← Back to list

Tujuh — 7

Sebelum benar-benar pulang, waktu akan bermurah hati. Ia akan duduk di sisiku selama tujuh menit terakhir, lalu membuka lembar demi lembar…

Jea · 2026-07-30 10:47 · 0 claps · 1.8 min read
#sadness-poetry #beloved #soulmates #death-and-dying
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative 🧘 · Spirituality 💭 · Philosophy of Spirit

Tujuh — 7

Sebelum benar-benar pulang, waktu akan bermurah hati. Ia akan duduk di sisiku selama tujuh menit terakhir, lalu membuka lembar demi lembar hidup yang pernah kutitipkan pada semesta.

Aku sempat mengira ia akan memperlihatkan mimpi-mimpi yang pernah kupeluk dengan susah payah, atau segala yang dahulu kuanggap sebagai kebahagiaan. Namun rupanya, waktu terlalu mengenalku. Ia menyingkirkan seluruh hal yang pernah kubanggakan, dan dengan jemarinya yang dingin, ia menuliskan namamu sebagai satu-satunya yang tertinggal.

Pada menit pertama, semesta membawa pulang pertemuan kita. Aku melihat takdir tersenyum malu-malu ketika mempertemukan dua manusia yang sama-sama tak pernah tahu bahwa mereka akan saling menjadi rumah. Sejak saat itu, waktu diam-diam belajar mengeja namamu di setiap detaknya.

Pada menit kedua dan ketiga, kenangan datang mengetuk pintu ingatanku satu per satu. Ia menjelma menjadi tawamu yang paling kusukai, menjadi caramu menyebut namaku dengan begitu pelan, menjadi matamu yang selalu berhasil membuat dunia di dalam dadaku berhenti gaduh. Betapa kejamnya cinta, ia tak pernah meminta izin untuk menetap, tetapi selalu meminta waktu yang lebih lama ketika hendak pergi.

Pada menit keempat, hujan di mataku akhirnya jatuh. Sebab waktu dengan sengaja memperlihatkan seluruh hal yang tak sempat kita genapkan. Pelukan yang terpotong oleh jarak, percakapan yang terlanjur diakhiri oleh kantuk, dan doa-doa yang tak pernah sempat kusampaikan dengan suara yang cukup keras agar semesta mendengarnya.

Aku baru menyadari, ternyata yang paling menyakitkan dari kehilangan bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan mengetahui bahwa ada begitu banyak "seandainya" yang tak lagi memiliki tempat untuk pulang.

Pada menit kelima, rindu mulai merobek pelan-pelan dinding dadaku. Ia menjelma menjadi seorang pengemis yang meminta sedikit lagi waktu untuk mengingatmu. Sebab bagaimana mungkin tujuh menit mampu menampung seseorang yang kucintai sepanjang hidupku?

Bukankah terlalu kejam jika semesta memintaku melupakanmu dalam hitungan menit, sedangkan waktu mengajariku mencintaimu selama bertahun-tahun?

Pada menit keenam, aku melihat waktu menua di wajah kita. Ia diam-diam telah mencuri begitu banyak hal yang kita miliki—kesempatan untuk berlama-lama, pelukan yang tertunda, dan janji-janji kecil yang kita simpan untuk hari esok. Betapa seringnya kita mempercayai kata "nanti", seolah waktu tak pernah belajar mengucapkan "cukup".

Dan pada menit terakhirku, semesta memintaku memilih satu kenangan untuk kubawa pulang. Aku tak memilih hari ketika kita saling jatuh cinta, ataupun hari ketika dunia terasa begitu berpihak kepada kita.

Aku memilih dirimu yang sedang tersenyum.

Sebab dari seluruh yang pernah singgah dalam hidupku, hanya kaulah yang tak pernah benar-benar pergi. Kau menetap di antara detak yang paling gaduh dan doa yang paling lirih. Bahkan ketika waktu mulai menutup kedua mataku, namamulah yang masih dipeluk oleh ingatanku.

Maka jika benar manusia hanya memiliki tujuh menit terakhir sebelum pulang, aku berharap waktu berlaku sedikit lebih kejam kepadaku—biarkan ia melupakan seluruh hidupku, tetapi jangan pernah mengambilmu dari tujuh menit itu.

Sebab seumur hidup ternyata masih terlalu singkat untuk mencintaimu, dan tujuh menit terakhir akan selalu terlalu sempit untuk menampung seluruh tentangmu.

-Written by Jea


메타데이터
post_id
9cf3d8d08c78
slug
tujuh-7-9cf3d8d08c78
url
https://medium.com/@seoulcheries/tujuh-7-9cf3d8d08c78
canonical_url
https://medium.com/@seoulcheries/tujuh-7-9cf3d8d08c78
author_url
https://medium.com/@seoulcheries
status
ok
fetched_at
2026-09-01 14:53:48