Mengapa Aku tidak Terlahir sebagai Seorang Skandinavia?
What is important is not where one comes from, but where one is going — Selma Lagerlöf
Mengapa Aku tidak Terlahir sebagai Seorang Skandinavia?

What is important is not where one comes from, but where one is going — Selma Lagerlöf
Tuhan atau semesta sepertinya memiliki selera humor yang ganjil saat membagi-bagikan jiwa ke dalam raga manusia. Aku sering merasa ada kesalahan administratif di langit sana sebelum aku dilahirkan. Mungkin saat itu malaikat yang bertugas sedang mengantuk atau salah meletakkan stempel persetujuan. Seharusnya aku meluncur turun di antara hamparan salju abadi di Utara. Namun, aku justru mendarat di tengah kepulauan tropis yang lembap dan hangat ini.
Andai aku memiliki kuasa untuk memutar ulang waktu dan memilih menu kelahiran layaknya memesan makanan di restoran, aku tahu persis apa yang akan kupinta. Aku ingin terlahir sebagai anak di negeri-negeri Skandinavia. Bayangkan aku memiliki darah Nordik yang mengalir deras atau bahkan mewarisi genetik seorang Viking. Aku ingin menjadi manusia yang terbiasa menatap cakrawala abu-abu tanpa merasa sedih.
Obsesi ini terdengar konyol bagi orang-orang di sekitarku yang memuja matahari. Namun bagiku, negeri-negeri di semenanjung Skandinavia itu memanggil-manggil seperti kekasih yang lama hilang. Aku sering membayangkan diriku sedang berdiri di ujung tebing Preikestolen di Norwegia. Angin dingin menampar pipiku dengan keras, tetapi aku menyukainya. Di bawah sana, fjord atau teluk sempit yang terbentuk dari lelehan gletser membelah daratan dengan angkuh. Airnya tenang dan gelap. Pemandangan itu menawarkan kesunyian yang mahal. Sebuah jenis keheningan yang mustahil kutemukan di Jakarta atau kota besar Indonesia lainnya.
Aku membayangkan diriku di Lapland saat musim dingin mencapai puncaknya. Orang bilang kegelapan itu menyedihkan. Bagiku kegelapan itu adalah kanvas. Aku menengadah ke langit dan menyaksikan Aurora Borealis. Cahaya itu meliuk-liuk seperti selendang hijau dan ungu yang ditenun oleh hantu-hantu masa lalu. Itu adalah sihir alam yang nyata. Partikel matahari menabrak atmosfer bumi dan menciptakan drama kolosal dalam kebisuan. Aku ingin berada di sana, membiarkan leherku pegal karena terlalu lama menatap ke atas, lalu merasa kerdil di hadapan alam semesta.
Aku juga merindukan konsep hidup mereka yang terdengar asing di telinga orang tropis. Orang Norwegia menyebutnya Friluftsliv atau kehidupan udara terbuka. Mereka tidak peduli pada cuaca buruk. Bagi mereka, tidak ada cuaca buruk, yang ada hanya salah kostum. Aku membayangkan diriku berjalan menembus hutan pinus di Finlandia. Danau-danau membeku dan menjadi cermin raksasa. Pohon-pohon birch berdiri tegak seperti penjaga tua yang bijaksana. Aku akan berjalan di sana, bernapas hingga uap putih keluar dari mulutku, dan merasa hidup sepenuhnya.
Lalu menikmanti hidup seperti manusia-manusia yang tumbuh di Denmark dengan konsep Hygge. Ini adalah seni menikmati keintiman yang sederhana. Bayangkan di luar sedang badai salju. Angin melolong seperti serigala kelaparan. Namun, aku duduk aman di dalam pondok kayu, mengenakan sweter wol tebal yang gatal, tapi hangat, dan menyesap cokelat panas. Cahaya lilin berpendar lembut di sudut ruangan. Itulah definisi kenyamanan yang sesungguhnya. Orang Skandinavia tahu cara berdamai dengan kegelapan dan mengubahnya menjadi sahabat.
Islandia pun tak luput dari lamunanku. Tanah itu adalah definisi dari drama geologis. Di satu sisi ada gletser yang dingin membeku, di sisi lain ada geyser yang menyemburkan air panas dari perut bumi. Pantai pasir hitam Reynisfjara di sana tampak seperti pemandangan dari planet lain. Ombak Atlantik Utara menghantam bebatuan basal dengan ritme yang konstan dan hipnotis. Aku ingin menjadi bagian dari lanskap yang keras itu. Aku ingin memiliki mentalitas orang Islandia yang tetap tenang meski gunung berapi meletus di halaman belakang rumah mereka.
Sayangnya, lamunan itu harus berakhir saat keringat mulai menetes di pelipis. Realitas menarikku kembali ke tanah air. Aku melihat KTP di dompetku. Di sana tertulis jelas tempat kelahiranku. Indonesia. Aku lahir untuk menjadi Indonesia. Aku ditakdirkan untuk hidup bersama matahari yang bersinar terik sepanjang tahun dan hujan yang turun keroyokan tanpa ampun.
Awalnya aku merasa terjebak. Aku merasa seperti beruang kutub yang nyasar di kebun binatang tropis. Namun seiring bertambahnya usia, aku belajar satu hal penting dari filsafat perjalanan Eric Weiner yang kubaca. Kebahagiaan tidak selalu tentang tempat kita berada, melainkan cara kita memandang tempat itu.
Aku mulai berdamai dengan takdirku. Mungkin menjadi Indonesia adalah petualangan tersendiri yang tak kalah seru dibanding menjadi Viking. Jika orang Nordik menaklukkan lautan es, leluhurku menaklukkan samudra luas dengan perahu kayu bercadik. Kami sama-sama pelaut. Kami sama-sama tangguh. Bedanya hanya pada suhu air dan jenis ikan yang kami tangkap.
Keinginan menjadi Skandinavia itu kini kuubah menjadi sebuah lensa kacamata baru. Aku tetap mencintai Indonesia dengan segala kekacauannya yang indah, makanannya yang kaya rempah, dan keramahan warganya. Namun aku merawat imajinasi tentang Nordik itu di dalam hati.
Aku menciptakan Hygge versiku sendiri saat hujan deras mengguyur genting rumah di sore hari. Aku mencari keheningan ala fjord saat mendaki gunung-gunung berapi di Jawa. Aku menemukan ketenangan hutan Finlandia di tengah rimbunnya hutan hujan Kalimantan.
Ternyata aku bisa menjadi manusia hibrida. Secara fisik, aku adalah anak khatulistiwa yang menyukai nasi goreng dan sambal. Namun secara mental, aku sering “pulang” ke Utara untuk mendinginkan kepala. Kakiku berpijak di tanah vulkanik yang hangat, tetapi mataku selalu mencari pendar cahaya utara di balik awan.
Mungkin itulah letak keindahannya. Kerinduan pada tempat yang tidak pernah kutinggali itu membuatku tetap hidup dan berimajinasi. Aku menerima takdirku sebagai orang Indonesia sepenuhnya, sambil membiarkan sebagian kecil hatiku tertinggal di antara salju dan langit kelabu Skandinavia. Bagiku, itu adalah kompromi yang adil dan menenangkan.
메타데이터
- post_id
- 9e69a3e794f8
- slug
- mengapa-aku-tidak-terlahir-sebagai-seorang-skandinavia-9e69a3e794f8
- url
- https://medium.com/@maszid._/mengapa-aku-tidak-terlahir-sebagai-seorang-skandinavia-9e69a3e794f8
- canonical_url
- https://medium.com/@maszid._/mengapa-aku-tidak-terlahir-sebagai-seorang-skandinavia-9e69a3e794f8
- author_url
- https://medium.com/@maszid._
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 12:07:37