terlalu berat untuk kalian tampung, coba ambilah jarak dari dari sosial media dan beri waktu untuk kembali berinteraksi dengan dunia nyata. Diketahui, digital detox efektif dalam meningkatkan kesehatan mental seseorang (Tariq et al., 2025). Digital detox juga dapat menurunkan risiko seseorang mengalami adiksi terhadap dalam penggunaan HP dan media sosial (Coyne & Woodruff, 2023). Semoga paparan diatas dapat lebih menyadarkan kita bahwa sekarang ini banyak konten yang memang secara sengaja dibuat untuk membuat orang lain marah dan memberikan keuntungan untuk pembuatnya. Kesehatan mental di sekarang ini bukan lagi soal membatasi durasi konsumsi saja, melainkan soal keberanian untuk tidak “termakan” ke dalam jebakan emosi yang secara luas tersedia di internet. Kedamaian pikiran adalah bentuk perlawanan tertinggi terhadap industri yang menjual kemarahan. Pengguna media sosial sebagai konsumen berperan penting dalam keberlangsungan industri rage bait ini. Oleh karena itu, penting bagi para pengguna untuk menguasai “MAIN” sebagai tameng pertahanan dari konten rage bait yang beredar di media sosial. Pengguna perlu menyadari bahwa media sosial hanyalah alat dan mereka punya kuasa penuh akan apa yang mereka konsumsi dari sosial media.

Source of idea: Psikologi di Balik Drama Internet: Mengapa Kita Mudah Terpancing?| #Sosiowibulogi by Prof Harunozuka

[embed]

**Daftar Referensi**


메타데이터
post_id
9c7cddb587c3
slug
memutus-rantai-amarah-menjaga-kewarasan-di-era-industri-rage-bait-9c7cddb587c3
url
https://medium.com/@Renkadelay/memutus-rantai-amarah-menjaga-kewarasan-di-era-industri-rage-bait-9c7cddb587c3
canonical_url
https://medium.com/@Renkadelay/memutus-rantai-amarah-menjaga-kewarasan-di-era-industri-rage-bait-9c7cddb587c3
author_url
https://medium.com/@Renkadelay
status
ok
fetched_at
2026-06-21 22:26:41