Kau Seperti Konstantinopel yang Ingin Ditaklukan✿
PERKENALAN
Kau Seperti Konstantinopel yang Ingin Ditaklukan✿
PERKENALAN
Namaku Dan, pria bujang yang hidup setengah milenium sejak Konstantinopel ditaklukan, 29 Mei 1453. Kisah epik klasik yang tak pernah dilupakan. Kisah penaklukan yang luar biasa yang katanya mustahil. Mungkin banyak sekali kisah-kisah penaklukan di era Romawi Kuno atau Era Bizantium — Misalnya Babilonia. Tapi entah kenapa nama Konstantinopel menjadi kisah yang selalu aku ingat dan dibawa tidur saat malam berganti hari.
Aku selalu bertanya-tanya tentang bagaimana momen epik saat Konstantinopel ditaklukan, bagaimana siasat yang mereka bangun sehingga langit yang mereka pikir sulit digapai, ternyata ada dalam genggamannya sekarang. Apa amal mereka perbuat, berapa waktu sholat yang mereka lakukan, dan seperti apa doa-doa yang mereka panjatkan di sepertiga malam.
Memang bagi orang-orang beriman cerita tentang penaklukan Konstantinopel sudah ada dalam hadis yang disampaikan Rasulullah di masa sebelumnya. Tapi siapa dan apanya tidak dikasih tau, kendati demikian itu telah menjadi pedoman dan wasiat yang selalu diingat meski manusia berganti generasi. Itulah kepercayaan yang dipegang teguh hingga satu milenium mengubah isi ceritanya.
Untuk bisa mengenal Konstantinopel aku harus tenggelam ke satu milenium yang lalu untuk bisa mengetahui bagaimana proses hebat itu terjadi. Aku ingin belajar bagaimana orang orang hidup di masa itu dan beranak pinak. Bagaimana mereka menata kehidupan seolah tanpa pernah berpikir bahwa ternyata ada kehidupan satu milenium kemudian. Apa ilmu yang mereka pelajari, bagaimana pengetahuan berkembang sehingga membentuk pola pikir yang baru. Apakah mereka pernah mengalami rasa cemas dan takut kehilangan, atau ternyata mereka berkeyakinan bahwa hidup adalah proses, masalah hasil terserah Tuhan.
Aku juga ingin memahami bagaimana mereka merawat diri dan menumbuhkan rasa cinta dalam hati, seperti halnya anak kecil yang baru dilahir ke bumi yang tak kenal baca tulis, makan saja masih disuapi. Sekalian menikmati indahnya kota dan cantiknya alam, sambil membaca karya tulis Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Ibnu Rusyd, dan Ibnu al-Haitham yang karyanya harus ku pesan dulu dengan musafir jalanan yang janggutnya tebal dan bau pasir.
Sebelum berekspektasi terlalu tinggi, ini bukan catatan sejarah atau dongeng lama yang kembali kuceritakan, karena itu bisa kamu temukan di perpustakaan pusat kota yang isinya sangat lengkap. Hentikan bacaan mu sampai disini jika kamu berharap seperti itu karena isinya bisa jadi 90 persen tidak sama dengan sejarah yang kamu baca sewaktu kelas 5 SD. Beberapa istilah hanya aku adopsi untuk dijadikan kiasan sehingga terdengar manis untuk seorang gadis yang sedang ditaksir. Kisah sejarahnya disusun dangkal hanya menyebut beberapa latar waktu, tempat atau tokoh yang familiar.
Tepatnya meskipun namanya sama tapi ini adalah Konstantinopel imajiner yang direka ulang oleh pikiran-pikiran penulis yang liar, penuh metafora yang kadang dilebih-lebihkan padahal tidak ada dalam catatan sejarah atau kenyataannya seperti yang disebutkan. Bisa jadi ini hanya sejarah bualan yang namanya mirip yang disusun sedemikian rupa sehingga kamu percaya. Karena sebenarnya tujuannya bukan untuk menceritakan ulang sejarah, tapi surat manis untuk calon tunangan yang sedang dikejar.
Namun aku janji secara esensial dan fundamental prosesnya serupa, karena jujur memang nama Konstantinopel sengaja aku pinjam untuk tulisan ini. Nanti aku kembalikan jika lamaranku diterima. Ayolah jangan terlalu serius, karena cerita ini tidak seserius itu, bahkan ini manis seperti puisi-puisi yang kau sukai. Kau boleh membaca ini sambil memakan donat yang lembut atau cukup dengan secangkir teh yang gulanya kau kurangi karena takut kemanisan. Lebih pasnya sih cerita ini kau baca saat sedang kasmaran, menantikan pujaan hati yang tak kunjung memberi sinyal. Bahkan saat ini kamu sedang menerka nerka apa yang telah kau lakukan untuknya apakah meluluhkan hati atau hanya sekedar angin sepoi-sepoi yang dibawa lalu tadi siang. Menyedihkan!
Kembali lagi namaku Dan, pria tanggung yang ingin menikah. Gadis sedang aku taksir dia sangat cantik dan manis. Aku memang tidak berencana menikah dalam waktu dekat, karena selain memang uangnya tak ada, aku juga masih ingin mewujudkan keinginan ku yang dilakukan sendiri. Namun proyek rahasia ini harus segera aku jalankan, karena bukan waktu yang lama untuk menunggu waktu itu tiba. Jika proyek ini berhasil, tentu aku tidak perlu mencari kesana kemari, mencari gadis pujaan, tapi aku telah menemukannya dan akan merawatnya hingga waktu yang kita tentukan tiba.
Nama Konstantinopel hanya samaran untuk menyebut gadis yang sedang aku maksud. Ini semacam kode, karena cerita yang aku tulis disusun mirip dengan sifat dan karakternya. Beberapa hal-hal aku sebutkan untuk menunjukkan bahwa Konstantinopel yang dimaksud adalah dirinya. Ya — ini juga tergantung kalau dia paham dengan makna filosofis yang ada dalam cerita ini. Tentunya kamu tidak perlu tau siapa orangnya, cukup ini hanya monolog kecil yang dipahami berdua dan dibangun dengan meminjam bahasa sejarah yang ia sendiri tidak tau sejarah sebenarnya seperti apa. Kurang riset, dan terlalu mengada-ngada.
Kamu hanya perlu menikmati bahasa-bahasa dalam cerita ini disusun dengan bahasa perasaan, bukan sejarah. Disusun seperti sedang perang padahal cuma bahasa melankolis penulis yang sedang merasakannya getirnya cinta. Jika kamu pikir ini surat, bisa jadi — Tapi untuk ukuran surat sangat jarang untuk menemukan orang mengkonversi cintanya ke dalam bentuk cerita seperti ini. Kebanyakan dilakukan secara langsung dengan teknologi-teknologi terbaru masa kini. Tapi marilah kita tidak menyepelekan hal-hal seperti ini. Dulu kakek nenek kita jatuh cinta juga demikian, menulis surat dan dikirim melalui pos, lalu sebulan kemudian sampai kepada penerimanya.
Kita tidak boleh memberi batas standar kalau cinta harus seperti ini dan itu, karena cinta selalu menembus batas dan ruang ruang wajar. Cinta harusnya mengenal segala bentuk dimensi dan tanpa kita harus dikotomi dengan hal hal yang menurut kita adalah seharusnya. Lagi pula ini romantika klasik dan penuh bunga-bunga. Karena sekarang orang jatuh cinta terlalu klise, mudah ditebak alurnya, sehingga jadi tidak menarik. Tapi bayangkan ada seorang penulis yang jatuh cinta kepada seorang gadis yang ia cintai dengan menuliskan ceritanya ke dalam bentuk surat menggunakan kode kode perasaan yang hanya mereka pahami berdua, kan itu romantis! daripada sepotong bunga yang dibeli dari toko bunga atau sebungkus coklat almond yang dipesan dari negara tetangga. Siapa pun bisa membeli dan memberi dan Itu tidak original dan otentik, bahkan siapapun bisa melakukannya. Siapa pula yang hari ini terpikir memberikan surat atau cerita kepada gadis pujaannya di tengah hiruk pikuk teknologi yang selalu berganti ganti. Pesan bahkan sudah terlalu denotatif dan mudah dimengerti menggunakan bahasa bahasa yang sudah basi.
Oleh karena itu segala hal tentang Konstantinopel adalah paralel untuk menyebut nama A*I**A. Ini adalah kode rahasia yang harus aku simpan dulu agar tidak terlalu terdengar eksplisit. Biarkan kalimat ini mengalir atas namanya dan dibungkus dengan kata kata yang indah.
PENANTIAN
Kubaca kembali catatan sejarah tentang legenda yang hampir tak pernah ditaklukan itu. Legenda yang mungkin hanya menjadi dongeng belaka oleh orang-orang terdahulu. Kekuasaan yang luhur dengan benteng-benteng raksasa, bak gajah di mata seekor semut pengecut. Semut yang tak pernah diajari membelah apel dengan pedang atau bergerilya di lorong bawah tanah yang bau lumpur ketika perang.
Selama 8 abad lamanya — sama seperti dongeng semut dan gajah, Konstantinopel dalam pikiran-pikiran orang binal juga seperti itu. Siapa yang bisa percaya hingga suatu hari waktu yang akan membuktikannya. Lama sekali — Iya, lama sekali — yang kalau kata orang itu bisa 8 sampai 10 generasi. Tapi lama bukan berarti tak mungkin dan bukan berarti tak bisa. Gajah yang besar pun juga bisa tumbang, seperti pula Konstantinopel yang kokoh juga bisa runtuh. Oleh hanya dengan sekecil semut, tapi yang telah belajar berpikir dan memainkan pedang. Pikirannya yang membuat ia menjadi besar — lebih besar dari Konstantinopel.
Seperti Konstantinopel, menaklukannya harus butuh cara. Tidak bisa hanya diam dan menghayal, lalu inspirasi datang seperti Newton yang menemukan gravitasi di bawah pohon apel. Lalu tiba tiba inspirasi datang dan menjadi teori lalu fakta. Itu mustahil dan hanya sesekali jika tuhan lagi berbaik hati. Maka itu, butuh banyak membaca, menganalisis dan mengamati. Melihat apakah dibalik kerajaan yang kokoh itu ada celah untuk merobohkannya.
Tentu, celah tidak ada di benteng-benteng raksasa yang terjaga mata. Bukan di tempat tempat yang dijaga meriam dan tentara yang gesit dan lihai menbaca gerak mencurigakan atau pintu pintu yang dikunci dengan rantai rantai baja. Tidak — Tapi di dalam lorong-lorong kecil bawah tanah berbau busuk dan tikus tikus yang hanya tinggal bangkai dan tulang. Lorong yang hanya sebesar badan, lalu hanya seorang manusia yang bisa merayap di dalamnya, pelan-pelan agar tidak ketahuan. Mungkin ada pintu rahasia yang tidak terjaga lagi dan pintu itu yang menjadi kunci dan titik lemah kenapa seekor gajah bisa ditumbangkan. Ternyata atau rupanya benar-benar ada, tapi sulit. Seperti menemukan jarum ditumpukkan jerami atau menemukan mutiara di lautan samudera.
Tidak hanya kau, aku pun bertanya-tanya. Kok bisa ada pintu seperti itu, bagaimana cara menerobosnya dan siapa orang yang palng berani atau benar-benar gila mau masuk ke celah menuju pintu itu? Celah yang sekali manusia melihatnya langsung berkata tak mungkin dan beranjak pulang. Tapi itu tidak setelah 8 abad kemudian. Pemikiran telah berkembang, ilmu pengetahuan ada dimana mana. Bahkan mungkin anak kecil balita sudah pintar berkelahi membela diri bahkan berburu rusa di alam liar. Belajar dari alam mereka telah mengerti bahwa mendapatkan sesuatu tidak seperti membeli gandum di pasar dengan hanya menukar barang atau koin. Tapi harus mengerti cara membidik, memanah, menjerat, menjebak atau berpura-pura, mengelabui dan bekerjasama. Mereka telah pandai menyusup dan mengintai dari jarak dekat, tapi hewan buruannya tidak merasa sadar bahwa akan ada sesuatu terjadi.
Di jaman itulah lahir pemuda belia, cerdas, gagah, berani dan perkasa. Baginya tak butuh 8 abad untuk menaklukan Konstantinopel yang tersohor itu. Tapi hanya butuh dua bulan saja, lalu sejarah berubah dan dongeng yang bukan hanya menjadi kenyataan, tetapi juga menjadi legenda. Cerita itu lalu tersebar dimana mana hingga telinga yang tak mengerti mendengar dan tangan yang tak tau menulis saja, tau, menjadi cerita maha legenda yang bagi siapapun merinding dan bergetar jiwanya. Di cetak ribuan eksemplar buku dan dijadikan sebuah film layar tancap. Lalu jika saja bisa, anak anak yang baru lahir dengan mata yang baru terbuka. Setelah di adzankan, baiknya mendengar legenda itu. Agar suatu hari ia mengerti bahwa dalam hidup ini kita harus belajar tentang cara untuk menaklukan sesuatu. Seperti menjadi semut yang lebih besar dari gajah bahkan Konstantinopel.
Laiknya Konstantinopel, seperti itulah kamu. Kamu yang berada dalam benteng-benteng gajah yang aum dan permai. Menjaga diri dalam mahligai singgasana mahkota yang belum aku kenali celahnya. Kamu yang masih belum bisa ditaklukkan bahkan dimengerti untuk menaklukannya. Tapi namamu adalah Konstantinopel yang ingin aku taklukkan. Mengerti kamu adalah mengerti ruang ruang rahasia yang sengaja disimpan di tempat paling aman di dunia ini dan bukan sembarang orang untuk memasukinya. Ruang yang dijaga oleh 1000 tentara dengan pistol dan tombak. Tapi aku percaya akan ada setitik celah yang sudah lama terkikis perlahan menjadi lubang sebesar telunjuk dan aku bisa menyelinap masuk merayap menjadi angin, lalu melata dalam mimpimu.
Perlahan aku pelajari pikiranmu yang tandas dan egomu yang keukeuh, serta kerasnya hati itu. Jika tiang adalah pondasi dan kalau tulang tak sanggup menahan kokohnya dirimu. Maka akan aku pelajari bagaimana pundakku menjadi tempat berkeluh kesahmu. Sehingga bisa kupaksa kususup tubuhku dalam lubang sebesar telunjuk itu dan kuberi punggung sebagai tempat bernaung atau peluk tempat penenang jiwa. Lalu kudekap kau dalam kehangatan menampung luka yang baru saja ditambal kapas dan air bersih. Jika tak ada lagi payung untuk berteduh atau pohon sebagai tempat berlindung. Maka akan kujadikan diriku sisa bongkahan benteng terakhir Konstantinopel untuk menemanimu hingga hujan reda.
Kau Konstantinopel yang masyhur dan ingin dikenal namanya — yang halamannya tersedia pohon anggur dan kurma, serta perpustakaan dan rak rak kecil dimana anak-anak duduk manis membaca buku. Serta kebun teh menghijau dengan pondok kecil di tengah luasnya padang hijau tumbuh subur dengan gunung yang dapat dilihat dengan mata telanjang diselimuti kabut setipis lapisan kaca. Saat senja matahari merona menyilau mata dan turis berebut mengambil foto layaknya tukang foto. Ketika bulan timbul, malam menjadi pesta dan bunga api tumpah ruah di semesta. Pemuda dan saudagar kaya meminum anggur dan bermain judi berfoya-foya. Tiada kesedihan disitu, hanya ada tawa dan kesenangan. Sementara bahagia persis di depan mata sama seperti anak balita yang matanya berbinar binar menangkap rusa buruannya waktu pertama kali berburu.
Dengan begitu spesialnya dirimu maka memang kasarnya seperti rusa buruan yang dagingnya manis di bakar di tengah hutan. Tapi kamu adalah kamu. Kamu adalah Konstantinopel yang butuh menunggu ratusan tahun untuk bisa ditaklukan hanya dengan waktu dua bulan. Kamu adalah kamu — jarum yang hanya ada di tumpukan jerami atau mutiara di dalam samudera. Kamu yang dipelajari dan dipahami sekian dekade bahkan hampir satu milenium. Kamu adalah kamu yang namanya tersimpan dalam baris huruf huruf tulisan ini. Nama yang kata depannya begitu vintage dan berkamuflase menjadi satu kata Konstantinopel.
Kubaca senyummu yang manis di balik rupa peta Konstantinopel yang maha megah. Wajahmu tergambar cantik di antara tata kota dan gedung-gedung karya arsitek handal kala itu. Sesekali kulihat matamu yang coklat di sela-sela pohon kembar — yang di kala sore matahari menembus di antara celah celah daun. Saat pagi ku tatap kembali wajah segar merekah ruah di antara sekuntum melati putih yang mengapung di kolam sang raja. Ketika itu, dadaku berdesir menahan lapisan energi maha-ajaib dari alam semesta. Berperang melawan rasa dan kata yang ingin dilontarkan bak tombak yang baru diasah tadi malam. Kutahan hingga pagi rasanya pun masih tetap sama tajamnya. Oh tuhan, jika ini adalah sebuah pertanda, maka tunjukkan itu sebagai suatu takdir yang baik.
Kau ada dimana mana sekalipun di pasar — tempat pengembala berdagang domba dan unta, termasuk seekor kuda kesukaan mu yang kokoh dan gagah. Bahkan majikan menawarkan budak. Kau ada di setiap sisi toko — menjadi etalase. Entah kenapa wajah patung busana itu tiba tiba berubah menjadi wajahmu — aku tersenyum tipis. Kau ada di antara buah buahan, ikan, daging dan sayur sayuran yang baru dikirim dari kota sebelah. Pasar ramai waktu menawarkan barang dagangannya. Mereka bertukar barang dan koin emas berbarter harga dengan barang yang seumpama. Seorang saudagar menarik tangan ibu ibu yang tangan berjulur emas untuk mencoba kain dagangan sampai ia membeli. Ada juga bayi yang baru lahir merengek menangis minta pulang lantaran bau pasar tak sama dengan ranjang yang baru dibelikan ayahnya sewaktu belum lahir.
Perlahan aku mulai mempelajari kamu lebih dalam. Aku tidak hanya ingin belajar dan memahami disini. Tapi juga ingin membangun rumah di dalam toko kecil milik seorang pedagang yang sewanya hampir habis. Lalu aku renovasi toko itu menjadi setengah rumah. Di area depan rencananya digunakan untuk menjajakan barang dagangan dan di belakang tempat aku tidur dan menenangkan diri. Tata ruangnya masih belum rapi tapi cukup untuk pemuda bujang yang baru saja tinggal dan ingin berumah tangga. Namun belum ketemu jodohnya. Disitulah nanti aku merawat diri dan mimpi sambil mencintai Konstantinopel yang masih alami dengan orang-orang di dalamnya sepanjang masa 8 abad itu. Kutabung 1 dari 10 koin keuntungan yang kudapatkan dan lama-lama menjadi 10, 100, hingga 1000, sampai nanti jumlahnya cukup untuk melamar seorang gadis yang wajahnya manis tergambar paralel dalam peta kota ini.
Kau sungguh Konstantinopel yang jauh tenggelam berabad –abad. Berkelana aku bagai unta yang sudah 8 kali minum segentong air tak sampai-sampai. Kau sungguh Konstantinopel yang namanya selalu aku sebut sebut menjelang tidur dan terselip dalam kaset lagu lama yang diputar setiap hari.
PENAKLUKAN
Sudah delapan abad aku hidup disini, di Konstantinopel. Minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, abad ke abad. Mencemaskan diriku yang lama membujang dan hanya membekali diri dengan ilmu dan pola pikir. Hidup dengan sejarah dan cerita berganti ganti. Bagiku tidak buruk untuk tinggal disini dan beranak pinak hingga satu juta tahun lagi. Konstantinopel yang indah dan banyak kupu-kupunya yang ramai dengan pedagang bermuka ceria dan anak anak yang bergembira.
Ada banyak kisah penaklukan, dan cerita cerita epik yang kudengar. Kendati demikian sulit untuk berpaling dari Konstantinopel. Bagiku yang menarik adalah sejarah yang belum pernah ditaklukan. Sejarah yang masih diperjuangkan dan masih belum dimiliki oleh siapa dan apa. Tak peduli negeri manapun yang sudah ditaklukan orang lain, tapi Konstantinopel adalah milikku. Cukup percaya diri kalau aku katakan hanya aku yang boleh menaklukkannya.
Terlalu berlebihan jika aku bilang Konstantinopel itu indah. Meski demikian dan di negeri lain juga banyak. Tapi untuk apa aku mengoleksi banyak pilihan, dan mencari lebih banyak lagi, sementara di depan mata aku tinggal dan hidup nyaman di dalamnya. Untuk apa aku pindah jika menetap adalah pilihan terbaik. Lagi pula hubunganku dengan negeri ini kian bertumbuh. Kita saling mengenal dan menjaga, minimal tahu bagaimana mencintai dan merawatnya. Kita mulai seperti orang yang sangat dekat dan kenal lama. Meski baru satu abad belakangan. Kita mulai mempelajari satu sama lain, bertukar pikiran tentang hal-hal ringan dan sedikit candaan. Jika senyuman adalah kunci, maka tak ada lagi tabir penghalang untuk menaklukannya. Pendakian ini sudah saatnya tiba di perairan yang mengalir dan berenang di dalamnya, menikmati sejuknya dingin dan alam semesta yang tersepah ruah, tempat di mana manusia saatnya bersyukur. Tak ada lagi batas, atau ruang yang terkendala, yang kita punya hanya bagaimana bisa bertahan lebih lama dan menikmatinya.
Aku mulai mengerti Konstantinopel luar dalam. Mengerti hewan kesukaannya, warna yang dia suka, buku yang ia baca, hingga tentang hubungan-hubungan yang suka cita. Tentang cinta dan rasa yang seharusnya kita lakukan dan pahami. Kita bahkan tidak hanya bertukar puisi atau rekomendasi tapi juga mengkonstruksi isi dan esensi agar hubungan ini mengenal kuatnya pondasi. Aku jadi mengerti bagaimana alam bekerja dan berharap hanya dengan sedikit doa lagi, aku bisa menaklukan semesta ini, jika Tuhan setuju. Ya — rasanya seperti menemukan kembali hidup yang sama seperti diriku yang pernah hilang. Aku yang pernah memimpikan indahnya dunia, lalu terjebak di antara realita kota dan pahitnya dunia. Aku menemukan kembali sumber kebahagiaan yang sempat aku cari. Sumber harapan dan penantian yang hanya singgah dalam pikiran sebelum tidur dan terbuai dalam mimpi, terus lupa karena disibukkan dengan bekerja dan aktivitas harian.
Mungkin tidak seratus persen aku mengenalnya, tapi segalanya cukup untuk sekedar menetapkan keyakinan bahwa yang selama ini yang aku cari sudah ada disini, di Konstantinopel yang mulai manis dan lucu. Segala tetek bengeknya itu hanya bonus, bahkan jika lebih buruk aku siap menanggung konsekuensinya. Bagiku itulah kebahagian, terkonversi dalam berbagai macam cerita, masalah, konflik atau semacamnya. Bahkan dari sana aku jadi semakin mengerti bahwa kehidupan memang seperti itu dan itulah bumbu yang harus aku cicipi agar mengenal tak semua asam pahit itu buruk. Mereka sama seperti manisnya gula saat menyeduh teh, atau asinnya garam yang dituangkan ke sayur. Oleh karena itu, sadar bahwa perjuangan untuk menaklukan Konstantinopel ini adalah pengabdian yang nyata dan cinta kasih yang tulus dari dalam hati.
Berbekal ilmu kehidupan itu, aku pastikan bahwa tak ada lagi jalan menyerah dan yang tersisa adalah pintu pintu yang terbuka menuju ilahinya Tuhan yang tercatat di Lauhul Mahfudz. Diskusi-diskusi yang serius kemudian berganti dengan obrolan hangat yang terus mencair. Seakan akan salju Gunung Everest bahkan meleleh, berubah menjadi layaknya pemandangan baru pegunungan hijau Mediterania yang ingin ditinggali burung burung Godwit Alaska. Tak ada lagi Gurun Sahara yang gersang dan panas sampai aku kehausan bagai unta, juga dinginmu yang dulu laut arktik serta daratan antartika. Aku senang yang demikian itu terjadi dan itu memang penantian yang selama ini aku nantikan.
Aku percaya bahwa pemandangan baru ini adalah sinyal bahwa doa doa ku abad lalu terkabulkan. Hanya menunggu waktu dan tanggal itu akan segera tiba. Singgasana akan berganti mahkota dan sejarah akan ditulis ulang. Kabar itu sudah mulai sayup-sayup terdengar di telingaku tahun tahun belakangan. Kabar burung ternyata cepat sampainya, negeri sebelah juga mulai bergosip gosip tentang hal ini. Pemerintah kota sudah mulai cemas, memvalidasi informasi yang tak jelas dari mana kabarnya ini. Tinggal menunggu beberapa tahun lagi, dongeng yang ratusan tahun di jajaki bahkan diseberangi akan terbukti, meski kabar angin silih berganti aku tahu ini adalah kabar pasti yang tak akan terkoreksi.
Sekarang memang bukan momennya, kita bahkan tak perlu berharap tanggal yang bagus untuk semua ini tercipta. Kita hanya perlu menunggu, menilai, memproses, mencari waktu yang tepat untuk menetapkan arah. Menawarkan sedikit kemungkinan dan meminimalisir resiko. Paham bahwa ada kalanya kepastian menemukan kendala dan kegagalan. Aku pelajari lagi sudut kota yang tak terpikirkan, mungkin ada bagian bagian yang luput dari penglihatanku, barangkali mungkin ada jalan setapak yang tak pernah ku jelajahi tapi bisa menjadi jalan pintas yang patut kupertimbangkan. Atau aku pelajari lagi peta kota, kureka ulang seluruh kejadian, kumasuki gedung gedung, agar seluruh data dan informasi bukan hanya firasatku saja melainkan keyakinan yang tervalidasi tanpa ilusi.
Beberapa informasi sudah ku kunci dan hanya sedikit bahan lagi untuk finalisasi. Sejak saat ini tidurku sudah tidak delapan jam lagi berganti dengan mimpi mimpi yang tak terkendali. Mungkin jumawa jika menyebut semua rencana ini berhasil, tapi menyisihkan segala kemungkinan adalah hal yang wajib fardhu ain. Berdosa jika aku lalai dan mengabaikan yang di atas. Itu namanya takabur, yang sejatinya kita tak akan pernah bisa kabur dari maha yang memutuskan meski sudah berusaha tawar menawar lewat sholat dan doa, berbuat baik saja tidak cukup dan yang kita perlukan adalah ridhonya. Belakangan itu yang kuyakini untuk memantapkan isi hati.
Lalu aku kemudian menyelam ke dasar lebih dalam, menyusuri daerah yang ingin ku telusuri diam-diam. ia atau mereka tidak tahu tapi inilah urusanku, urusan yang tak dipedulikan orang banyak. Sampai ia tak menyangka “hah masa? — kok bisa?” Ketika penyangkalan itu muncul seluruh senjata ku sudah siap untuk memberi perlindungan. Lalu ku urai kembali seluruh historia untuk menjelaskan kenapa dan apanya agar ia mengerti dan mengamini. Memang susah, penaklukan memang butuh cara agar dimengerti, aku bahkan butuh berpikir ulang ribuan kali untuk melanggengkan serangan. Tapi yang demikian itu selalu terhenti di antara pertimbangan-pertimbangan. Bodohnya kadang aku setuju, kadang aku sepakat dengan pikiran ku sendiri
Aku percaya wajar bahwa selagi kasmaran orang memang kadang ada salahnya, bodohnya. Tapi selama berlogika dengan benar semua cinta tak akan jadi masalah. Hanya orang binal dan hilang akal yang mengenal cinta di ruang tak terdefinisi. Semua harus ada alasannya. Alasan untuk menetap dan merasa cukup bahwa inilah jawabannya, inilah orangnya, inilah benar-benar yang kita pingin. Agaknya itulah pegangan ku untuk selalu menjaga semua rasa cinta ini untuk Konstantinopel. Mencintai dengan tumpah ruah penuh misteri, kapan hari itu akan tiba. Tapi alasanku untuk menetap disini, di Konstantinopel sudah bulat dan tak ada yang boleh mencampuri urusanku untuk sekali ini saja.
메타데이터
- post_id
- 9d98f6f2c615
- slug
- kau-seperti-konstantinopel-yang-ingin-ditaklukan-9d98f6f2c615
- url
- https://medium.com/@rendyferlita/kau-seperti-konstantinopel-yang-ingin-ditaklukan-9d98f6f2c615
- canonical_url
- https://medium.com/@rendyferlita/kau-seperti-konstantinopel-yang-ingin-ditaklukan-9d98f6f2c615
- author_url
- https://medium.com/@rendyferlita
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 11:23:58