← Back to list

Antara Apresiasi dan Sanjungan

[43] Semua orang suka pada ketulusan, bukan pujian

Muhammad Hilal · 2024-12-31 23:01 · 75 claps · 1.9 min read
#tulus #apresiasi #pujian #bahasa-indonesia
Open on Medium ↗

Antara Apresiasi dan Sanjungan

[43] Semua orang suka pada ketulusan, bukan pujian

Photo by Boris Smokrovic on Unsplash

Photo by Boris Smokrovic on Unsplash

Salah seorang teman saya punya pedoman “semua orang suka disanjung.” Oleh karena itu, sering muncul sanjungan dari mulutnya kepada siapapun.

Dia dengan sigap akan memuji apapun yang dikatakan teman-temannya. Hingga muncul guyonan, dia akan memuji kita bahkan sebelum kita berucap apa-apa. Sebelum kita berbicara apa-apa, dia akan berkomentar: “Menarik … menarik…”

Satu hal yang tampaknya dilupakan oleh teman satu ini: sanjungan tanpa ketulusan terasa tidak menyenangkan juga didengar. Saya kadang mendengarnya menyanjung orang lain, tapi kedengarannya lebih seperti ledekan daripada pujian. Ini dikarena terasa tidak ada ketulusan dalam sanjungannya.

Itulah kenapa saya tidak setuju pada prinsip “setiap orang suka disanjung” jika hanya berhenti di situ. Menurut saya, perlu ditambah ‘ketulusan’ pada sanjungan dan pujian itu. Tanpa tambahan satu ini, tindakan menyanjung dan menjilat jadi tidak ada bedanya.

Kita memang sulit menolak fakta bahwa di negeri ini sanjungan terkadang diperlukan. Terkadang tindakan menjilat membuat seseorang berada pada posisi tertentu. Ini tidak sulit kita temukan contohnya. Ada pula orang-orang yang memang suka sekali disanjung dan dijilat. Dia akan mempertahankan para pengikut yang sanggup menyanjung setinggi-tingginya, sanggup menjilat sebasah-basahnya. Baginya kesetiaan dan tindakan menjilat adalah sebuah paket yang tidak terpisahkan.

Tapi untungnya tidak semua orang suka disanjung dan dijilat, sama untungnya dengan kenyataan bahwa tidak semua orang suka menyanjung dan menjilat. Ada orang-orang yang lebih nyaman diperlakukan dengan tulus, dihargai sebagai manusia, dan diperlakukan secara setara.

Ketulusan lebih tampak dalam kata ‘apresiasi’ ketimbang kata ‘pujian.’ Menghargai orang lain berarti memperlakukannya secara layak, sesuai kadarnya dan berdasarkan rasa hormat pada kemanusiaan. Pujian hanya terbatas pada tuturan semata, sedangkan apresiasi meliputi semua tindakan manusia. Kita bisa mengapresiasi seseorang tanpa memujinya, sebaliknya kita bisa memujinya tapi pada saat bersamaan tidak mengapresiasinya. Dua kata itu tidak bisa dipertukarkan.

Dengan demikian, saya lebih suka prinsip “semua orang suka diapresiasi” ketimbang “dipuji.” Prinsip ini lebih menggambarkan kenyataan dan lebih layak diamalkan.

Apakah itu artinya semua orang harus tulus? Ini harapan yang sia-sia. Kenyataannya, seperti saya utarakan di atas, kita kadang menggunakan kepalsuan untuk mencapai tujuan tertentu. Ketulusan kadang terasa tidak membawa kita ke mana-mana. Lagipula, kadang kita tidak tahu tujuan asli seseorang saat melakukan sesuatu, sepalsu apapun tindakannya. Rasanya tidak adil jika semua tindakan seseorang dihakimi. Memahami penyebab ketidaktulusan itu terjadi tampaknya lebih baik daripada buru-buru menghakimi.

Kembali kepada teman saya tadi. Saya tidak mengatakan bahwa dia tidak pernah menunjukkan ketulusan sama sekali. Setiap manusia pasti pernah melakukan sesuatu secara tulus. Namun, pujian-pujian dan sanjungan-sanjungan yang sering dilakukannya kadang terlihat hampa ketulusan. Oleh karena itu, saya lebih senang saat melihatnya melakukan sesuatu secara tulus, bukan saat dia memuji-muji dan menyanjung-nyanjung orang lain.[]


메타데이터
post_id
9db2e165de70
slug
antara-apresiasi-dan-sanjungan-9db2e165de70
url
https://medium.com/@hilalalify/antara-apresiasi-dan-sanjungan-9db2e165de70
canonical_url
https://medium.com/@hilalalify/antara-apresiasi-dan-sanjungan-9db2e165de70
author_url
https://medium.com/@hilalalify
status
ok
fetched_at
2026-07-21 11:40:10