← Back to list

Love Hangover

4,000+ words, JJK AU non-sorcerer, semi-NSFW, hurt/comfort, semi-drunk sex (not explicit), toxic relationship

winkie · 2026-05-13 11:16 · 65 claps · 19.4 min read
#jujutsu-kaisen #nanami-kento #bahasa-indonesia #fanfiksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

cover created by Winkie, heavily inspired by title screen of MV Love Hangover (Jennie feat. Dominic Fike)

cover created by Winkie, heavily inspired by title screen of MV Love Hangover (Jennie feat. Dominic Fike)

Love Hangover

4,000+ words, JJK AU non-sorcerer, semi-NSFW, hurt/comfort, semi-drunk sex (not explicit), toxic relationship

special thanks for Kak Jean for trusting me to write freely for her commission… (such a genius idea, I enjoy writing it a lot sampai nggak bisa ngecut words hahaha) and thank you for letting me to upload this fanfiction!! 🖤

— both the story and vibes are inspired by Love Hangover (Jennie feat. Dominic Fike)

DLDR; minors do not read.

… whoever read this story, I hope u like it! 🖤

Setiap orang di dunia ini umumnya memiliki preferensi dan kriteria masing-masing dalam memilih pasangan. Alasannya beragam, tapi utamanya adalah karena mereka memiliki prinsip sendiri dalam menyebut sesuatu yang ideal. Namun jauh dari itu semua, sebetulnya tak seorang pun bisa betul-betul paham, tipe orang macam apa yang kita inginkan untuk menemani hingga akhir hayat?

Kebingungan ini rupanya juga mampir di benak Nanami Kento, yang sebetulnya belum pernah memikirkan perkara jodoh secara serius. Buktinya saja, saat orang pada umumnya beristirahat, derap langkah kedua kaki Kento justru kian meningkat kecepatannya. Ia berlari bukan untuk pulang ke tempat tinggalnya, melainkan untuk mencari seseorang. Kalau dipikir-pikir, seumur hidupnya, dia bahkan tidak pernah punya keinginan untuk melakukan hal semacam ini, terutama di waktu malam begini.

Lalu, apa yang membawanya berkelana di penjuru kota pada malam hari ini? Tentu saja kebingungan, yang entah sejak kapan tumbuh dan melingkar hangat dalam dirinya.

Tatkala kedua matanya menangkap ada siluet seseorang yang duduk di pembatas jembatan, larinya Kento juga berangsur-angsur berhenti. Dadanya bergemuruh, terlebih sebab tampak ada kepulan asap yang berasal dari orang itu. Asap yang Kento yakini berasal dari rokok itu kemudian menyatu dengan kabut malam, perlahan bersatu dengan gelapnya langit.

Sambil perlahan mendekati orang itu, perlahan gemuruh di dada Kento mereda. Meninggalkan sisa-sisa degup jantung yang hanya bisa didengar olehnya sendiri, sebab meski lambat, terdengar keras sekali di sekujur tubuh. Orang itu tadi juga masih setia duduk di sana, dibalut dengan gaun berwarna salem dan tatapan penantian yang sebetulnya… tidak diinginkan.

Bilah bibir Kento mulai terbuka, namun tak tahu mau berkata apa. Sesungguhnya ada banyak pertanyaan dalam dirinya, hanya saja benaknya saat ini diselimuti oleh keraguan.

“Saya kira, kau tidak akan pernah merokok.”

Perempuan yang rona wajahnya tampak semakin bercahaya sebab terkena pantulan sinar yang berasal dari bulan itu kemudian tersenyum tipis. Oh, sungguh, Kento? Menurutnya, lelaki satu ini punya opsi-opsi lain yang lebih baik, yang bisa diutarakan kepadanya malam ini. “Kenapa memangnya? Apa urusannya denganmu? Lagipula, bukannya kau sendiri yang bilang, bahwa malam kemarin adalah malam terakhir kalinya kau menemuiku?”

Suara lembutnya terdengar, buat tenggorokan Kento tercekat. Iya juga, ya? Selalu seperti itu; dirinya berjanji untuk tidak mau peduli lagi, lantas dirinya malam-malam begini berada di sini. Lagi dan lagi dan lagi, terus berputar seperti itu siklusnya, bagai kaset rusak.

“Ya sudah, saya ralat.” sontak tawa ringan keduanya bersatu dan mengudara malam ini. Penutup malam macam apa sih ini, sebenarnya?

Kisah antara Kento dan wanita itu bermula dari suatu malam, tepatnya di sebuah kereta cepat bawah tanah. Itu juga pertama kalinya Kento mengejar jadwal kereta terakhir di malam hari, sebab dirinya baru pulang dari acara minum-minum bersama kolega kerjanya. Itupun, di mata mereka, Kento termasuk pulang di saat masih sore. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, ah, “sore” dari mana itu?

Sambil menyugar surai pirangnya, Kento memutuskan untuk tidak duduk. Sudah terlalu lama kedua bongkah pantatnya itu diam saja di atas kursi, dari bekerja pukul sembilan pagi hingga lima sore, kemudian duduk lagi di atas kursi pub — tentu saja lelah. Jadinya, malam itu dia cukup berpegangan dengan hand grip berwarna kuning yang sebelumnya menggantung tepat di depan kedua matanya.

Tak selang lama sesudah Kento berdiri nyaman, masuklah seorang wanita. Jalannya serampangan, cukup seimbang dengan kulitnya yang pucat. Sekilas, wanita itu tampak seperti zombie. Namun melihat betapa rapi polesan lipstik yang mulai pudar di bibirnya, juga mencium semerbak aroma tubuhnya yang pada malam itu dominan alkohol, Kento tak lagi merasakan presensi zombie di dalam kereta. Kurang tahu lagi ya, kalau zaman sekarang penyamaran zombie sudah lebih mulus.

Tunggu, tunggu, tunggu… kenapa Kento bisa tahu hal-hal detail semacam polesan lipstik dan aroma tubuh wanita itu? Bagaimana tidak, kalau perempuan asing ini memang mengambil duduk agak di depan postur tegap Kento? Duduk di dekat sana, memangku tas tangan, juga kepala yang disandarkan pada panel miring di sisi kursi — tanpa sadar bahwa ada di dekatnya berdiri seorang penumpang laki-laki.

Sadar bahwa dirinya mendadak perhatian ke arah-arah yang aneh, Kento menggelengkan kepalanya kecil. Masa iya sih, satu tegukan wiski bisa membelokkan sedikit isi otaknya?

Di tengah perjalanan, Kento teringat sesuatu. Karena daerah rumahnya berada di tujuan akhir kereta cepat ini, waktu tempuhnya cukup lama… mungkin lebih dari tiga puluh menit. Mulai pegal kakinya sebab umur yang tidak lagi muda belia, Kento akhirnya memilih duduk. Sebenarnya ia juga ingin bersandar di panel miring di kursi ujung, tapi perempuan tadi masih tertidur lelap di sana.

Kalau boleh jujur, kira-kira pada stasiun ke 5, Kento mulai khawatir bilamana si perempuan asing ini tidak sadar sudah melewati stasiun tujuannya.

Ya sudah, sih? Seharusnya bukan jadi urusan saya itu…

Kendati Kento berbisik demikian dalam batinnya, hati dan otaknya seakan tetap “terganggu” sebab perempuan dengan penampilan elegan ini masih tertidur sangat lelap. Di satu sisi, kereta tengah menuju stasiun terakhir. Tatkala terdengar nama stasiun terakhir dari pemberitahuan rute kereta, Kento menghela napasnya lelah sambil melirik ke arah wanita yang belum ada tanda-tanda bangun itu.

Kalau betul-betul belum bangun sampai di tujuan terakhir, maka Kento juga yang harus turun tangan. Kemudian menuntunnya ke pusat informasi stasiun, blah blah blah, sungguh merepotkan. Dan sialnya lagi, gerbong itu nyaris kosong. Hanya ada dua penumpang lain, itu pun berada di ujung yang berbeda — terlalu jauh untuk diharapkan bantuan.

Kira-kira beberapa meter sebelum kereta betulan berhenti, dugaan Kento terbukti benar — perempuan asing itu masih belum bangun juga. “Permisi, Nona…” ucapnya perlahan sambil sedikit mendekatkan diri untuk menepuk bahu kanan sang wanita. “Ini sudah mau sampai di stasiun terakhir.”

Perlahan kedua mata perempuan itu terbuka, berkedip-kedip untuk memproses seberkas cahaya lampu kereta yang terasa berebut masuk ke iris matanya. Pelan-pelan juga dirinya menegakkan diri, untuk menoleh ke arah kanan — tepatnya arah di mana sempat terasa ada yang menepuk bahunya. Malam itu, bertemulah kedua pasang mata Kento dengan sang wanita, untuk pertama kalinya.

“Iya? Apa anda memanggil saya?” Untuk beberapa saat, segumpal air ludah rasanya cukup sulit untuk Kento telan. Kedua iris mata perempuan itu seakan sedang berusaha untuk menarik Kento masuk, berbanding terbalik dengan ekspresi heran yang tergambar di ekspresi wajahnya secara keseluruhan. “Halo? Kok diam, ya?”

“Ah, iya… maaf.” dalam sepersekian detik, Kento akhirnya kembali tersadar akan posisi diri dan berada di mana sekarang. Aduh, dia sendiri bahkan baru sadar bila pintu kereta sudah terbuka kira-kira satu menit yang lalu. “Ini sudah sampai di stasiun terakhir.”

“Tunggu… benarkah?” ekspresi perempuan itu berangsur panik, tatkala pertanyaan ini diangguki Kento. “Astaga, aku kelewatan stasiun!”

Figur perempuan itu kemudian berdiri, berjalan secepat kilat dalam sepersekian detik. Sebetulnya Kento bisa saja mengikut, tapi memangnya dia ini siapa? Sambil menghela napas lelah sewaktu melangkah keluar kereta dirinya bergumam, “sama-sama.”

Kento kira, perjumpaan langka seperti itu hanya akan terjadi satu kali seumur hidupnya. Namun ajaibnya, pertemuan itu terulang lagi — hampir tiap malam bahkan. Kento bahkan sempat menghitung, kira-kira sudah ada sembilan kali di mana dirinya berjumpa dengan perempuan yang juga tak kunjung sempat diajak berkenalan itu.

Sempat juga dia cerita kepada Satoru, kolega kerjanya yang berambut putih, katanya malah begini, “Kalau sudah sampai tiga kali berjumpa tanpa janjian begitu, fix Ken, berarti dia itu jodoh untukmu!”

Tentu saja Kento skeptis dengan kalimat asbun begitu. Jumlah berjumpanya sudah tiga kali tiga, lalu apakah ada tanda-tanda saling mendekat? Tidak sama sekali, tuh. Selain tidak sempat, situasi bertemunya juga tidak pernah memungkinkan untuk saling berkenalan.

Kali kedua dan ketiga itu situasinya hampir sama seperti di kali pertama. Sedangkan di kali keempat, kelima, dan keenam, situasinya canggung sebab Kento beberapa kali lihat perempuan ini berkencan dengan tiga laki-laki yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan kali ketujuh, kali kedelapan, dan kali kesembilan? Ah, Kento sendiri bahkan tidak mau mengingatnya. Di tiga malam terakhir, sang wanita dicampakkan oleh tiga laki-laki itu. Sebetulnya Kento sendiri bersedia ikut campur sebab salah satu pria itu nyaris main tangan, namun beruntunglah malam itu sang perempuan tidak sendirian. Ada dua kawan ceweknya yang berhasil membantunya, sehingga tak ada satu pun tangan yang berani mendarat secara kurangajar atas dirinya.

Lokasi perjumpaannya pun… bisa dibilang terlalu settingan dibanding kebetulan. Selain di dalam kereta, stasiun, dan halte bus kota, dia juga melihat kencan dan putusnya sang wanita berlokasi di sekujur jalan yang sama hampir setiap harinya. Berbeda-beda restorannya, tapi kalau dipikir lagi ya memang sekitaran situ saja. Sebagai pegawai kantoran, tentu Kento tidak mungkin menghabiskan seluruh pendapatannya untuk makan di restoran-restoran mahal itu. Jadi dirinya cuma lewat, terus berpijak di jalan setapak itu sebab dekat dengan stasiun kereta komuter, dan tidak pernah ada satu malam pun dirinya tak melihat presensi perempuan ini.

Antara terkesan magis tapi juga kasihan, dua rasa ini garisnya kian melebur dalam benak Kento. Lama-lama dia juga merasa miris sendiri. Apakah dia ini memang terlalu sibuk bekerja, sehingga lihat perempuan yang sama lebih dari dua kali pun tak sempat jua diajak berkawan dengannya? Entahlah, toh memang situasinya tidak pernah tepat.

Atau mungkin… saya berharap terjadi “sesuatu” ya?

“Ken, jangan lupa ya nanti malam.” kalimat itu membuyarkan lamunan Kento yang juga tak sengaja hinggap di sela-sela sibuknya mencari uang.

“Nanti malam? Ada apa memangnya?”

Kali ini, kolega kerjanya yang rambutnya hitam gondrong itu memutar bola matanya malas. “Syukuran nikahanku sama Shoko, Ken. Lokasinya di bar yang dekatnya stasiun itu, jangan lupa lagi lho.” Kento kemudian mengangguk-angguk, tampaknya memang baru teringat akan undangan Suguru yang satu itu. “Kamu ini terlalu sering memikirkan perempuan yang belum sempat diajak kenalan itu sih, sampai lupa teman.”

Kento kemudian mendengus, “Nggak usah lebay, saya tuh nggak pernah lupa sama teman. Otak saya cuma penuh gegara workload numpuk gini, kok.”

“Hmm, iya deh terserah. Eh, omong-omong — ” ucapan Suguru terpotong begitu saja, sebab dia baru ingat untuk mengatur kata-katanya agar lebih terdengar biasa saja. Nahas, Kento sudah menoleh dan menancap fokus ke koleganya satu ini. Kedua alisnya terangkat, pertanda dirinya butuh kelanjutan obrolan. “Bagaimana kalau cewek itu nanti ada di bar juga?”

Perlahan pandangan Kento kembali ke depan komputernya, tatkala sedikit digoda begitu. Dia berdeham kecil, sambil menegakkan posisi duduknya. “Ya sudah? Mau diapakan memangnya?” jawabnya, terdengar santai — padahal jauh di hatinya, penuh rasa penasaran akan pergi ke mana arah pembicaraan santai ini. “Kalau kau tidak memesan bar itu secara keseluruhan, berarti ada sedikit kemungkinan bahwa perempuan itu bakal nongkrong juga di sana.”

“Terus, apa yang akan kamu lakukan, Ken?”

Bold of you to assume I will do anything, Sug.” Jawab Kento sekenanya, dilanjut kekehan kecil dari bilah bibirnya. “Ya, kalau dia ada di sana, berarti saya harus menghargai personal space dia dong. Memangnya, ekspektasimu apa?”

“Menurutku, kamu harus memanfaatkan kemungkinan itu untuk mencoba berkenalan, sih.”

“Ya, lihat saja nanti.”

Tibalah malam yang secara tidak sadar Kento nantikan. Dia duduk bersama teman-teman dekatnya, termasuk si pemilik acara, istrinya, juga Satoru yang sempat mempersuasi otak Kento untuk percaya akan sesuatu yang disebut takdir itu. Dua jam berlalu, dirinya melihat meja depan bartender masih kosong.

Sambil bermain kartu, sungguh Kento sendiri tak sadar bahwa kedua matanya sering berpendar ke seluruh penjuru bar. Mungkin benar, Kento menunggu kebenaran ucapan Suguru tadi siang. Namun, di sisi lain, dia berusaha keras untuk bersikap normal, layaknya budak korporat kelelahan yang terjebak di antara teman-teman ekstrovert yang duduk berkeliling bersamanya. Dia juga usahakan untuk sesering mungkin menimpali obrolan dan candaan, tapi juga fokus bermain kartu, namun dengan mata yang… ke mana-mana.

Dua jam berlalu, bahu Kento mulai melemas. Ya, bisa saja kan, malam ini sang perempuan memang tidak berencana pergi. Atau mungkin pergi, tapi ke tempat-tempat lain. Kenapa seakan-akan batin Kento semacam ikut campur begitu? Entah apa alasannya, tapi Kento berharap perempuan ini dalam kondisi sehat walafiat baik secara fisik maupun batin. Akhirnya, perlahan dia persempit area pandangan mata — hanya diedarkan kepada kawan-kawan satu mejanya.

Beberapa menit akhirnya Kento lalui sambil fokus makan jajan, minum bir, dan juga bermain kartu, Satoru tiba-tiba menepuk bahunya. “Apa?”

Satoru tak menjawab gamblang. Dirinya hanya menunjuk ke arah bar yang tak lagi kosong pengunjung, sebab ada seseorang yang duduk di sana. “Ceweknya itu bukan, Ken?”

Eh…? Satoru nggak salah.

Sempat terhenyak sebab perempuan misterius itu betulan hadir, Kento kembali fokus bermain. Dia ingat betul, bahwa ada aturan tidak tertulis di dalam lingkaran pertemanan ini, yaitu larangan untuk meninggalkan satu sesi permainan — kecuali ada telepon urgent atau butuh ke toilet — itupun status permainannya langsung di-pause. Paling tidak, Kento harus habiskan kartu UNO yang ada di genggamannya itu dulu. Berhubung kartunya tinggal tiga: dengan satu kartu plus empat dengan warna bebas dan dua kartu merah yang berbeda angka.

Selama sesi permainan lanjutan itu, Kento meminimalisir kontribusi atas obrolan dan candaan yang bersahutan di antara teman-temannya. Agar tak ketara mematikan suasana, dia sesekali ikut tertawa — meski dirinya sendiri lebih memilih ribut di dalam otak ketimbang ikut campur dalam membuat bising di luar dirinya sendiri. “UNO Game.” ucapnya, sambil berdiri dan menaruh satu kartu terakhir di tangannya, yang berbasis warna hitam.

“Mau warna apa?”

Kento melirik lagi ke arah perempuan asing yang beberapa hari ini hinggap di pemandangan malam sekaligus menjajah benaknya. Dia tengah mengenakan gaun kasual berwarna merah jambu, meski warnanya terbilang sangat lembut dan hampir menyaru dengan luarannya yang berwarna putih. Merah jambu itu termasuk turunannya warna merah. Sambil menelan ludah Kento berkata, “Merah.”

Menit-menit berikutnya diisi oleh Kento yang berjalan di tengah padatnya bar, untuk mengambil duduk di kursi kosong sebelah perempuan itu. Sebagai orang yang tidak biasa membuka obrolan lebih dulu, terutama untuk berkenalan dengan seorang wanita, otak Kento sejak beberapa menit yang lalu sibuk. Memikirkan kata apa yang cocok untuk dikatakan, memikirkan apa yang harus terucap dari bibirnya.

Beberapa menit di antara mereka hanya berisi keheningan, kadang dengan suara denting peraduan antara gelas kaca dan meja bar yang berbahan kayu. Hingga akhirnya perempuan itu menoleh ke arah kiri, arah Kento duduk, kemudian berceletuk, “Anda terlihat tidak asing…” tentu dengan ekspresi pura-pura tidak tahu, lelaki itu menaikkan kedua alis sambil menyeruput minumannya. “Tunggu sebentar, kita pernah bertemu, kan?”

“Uh, iya kah?”

Bodoh, bodoh, bodoh… saya kenapa malah mengajak tebak-tebakan, sih?

Perempuan itu kemudian mengangguk antusias, berbanding terbalik dengan busana yang memberi aura kalem secara penampilan. Tampak semacam ada sedikit kilau-kilauan di kedua manik matanya. “Oh, aku ingat!” belum sempat Kento mengeluarkan sepatah kata pun, perempuan itu lanjut bicara lagi. “Kau yang membangunkan aku di kereta tempo hari, kan?”

Tentu saja, gugup membuat suara degup jantung terdengar lebih jelas dalam diri Kento. Bingung bagaimana caranya untuk meredam suara, kekehan kecil nan canggung kemudian keluar dari bilah bibir, juga dibarengi anggukan lelaki itu. “Kok bisa masih ingat kejadian sekecil itu, Nona?”

“Haha, entahlah…” kekehnya santai, sambil meneguk sedikit bir di gelas sloki yang ia pegang. “Mungkin karena… orang seperti kau itu terlalu mudah diingat…” sebetulnya itu candaan yang tidak terlalu lucu, hanya saja, sensasi geli yang tumbuh sembarangan di antara mereka itulah yang memicu tawa ringan kedua insan ini. “Jokes aside, ingatanku memang setajam itu. Dan hampir semua orang yang kenal aku, setuju dengan hal itu.”

“Oh ya?” tanya Kento, yang sebetulnya sangat bodoh dalam mengambil topik pembicaraan. “Tunggu… ‘Hampir’ semua kenalanmu? Kenapa ‘hampir’?”

“Mungkin karena ada beberapa orang yang denial? Biasanya mereka bersikeras bahwa aku punya semacam false memory atau bahkan memiliki kemampuan untuk memanipulasi alam sadarku sendiri.” ucap perempuan itu, gestur tubuhnya berubah sedikit — tampak tak senyaman tadi. Ah, sepertinya ucapan Kento menyentil sesuatu dalam isi benak perempuan ini. “Yang mana… itu terlalu aneh,” gumamnya nyaris berbisik.

“Saya minta maaf kalau — ”

“Ah, kita belum berkenalan,” potong perempuan itu, sambil melempar senyum yang sama manisnya seperti tadi di awal Kento duduk. Tunggu, kenapa disela omongan Kento? Pada titik ini, Kento berpendapat bahwa mereka berdua saling berusaha untuk terus melanjutkan obrolan — sebisa mungkin. “Namamu siapa?” lanjutnya.

“Kento, Nanami Kento. Tapi, panggil saya Kento saja.”

“Baik, salam kenal ya, Kento.”

Resmi terhitung pada malam itu, perjumpaan tak sengaja antara Kento dan perempuan ini sudah terjadi selama sepuluh malam berturut-turut.

Obrolan malam itu terus berlanjut, begitu pula komunikasi antara Kento dengan si nona cantik — demikian keputusan sepihak lelaki itu untuk menyebut sang kawan baru dalam ingatan. Keduanya bahkan sempat bertukar nomor, tepat sebelum keduanya berpisah di luar bar.

Pada siang hari, mereka berdua sama-sama sibuk, sehingga yang ada hanyalah obrolan basa-basi lewat aplikasi perpesanan di ponsel. Kurang lebih dua bulan lamanya umur kontak mereka di gawai masing-masing, sedangkan obrolan mereka sudah seakrab layaknya kawan karib yang terus bersama sejak sekolah dasar.

“Sesekali ajak dia lunch date lah, Ken.” ucap Higuruma suatu siang, sembari duduk dengan sepiring makan siang. “Kau itu terlalu banyak menghabiskan waktu di kantor, literally nine to five, padahal kau sedang dekat dengan seorang wanita.”

“Oh, betul itu. Nanti kamu dikira nggak serius, lho.” sahut Suguru.

Ah, iya juga, ya? Belum pernah terbesit ide semacam itu di pikiran Kento. Harap maklum, karena dia sendiri juga tidak terlalu berpengalaman dalam berkomunikasi dengan perempuan. Apalagi ini konteksnya merujuk pada kawan baru, yang bahkan belum pernah berada di lingkungan yang sama seperti dirinya. Sebab, komunikasi Kento dengan perempuan biasanya hanya seputar urusan pekerjaan.

Oh… mungkin terkecuali Shoko. Itupun mereka akrabnya secara platonik, sebab keduanya pernah satu sekolah dan juga satu kampus. Ini konteksnya sama-sama teman cewek, tapi juga beda rasanya. Entahlah, Kento sendiri juga tak paham banyak.

“Terima kasih sarannya. Hanya saja, dia terlihat tidak masalah dengan itu,” ucap Kento lurus-lurus, sambil diam-diam membuka aplikasi Instagram di ponselnya. “Saya rutin melihat story-nya, tapi hampir tak pernah dia upload di waktu pagi atau siang. Bukannya itu pertanda dia sangat sibuk dan tidak bisa diganggu?”

“Ternyata benar ya, semua orang itu ada plus dan minusnya.” malah Higuruma yang jadi kesal dengan ucapan Kento. “Shimizu pernah bilang ke saya, kalau sebetulnya banyak sekali cewek yang minat berpacaran denganmu. Yang katanya karena ganteng lah, atau perilakumu sangat baik terhadap perempuan. Sempat saya heran, kenapa Kento jomlo terus ya kalau begitu? Rupanya ini… mungkin banyak cewek yang urung niat, karena kau tidak peka terhadap hal-hal romantis.”

“Oh, ya? Shimizu bilang begitu?”

“Bahkan tidak hanya Shimizu. Shoko pun pernah berkata hal serupa,” Suguru kemudian menimpali, membuat benak Kento bertambah lagi ramainya.

Tapi… Bagaimana dirinya mau mengajak perempuan itu makan siang bersama, kalau story Instagramnya rata-rata berisi kisah kencan makan malam entah dengan siapa? Perempuan itu kalau diajak bertemu di jam-jam sore terutama pukul enam sampai delapan malam, selalu bilang, “Maaf Ken, aku belum bisa.” Baru ketika Kento memutuskan untuk berinisiatif datang ke bar tempat keduanya bertegur sapa pertama kali itulah, perempuan itu rupanya sudah duduk manis menunggu kehadirannya.

Jadi, sebetulnya ada dua alasan mengapa Kento tidak pernah terpikir untuk mengajak sang nona makan siang. Alasan pertama, karena si kawan baru ini pasti kelelahan (selain karena kencan-kencannya, juga dirinya yang seringnya tidak bisa tidur malam). Alasan kedua, kalau Kento bilang jujur perihal kesibukan apa yang dilakukan si cantik pada malam hari, siapapun itu pastilah berpikir bahwa dia bukan perempuan baik-baik.

Pada malam sepulang kerja hari itu, Kento sempat berdiri diam hanya untuk melirik sebuah restoran fine dining. Kecil restorannya, tapi tampak hangat dan romantis. Ini secara tak sadar sudah menjadi kebiasaan barunya, semata-mata hanya untuk mengecek kabar kawan barunya itu.

Tapi memang… Kento masih tidak habis pikir, rupanya ada perempuan dengan paras serupa bidadari di dunia fana ini. Sebab, dia tidak hanya rupawan secara penampilan. Naik dan turun dadanya tatkala bernapas saja, sudah cantik. Apalagi tatapan kedua mata yang bisa selalu terlihat seakan sedang jatuh cinta? Jujur, Kento tidak bisa membayangkan kalau dirinya ada di posisi salah satu dari lelaki-lelaki itu. Apakah dia masih bisa duduk diam dan tenang? Atau malah menuruti pikiran intrusif yang kemungkinan besar akan membahayakan status pertemanan keduanya?

Rasanya ada panas di dada Kento, terutama setiap kali tangan lelaki asing itu terulur untuk mengusap lembut sedikit noda di ujung bibir perempuan itu. Pakai tisu, sih. Semakin tampak menyebalkan di mata Kento, terutama sebab si nona cantik malah tertawa gemas diperlakukan begitu.

Padahal, kalau itu kencan sama saya, bersihinnya bisa pakai cium — eh, mikir apa sih, saya ini?

Sambil menggeleng-geleng, dirinya terperanjat kecil tatkala pintu restoran itu terbuka. “Jadi, sampai jumpa pekan depan ya, cantik?” Ucap laki-laki itu, yang diangguki oleh sang nona. “Hati-hati kalau pulang. Jangan lupa kabari aku, ya?”

“Iya, siap. Terima kasih banyak ya, untuk kencannya malam ini! Jangan lupa mimpikan aku!” Balas perempuan itu, sembari melambaikan tangan pada sosok yang berjalan kian menjauh.

“Jingin lipi mimpikin iki~” Dengar cibiran Kento, si nona cantik lantas membalikkan badan dan memukul ringan lengan lelaki itu. “Bagaimana? Kencannya lancar?”

“Lancar-lancar saja, Kento. Ah iya, ini perasaanku saja atau memang akhir-akhir ini kau sering bekerja sampai lembur?”

Sembari menjemput warna jingga langit senja itu, keduanya berjalan bersebelahan di jalan setapak itu tanpa adanya destinasi jelas. “Hm, kau tidak salah sepenuhnya kok.”

“Loh, kenapa lembur? Apa tidak jadi kurang jam tidurmu?”

“Sebetulnya… saya lembur ini cuma karena pekerjaan saya sedang menumpuk terlalu banyak. Kalau sedang tidak begitu banyak, ya saya tidak mungkin lembur.” bohong, bohong sekali Kento ini. Dia sengaja terlihat seperti lembur hanya agar bisa pulang bersama perempuan itu. Sebanyak-banyaknya pekerjaan Kento, dirinya sendiri tak pernah mau lembur. Dia yakin bahwa semua aktivitas itu ada porsinya sendiri. Kalau sudah pukul enam sore, berarti itu waktu Kento beristirahat.

Lalu, ke mana saja Kento habiskan waktunya sambil menunggu perempuan itu selesai berkencan? Pria itu jadi mengadopsi kebiasaan baru lain lagi; pergi ke perpustakaan, meminjam buku, kemudian duduk menunggu di sebuah kafe. Apapun itu, intinya dia habiskan waktu untuk membaca buku di kafe — bukan di rumah, seperti sebelum bertemu si kawan baru.

Omong-omong, sekarang ini malam akhir pekan. Keduanya juga sempat menyusun semacam itinerary khusus semalam suntuk, sebab bertepatan dengan hari ulang tahun Kento. Rencananya, kegiatan satnight ini akan dimulai dari menonton bioskop, dilanjut membeli buku, kemudian rangkaian malam itu diakhiri di sebuah vinyl bar.

Iya… rencananya sih, begitu.

Namun, kenyataan berkata lain. Keseluruhan acara mereka berdua malam itu diiringi dengan humor dan tetes-tetes romansa yang kian dibiarkan kian bertumbuh liar, hingga jarak nyaris terpangkas habis. Bahana keduanya yang tadinya terdengar ramah, lama-lama bersisa bisik.

“Ken, betulan mau pulang sekarang?” adalah sebuah pertanyaan yang dibiarkan menggantung malam itu.

Suara itu terdengar lembut sekali, menggelitik sebelah telinga Kento. Keadaan dua-duanya tidak bisa dibilang sadar sepenuhnya — efek terhanyutnya pada obrolan, yang membawa entah sudah berapa gelas minuman manis nan memabukkan yang mereka tenggak.

Dalam kondisi semacam ini, kedua mata perempuan itu tampak begitu cantik di sejauh pandang Kento. Berbinar-binar antara mengantuk atau mengharapkan sesuatu, namun entah mengapa ada gejolak aneh yang bangkit dalam diri lelaki satu ini.

Dalam hitungan detik, mereka berciuman dengan tempo pelan. Kemudian pada menit-menit berikutnya, Kento dan perempuan itu menambah kegiatan terakhir pada malam itu; pergi ke sebuah motel. Sisa satu kamar, dengan satu ranjang yang terbilang cukup untuk kedua insan.

Lambat laun, kain busana Kento dan perempuan itu saling terlepas. Kecup-kecup manjanya sedikit bergeser arti, sebab kini mereka berdua tengah berebut napas. Meski sudah lewat dari hari spesial Kento, rupanya masih ada ‘hadiah’ dari sang nona. Semakin melengkapi malah. Yaitu peraduan kulit, gigit dan kecup yang menjadi terapi untuk badan lelah keduanya, dilengkapi suara tak senonoh yang mengisi seluruh penjuru ruangan.

Mungkin, inikah yang orang sebut sebagai kegiatan bercinta?

“Hei, bisakah kita terus seperti ini? Tolong, kalau bisa, hentikan kencan-kencan tak jelasmu itu, cantik…”

Suara serak yang terucap di bawah sadar itu memantik senyum tipis dari sang perempuan, yang rupanya kadar kesadarannya bisa terbilang lebih tinggi dibanding Kento. “Aku usahakan, ya?” bisiknya, kemudian ikut terlelap bersama sang kawan.

Sinar mentari di beberapa jam kemudian menembus masuk dari jendela. Entah siapa yang membuka, yang jelas bukan sang nona. Buktinya, terasa sensasi panas dan terbakar yang membuatnya tiba-tiba bangun dari tidur lelapnya. Sambil mengerang panik, tubuh yang masih berbalut selimut itu cepat-cepat turun dari kasur dan berjongkok di sebelah ranjang. “Panas, panas, panas!” serunya panik, sembari memeluk lutut.

“Jam berapa sih, sekarang?” dirinya berusaha melirik ke arah jam dinding, berusaha melawan silaunya sinar mentari. “Ah… sudah jam tujuh pagi…”

Seberkas memori kemudian terputar di otaknya, nyaris bagai kaset rusak. Perihal kencannya kemarin malam, quality time bersama Kento di hari spesialnya, kemudian… berakhir di motel dekat bar… “K-Kento… ke mana dia?” gumamnya mendadak panik, sembari berjongkok juga mencari ponselnya yang tiba-tiba entah berada di mana. “Ponselku juga ada di mana ya?”

“Kau sudah bangun rupanya,”

Suara Kento yang terdengar di telinga perempuan itu mendadak seperti angin segar. Dirinya menoleh secepat kilat ke arah suara, yang tengah menyodorkan ponselnya. “Eh? Terima kasih, Kento. Uh, kenapa ponselku bisa ada di kamu?”

“Maaf, tadi saya salah bawa,” kembali formal sebutannya, hingga perempuan itu samar-samar cemberut. “Saya baru selesai lari pagi sambil beli sarapan. Ini, saya belikan juga buatmu.” Kento ikut berjongkok di dekat perempuan itu, kali ini menyodorkan sebuah roti lapis.

“Kento… terima kasih banyak, ya?”

Lelaki itu tersenyum, tapi kali ini sang nona merasakan atmosfer yang cukup berbeda dari malam kemarin. “Sepertinya, ini adalah kali terakhir kita saling bertemu.” tiba-tiba saja dirinya berkata begitu. Kento, dengan suara yang sama lembutnya seperti biasa, mendadak menghadirkan petir di pagi yang terlalu cerah ini.

Hah? T-tunggu, tunggu sebentar. Apa yang terjadi?

Sebelum sang nona betul-betul berucap sesuatu, Kento kembali melanjutkan bicara. “Apa yang kita lakukan malam kemarin itu salah fatal. Hubungan kita tidak seharusnya berjalan sejauh itu…”

“Apa maksudmu?”

“Lihat sendiri notifikasi ponselmu,” ucapnya lugas, terlihat sekali bahwa Kento masih berusaha keras untuk meredam kekesalannya. Sebuah kesadaran tiba-tiba menghantamnya cukup keras pagi ini, tatkala tak sengaja membaca beberapa baris notifikasi yang bertuliskan pesan-pesan cinta. Jujur, apa yang dilihat di ponsel yang tak sengaja terbawa itu, membuat Kento ingin membenturkan kepalanya sendiri sesegera mungkin.

Selain itu, dosa besar nan manis semalam kemarin rasanya sudah semakin menodai hubungan tak jelas yang sebetulnya sedang diselimuti oleh tirai tipis berjudul ‘sahabat’.

Mereka berdua, sepatutnya hanyalah dua insan kawan. Baru kenal dan baru dekat. Belum genap setengah tahun keduanya saling mengenal, sedangkan Kento seharusnya tahu betul — siapa sebetulnya dirinya, bagi perempuan di depan matanya ini?

Kento merasa dipermainkan, sebab baru tersadar bahwa hatinya itu, secara tidak langsung, sedang ditarik terlalu dalam oleh sang nona. Sampai sekarang pun, Kento juga tidak mengerti mengapa si cantik harus mengencani banyak laki-laki? Namun, pesonanya memang semematikan itu — buktinya saja, dirinya sendiri juga terjerat.

Tapi… apakah berkawan dengan dirinya sendiri masih tidak cukup? Cukup sampai mampu menjerat Kento saja, apakah tidak bisa? Demikian sekelebat kecil isi pikiran lelaki itu.

Lelaki itu membereskan baju-bajunya yang berserakan, kemudian berjalan kembali mendekati daun pintu. “Kita akhiri di sini saja, ya? Jangan salah paham; saya sebetulnya juga sangat bersyukur bisa kenal denganmu.”

Belum sempat perempuan itu menjawab, lantas Kento sudah berbalik meninggalkan dirinya sendirian di kamar sempit itu. Perlahan air mata berlinang di pelupuk, kemudian tersuarakanlah getir ucapannya yang rasanya tak akan bisa sampai ke lelaki satu itu. “You don’t even let me explain anything, Kento…”

Untuk beberapa malam, perempuan itu habiskan waktunya sendiri. Dirinya tak sampai hati untuk memutus sepihak hubungannya dengan beberapa laki-laki, hanya saja dirinya yang memberi kabar bahwa sedang tidak ingin ditemui. Oleh siapapun itu, dia tidak mau.

Sang nona juga perlahan menghindari jalan besar yang rutin dia lewati bersama Kento. Entahlah, padahal itu adalah area favoritnya, hanya agar tidak mengganggu lelaki bersurai pirang itu dengan keberadaan dirinya.

Malam itu ia hanya pakai piyama tipis, dibalut jaket kulit yang rasanya tidak berniat untuk menghangatkan badannya. Dengan sebatang rokok di tangannya, yang adalah coping mechanism, menjadi pertanda bahwa dirinya serasa berduka. Sudah hidup cukup lama di dunia fana ini, sampai-sampai duka teramat dalam baru terasa saat ditinggal Kento.

Kok… Bisa, ya?

Padahal, dia yang biasanya dipuja. Dia yang biasanya dikejar, dia yang biasanya menjerat tanpa sengaja. Justru, perempuan ini senang luar biasa bila tahu bahwa mantan yang jumlahnya juga tak kurang dari pacar-pacarnya sekarang itu, gagal move on darinya. Si cantik ini yang biasanya jadi candu, jadi jebakan, jadi sosok pacar perempuan yang diidamkan oleh hampir seluruh laki-laki yang mengenalnya.

Lantas… Mengapa dirinya harus merasa terpuruk tatkala ditinggalkan oleh Kento? Padahal, sedari awal, di mata perempuan itu, Kento adalah satu ikan kecil di antara jutaan ikan lain yang biasanya berhasil dia pancing.

“Aku benci sekali perasaan ini,”

“Iya, saya juga benci sekali.”

“Oh, ayolah, seharusnya lelaki itu yang menangisi aku. Bukan aku, yang malah terasa seperti, sedang mengemis cinta.” monolognya di malam nyaris pagi itu, sambil mengisap rokok.

Suara kekehan kecil sebetulnya sampai di rungu sang nona, tapi tampaknya dia terlalu kalut dengan pikiran dan hati hingga tak dengar apapun selain suaranya sendiri. “Mengemis… cinta? Nona, memangnya kau tahu cinta itu apa?”

Cinta itu sakral… Nona, jangan sembarangan…

Hening sebentar, sebab sang perempuan merasa tertohok. “Ah, ahahaha… iya juga. Aku tidak tahu apa-apa… aku bodoh,” ucap si cantik, yang kemudian memancing tanggapan berupa suara derap langkah.

“Coba lihat ke arah saya, Nona.”

Nada instruksi familiar itu, tahu-tahu menyadarkan dirinya sendiri. Asal suaranya ada di balik punggung, sehingga dia harusnya membalikkan badan secepat mungkin. Iya, kan? Tapi… Apakah tidak apa-apa? Melawan seluruh ragu dalam benak, dia segera berbalik.

“Kento…?”

“Iya?”

“Katamu, kamu tidak akan mau bertemu denganku lagi?”

Kedua mata teduh itu ikut senyum, seiring dengan senyum lembut yang terpatri di wajahnya. “Maaf… kalau saya mengaku bahwa waktu itu saya sedang khilaf, apakah boleh?”

Oh, yang benar saja, Kento? Khilaf, katanya? Sebelumnya, sudah jauh bagus bagi dirinya sendiri sebab mampu menarik diri dari lingkup hubungan yang beracun ini. Tapi malah dia, yang akhirnya berinisiatif mengejar kembali sang perempuan, tak tahu apa yang mendasarinya.

Dan sama seperti perjumpaan sebelum perkenalan yang terasa berulang sepuluh kali, akhir seperti ini pun sebetulnya juga diulang-ulang terus. Bagai kaset rusak, betul-betul menunggu sekiranya siapa yang akhirnya betulan muak dan berakhir meninggalkan ikatan hubungan ini. Hanya saja, tampaknya, tidak ada yang mau.

Namun entah apa yang menjadi jawaban sang nona, kisah malam itu kemudian ditutup dengan pelukan hangat keduanya. Di antara kabut malam, di tengah-tengah jembatan berbatu penghubung kota dan hutan belantara. Akhirnya, kembali berkawanlah, dua insan yang terus terikat dalam kubangan hubungan yang penuh tanda tanya itu.

eum, anyway… did y’all catch a little hint of potential plot twist here…? 🤗


메타데이터
post_id
9d8bb8e104f3
slug
love-hangover-9d8bb8e104f3
url
https://medium.com/@pixiewinkle/love-hangover-9d8bb8e104f3
canonical_url
https://medium.com/@pixiewinkle/love-hangover-9d8bb8e104f3
author_url
https://medium.com/@pixiewinkle
status
ok
fetched_at
2026-09-02 23:50:30