← Back to list

JUKYU — Hunter; prolog

Tiga tahun telah berlalu sejak berakhirnya perang besar melawan Rowan dan Kevin — sosok yang menyulut perseteruan makhluk immortal ratusan…

cen · 2026-05-19 17:08 · 0 claps · 7.8 min read
#jukyu #the-boyz #fiksi #fantasy #vampires
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

JUKYU — Hunter; prolog

Tiga tahun telah berlalu sejak berakhirnya perang besar melawan Rowan dan Kevin — sosok yang menyulut perseteruan makhluk immortal ratusan tahun silam. Di balik pesona anggun Kevin sebagai seorang demi-god, tersimpan kegelapan pekat yang lahir dari keserakahan dan kebencian. Disebut iblis karena mereka berdua menggunakan kekuatan dari kegelapan yang berbeda dari dunia sekarang. Meski begitu, tak ada yang benar-benar tahu apakah entitas bernama iblis itu benar adanya, atau hanya kiasan karena bentuknya yang berbeda dari seluruh makhluk yang ada di bumi.

Juyeon dan Changmin sudah banyak berkeliling dari daerah satu ke daerah yang lain demi memburu serpihan jiwa Kevin yang tercecer. Serpihan yang semula tampak remeh itu dapat bermutasi menjadi monster mengerikan jika berhasil menyerap energi kehidupan — baik dari hewan, manusia, maupun kaum immortal. Energi tersebut merusak wujud asli mereka, mengubahnya menjadi siluet hitam legam dengan sepasang tanduk yang menjulang menyeramkan di atas kepala.

Tidak seperti mayat hidup yang menginfeksi makhluk lewat cakaran atau gigitan, iblis ini memilih untuk menyerap korbannya hingga tak bersisa dan menyatu dalam tubuhnya. Kekuatan mereka akan melonjak berkali-kali lipat jika berhasil mengisap jiwa makhluk immortal. Iblis pun tumbuh menjadi teror mengerikan, sebuah teror tanpa akhir yang terus menghantui dunia.

Hunter — sebuah faksi yang, jika boleh dihiperbolakan, merupakan tempat berkumpulnya para pemilik kekuatan supranatural.

Jauh sebelum era ini dimulai, faksi ini lahir sebagai organisasi rahasia yang bergerak di balik bayang-bayang. Tugas mereka satu: memburu setiap sumber kekacauan. Pada masa kelam itu, hukum yang berlaku sangat kejam, di mana setiap pelanggaran dan ancaman hanya diganjar dengan satu vonis mutlak, yaitu kematian. Namun seiring berjalannya waktu, organisasi yang semula tertutup ini bertransformasi menjadi faksi yang terbuka bagi ras atau makhluk apa pun yang mendamba perdamaian.

Dulu, organisasi ini hanya didominasi oleh manusia dan kaum werewolf. Namun kini, berbagai ras telah bergabung di sana. Bahkan para penyihir dan demi-human pun ikut bergabung, menyatukan kekuatan demi satu tujuan yang sama: membumihanguskan iblis-iblis yang mengancam eksistensi makhluk di bumi.

Kekuatan faksi Hunter kini berkembang kian pesat dan masif. Kekuatan tempur mereka semakin kokoh berkat aliansi dengan kaum vampire — yang menginginkan balas dendam setelah wilayah kekuasaan mereka diobrak-abrik oleh teror iblis. Tidak hanya itu, lini pertahanan kian sempurna dengan kontribusi para peri kecil. Makhluk-makhluk lincah ini mendedikasikan diri sebagai navigator pribadi bagi setiap Hunter, mendeteksi dan menelusuri jejak-jejak serpihan iblis yang tercecer.

Kaum Vampire mendirikan lagi negara dengan di bawah kendali Sunwoo dan Changmin. Segala urusan yang berkaitan dengan hukum dan birokrasi politik diserahkan sepenuhnya kepada Sunwoo, sebagai darah keturunan raja sebelumnya. Sedangkan Changmin memiliki peran sebagai pelindung mereka. Karena hanya Changmin lah yang memiliki kekuasaan untuk memimpin para hewan suci dan roh hewan suci.

Changmin tidak ingin direpotkan dengan istilah pemimpin karena menyandang pasangan sah Joel, dia tetap akan membantu karena bagaimana pun di sana lah tempatnya besar dan tinggal. Baginya, kontribusi ini bukanlah soal jabatan, melainkan sebuah sumpah setia untuk melindungi tanah tempat ia tumbuh dan kenangannya bersama Joel.

Selain berkeliling mencari jejak-jejak iblis, Changmin juga melatih Juyeon sebagai seorang vampire newborn, Juyeon harus dibimbing agar terbiasa mengendalikan manipulasi darah — kemampuan mutlak yang menjadi ciri khas kaum mereka. Walaupun manipulasi darah untuk dijadikan senjata perlu latihan lanjutan yang lebih sulit, nyatanya Juyeon cukup mahir karena menerima rutin darah dari tuannya juga berkah yang ditinggal Younghoon dan Joel.

“Udah 3 tahun, tapi laporan iblis belum berhenti juga.”

“Apa yang mau kamu coba jelasin?”

Juyeon termenung, tenggelam dalam pertanyaan yang belakangan ini terus mengusik benaknya: kenapa pencarian mereka seolah tidak pernah menemui ujung? Padahal, mereka tidak sedang berjuang sendirian. Seluruh faksi Hunter telah dikerahkan dengan satu misi mutlak, yaitu membasmi iblis hingga akar-akarnya. Namun anehnya, alih-alih mereda, informasi yang masuk selalu sama — titik-titik penyebaran baru terus bermunculan, dan laporan tentang kemunculan monster itu seakan menjadi lingkaran yang tak berujung.

Bukan maksudnya lelah karena terus berkeliling seperti ini, tetapi ini sudah berjalan tiga tahun lamanya. Selama itu pula tidak menemukan satupun informasi mengenai iblis karena mereka sama sekali tidak bisa berbicara apalagi memiliki ingatan dari masa sebelum mereka terpecah. Akibatnya, tidak ada petunjuk apa pun yang bisa digali untuk menyembuhkan Sangyeon. Hingga detik ini, Sangyeon masih terkunci dalam keheningan, tak mampu bersuara, dan hanya bisa mengandalkan telepati berkat bantuan kemampuan Chanhee.

Latihan selama 3 tahun memang memberikan hasil yang memuaskan bagi Juyeon sebagai vampir new-born, hitungannya dia masihlah bayi berusia 3 tahun.

Sebanyak apapun membasmi iblis yang berasal dari serpihan jiwa Kevin tetap tidak memberikan hasil yang memuaskan untuk pencariannya. Bahkan Hyunjae yang dikhawatirkan masih hidup setelah pengeboman di kastil vampir tidak ditemukan juga mayatnya.

Chanhee mengerahkan seluruh peri kecil menelisir seluruh daerah, lalu meneruskan informasi kemunculan iblis pada seluruh hunter. Satu hal yang mengganjal adalah peri-peri kecil itu tidak bisa menemukan Hyunjae di manapun. Jangankan wujudnya, bahkan setitik fluktuasi kekuatan atau sisa jejak yang ditinggalkannya pun nihil. Padahal, peri-peri itu memiliki kepekaan yang sangat sensitif terhadap energi magis, tetapi Hyunjae seolah lenyap ditelan bumi.

“Changmin. Sayang, kita udah keliling sampai 3 tahun, pemburu iblis nggak cuma kita berdua. Tapi, selama ini yang kita temukan cuma iblisnya aja, kan. Kita nggak pernah nemuin ingatan masa lalu Kevin, cuma ada ingatan api hitam kecil lalu nyerang makhluk lalu jadilah iblis. Di kantor hunter ada Chanhee yang tahu segalanya, tapi nggak pernah ada pembaruan informasi, kan?!”

Mau mengelak pun juga percuma, karena memang pembasmian iblis jadi terhambat oleh kehampaan. Meminta bantuan dari ratu penyihir juga sama-sama mengalami kebuntuan, jadinya mereka, hunter tetap memburu iblis seperti yang sudah menjadi ketentuan seperti sebelumnya.

Mengelak dari kenyataan pun rasanya percuma; misi pembasmian iblis kini benar-benar terhambat oleh kehampaan. Meminta bantuan dari Ratu Penyihir pun berujung pada kebuntuan yang sama. Pada akhirnya, faksi Hunter tidak memiliki pilihan lain selain terus bergerak dalam kegelapan — memburu para iblis, persis seperti ketentuan yang telah berjalan tanpa tahu kapan semua ini akan berakhir.

“Kenapa kita nggak pernah dapet apa-apa, Changmin?”

Wajah Juyeon nampak lesu dan lelah dengan pekerjaan mereka. Tidak biasanya si bayi vampir itu akan mengeluh seperti ini, namun sepertinya ini sudah menjadi titik lelahnya karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, kesembuhan sang kakak.

“Kalau aku bilang dunia udah baik-baik aja itu belum. Dunia kita masih ada ancaman iblis dari serpihan jiwa Kevin. Sampai sekarang kita cuma bisa musnahin mereka satu persatu yang jumlahnya entah berapa ratus, ribu, atau jutaan. Karena semakin dibiarkan, mereka akan terus menyerap jiwa lainnya sampai jadi lebih ganas. Kamu capek, akupun juga, Juyeon! Aku ngerasa bahaya masih akan muncul nanti. Entah itu jiwa Kevin yang akhirnya berkumpul dan mengembalikan wujudnya, atau ada bahaya yang lainnya. Aku mau kita nggak salah langkah seperti sebelumnya.”

Changmin hanya ingin Juyeon mengerti, hidupnya seperempat abad hanya untuk membersihkan nama Joel dan membalaskan dendam. Baginya, perburuan selama tiga tahun ini tidak ada apa-apanya dibanding rentang waktu melelahkan yang telah ia lalui sendirian.

“Kekuatan kita, hunter, mungkin jadi berkembang dan lebih besar. Tapi, kita sudah kehilangan Younghoon dan Jacob, Sangyeon nggak bisa bantu lagi. Kalau sampai Kevin bangkit lagi, aku harus kehilangan siapa? Kamu?”

Sunyi mendadak menjadi begitu pekat. Juyeon terpaku di tempatnya, lidahnya mendadak kelu seolah kehilangan fungsi untuk merangkai kata. Kalimat terakhir Changmin yang bergetar menahan luapan emosi masih menggantung di udara, menampar kesadaran Juyeon dengan begitu keras.

Ia memandang Changmin dengan tatapan kosong, baru menyadari betapa egois keluhannya tentang waktu tiga tahun tadi di hadapan sosok yang telah mengorbankan segalanya. Nama-nama yang baru saja diucapkan Changmin bergaung di kepalanya seperti lonceng kematian — Younghoon, Jacob, dan Sangyeon yang kini terisolasi dalam kepedihan.

“Maaf. Aku nggak maksud begitu. Aku cuma mikir, kenapa kita nggak bisa menemukan petunjuk lagi.”

Changmin tidak bermaksud membahas luka bagi keduanya, tidak bermaksud melepaskan emosinya juga, hanya ingin Juyeon juga memahaminya. Karena waktu abadi, mereka bisa melakukan hal yang sama berulang kali, mencari dan melenyapkan iblis.

Di tengah pergulatan batinnya, Juyeon mencoba mengutarakan apa yang mengusik pikirannya selama ini. Ia berspekulasi tentang tempat persembunyian Hyunjae, atau kemungkinan bahwa serpihan jiwa Kevin telah menyatu kembali di suatu tempat yang tidak terjangkau oleh siapa pun. Jika tempat itu benar-benar terisolasi, mungkinkah itu adalah surga — tanah suci tempat para dewa dan dewi berkumpul? Chanhee tidak bisa membenarkan pun menyalahkannya. Sebagai keturunan dewa yang hanya pernah mendengar tempat itu lewat dongeng pengantar tidur, ia enggan berspekulasi terlalu jauh mengenai eksistensi sebuah tempat yang keberadaannya saja masih menjadi mitos kelabu.

Keheningan terpecah saat dua orang melangkah keluar dari pekatnya hutan menuju tempat Juyeon dan Changmin berada. Kedatangan mereka diiringi oleh gelombang kekuatan besar yang, anehnya, terasa begitu akrab. Kuri dan Nuri, roh-roh hewan suci yang berjaga, mengaum sebagai pertanda kehadiran mereka. Menariknya, raungan itu terdengar hangat dan bersahabat — sesuatu yang sangat langka, karena kedua roh itu biasanya tidak pernah menunjukkan kebaikan pada siapa pun selain Chanhee dan Sangyeon. Hal tersebut membuat Changmin sedikit tertarik dan mencoba bangkit dari tenda perkemahan dan berjalan keluar.

Tidak hanya Kuri dan Nuri yang tampak antusias, pemimpin roh hewan suci yang bersemayam di dalam dirinya ikut menunjukkan minat dan sebuah senyum menghiasi otaknya.

Kenapa? Siapa mereka?

Berusaha mencari jawaban atas tingkah para roh hewan sucinya, Changmin melangkah maju demi mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Sosok pertama adalah seorang wanita bertubuh semampai dengan wajah menawan yang memancarkan pendar cahaya halus, seolah diselimuti pendar cahaya. Sementara di sebelahnya, berdiri seorang pria berpostur sedikit lebih tinggi, yang langsung menyapa mereka lewat binar mata yang hidup dan senyuman yang begitu cerah.

“Changmin, ada siapa?” Juyeon yang baru keluar mengikuti Changmin tiba-tiba bersiaga memasang kedua tangan di samping terkepal, menyiapkan darah jika orang yang menghampiri mereka adalah musuh. “Kuri sama Nuri nggak siaga. Bukan orang jahat?”

Itu juga yang ingin Changmin ketahui.

Jarak di antara mereka kian terkikis. Bukannya waspada, Kuri dan Nuri justru berlari menuju dua orang itu. Tidak — lebih tepatnya, sepasang roh hewan suci itu langsung menghampiri sang laki-laki dan dengan manja mengusalkan kepala mereka di kakinya. Momentum magis itu terasa begitu nyata ketika Kuri dan Nuri perlahan memadatkan energi mereka, memanifestasikan wujud fisik hewan suci yang sepenuhnya dapat disentuh oleh tangan manusia.

Siapa?

Changmin bertanya-tanya kenapa tingkah Kuri dan Nuri seperti kucing yang bermanja-manja pada pemiliknya. Sikap lembut keduanya mengingatkan Changmin pada Joel yang akan membelai kedua hewan suci setiap kali mendekat.

“Arriel ….”

Alunan suara itu seketika memicu debaran familier di dada Changmin — sebuah vokal yang rasanya sudah sangat sering ia dengar di masa lalu. Lebih dari itu, panggilan “Arriel” bukanlah nama sembarangan. Di era sekarang, nama kuno itu hanya diketahui oleh segelintir kaum yang berasal dari akar negara vampire yang asli, sementara generasi yang hidup saat ini lebih mengenalnya dengan nama Changmin. Kenyataan ini menjadi sebuah petunjuk, wanita di hadapannya pastilah sosok dari masa lalu, seorang vampire yang pernah hidup berdampingan dengannya di masa muda dulu.

“Arriel, itu benar kamu, Arriel!”

Wanita itu melangkah maju. Gerakannya begitu cepat, melesat bagai kilat tanpa perlu memicu sihir teleportasi sedikit pun. Hanya dalam satu kedipan mata, ia tahu-tahu sudah berdiri dengan anggun tepat di hadapan Changmin.

“Arriel,” panggilnya sekali lagi.

Wajah cantiknya. Mata indahnya. Hidung mancungnya. Sudut bibirnya. Aura yang terpancar dari tubuhnya adalah sesuatu yang mustahil bisa dilupakan oleh memori sang vampire, tak peduli seberapa banyak abad yang telah berlalu.

Kedua mata Changmin membola terkejut karena berhadapan dengan vampir yang sudah dikabarkan meninggal sebelum perang pecah. Menjadi satu-satunya korban dari keluarga raja.

“Kak Dani?” suara Changmin sedikit bergetar berusaha meyakinkan bahwa vampir yang berdiri di hadapannya ini adalah nyata dan bukan sembarang ilusi.

Wanita tersebut tersenyum, “Kamu nggak sedang berhalusinasi, Arriel. Ini Daniela, kakak ipar kamu.”

Sekujur tubuh Changmin mendadak kaku, seiring bibirnya yang sedikit menganga karena syok. Pertanyaan-pertanyaan yang mendadak memenuhi otaknya justru saling berbenturan satu sama lain, membuatnya bingung harus memulai dari mana hingga tak ada satu pun suara yang berhasil lolos.

Tidak hanya sampai situ, laki-laki yang datang bersama Daniela tadi tiba-tiba memeluk tubuh Changmin dengan erat. Ada isakan lirih dan panggilan aneh darinya.

“Papi … Jiel kangen Papi! Akhirnya Jiel ketemu Papi!”

Papi? Jiel?

Seakan bisa membaca pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikirannya, Daniela yang menjawab dengan lugas.

“Azriel. Anak kamu sama Joel.”

14/11/2022 Revisi 19/05/2025


메타데이터
post_id
9e6edd94d39e
slug
jukyu-hunter-prolog-9e6edd94d39e
url
https://medium.com/@cnd.cenud/jukyu-hunter-prolog-9e6edd94d39e
canonical_url
https://medium.com/@cnd.cenud/jukyu-hunter-prolog-9e6edd94d39e
author_url
https://medium.com/@cnd.cenud
status
ok
fetched_at
2026-07-10 16:32:07