Hangat
Sesuatu yang sudah dingin itu rasanya tidak akan sama ketika kembali dihangatkan.
Hangat
Sesuatu yang sudah dingin itu rasanya tidak akan sama ketika kembali dihangatkan.

Pada peluk yang tak lagi kumiliki. Rasanya sudah terlalu lama aku berdiam diri, menanti sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Rasanya sudah pas, namun teh nya utuh, dan masih hangat. lantas bagian mana yang tidak kau sukai sehingga kau memilih pergi?
Kau datang membawakan secercah harapan, menjanjikan hal-hal yang meyakinkan, membuat ku seakan buta pada kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Tapi setelahnya kau memilih pergi. Pergi membawa harap yang sudah ku ucap terlampau tinggi. Sedari awal, apa yang sebenarnya kau cari?
Aku menyuguhkannya dengan sepenuh hati, menghangatkannya dengan hati-hati. Apa yang harus aku evaluasi? Teh yang ku suguhkan? Ruangan yang aku hangatkan? atau, aku yang sejak awal tidak benar-benar kau inginkan?
Bohong jika aku mengatakan, aku berbahagia kala melihatmu berbahagia.
Ruang yang sedari awal ku tata dengan rapih, kini ku biarkan kosong — membuatnya seakan tidak pernah lagi menerima siapapun yang berniat menjadi penghuni.
Kamu yang pergi adalah orang yang membawakanku seikat kayu, tapi aku dianggap salah ketika membakarnya karena membuatmu merasa terlalu panas.
“Bahkan kini kamu sudah merayakan cinta barumu dan aku memilih untuk tetap melanjutkan hidup dalam ruang hampa yang tiada akhirnya.”
메타데이터
- post_id
- 9dccd7766f98
- slug
- hangat-9dccd7766f98
- url
- https://medium.com/@felisuhaeni05/hangat-9dccd7766f98
- canonical_url
- https://medium.com/@felisuhaeni05/hangat-9dccd7766f98
- author_url
- https://medium.com/@felisuhaeni05
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 17:05:31