← Back to list

Kenapa Kita Perlu Berhenti Mengejar Kebahagiaan

Seri 2— Pendekatan Filosofis

Abang Edwin SA in Berbagi & Berdampak · 2026-08-01 22:01 · 111 claps · 6.8 min read
#filosofi #kebahagiaan #berbagi-dan-berdampak #highlights #refleksi
Open on Medium ↗

Kenapa Kita Perlu Berhenti Mengejar Kebahagiaan

Seri 2— Pendekatan Filosofis

Photo by Cristian Escobar on Unsplash

Photo by Cristian Escobar on Unsplash

Masih ingat percakapan Rahadi dan Amri di warung kopi? Rahadi, bapak setengah baya dengan kumis tipis, meyakini bahwa kebahagiaan hanya bisa dirasakan setelah melewati penderitaan. Amri, pemuda tiga puluhan yang lugas, mempertanyakan nasib orang yang hidup dalam kecukupan — apakah mereka layak dikasihani karena tak punya “tolak ukur” perbandingan?

Pada seri sebelumnya, kita telah menelusuri jawaban dari sudut pandang psikologi. Kini giliran filsafat yang angkat bicara.

Selama 2.500 tahun, para filsuf telah bergulat dengan pertanyaan ini. Dan menariknya, mereka terpecah menjadi dua kubu besar. Dua kubu yang justru diwakili oleh Rahadi dan Amri.

Tapi sebelum kita masuk ke dua kubu itu, mari kita tanyakan sesuatu yang lebih mendasar: Mengapa kita begitu terobsesi mengejar kebahagiaan? Dan mungkinkah — justru karena kita terlalu keras mengejarnya — kita malah menjauh darinya?

Kubu Pertama: Rahadi dan Nietzsche — Derita sebagai Pembentuk Jiwa

Rahadi, tanpa sadar, adalah pewaris tradisi filsafat yang diwakili oleh Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman yang kontroversial dan hidup pada abad ke-19.

Nietzsche pernah menulis kalimat yang sangat terkenal: “Was mich nicht umbringt, macht mich stärker.” — Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat. Baginya, derita adalah tempaan yang membentuk manusia menjadi lebih besar, lebih agung, lebih hidup. Tanpa derita, manusia akan lunak, hambar, dan hampa.

Dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra, Nietzsche menulis bahwa “manusia adalah tali yang terbentang di antara hewan dan superman — tali di atas jurang.” Derita adalah jurang yang harus dilintasi untuk menjadi lebih dari sekadar manusia biasa. Tanpa melewati jurang itu, kita tak pernah tahu seberapa kuat kita sebenarnya.

Nietzsche bahkan lebih ekstrem: ia mengkritik agama dan filsafat yang berusaha menghilangkan penderitaan. Baginya, justru penderitaanlah yang membuat hidup berharga. “Kedalaman hidup diukur dari seberapa dalam seseorang tenggelam dalam penderitaan,” tulisnya. Dengan kata lain, semakin besar derita yang kita alami dan kita atasi, semakin dalam dan bermakna hidup kita.

Sebelum Nietzsche, filsuf Jerman lain bernama Georg Wilhelm Friedrich Hegel mengajarkan apa yang disebut dialektika — sebuah proses di mana kebenaran lahir dari benturan dua hal yang berlawanan.

Hegel menjelaskan caranya: pertama ada tesis, yaitu pernyataan atau keadaan awal. Lalu muncul antitesis, yaitu lawan atau tantangan dari pernyataan awal. Dan dari benturan keduanya, lahirlah sintesis — sebuah kebenaran baru yang lebih tinggi dan lebih sempurna.

Dalam konteks kebahagiaan, penderitaan adalah antitesis yang diperlukan agar kebahagiaan — sebagai sintesis — menjadi lebih bermakna. Tanpa antitesis, tesis tidak akan pernah berkembang menjadi sintesis yang lebih tinggi.

Rahadi sepenuhnya berada di aliran ini. Baginya, tanpa penderitaan, kebahagiaan tak akan pernah lahir dengan sempurna.

Kubu Kedua: Amri dan Epikurus — Kebahagiaan dalam Ketenangan

Tapi Amri, dengan pertanyaannya yang lugas, justru membawa kita pada tradisi filsafat yang lebih tua dan sama sekali berbeda.

Epikurus, filsuf Yunani kuno yang hidup pada abad ke-3 sebelum Masehi, mengajarkan bahwa kebahagiaan tertinggi adalah ataraxia — ketenangan jiwa yang bebas dari rasa sakit. Ia mengajarkan bahwa manusia menderita karena ia menginginkan sesuatu yang tidak ia miliki. Maka solusi paling logis bukanlah berjuang mati-matian untuk mendapatkannya, tapi mengurangi keinginan itu sendiri.

Epikurus pernah berkata: “Jangan merusak apa yang sudah kau miliki dengan menginginkan apa yang tidak kau miliki. Ingatlah bahwa apa yang kau miliki sekarang adalah apa yang dulu sangat kau inginkan.” Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa keinginan manusia tidak pernah puas — begitu kita mendapat sesuatu, kita segera menginginkan hal lain.

Orang yang cukup — yang tidak lapar, tidak kekurangan, tidak perlu menabung bertahun-tahun — justru sudah berada di puncak kebahagiaan menurut Epikurus. Ia tak perlu mendaki gunung atau menciptakan derita buatan. Yang ia butuhkan hanyalah bersyukur dan menerima.

Epikurus akan menepuk pundak Rahadi dan berkata: “Kenapa harus mendaki gunung jika kau sudah damai di rumah?”

Stoisisme: Berhenti Mengejar, Mulai Menerima

Sekolah filsafat Stoisisme, yang dipopulerkan oleh Epictetus — seorang budak yang menjadi filsuf — serta Seneca dan Kaisar Romawi Marcus Aurelius, juga berbicara tentang kebahagiaan yang tak bergantung pada keadaan eksternal.

Inilah mengapa judul seri ini berbunyi “Kenapa Kita Perlu Berhenti Mengejar Kebahagiaan.” Karena Stoisisme mengajarkan sesuatu yang radikal: kebahagiaan tidak ditemukan dengan mengejarnya, tapi dengan berhenti mengejar dan mulai menerima.

Marcus Aurelius menulis dalam bukunya Meditations: “Jika Anda terganggu oleh hal-hal eksternal, rasa sakit bukan disebabkan oleh hal itu sendiri, melainkan oleh penilaian Anda terhadapnya; dan ini Anda memiliki kekuatan untuk mencabutnya kapan saja.”

Ini adalah kebalikan dari logika Rahadi. Rahadi berkata: “Penderitaan membuat kebahagiaan terasa.” Stoisisme berkata: “Kebahagiaan dan penderitaan ditentukan oleh cara kita memaknai sesuatu, bukan oleh peristiwa itu sendiri.” Dengan kata lain, dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama persis — satu menganggapnya sebagai bencana, yang lain menganggapnya sebagai pelajaran berharga. Perbedaannya ada di dalam kepala, bukan di luar.

Seneca, salah satu tokoh Stoisisme paling terkenal, menulis dengan tajam: “Bukanlah orang yang sedikit yang miskin, melainkan orang yang selalu menginginkan lebih.” Ini mengingatkan kita bahwa kemiskinan sejati bukanlah soal berapa banyak harta yang kita miliki, tapi soal berapa banyak keinginan yang tak pernah terpuaskan dalam diri kita.

Bagi Stoisisme, Pak Heru — yang hidup cukup dan damai — justru adalah orang yang paling kaya. Ia tidak butuh kontras. Ia butuh penerimaan. Dan itu sudah cukup untuk membuatnya bahagia.

Buddhisme: Derita Itu Universal, Tapi Bisa Dilepaskan

Siddhartha Gautama, sang Buddha, mengajarkan Empat Kebenaran Mulia yang intinya adalah: penderitaan (dukkha) adalah bagian dari kehidupan semua makhluk — kaya atau miskin, cukup atau kekurangan. Kemudian, penyebab penderitaan adalah kemelekatan (tanha) pada keinginan. Lalu, penderitaan bisa berakhir jika kemelekatan dilepaskan. Dan terakhir, ada jalan untuk melepaskan kemelekatan, yaitu Jalan Berunsur Delapan.

Menariknya, Buddha tidak mengajarkan bahwa kita harus menciptakan penderitaan agar bahagia. Justru sebaliknya: kita harus melepaskan kemelekatan agar penderitaan berakhir.

Ini berbeda dari Rahadi. Rahadi berkata: “Butuh derita untuk bahagia.” Buddha berkata: “Lepaskan keinginan, maka derita akan berakhir — dan kebahagiaan sejati datang dengan sendirinya.” Kebahagiaan dalam Buddhisme bukanlah sesuatu yang diraih dengan berjuang, tapi sesuatu yang muncul ketika kita berhenti berjuang melawan kenyataan.

Buddha juga mengajarkan jalan tengah — bukan hedonisme yang memanjakan setiap keinginan, tapi juga bukan asketisme yang menyiksa diri. Keduanya adalah ekstrem. Kebahagiaan sejati ada di antara keduanya, pada keseimbangan dan penerimaan.

Inilah mengapa “berhenti mengejar” bukan berarti berhenti hidup. Justru sebaliknya: dengan berhenti mengejar kebahagiaan sebagai tujuan, kita justru membuka ruang bagi kebahagiaan untuk hadir dengan sendirinya.

Dua Fase Kehidupan

Jika kita merangkum dua kubu filsafat ini, kita bisa melihatnya sebagai dua fase kehidupan yang mungkin kita alami bergantian.

Fase pertama adalah fase pencari. Di fase ini, seseorang membutuhkan tantangan, kontras, dan derita untuk merasa tumbuh. Ini adalah fase Nietzsche dan Hegel. Ini adalah fase Rahadi. Ini juga fase Maya yang mencari tantangan baru. Fase ini sangat valid bagi mereka yang sedang dalam proses membangun diri — seperti mahasiswa yang berjuang menyelesaikan skripsi, atlet yang berlatih keras untuk kompetisi, atau pengusaha yang merintis bisnis dari nol. Derita di fase ini benar-benar menjadi guru dan jembatan menuju kebahagiaan.

Fase kedua adalah fase bijak. Di fase ini, seseorang sudah cukup, sudah damai, dan tidak perlu menambah derita untuk merasa hidup. Ini adalah fase Epikurus, Stoisisme, dan Buddha. Ini adalah fase Amri. Ini juga fase Pak Heru yang sudah menemukan damai dalam kecukupan. Di fase ini, kebahagiaan tidak datang dari kontras, tapi dari penerimaan dan makna.

Rahadi tidak salah ketika ia berbicara dari fase pencari. Bagi mereka yang sedang membangun diri, derita memang menjadi guru. Ini adalah fase yang sah dan penting dalam kehidupan setiap orang.

Tapi Rahadi keliru jika menggeneralisasi fase ini untuk semua orang, seolah-olah penderitaan buatan adalah satu-satunya obat kehampaan. Tidak semua orang harus menciptakan derita untuk merasa hidup.

Amri juga tidak salah ketika ia mempertanyakan nasib orang yang cukup. Tapi Amri juga keliru jika ia meremehkan kuasa perjuangan dalam membentuk karakter. Ada orang yang memang membutuhkan tantangan untuk tumbuh, dan itu tidak salah.

Lalu, Apa Jawaban Filsafat?

Filsafat tidak memberi satu jawaban — ia memberi perspektif. Dan dari semua perspektif ini, kita bisa menarik beberapa pelajaran berharga.

Pertama, derita bisa menjadi jembatan menuju kebahagiaan — seperti yang diajarkan Nietzsche dan Hegel. Tapi ini bukan satu-satunya jalan.

Kedua, kebahagiaan juga bisa datang dari ketenangan dan penerimaan — seperti yang diajarkan Epikurus, Stoisisme, dan Buddha. Jalan ini tak membutuhkan derita.

Ketiga, yang membedakan bukanlah ada-tidaknya derita, tapi ada-tidaknya makna. Seperti kata Nietzsche sendiri, siapapun yang punya alasan untuk hidup bisa bertahan dalam keadaan apa pun.

Keempat, kita bebas memilih sikap — baik dalam derita maupun dalam kecukupan. Seperti kata Marcus Aurelius, penderitaan lebih banyak ditentukan oleh penilaian kita daripada peristiwa itu sendiri.

Dan yang terpenting: kebahagiaan bukanlah tujuan yang harus dikejar. Ia adalah efek samping dari hidup yang bermakna. Semakin keras kita mengejarnya, semakin ia menjauh. Tapi ketika kita berhenti mengejar dan mulai hidup dengan makna — entah dalam perjuangan maupun dalam ketenangan — kebahagiaan datang dengan sendirinya.

Kecurigaan yang Baik

Rahadi menutup percakapannya dengan satu kalimat yang indah: “Di balik penderitaan itu adalah jembatan untuk kebahagiaan baru. Itu kecurigaan yang baik.”

Kata “kecurigaan” di sini sangat penting. Karena kecurigaan bukanlah kepastian — ia adalah undangan untuk bertanya. Mungkin penderitaan memang jembatan. Mungkin juga tidak. Yang pasti, kita tidak perlu menciptakan penderitaan palsu hanya untuk merasakan hidup.

Kita juga tidak perlu mengasihani mereka yang hidup dalam kecukupan. Karena kebahagiaan bukanlah perlombaan. Ia adalah keterampilan — keterampilan untuk melihat cahaya dalam gelap, dan juga keterampilan untuk melihat cahaya dalam terang.

Kesimpulan Akhir

Baik Rahadi maupun Amri, Maya maupun Pak Heru — mereka semua sedang menempuh jalan masing-masing. Dan di setiap jalan, ada kebahagiaan yang menunggu untuk ditemukan — dengan atau tanpa derita.

Filsafat mengajarkan kita satu hal yang berharga: kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak derita yang kita lewati. Tapi tentang seberapa dalam kita memaknai setiap langkah yang kita ambil.

Mungkin inilah jawaban untuk pertanyaan Amri di awal: orang yang hidup dalam kecukupan tidak perlu dikasihani. Mereka hanya perlu diingatkan — seperti kita semua — untuk berhenti sejenak, melihat apa yang sudah ada, dan menemukan makna di dalamnya.

Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah sesuatu yang kita kejar. Ia adalah sesuatu yang kita izinkan hadir — ketika kita berhenti berlari dan mulai menerima.

“Kebahagiaan bukanlah tujuan yang harus dikejar. Ia adalah efek samping dari hidup yang bermakna.”

Tulisan ini adalah seri kedua dari dua seri artikel yang terinspirasi dari percakapan antara Rahadi dan Amri. Untuk memahami sisi psikologis dari hubungan derita dan kebahagiaan, baca seri sebelumnya: “Benarkah Kita Harus Menderita Dulu untuk Bahagia?”

Pertanyaan untuk pembaca:

Apakah kamu masih sibuk mengejar kebahagiaan? Atau mungkin sudah saatnya berhenti sejenak, melihat apa yang sudah ada, dan menemukan makna di dalamnya?

Tidak ada jawaban benar atau salah. Yang ada hanyalah perjalanan. Dan di setiap perjalanan, ada kebahagiaan yang menunggu untuk ditemukan.


메타데이터
post_id
9ceea3cfae2a
slug
kenapa-kita-perlu-berhenti-mengejar-kebahagiaan-9ceea3cfae2a
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/kenapa-kita-perlu-berhenti-mengejar-kebahagiaan-9ceea3cfae2a
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/kenapa-kita-perlu-berhenti-mengejar-kebahagiaan-9ceea3cfae2a
author_url
https://medium.com/@abangedwin
status
ok
fetched_at
2026-08-11 07:53:10