Is it Truly Empathy, or Just Hidden Fear?
The silent battle that people pleasers go through
Is it Truly Empathy, or Just Hidden Fear?

I was on my way home from a short trip when the question above suddenly kept looping endlessly in my head, as if it was begging to be unraveled, until I finally started writing it down here.
I used to think there was a good thing for being a people pleaser. Having a big, or maybe HUGE empaty.
Tapi kenapa rasanya aku seperti sembunyi dibalik kata empati itu? Padahal sebenarnya yang aku tekan adalah rasa bersalah.
Yang sulit kita yakini bahwa sebenarnya empati yang sehat itu fokusnya memahami perasaan orang lain tanpa harus mengorbankan diri sendiri.
Sedangkan akar dari people pleasing sering kali bukan karena kita murni ‘peduli’, melainkan karena adanya fear of rejection (takut ditolak), takut konflik, atau kebutuhan ekstrem akan validasi eksternal agar kita merasa aman dan berharga.
Kenapa takut? Kenapa tidak berani membuat boundaries yang jelas? Kenapa penolakan terasa seperti akhir dari segalanya? Kenapa kritik terasa seperti serangan yang menghancurkan diri?
Is it actually a survival mechanism disguised as empathy?
Bagi seorang people pleaser, konflik sering kali dianggap sebagai ‘ancaman’ atau akhir dari sebuah hubungan.
Padahal, manajemen konflik yang sehat justru mengajarkan kalau perbedaan pendapat atau benturan itu wajar, dan bisa diselesaikan tanpa harus ada pihak yang ‘tumbang’ atau mengorbankan diri.
Selain itu, banyak people pleaser yang merasa dirinya berharga hanya ketika mereka bisa membantu atau berguna bagi orang lain.
Yang perlu ditanamkan adalah kamu berharga karena Allah bukan dari validasi manusia, bukan karena produktivitasmu dalam membahagiakan orang lain. Kamu tetap orang baik dan layak disayangi, bahkan saat kamu sedang tidak bisa memberikan bantuan apa-apa.
Seringnya, people pleaser punya refleks otomatis untuk langsung bilang "Iya!" begitu dimintai tolong, lalu menyesal belakangan. Keterampilan yang perlu dilatih di sini adalah buying time atau membeli waktu untuk berpikir.
Mulai latih kalimat-kalimat jeda seperti: “Aku cek jadwal/kapasitasku dulu ya, nanti aku kabari” atau “Kasih aku waktu sampai malam untuk mikir ya.” Jeda ini sangat penting untuk memutus reflek otomatis tadi.
Sering kali, karena terlalu sering mengalah, seorang people pleaser menumpuk rasa dongkol diam-diam. Bahayanya, rasa dongkol ini kalau dibiarkan bisa berubah jadi perilaku passive-aggressive atau burnout emosional.
Lalu latih diri untuk memulai komunikasi asertif, bukan pasif (memendam perasaan) dan bukan agresif (menyerang orang lain). Ini adalah kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan, batasan, dan perasaan kita secara jujur, tegas, tapi tetap menghargai orang lain.
Gunakan rumus “I-statement”. Rumus ini mengubah fokus pembicaraan dari "menyerang orang lain" menjadi "mengekspresikan diri sendiri." Contoh: "Aku pengen banget bantu kamu, tapi saat ini energiku lagi habis buat tugasku sendiri, jadi aku harus nolak dulu ya."
Akhir kata, yg perlu kita sadari, menghilangkan kebiasaan people pleasing itu proses seumur hidup, bukan sesuatu yang langsung berubah setelah baca tulisan di atas. Jadi, don’t be hard on yourself kalau sesekali kamu masih "gagal" mempraktekkannya.
Semoga tulisan ini dapat menjadi alat bantu yang sewaktu-waktu bisa kamu ambil dikantongmu, saat kamu mulai kewalahan dengan ekspektasi orang lain.
-with love, H
메타데이터
- post_id
- 9cd2d07972fd
- slug
- is-it-truly-empathy-or-just-hidden-fear-9cd2d07972fd
- url
- https://medium.com/@hamidahbawazier/is-it-truly-empathy-or-just-hidden-fear-9cd2d07972fd
- canonical_url
- https://medium.com/@hamidahbawazier/is-it-truly-empathy-or-just-hidden-fear-9cd2d07972fd
- author_url
- https://medium.com/@hamidahbawazier
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-04 06:46:18