← Back to list

Maksud yang tak dimaksudkan

Lihat, sudah cukup remuk redam. Pagi ini kutemui bahwa semuanya telah rentan, rapuh dan keropos, perjalanan menemui titik nadir. Segenap…

Hasbi Asdiqi · 2024-01-22 08:38 · 0 claps · 3.0 min read
#menerima #pengorbanan #aşa #impian #terlanjur
Open on Medium ↗

Maksud yang tak dimaksudkan

Lihat, sudah cukup remuk redam. Pagi ini kutemui bahwa semuanya telah rentan, rapuh dan keropos, perjalanan menemui titik nadir. Segenap asa, tercapainya segala impian disambut kenyataan bahwa pengorbananku sudah begitu banyak, inikah yang harus diterima?.

Pada semua yang terlepas dari genggaman tangan, kupastikan bahwa semuanya dapat kuterima dengan penebusan kelak yang perlu kutempuh. Kupastikan akan menggenggam untuk semua yang tak tergenggam, setidaknya jika tidak jua tergenggam, aku akan tetap menemui penerimaan yang akan mendekap erat.

Simulasi menemui titik bahaya, dosis yang berlebih tentunya tak baik. Dalam beberapa waktu, aku menyambut biru yang ternyata warna paling hangat. Oranye itu telah terbenam di sambut biru, membiru, terbuai dan tenggelam. Kusadari betul bahwa bermekaran anomali yang kutuai bukanlah yang kutanam, semua ini berlangsung secara organik.

Klinik terdekat cover bpjs dengan senang kusambangi walau tersisa rasa takut untuk menghadapinya, mungkin karena diriku terlalu sensitif untuk dikoyak orang lain. Sangat labil membuatku geram, tadinya ketakutan ini ingin kuturuti tapi melihat bagaimana orang dapat menghadapinya kenapa tidak dengan diriku. Panjangnya penjelasan dokter dan dedikasinya menjelaskan secara halus, sudahlah luluh, ternyata aku harus memperbaiki untuk melihatnya sigap lagi.

Detik demi detik, gigi yang keropos menghantarku pada seluruh raga ini juga sudah berlubang, ringkih. Terbukti bagaimana rentannya aku menanggapi berbagai hal, intervensi yang tak perlu, basa basi yang ditanggapi serius dan banyaknya baju yang tergantung di kamar, pada dasarnya hanya satu yang bisa kupakai juga tak semua dapat kurawat dengan baik.

Langkah kaki hari ini terasa tak bermuatan, lega tanpa beban. Beban yang menjulang, selama ini ditanggapi dengan ambisi yang bergelora. Untungnya aku berada di kota untuk dapat merasakan semuanya, karena keberuntungan itu berada di kota.

berkutat dengan rasa malas hingga pikiran yang terus menerus menjadi mesin utama penggerak, rasionalitas untuk perfeksionis. Menyusun rencana agar pikiranku dapat menjadi stimulus mesin penggerak, mengambil sertifikat setelah itu tak tentu arah yang penting aku harus menyelesaikan ppt presentasi sidang akhir. Rasanya berkecamuk dengan keinginanku yg tadinya tak ingin bepergian, marathon menonton film dan spent the day in bed sudah menjadi bayanganku untuk hari ini.

Yaa ternyata benar, setelah mengambil sertifikat aku tak memiliki gairah apapun selain kecemasan yang disebabkan dari percakapan di tangbar, obrolan yang mengingat masa-masa yang lalu KMJ, canda tawa yang dilayangkan untuk stereotype-stereotype masa kini yang coba terus-menerus di replikasi, perihal ide untuk rencana masa yang akan datang dan tentang sinergi dari semua ide yang tak kunjung rilis.

Ditengah itu, saat hendak merebahkan badan di tangga baru yang lumayan curam, rasanya terasa mengalir dan bebas, saking bebasnya timbul lah pernyataan “bisa-bisanya ga ngapa-ngapain”. Melangkah tanpa beban tapi merasa resah karena tak bermuatan, terlampau pamrih. Menyongsong hari kiranya agar aku bisa melihat bagaimana energi terkuras sampai penghujung hari raga ini lunglai tersungkur pada tidur lelapnya.

Tertanda keresahan ini menandakan yang kujalani tidak berada pada jalan yg tepat, menuju pada hal yang stagnan. jalan yang membuatku takut, bingung, ragu perlu kuhadapi untuk memastikan semua itu berakhir menggelayuti. Menyambangi Coffe Bawa Studio, wifi nya tak berfungsi dengan normal. Tak apa, terobati ketika sekitar adalah orang orang ternama, berawal dari Dendy Darman yang kusadari ada di sebelah, gitaris Burgerkill tepat dihadapan dan personil Assylum mondar mandir menerima telepun.

Setelah itu ya biasa saja ramai tapi sepi. Mencoba memperhatikan, mendengarkan dan menjawab sebisanya setiap percakapan untuk pada akhirnya nomor Rumah Sakit “Panasea” bukan menjadi obat kala itu. Adalah “Panaseakala itu yang membawa segenap durja hingga ku tertegun raib untuk bertanya “mengapa yang kulalui seperti ini?”

Lagi-lagi asa itu telah putus, dalam sulitnya jalan berbatu yang ditempuh terasa mudah untukku tersungkur dalam kelelahan. Sangat sulit tapi rasanya yakin sekali bahwa ini menggaransi sesuatu kelak. Tak ada yg lebih indah dari mengharap kasih dalam pasrah, setidaknya yang bisa tergenggam dengan penuh adalah kekuasaan milikNya.

Ditengah kedengkian ini kudengar bahwa suara hujan terasa jauh dan mulai dekat, rasanya aku terdiam seperti menunggu badai datang. Dengan gemericik hujan yang jelas kusaksikan di beranda rumah. pada badai yg kan usai, kukira ini hampir usai ternyata aku hanya berlari pada badai yang baru.

Paradox, semua ini bermula ternyata ditemukan pada hal yg ternyata harus kuterima. entahlah, bagaimana ini akan bergulir kemana, pada sesuatu yg akan kudapatkan ternyata dapat tercapai jua. Lagi-lagi kemungkinan menjadi keyakinan yang tak dapat kusangkal. Masih kemungkinan bahwa semua ini akan menghantarkan pada semua yang telah menjadi impianku selama ini.

Dan dimalam itu setelah hari yang panjang sampailah pada kebingunganku apakah aku harus makan malam atau tidak? karena perutku lapar tapi tidak sanggup karena aku sudah terlanjur lemas di kasur.


메타데이터
post_id
9da86aef2afd
slug
maksud-yang-tak-dimaksudkan-9da86aef2afd
url
https://medium.com/@asdqihsbii/maksud-yang-tak-dimaksudkan-9da86aef2afd
canonical_url
https://medium.com/@asdqihsbii/maksud-yang-tak-dimaksudkan-9da86aef2afd
author_url
https://medium.com/@asdqihsbii
status
ok
fetched_at
2026-06-28 10:39:35