Gagal Maning, Gagal Maning
Gagal sekali, coba lagi. Gagal berkali-kali, sedih hati. Gagal puluhan kali, remuk harga diri.
Gagal Maning, Gagal Maning

Gagal Sekali, Coba Lagi
Beberapa tahun yang lalu, aku mengikuti lomba novel Dewan Kesenian Jakarta. Dengan semangat berapi-api, aku menulis novel tentang eksplorasi manusia ke luar angkasa dengan harapan bisa menang karena unik. Waktu itu aku agak kena Dunning-Kruger effect alias jadi pemula yang sombong. Aku mengira tulisanku bagus dan ideku unik.
Kenyataan menghantam. Aku jelas kalah. Tapi waktu itu aku tidak sedih. Malah ada sedikit kegembiraan ketika pertama kali merasakan kegagalan seperti itu. Ada semangat dan keingintahuan menggebu-gebu yang terpuaskan. Pola pikirku waktu itu seperti apa yang ada di bagian bawah buku tulis: “Pengalaman adalah guru terbaik.” Aku baru saja menemukan pengalaman baru, dan belajar darinya. Semangat untuk memperbaiki pun tak kalah dari semangat mencoba. Tiap kekurangan dicatat. Aku baca semua pemenang lomba novel DKJ yang bisa didapat. Aku membeli buku tentang menulis dan ikut beberapa workshop.
Aku berkembang. Jika dibanding dengan tulisan sebelum Covid, tulisanku membaik. Perbendaharaan kata lebih kaya, Strukturnya lebih jelas. Ceritanya lebih koheren. Perkembangan seperti itu juga menggembirakan.
Gagal Berkali-kali, Sedih Hati
Aku terus menulis. Di laptop, kurang lebih ada enam draft novel yang berulang kali kuperbaiki dan kukirim ke penerbit. Semuanya ditolak di tahap yang berbeda-beda. Paling jauh itu sudah sampai masuk rapat redaksi. Ada sedihnya ketika melihat keterangan naskah ditolak di submission naskah. Apa aku gak jago? Apa gak cocok? Apa terlalu idealis? Pertanyaan seperti itu muncul. Aku kemudian mencari jawabannya. Aku mengontak teman yang pernah diterbitkan penerbit mayor. Katanya harus punya leverage. Entah itu menang lomba gede, pembaca wattpad banyak, atau follower sosial media yang besar, minimal ribuan follower aktif.
Selain kawan penulis itu, seorang editor juga bilang usahakan punya basis massa yang ramai interaksi. Terutama di genre yang niche seperti fantasi yang biasanya kutulis. Momen napak tanah lain yang kudapat adalah cetak fantasi itu mahal, apalagi yang lebih dari 400 halaman dan berseri. Biaya cetak mahal, harga yang ditebus pembeli mahal, dan belum tentu cocok dengan pasar lokal. Apalagi pembaca fantasi itu cenderung cari aman dengan baca penulis luar yang sudah ada hype-nya dan punya review bagus. Membaca penulis fantasi lokal itu seperti judi.
Sedihnya bertambah, Sudah sedih karena payah, ditambah pula sedih pula karena tertolak dan berpikir salah pilih kesukaan. Kadang kepikiran buat berhenti menulis saja. Pernah juga mencoba banting stir dengan menulis Young Adult dan Metropop. Angka audiensnya lumayan, tapi rasanya ada yang kurang.
Sedih yang bertubi-tubi juga kadang bikin lesu. Semangat menulis turun. Seratus kata per hari jadi sulit. Imajinasi mentok, tidak bisa membayangkan plot atau set adegan yang nyambung, nulis dialog jadi kaku, dan seterusnya.
Menulis, yang mulanya hobi yang ingin diseriusi, kadang jadi siksaan,
Gagal Kepuluhan Kalinya, Remuk Harga Diri
Masih tentang kegagalan, tapi bukan tentang tulisan. Kali ini aku ingin bahas gagal di dunia karir. Aku juga sering gagal di sana. Alurnya pun mirip seperti gagal dalam menulis. Di kegagalan pertama, aku masih semangat sebar CV, ikut training-workshop, masuk job-fair, mantengin akun tips-trik karir dan lain-lain.
Aku sempat gabung di sebuah start-up selama beberapa tahun, sampai start-up itu hilang arah dan terombang-ambing tahun lalu. Setelah keluar, karirku juga hilang arah dan terombang-ambing. Aku mulai apply ulang ke beberapa tempat. Dan sampai sekarang, sudah ratusan CV yang kukirim. Panggilan wawancara yang diterima bisa dihitung jadi. Wawancara user lebih sedikit lagi. Buat bertahan sehari-hari, untungnya ada freelance dari rekomendasi teman lama. Uangnya lumayan, tapi tidak pasti. Apalagi adanya tuntutan dari keluarga untuk bekerja tradisional dengan penekanan lebih pada PNS atau BUMN.
Demi mengejar pekerjaan, beberapa kota sudah kudatangi untuk wawancara, terutama tahap akhir. Tentu saja butuh ongkos dan waktu buat itu. Saat mendapat kabar penolakan, rasanya capek. Sudah jauh-jauh berangkat penuh persiapan, masih saja gagal. Kemudian aku merasa payah dan kalah. Sia-sia saja pengalaman dan pendidikan. Semakin sering dibuang dari sana-sini sebagai pelamar, rasanya harga diri ini makin rendah. Kadang putus asa dan sembarang lamar, walaupun pekerjaan itu berat dan upah rendah. Yang penting kerja saja dulu.
Kegagalan Terakhir, Waktu Habis Atau Berhasil
Kegagalan menumpuk, waktu terus maju. Aku menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk gagal. Selama ini ada privilege yang jadi jaring pengaman, tapi aku tidak mau bergantung pada itu.
Lebih terhormat jadi orang gagal yang berusaha daripada jadi parasit.
Itu salah satu metode coping-ku. Selama gagal, aku menemukan beberapa metode coping. Misalnya ucapan yang bilang tiap orang punya timeline masing-masing atau tidak apa-apa jadi medioker. Kadang ada efeknya, kadang jengkel dengarnya sampai hampir jadi orang bitter dan menyedihkan. Tapi aku pikir mau sesedih apa pun hidup, jangan sampai jadi orang yang menyedihkan (Semoga tulisan ini tidak terasa seperti racauan orang yang menyedihkan)
Kegagalan menumpuk, waktu terus maju, dan aku masih berusaha. Sedikit demi sedikit. Beberapa alternatif tengah ditempuh. Mungkin suatu hari jatah kegagalan akan habis, entah karena sudah berhasil atau tidak ada lagi waktu yang tersedia.
메타데이터
- post_id
- 9d8151528e82
- slug
- gagal-maning-gagal-maning-9d8151528e82
- url
- https://medium.com/@toonagandum/gagal-maning-gagal-maning-9d8151528e82
- canonical_url
- https://medium.com/@toonagandum/gagal-maning-gagal-maning-9d8151528e82
- author_url
- https://medium.com/@toonagandum
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-27 07:40:21