← Back to list

Fonologi: Tentang Vokal

Fonologi Bagian #3 —Vokal, Bunyi Kecil yang Paling Sering Kita Pakai (dan Paling Sering Bikin “Rasa” Ucapan Berbeda)

Aku Bahasa · 2026-01-02 03:44 · 0 claps · 5.1 min read
#bahasa-indonesia #vokal #fonologi
Open on Medium ↗

Fonologi: Tentang Vokal

Fonologi Bagian #3 —Vokal, Bunyi Kecil yang Paling Sering Kita Pakai (dan Paling Sering Bikin “Rasa” Ucapan Berbeda)

Sumber Gambar: Media Indonesia

Sumber Gambar: Media Indonesia

Kalau kamu mendengar dua orang mengucapkan kata yang sama — misalnya toko atau kebun — kadang bunyinya terasa sedikit berbeda. Pelafalan kata toko sebagai [toko] atau [tɔkɔ] dirasakan biasa; demikian pula kata kebun yang diucapkan [kəbun] atau [kəbɔn]. Bukan salah, bukan juga “nggak baku”. Itu wajar, karena bahasa memang hidup di tengah penutur yang beragam. Di Indonesia, banyak orang tumbuh dengan dua dunia bahasa, yakni bahasa daerah di rumah dan bahasa Indonesia di sekolah/ruang formal. Situasi seperti ini membuat bahasa Indonesia memiliki variasi bunyi yang berjalan berdampingan.

Serial fonologi ini membahas vokal dalam bahasa Indonesia secara ringkas tapi berbobot. Apa saja vokal kita, mengapa bunyinya bisa sedikit berbeda, dan kenapa ejaan tidak selalu bisa “menjelaskan” bunyi yang kita dengar.

1) Enam vokal bahasa Indonesia (bukan lima)

Dalam bahasa Indonesia, secara fonologis ada enam fonem vokal:

/i/, /e/, /ə/, /a/, /o/, /u/

Kalau dibuat “peta lidah”, vokal-vokal ini bisa dibayangkan dari dua arah:

  • tinggi–rendah (seberapa “naik” posisi lidah)
  • depan–belakang (bagian lidah yang dominan bergerak)

Ringkasnya:

  • /i/ dan /u/ = vokal tinggi (lidah lebih naik)
  • /a/ = vokal rendah
  • /e/, /ə/, /o/ = berada di tingkat sedang (dengan /ə/ di tengah)

Catatan menarik, kurang lebih seperti ini. Bentuk bibir tidak “krusial” untuk membedakan makna (berbeda dengan beberapa bahasa lain). Yang lebih menentukan adalah posisi lidah dan kebiasaan sistem bunyi.

2) Fonem vs alofon pada vokal: “hurufnya sama, bunyinya bisa agak beda”

Fonem itu “unit bunyi” yang membedakan makna. Alofon itu “variasi bunyi” dari fonem yang sama. Betul, beda tipis, tetapi tidak mengubah makna.

Contoh sederhana: bunyi /i/ bisa terdengar “lebih tegang/rapat” atau “lebih longgar/terbuka” tergantung posisinya dalam kata. Maknanya tetap sama, yang berubah adalah cara realisasinya.

Dalam bahasa Indonesia, dari enam vokal tadi, empat vokal punya dua alofon:

  • /i/: [i] dan [ɪ]
  • /e/: [e] dan [ɛ]
  • /o/: [o] dan [ɔ]
  • /u/: [u] dan [ʊ]

Sedangkan:

  • /ə/ hanya [ə] (ini yang sering kita sebut e pepet)
  • /a/ hanya [a]

Agar enak dibaca orang awam, bayangkan begini:

  • varian [i, e, o, u] = terasa lebih “tertutup/rapat”
  • varian [ɪ, ɛ, ɔ, ʊ] = terasa lebih “terbuka/longgar”

Bisa lihat ilustrasi di bawah ini juga, ya.

Bagan Vokal (Sumber: TBBBI)

Bagan Vokal (Sumber: TBBBI)

3) Kapan bunyinya “rapat” dan kapan “agak terbuka”?

Coba kita buat polanya agar lebih dipahami.

a) Pengaruh suku kata terbuka vs tertutup

  • Suku kata terbuka (berakhir vokal) cenderung memakai varian yang lebih “rapat”. Misal: gi-gi, i-ni, ta-li, si-sa → /i/ terdengar [i]
  • Suku kata tertutup (berakhir konsonan), terutama yang tidak mendapat tekanan, cenderung memakai varian lebih “terbuka”. Misal: ban-ting, ki-rim, sa-lin, pa-rit → /i/ terdengar [ɪ]

b) Tekanan kata bisa “menggeser” kualitas vokal

Menariknya, ketika kata berimbuhan mengubah letak tekanan, kualitas vokal juga bisa ikut berubah.

Contoh:

  • [bantɪŋ] → [bantinan]
  • [salɪn] → [salinan]
  • [kɪrɪm] → [kiriman]

Orang kadang salah memenggal di akhir baris jadi banti-ngan, kiri-man, sali-nan, padahal pembentukannya banting-an, kirim-an, salin-an. Ini contoh bagus bahwa fonologi (bunyi) bisa “mempengaruhi” kebiasaan ortografis (cara menulis/memenggal).

c) Kasus khusus kata serapan

Pada beberapa kata serapan Indo-Eropa, /i/ cenderung tetap terdengar “rapat” meski berada di suku kata tertutup:

  • politik, demokratis, positif

Artinya, aturan fonologi itu punya pola umum, tapi bahasa juga punya “pengecualian” karena sejarah kata dan pengaruh serapan.

4) Mengapa orang Jawa dan Sunda terdengar beda saat mengucap vokal?

Dalam realisasi fonem-fonem bahasa Indonesia dapat ditemukan gejala diasistem, gejala yang memperlihatkan keberagaman varian fonetis sebagai realisasi fonem yang sama di dalam posisi yang sama, terutama pada realisasi vokal /i/, /e/, /o/, dan /u/. Contohnya begini:

  • Penutur Jawa cenderung mengucap toko/tokoh dengan kualitas /o/ yang berbeda (misalnya terasa lebih “rapat” pada posisi tertentu).
  • Penutur Sunda sering menyamakan kualitas /o/ pada posisi yang mirip.

Intinya, variasi seperti ini normal dalam masyarakat multibahasa. Akan tetapi ada batasnya. Kalau sebuah fonem direalisasikan dengan bunyi yang “di luar kebiasaan” (misalnya /ə/ dibunyikan seperti [e] yang “taling”), bisa terdengar janggal bagi penutur lain.

Secara singkat vokal dan alofonnya dalam bahasa Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut.

Tabel Vokal dan Alofonnya (Sumber: TBBBI)

Tabel Vokal dan Alofonnya (Sumber: TBBBI)

5) Diftong vs deret vokal: “sekali luncur” vs “dua kali buka”

Bagian ini penting karena sering bikin orang bingung saat membaca ejaan.

a) Diftong (satu bunyi vokal yang “meluncur”)

Bahasa Indonesia punya empat diftong fonemis:

  • /ay/ ditulis aisungai
  • /aw/ ditulis auharimau
  • /oy/ ditulis oisekoi
  • /ey/ ditulis eisurvei

Diftong itu terasa seperti satu tarikan bunyi dalam satu suku kata.

b) Deret vokal (dua vokal berjejer, tapi terpisah suku kata)

Deret vokal adalah dua vokal yang masing-masing punya “dorongan napas” sendiri, biasanya masuk ke suku kata berbeda. Contoh di materi:

  • gu-lai (gulai), ma-u (mau), Me-i (Mei)

c) Bonus: variasi /ey/ dari kata serapan

Karena banyak kata asing masuk, diftong /ey/ (ditulis ei) sering bervariasi dengan /ay/ pada kata tertentu, dan itu tecermin di ejaan:

  • survei ~ survai
  • seprei ~ seprai
  • perei ~ perai

6) Fonotaktik: kenapa ada bentuk yang “terasa Indonesia” dan ada yang “asing”?

Fonotaktik itu aturan tak tertulis tentang deretan bunyi apa yang lazim dalam suatu bahasa. Dari daftar deret vokal, terlihat bahwa deret /ee/ dan /eu/ tidak lazim sebagai bentuk dasar dalam bahasa Indonesia. Biasanya muncul di bentuk berimbuhan, seperti seekor dan seutas.

Karena fonotaktik inilah, penutur bisa “merasa” sebuah bentuk itu Indonesia atau asing, bahkan untuk kata yang belum pernah ia dengar. Materi memberi ilustrasi:

  • Bentuk seperti *koule, makeut, kuona terasa asing.
  • Bentuk seperti *piur, kiana, muti terasa “mungkin Indonesia”, meski sebenarnya tidak dikenal sebagai kata baku.

Ini menunjukkan intuisi kebahasaan kita bekerja bukan hanya dari kosakata, tapi juga dari pola bunyi yang terasa “wajar”.

7) Cara penulisan vokal: ejaan tidak mencatat alofon

Satu hal yang pasti, ejaan bahasa Indonesia tidak menuliskan alofon. Walau /i/ bisa terdengar [i] atau [ɪ], penulisannya tetap i. Begitu juga /u/ tetap u, /o/ tetap o. Itu sebabnya sistem ejaan kita tampak sederhana dan konsisten. Satu sumber kebingungan yang paling sering muncul justru pada huruf …, ya, betul. Huruf e. Karena huruf e bisa mewakili dua fonem:

  • /e/ (sering terasa seperti “é/taling”), dan
  • /ə/ (e pepet)

Maka, kata yang sama-sama memakai “e” bisa menuntut kualitas bunyi berbeda tergantung kata dan kebiasaan pengucapannya.

Sekali lagi, ejaan tidak mencatat variasi bunyi. Yang ditulis adalah “bentuk pokoknya”.

8) Simpulan

Pada akhirnya, membahas vokal itu seperti membahas “warna” dalam suara kita. Hurufnya mungkin sama, tetapi bunyinya bisa sedikit bergeser — lebih rapat, lebih terbuka — tergantung posisinya dalam kata, tekanan, kebiasaan penutur, sampai pengaruh bahasa daerah dan kata serapan. Di situlah kita paham, bahasa Indonesia bukan sistem bunyi yang kaku, melainkan ruang hidup yang dipakai jutaan orang dengan latar berbeda.

Bagian yang menarik, ejaan kita sengaja memilih jalan praktis. Ia menulis bentuk pokoknya saja, tanpa repot mencatat variasi bunyinya. Karena itu, tulisan terlihat sederhana, sementara kenyataannya pelafalan bisa kaya. Bahkan pada deret huruf seperti ai, au, atau oi, kita tidak selalu bisa menebak dari tulisan apakah bunyinya diftong atau dua vokal berjejer. Kita perlu “pengetahuan kata” dan konteks.

Jadi, kalau suatu hari kamu mendengar orang mengucapkan vokal dengan rasa yang berbeda, anggap itu bukan kesalahan, melainkan jejak perjalanan bahasa, pertemuan antarwilayah, kebiasaan tutur, dan kreativitas penutur yang terus membentuk bahasa Indonesia. Vokal, yang tampak kecil dan sepele, ternyata justru menjadi pintu masuk untuk melihat betapa dinamisnya cara kita berbahasa.

Sumber: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia


메타데이터
post_id
9d0e017f56cc
slug
fonologi-tentang-vokal-9d0e017f56cc
url
https://medium.com/@akubahasa.id/fonologi-tentang-vokal-9d0e017f56cc
canonical_url
https://medium.com/@akubahasa.id/fonologi-tentang-vokal-9d0e017f56cc
author_url
https://medium.com/@akubahasa.id
status
ok
fetched_at
2026-07-13 18:14:32