Pareidolia
Malam itu saya lagi begadang di pos jaga karena kebetulan jadwal saya jaga malam. Sambil menuntaskan tulisan di beberapa kitab untuk ujian…
Pareidolia
Malam itu saya lagi begadang di pos jaga karena kebetulan jadwal saya jaga malam. Sambil menuntaskan tulisan di beberapa kitab untuk ujian koreksi dua hari lagi, tiba-tiba mata saya menangkap sesuatu di atap fiber jemuran. Kain putih bergoyang pelan, dan otak saya tentu langsung mengada-ada, mengira itu sosok kuntilanak!
Photo by Jeks Ronaldo on Unsplash
"Sialan, itu cuma mukena,"
umpat saya dalam hati ketika menghampiri dan melihat dengan saksama. Saya masih berdiri lama di sana, bergumam, "Saya kira setelah dewasa saya nggak bakal ngalamin hal konyol begini. Rupanya, pareidolia nggak kenal umur."
Dulu waktu kecil, saya juga sering mengalami hal serupa. Pernah mendongak ke langit dan melihat awan yang seolah berbentuk gajah. Atau menatap cat tembok kamar mandi yang mengelupas, mirip kepala Valak. Ada juga berbagai visual lain yang tiba-tiba terlihat bermakna. Fenomena ini disebut pareidolia, yaitu ketika seseorang menafsirkan pola acak sebagai sesuatu yang familiar, seperti wajah, bentuk, atau objek tertentu. Ini terjadi karena otak kita dirancang untuk mendeteksi pola, terutama wajah, yang penting untuk interaksi sosial dan mengenali ancaman. Saat pola ambigu masuk ke otak, ia seperti bermain tebak-tebakan “ini mirip apa ya?,” dan pada akhirnya mencocokkan pola itu dengan memori yang dikenal, seperti sosok hantu, wajah manusia, atau bentuk lainnya.
메타데이터
- post_id
- 9d888342fdfc
- slug
- pareidolia-9d888342fdfc
- url
- https://medium.com/@kamylaaa/pareidolia-9d888342fdfc
- canonical_url
- https://medium.com/@kamylaaa/pareidolia-9d888342fdfc
- author_url
- https://medium.com/@kamylaaa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 10:09:26