← Back to list

Krisis Kebenaran di Era Post-Truth

"Sulit untuk mengatakan kebenaran, karena meskipun hanya ada satu kebenaran, kebenaran itu hidup dan karena itu memiliki wajah yang hidup…

Ilham Alim · 2026-06-06 01:13 · 0 claps · 2.3 min read
#philosophy #post-truth #epistemology #information-overload #digital
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Krisis Kebenaran di Era Post-Truth

"Sulit untuk mengatakan kebenaran, karena meskipun hanya ada satu kebenaran, kebenaran itu hidup dan karena itu memiliki wajah yang hidup dan berubah."

-Franz Kafka-

Kutipan Franz Kafka di atas menggambarkan sebuah kenyataan yang menarik. Kebenaran mungkin hanya satu, tetapi cara manusia memandang, memahami, dan mengungkapkannya dapat berbeda-beda. Perbedaan perspektif ini sering kali membuat batas antara fakta, interpretasi, dan opini menjadi kabur. Di era digital, kondisi tersebut semakin diperumit oleh big-bang informasi yang terus membanjiri kita.

Kita hidup di zaman ketika media sosial mampu menyebarkan hampir segala hal dalam hitungan detik. Klaim-klaim yang dahulu mungkin hanya beredar di lingkaran kecil, kini dapat menjangkau jutaan orang hanya melalui satu unggahan. Ada yang mengatakan bahwa vaksin adalah alat pengendali manusia yang ditanamkan melalui cip. Ada yang meyakini bahwa bencana alam tertentu merupakan rekayasa kekuatan asing. Informasi yang belum terverifikasi sering kali menyebar lebih cepat daripada klarifikasinya.

Fenomena semacam ini melahirkan kembali perhatian terhadap istilah post-truth atau pasca-kebenaran. Di era kontemporer, istilah tersebut pertama kali digunakan oleh dramawan Serbia-Amerika, Steve Tesich. Melalui artikelnya yang berjudul Government of Lies pada tahun 1992, Tesich mengkritik masyarakat Amerika yang dinilainya menerima begitu saja berbagai kebohongan politik dan secara sadar memilih hidup dalam suatu kondisi pasca-kebenaran, yakni keadaan ketika fakta dan kebenaran tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam membentuk opini publik. Beberapa tahun kemudian, istilah ini kembali memperoleh perhatian luas setelah digunakan oleh Ralph Keyes sebagai judul bukunya, The Post-Truth Era (2004).

Di tengah berkembangnya gagasan tersebut, muncul kesan seolah-olah masyarakat modern telah menyerah terhadap konsep kebenaran objektif. Seakan-akan kita berkata, “Setiap orang memiliki kebenarannya sendiri.” Jika demikian, apakah masih masuk akal berbicara tentang sesuatu yang benar atau salah?

Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan filosofis yang lebih mendasar. Misalkan seseorang menyatakan bahwa tidak ada kebenaran objektif. Pernyataan itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan masalah logis yang serius. Sebab, kita dapat bertanya: apakah pernyataan “tidak ada kebenaran objektif” itu sendiri merupakan kebenaran objektif?

Jika jawabannya ya, maka pernyataan tersebut justru mengakui adanya setidaknya satu kebenaran objektif, sehingga ia membatalkan dirinya sendiri. Namun jika jawabannya tidak, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk menerima pernyataan tersebut sebagai sesuatu yang benar. Dengan kata lain, klaim itu kehilangan dasar untuk dipercaya.

Kesulitan yang sama juga berlaku pada klaim bahwa kita hidup di era pasca-kebenaran. Jika memang tidak ada standar objektif untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, maka berdasarkan ukuran apa kita dapat menyatakan bahwa masyarakat telah meninggalkan kebenaran? Pernyataan tentang keberadaan era pasca-kebenaran justru memerlukan konsep kebenaran sebagai tolok ukur agar dapat dipahami dan dinilai.

Di sinilah letak paradoksnya. Banyak pandangan relativistik berusaha menolak keberadaan kebenaran objektif, tetapi pada saat yang sama mengharapkan penolakan tersebut diterima sebagai sebuah kebenaran. Mereka berdiri di atas landasan yang sekaligus ingin mereka runtuhkan.

Karena itu, persoalan utama pada masa kini mungkin bukan apakah kebenaran objektif ada atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana manusia dapat mengenali dan mendekatinya di tengah banjir informasi, opini, propaganda, dan disinformasi yang saling bertabrakan. Kebenaran mungkin tidak selalu mudah ditemukan, tetapi tanpa keyakinan bahwa kebenaran itu ada, kita akan kehilangan dasar untuk membedakan pengetahuan dari kesalahan, fakta dari ilusi, serta argumentasi yang rasional dari sekadar keyakinan yang diulang-ulang.

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era Post-truth bukanlah ketiadaan kebenaran, melainkan kesediaan manusia untuk terus mencarinya.


메타데이터
post_id
9d7871d71b3c
slug
krisis-kebenaran-di-era-post-truth-9d7871d71b3c
url
https://medium.com/@ilhamalim800/krisis-kebenaran-di-era-post-truth-9d7871d71b3c
canonical_url
https://medium.com/@ilhamalim800/krisis-kebenaran-di-era-post-truth-9d7871d71b3c
author_url
https://medium.com/@ilhamalim800
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16