← Back to list

Rintik Masih Menciumi Bumi Dengan Mesra.

Aku tak mengerti ketika orang-orang mulai bersorak. Tatapan mereka membuat hilang akal, dunia berputar, dan yang paling aneh, perasaan tak…

aertha · 2026-06-10 06:45 · 0 claps · 2.3 min read
#hujan #fiksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: MM · Multimodal & Generative Media

Rintik Masih Menciumi Bumi Dengan Mesra.

pict from pinterest.

pict from pinterest.

Aku tak mengerti ketika orang-orang mulai bersorak. Tatapan mereka membuat hilang akal, dunia berputar, dan yang paling aneh, perasaan tak nyaman mulai merambat di perutku. Terutama ketika aku melihat ragamu berlalu-lalang di tempat yang tak bisa aku raih. Aku merasa jauh, jatuh, ketika akhirnya kau mengulurkan tanganmu kepadaku.

Manik coklatmu yang dibingkai kacamata menatapku sayu. Tanganmu masih terulur, menawarkan kenyamanan yang tak pernah aku miliki sebelumnya. Sudut bibirmu tertarik sedikit, mungkin mencoba terlihat ramah? Entahlah, yang pasti aku tak mendapati kewarasanku ada di tempat yang seharusnya.

Rintik masih menciumi bumi dengan mesra, melupakan semua insan yang mencari kehangatan di bawah sini. Aku sengaja tidak membawa payung. Lagi pula, aku selalu menyukai cara rintik menyapa kulitku. Kakiku melangkah pelan mencari arah untuk berteduh dari kemesraan langit. Tiba-tiba ponselku bergetar, menampilkan secercah harapan. Pesan darimu, sederhana saja, mengajakku menikmati mie ayam di tengah hujan sore itu. Awalnya aku ragu, tapi entah mengapa hatiku ingin sekali melihat tatapan teduhmu dengan asap mie ayam yang mengepul, membuat kakiku bergerak mengikuti arah yang kau tulis dipesan.

Mie ayam itu lezat, kuah hangatnya meredakan tubuhku yang kedinginan akibat dicumbu rintik. Namun yang membuat pipiku terasa hangat justru tatapanmu. Ada sesuatu di sana yang membuat dadaku berdebar lebih gaduh daripada hujan yang jatuh di atap warung.

Rintik masih menciumi bumi dengan mesra, tetapi badanku sudah remuk sebelum rintik sampai ke bumi. Kepalaku terasa ingin meledak melihat layar gawai didepanku yang berteriak meminta untuk disentuh. Balok-balok es di gelas kopiku mulai meleleh, sangat menggambarkan semangatku yang ikut pudar bersamaan dengan lunturnya mereka, bercampur dengan warna coklat muda kopi.

Tanganku mengadah keluar jendela cafe yang lampunya berpendar redup itu, menikmati setiap tetesan rintik yang jatuh.

Disitu kau tiba-tiba datang. Kali ini basah kuyup, tampak jelas kau baru saja selesai berperang dengan badai diluar sana. Namun, tak satupun kata mengeluh yang keluar dari bibirmu itu. Netramu dari balik kacamata justru menyuarakan ketenangan, berkata seakan aku tak perlu takut dengan dunia diluar sana. Saat tanganmu bergerak membenahi gawaiku yang sejak tadi bermasalah, aku kembali merasakan sensasi aneh itu. Sesuatu yang hangat dan pelan-pelan tumbuh di dalam dada. Sesuatu yang mulai membuatku menunggu kehadiranmu lebih lama daripada yang seharusnya.

Hujan masih turun tanpa tanda-tanda akan reda. Dari balik kacamatamu, aku menangkap semburat khawatir yang berusaha kau sembunyikan. Kau bersikeras menawarkan untuk mengantarku pulang, meski setelahnya masih harus menempuh perjalanan panjang menuju rumahmu sendiri.

Aku menyerah pada kegigihanmu. Sepanjang perjalanan, hujan terus mengecup kami tanpa henti. Aku duduk diam di belakangmu, membiarkan dingin menyentuh kulitku sementara kehangatan aneh memenuhi dada. Lampu-lampu jalan tampak buram oleh rintik yang jatuh, tetapi entah mengapa malam itu terasa begitu jelas untuk kuingat. Malam itu hujan terasa lebih hangat dari biasanya.

Rintik masih menciumi bumi dengan mesra, aku bermain dengan genangan rintik, menunggu kau datang dengan kacamata khasmu. Kau memang datang, tetapi tatapan teduh yang selalu aku nanti itu hilang dari parasmu. Setiap kali netra kita bertemu, milikmu selalu menoleh ke arah lain, seakan menatapku saja kau bisa membuatmu berdarah. Tak ada lagi uluran tanganmu yang hangat, atau candaanmu yang membuat rintik diluar sana seperti tak bersuara di telingaku lagi.

Rintik masih menciumi bumi dengan mesra, tetapi aku sudah tak ingin ikut dikecup oleh rintik lagi sejak saat itu.


메타데이터
post_id
9d85778ccda2
slug
rintik-masih-menciumi-bumi-dengan-mesra-9d85778ccda2
url
https://medium.com/@4erthaaiyonashita/rintik-masih-menciumi-bumi-dengan-mesra-9d85778ccda2
canonical_url
https://medium.com/@4erthaaiyonashita/rintik-masih-menciumi-bumi-dengan-mesra-9d85778ccda2
author_url
https://medium.com/@4erthaaiyonashita
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36