← Back to list

Ketika Polimer Masuk ke Tubuh

#1194: Yang Bersahabat di Dalam, yang Asing dari Luar

Ivan Lanin in Komunitas Blogger M · 2026-04-02 05:10 · 1,295 claps · 3.0 min read paywalled
#polimer #kimia #plastik #komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗

Sains

Ketika Polimer Masuk ke Tubuh

#1194: Yang Bersahabat di Dalam, yang Asing dari Luar

Kita tidak lagi hanya hidup di dalam lingkungan, tetapi lingkunganlah yang mulai hidup di dalam kita. (Ilustrasi: ChatGPT/AI)

Kita tidak lagi hanya hidup di dalam lingkungan, tetapi lingkunganlah yang mulai hidup di dalam kita. (Ilustrasi: ChatGPT/AI)

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah berita dan berhenti menggulir layar. Penelitian terbaru menemukan partikel plastik di dalam jaringan otak manusia. Temuannya bukan di laut atau di perut ikan, melainkan di dalam otak. Saya membaca ulang kalimat itu beberapa kali untuk memastikan tidak ada yang keliru. Perasaan itu campuran antara tidak percaya dan tidak nyaman, seperti melihat sesuatu yang terasa terlalu dini untuk terjadi.

🔑 Lanjutkan membaca dengan mengklik tautan teman ini.

Berita itu membawa ingatan lama. Saat berkuliah di Teknik Kimia, saya belajar tentang polimer sebagai molekul raksasa yang tersusun dari unit kecil bernama monomer. Unit itu berulang membentuk rantai panjang dengan sifat yang dapat dirancang. Plastik, karet, dan nilon adalah contoh paling akrab. Waktu itu polimer terasa seperti lambang kemajuan, material yang menjanjikan efisiensi dan daya tahan, bukan sesuatu yang mengundang kekhawatiran.

Yang jarang disadari adalah bahwa tubuh manusia sendiri penuh polimer. DNA tersusun dari nukleotida yang berulang membentuk rantai penyimpan informasi genetik. Protein terbentuk dari asam amino dalam urutan tertentu yang menentukan fungsi. Rambut, kuku, enzim, hingga struktur sel, semuanya dibangun dari rantai semacam itu. Tubuh bukan sekadar terpapar polimer, melainkan tersusun oleh sistem polimer yang sangat teratur.

Lalu, mengapa polimer dalam tubuh tidak berbahaya, sementara mikroplastik menjadi persoalan? Jawabannya ada pada sejarah kimianya. Polimer alami terbentuk melalui proses evolusi yang sangat panjang sehingga tubuh memiliki enzim untuk memecah dan mengelolanya. Plastik sintetis tidak memiliki pasangan biologis seperti itu. Ketika ia masuk ke tubuh, sistem imun mengenalinya sebagai benda asing yang sulit diproses dan tidak mudah disingkirkan.

Kekuatan plastik justru terletak pada kestabilan ikatan kimianya. Rantai karbon yang menyusunnya sangat sulit diputus, berbeda dengan polimer alami yang relatif mudah diurai. Sifat ini membuat plastik sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, tetapi sekaligus menjadi sumber persoalan lingkungan. Plastik yang dibuang hari ini tidak benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk menjadi fragmen yang makin kecil tanpa kehilangan struktur dasarnya.

Sinar ultraviolet, gesekan, dan panas memecah plastik menjadi serpihan kecil. Fragmen itu terus terpecah hingga berukuran kurang dari lima milimeter yang disebut mikroplastik, lalu lebih kecil lagi hingga skala mikrometer yang disebut nanoplastik. Secara kimia, ia tetap sama. Yang berubah hanya ukurannya. Justru perubahan ukuran inilah yang membuatnya dapat masuk ke ruang-ruang yang sebelumnya tidak dapat dijangkaunya.

[embed]Riset BRIN: Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik Hujan di Jakarta kini tak lagi sama. Dalam setiap tetes air itu, ada musuh yang tak kasat mata. Ada partikel plastik…mongabay.co.id

Karena sangat kecil, partikel ini tersebar luas di lingkungan. Ia ditemukan di laut, sungai, tanah, udara, bahkan dalam air hujan. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa mikroplastik sudah hadir dalam siklus yang kita anggap alami. Paparan terjadi melalui makanan, minuman, dan udara yang kita hirup setiap hari. Besarnya paparan diperkirakan cukup signifikan meski angka pastinya masih terus disempurnakan oleh penelitian.

Begitu masuk ke tubuh, nanoplastik dapat menembus penghalang biologis dan masuk ke aliran darah. Ia ditemukan dalam darah, plasenta, air susu ibu, dan jaringan otak. Partikel ini tidak mudah dihancurkan sehingga memicu respons imun yang berulang. Sejumlah penelitian mengaitkannya dengan peradangan berkepanjangan serta gangguan pada sistem hormon dan fungsi saraf walaupun hubungan sebab-akibatnya masih terus ditelusuri.

Saya kembali teringat masa kuliah. Ketahanan plastik dulu terdengar sebagai keunggulan yang layak dibanggakan. Tidak ada yang membayangkan bahwa sifat itulah yang akan menjadi persoalan. Tubuh kita menunjukkan bahwa polimer dapat selaras dengan kehidupan selama ada mekanisme untuk mengelolanya. Plastik sintetis hadir tanpa mekanisme itu. Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah tubuh mampu beradaptasi, melainkan apakah kita memberi waktu yang cukup bagi adaptasi tersebut.

Jurnal dan Kenangan

Tahun lalu, saya menghadapi persoalan tak terduga saat Lebaran berupa tumpukan sampah yang tak terangkut karena layanan libur. Bau menyengat dan gangguan kucing liar memaksa mencari solusi cepat. Setelah sempat menimbang untuk membuang sendiri, bantuan datang dari petugas kebersihan yang bersedia mengangkut sampah dengan sepeda motor. Pekerjaan yang sering luput dari perhatian justru menjadi penopang kenyamanan sehari-hari.

[embed]Tumpukan Sampah #829: Yang terlupakan saat libur Lebaranivanlanin.medium.com

Dua tahun lalu, saya sempat datang ke lokasi bukber pada hari yang salah karena terlalu bersemangat membaca jadwal. Kekeliruan itu segera disadari, lalu diperbaiki keesokan harinya. Pertemuan yang sebenarnya berlangsung hangat, diwarnai canda tanpa jaim di antara teman-teman lama. Meski usia dan posisi telah berubah, kebersamaan itu menghadirkan ruang aman untuk menjadi diri sendiri dan menikmati kembali keakraban yang sederhana.

[embed]Salah Hari #464: Tiada jaim dalam bukber angkatanivanlanin.medium.com

Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨‍🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.


메타데이터
post_id
9cc58d81bd08
slug
ketika-polimer-masuk-ke-tubuh-9cc58d81bd08
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/ketika-polimer-masuk-ke-tubuh-9cc58d81bd08
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/ketika-polimer-masuk-ke-tubuh-9cc58d81bd08
author_url
https://medium.com/@ivanlanin
status
ok
fetched_at
2026-06-24 18:57:25