Binhao / binneul short story AU
Perhaps love?
Binhao / binneul short story AU
Perhaps love?
Don’t remember when it happened. I’d get dizzy just thinking about you. Because my thoughts kept stretching, my heart was surprised. It’s a little awkward that I keep saying to you that "it’s nothing" And that "my heart’s just trifling"
— perhaps love
Chapter 1: Awal?
Hao melangkah perlahan menuju altar, dia takut sejujurnya, ia masih tidak tahu siapa yang akan dinikahinya. Lia tidak memberitahu cirinya sama sekali. Ingin rasanya ia kabur, tapi ia sudah berjanji kepada Lia untuk menggantikan perempuan itu.
“Hao, tangan lu dingin banget” tanya Taerae
“Re, gue takut banget” jawab zhang hao disertai wajah piasnya
“Lu mau kabur? Mumpung masih ada kesempatan” ujar Taerae masih berusaha meyakinkan
“Nggak Re, gue udah janji sama Lia” jawab Hao tegas seraya menenangkan gemuruh perasaannya.
Hao berhenti mendadak di dekat altar, itu Hanbin, yang berdiri di altar dan menunggunya adalah Sung Hanbin, rasanya kakinya berubah menjadi agar-agar. Sial dia tambah gugup.
“Hao? Kenapa? Ayo sedikit lagi” bisikan di telinganya mengagetkannya dari keterkejutannya
“Eh? Iya” jawab Hao
Setelah pastor menyatakan mereka adalah sepasang, keduanya masih saling diam, kaku, terlihat jelas tembok pembatas diantara keduanya. Zhang Hao cukup tau diri untuk tidak banyak berbicara karena ia hanya pemeran pengganti di acara ini. Ya, ia hanya pemeran pengganti.
Chapter 2 : Hanya angan
Hao sedang tiduran di kamarnya sambil menonton ulang drama lawas berjudul princess hours, walaupun sudah puluhan kali menontonnya rasanya ia tetap tidak pernah bosan, tapi kali ini rasanya beda, ia seperti merasakan hidupnya dan Shin Chae-kyeong tidak jauh berbeda, mereka terjebak dalam pernikahan dan peraturan.
Hao menjeda dan menarik nafas panjang memikirkannya. “Sabar hao, kamu sendiri yang milih ini kan? Setidaknya orang itu Hanbin, bukan lelaki tua bangka” ucap Zhang Hao sambil bergidik ngeri membayangkannya.
Ngomong-ngomong Hanbin, lelaki itu masih terlelap nyaman di kamarnya, entah tidur jam berapa karena semalam ia begadang untuk menyelesaikan tugasnya.
Hao kemudian bergegas turun dari kasurnya dan turun ke dapur untuk memasak sarapan untuknya dan Hanbin.
“Hoamsss, jam berapa sekarang?” Ucap Hanbin sambil berusaha mengumpulkan kesadarannya sedangkan tangannya sibuk merogoh meja rias untuk mencari gawainya.
“Udah jam 11 ternyata” ucapnya sambil menaruh kembali gawainya dan pergi ke kamar mandi untuk sekadar cuci muka sebelum turun ke bawah. Hanbin berhenti di tengah tangga, ia melihat punggung Hao yang sedang asik memasak di dapur, rasanya aneh tapi menyejukkan, entah kenapa melihat Hao yang sedang asik di dapur membuat hatinya nyaman.
Ia tidak pernah melihat Lia di dapur, ataupun memasak sebelumnya, takut kuku cantiknya rusak katanya, ia pun tak mempermasalahkan itu, tapi melihat Hao, entah kenapa rasanya beda
Hanbin tersadar dan segera turun ke bawah, saat ia sampai di meja makan, pas sekali Hao baru selesai menyusun semua masakannya.
“Bin, ayo makan, jangan bengong disitu” ucap si pria manis tersebut.
Hanbin pun buru-buru duduk dan mengambil makanannya kemudian makan masih dengan perasaan aneh, anehnya dia menyukai perasaan ini.
“Bin, besok kamu mau aku bawain bekel? Aku liat akhir-akhir ini kamu sering lembur, aku takut kamu ngedrop” tanya Hao disela kunyahannya.
Hao diam, makannya terhenti kemudian memandang raut wajah Hao lama, ini tidak benar, ia tidak seharusnya memberi lelaki di depannya kesempatan, dia masih harus menjaga hati Lia-nya.
“Gausah.”
“Hao, saya harap kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Kamu hanya pengganti Lia, perempuan yang saya cintai, dan juga sahabatmu. Saya tidak ingin membuatmu mempunyai harapan lebih.” Ucap Hanbin yang kemudian pergi dari meja makan meninggalkan Hao yang mati-matian menahan air matanya.
“Apa yang diomongin bener hao, kamu harus sadar diri.”
Ia kira hubungan mereka sudah mulai membaik, setidaknya bersikap sebagai teman serumah.
Nyatanya itu semua hanya angannya semata.
Chapter 3 : Misi Awal Hao
Pagi ini Hao sudah rapi dengan baju kerjanya dan sedang berkutat di dapur untuk membuat sarapan untuk mereka berdua, suara langkah menuruni anak tangga terdengar, di sana ada Hanbin yang sudah rapih dengan kemeja yang lengannya dilipat dan jas yang dipegangnya, ia terlihat berjalan ke dapur berniat untuk membuat kopi sebagai sarapan paginya.
“Hanbin, ayo sarapan dulu”
Hanbin diam dan berjalan melewati Hao begitu saja, tidak menghiraukan eksistensi makhluk mungil itu.
“Bin, kamu denger ga sih? Sarapan dulu” tegur Zhang Hao sekali lagi yang hanya dibalas lirikan mata malas, tidak mau menyerah Hao menarik tangan Hanbin untuk duduk di meja makan dan menyuguhkannya nasi goreng seafood kesukaan lelaki itu.
Ya, dia baru mengetahui sarapan favorit lelaki itu ketika hampir setiap pagi ia meminta tolong dibuatkan makanan tersebut oleh pelayan di rumah mereka.
“Hao, sudah saya bilang kamu tidak perlu melakukannya” ucap Hanbin dengan suara rendah, seolah tidak mempedulikannya Hao tetap menatap Hanbin dengan tatapan yang seolah berkata “makan sekarang, aku tidak peduli omonganmu,”
Hanbin pun menyerah karena tidak mau berdebat dan mulai memakan sarapannya, dalam hati ia memuji masakan lelaki manis dihadapannya ini, di tengah kunyahannya Hao tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya sambil memegang kotak bekal, yang kemudian dibalas Hanbin dengan mengangkat alisnya seolah bertanya “apa?” “Ini bekal untuk makan siangmu nanti” ucapnya
“Hao— “
“Sssttt, aku ga nerima penolakan mau kamu makan atau buang terserah, anggap aja aku peduli dengan teman serumah, kalo kamu sakit nanti aku juga yang repot. Jadi ambil ini” ucapnya sambil menyodorkan kotak makan itu kehadapan Hanbin, yang diterima dengan setengah malas.
Setelah itu ia cepat-cepat menghabiskan makanannya dan meminum kopi yang telah Haobuatkan saat dia sedang makan, setelah itu Hanbin mengambil jasnya dan pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Hao.
Hao yang melihat itu hanya bisa tersenyum kecil, ya, ini misi pertamanya untuk mendapatkan hati pria itu.
Maybe Hanbin is a gun, but Hao is a bullet proof.
Dan ini baru langkah awal ….
Is it love? If it’s like me, it’s the beginning. Even if I try to explain my mind now You are me It’s the only way I feel. — Perhaps love
Chapter 4 : Care?
Jam menunjukkan pukul 5 sore, Hao buru-buru membereskan meja kerjanya, ia ingin cepat sampai rumah, batinnya gelisah, sejak pagi Hanbin tidak membalas pesannya, ia takut sesuatu terjadi kepada lelaki tersebut.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama disebabkan macetnya Jakarta, akhirnya Hao sampai di rumah, sepi, ia buru-buru membuka pintu, menyalakan semua lampu dan mencari Hanbin.
Lelaki itu disana, di kamarnya tidur tertutup selimut, Hao segera bergerak mendekatinya “Hanbin?” Panggilnya
“Hmm” hanya gumaman yang didapatnya, Hao kemudian mengarahkan telapak tangannya menuju kening lelaki itu, panas, ternyata lelaki itu demam, Hao segera mengompres kening Hanbin perlahan, berusaha tidak membangunkan lelaki tersebut dari tidurnya, dan turun ke dapur untuk membuatkan bubur serta mencari obat penurun panas.
Lelaki itu pasti kecapaian, akhir-akhir ini Hanbin selalu lembur dan tak jarang mengabaikan jam makannya.
Setelahnya Hao membawa nampan berisi bubur dan obat ke kamar Hanbin, berusaha membangunkan lelaki tersebut.
“Abin” panggil Hao sambil mengelus pipi lelaki tersebut, berusaha membangunkannya.
“Hmm” yang dijawab gumaman
“Abin, bangun dulu, ayo makan terus minum obatnya” ucap Hao masih sambil mengelus pipi lelaki tersebut
“Gamau. Pusinggg” gumam Hanbin lemah
“Iya, makanya makan dulu abis itu minum obatnya” jawab Hao sambil berusaha membantu Hanbin untuk duduk menyender di kepala kasur, kemudian menyuapi lelaki itu dan memberikannya obat.
Setelahnya Hao membantu Hanbin untuk tidur kembali, setelah memastikan bahwa lelaki tersebut susah terlelap, Hao diam-diam mencuri cium kening seraya berbisik “cepat sembuh Abinnie” kemudian dia melangkah perlahan keluar kamar membiarkan lelaki tersebut lelap dalam tidurnya.
Chapter 5 : Nyaman dan Final
Sore itu Zhang Hao sedang berkutat di dapur mencoba resep dimsun yang baru ditemukannya di twitter pagi tadi, sudah lama rasanya ia tidak bereksperimen di dapur membuat berbagai kudapan, hitung-hitung camilan untuk maraton drama nanti malam katanya, Hanbin baru keluar dari ruang kerjanya, seharian ini lelaki itu sibuk online conference dikarenakan partner bisnisnya tidak bisa bertemu dalam waktu dekat secara langsung.
Hanbin yang melihat Hao sedang asik membuat adonan menarik kursi kitchen set dan duduk disana, memperhatikan tingkah Hao yang gesit membuat adonan sambil bersenandung.
“Hao?” Panggil Hanbin
“Uh? Ya?” Ucap Hao agak terkejut, ia tidak menyadari lelaki tersebut sudah duduk di kursi kitchen set sembaru memperhatikannya.
“Um, makasih” ucap hanbin
“Makasih buat?” Tanya Hao tidak mengerti
“Udah ngerawat aku pas sakit kemarin, for stay beside me, um thankyou hao” ucap Hanbin agak sedikit ragu serta malu, entah mengapa ia merasa malu padahal dia tidak melakukan hal yang memalukan
“Oh?”
“Gapapa Bin, isn’t that my duty as your couple?” Ucap Hao
“Eh?? Couple? Hao — ”
Hanbin terkejut atas ucapan Hao tersebut, pasangan gumamnya dalam hati, rasanya hangat tapi, ia masih ragu.
“Yeah, what’s wrong with that? Isn’t that fact? That we actually a couple?” Lanjut Hao santai.
Hanbin masih terdiam tak berusaha membantah seperti sebelumnya.
“Bin, aku mau kalau disuruh nunggu. Namun, aku mau Hanbin yang baru, Hanbin yang bisa melupakan rasa sakitnya karena percaya aku akan memberikan warna terbaik dalam hidupmu. Jika kamu ingin maju, aku akan lebih dulu, berusaha menyambut kamu. Jika kamu ragu, aku akan bersabar hingga kamu teguh. Dan kamu harus tau, mungkin awal semua ini karena keterpaksaan, atau mungkin kesalahan, walaupun begitu, aku gaakan mundur, kamu bisa dorong aku untuk mundur, tapi aku akan tetap berjuang. Semua pilihan ada di tangan kamu.” Ucap Hao menjelaskan
“Hao, just give me time, aku masih ragu.” Ucap Hanbin dengan tidak yakin
“It’s my pleasure Bin” balasnya disertai senyuman.
Akhirnya mereka terlibat dalam perbincangan santai. Tak ada lagi nada ketus dari setiap jawaban anbinwalaupun masih ada nada dingin.
Sepertinya Hanbin sudah mulai bisa menerima setiap pertanyaan-pertanyaan Hao, dan Hanbin pun sudah tertarik untuk bertanya balik kepada Hao.
Ya, sepertinya pilihan Hao untuk berterus terang tadi tepat, es batu itu lama-lama mencair, sisa hari itu tergantikan gelak tawa dan senyum merekah antara Hanbin dan Hao diiringi alunan musik home milik bruno major.
Tidak ada orang yang tertawa bahagia selain karena keduanya merasa nyaman.
Dan apakah Hao dan Hanbin telah mendapatkannya?
Ntahlah,
This story may end here but their story will continue to bloom,
how about their relationship progress it’s up to them and your imagination.
메타데이터
- post_id
- 9d8b517fe22c
- slug
- binhao-binneul-short-story-au-9d8b517fe22c
- url
- https://medium.com/@from94to02/binhao-binneul-short-story-au-9d8b517fe22c
- canonical_url
- https://medium.com/@from94to02/binhao-binneul-short-story-au-9d8b517fe22c
- author_url
- https://medium.com/@from94to02
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 12:44:45