← Back to list

Dosen PIAUD UM Bandung Ajak Orang Tua Melihat Potensi, Bukan Keterbatasan Anak

Bandung — Bagi sebagian orang tua, mengetahui bahwa buah hatinya merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah hal yang mudah untuk…

Info UM Bandung · 2026-06-03 03:33 · 0 claps · 2.5 min read
#anak #um-bandung #parenting #family #islam
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting 🕊️ · Religion

Dosen PIAUD UM Bandung Ajak Orang Tua Melihat Potensi, Bukan Keterbatasan Anak

Bandung — Bagi sebagian orang tua, mengetahui bahwa buah hatinya merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) bukanlah hal yang mudah untuk diterima.

Perasaan terkejut, sedih, bingung, bahkan penolakan kerap menjadi bagian dari perjalanan yang harus dilalui.

Namun, di balik proses yang tidak sederhana itu, tersimpan satu kunci penting yang dapat menentukan masa depan anak, yakni penerimaan orang tua.

Pesan tersebut disampaikan dosen prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Esty Faatinisa SPsi SPd MPd dalam program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (02/06/2026).

Dalam kesempatan itu, ia mengulas pentingnya penerimaan orang tua sebagai fondasi utama keberhasilan tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus sekaligus keberhasilan pendidikan inklusi.

Menurut Esty, pendidikan inklusi tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan sekolah.

Sebaik apa pun layanan pendidikan yang diberikan, perkembangan anak akan lebih optimal ketika keluarga hadir sebagai lingkungan pertama yang menerima, memahami, dan mendukung mereka.

“Penerimaan orang tua merupakan langkah awal yang sangat menentukan. Ketika orang tua mampu menerima kondisi anak, maka proses pendampingan, pendidikan, dan pengembangan potensi anak akan berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Esty menjelaskan bahwa orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), umumnya menghadapi tekanan psikologis yang lebih besar dibandingkan orang tua lainnya.

Tidak sedikit yang membutuhkan waktu panjang untuk berdamai dengan kenyataan dan menerima kondisi anak secara utuh.

Perjalanan menuju penerimaan itu, lanjutnya, sering kali diawali dengan berbagai gejolak emosi.

Mulai dari penolakan, kebingungan, hingga upaya mencari berbagai kemungkinan agar kondisi anak dapat berubah.

Pada fase tersebut, banyak orang tua yang berpindah dari satu pengobatan ke pengobatan lainnya dengan harapan anak dapat sembuh sepenuhnya.

“Menuju kata menerima bukanlah perjalanan yang instan. Ini merupakan proses psikologis yang panjang dan berliku hingga akhirnya orang tua mampu melihat anak sebagai individu yang unik dengan potensi yang bisa terus dikembangkan,” katanya.

Namun, proses penerimaan itu tidak selalu berjalan mulus. Esty mengungkapkan bahwa berbagai faktor dapat menjadi penghambat.

Mulai dari tekanan keluarga besar yang masih memiliki harapan agar anak berkembang seperti anak pada umumnya, konflik dalam rumah tangga, hingga stigma masyarakat terhadap disabilitas.

Padahal, keterlambatan orang tua dalam menerima kondisi anak dapat berdampak pada terlambatnya deteksi dini dan intervensi yang dibutuhkan.

Sementara itu, keberhasilan terapi dan pendidikan sangat dipengaruhi oleh keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak setiap hari.

Di sisi lain, dukungan pasangan, sekolah yang inklusif, serta lingkungan sosial yang ramah menjadi kekuatan besar yang dapat membantu orang tua melewati proses tersebut dengan lebih baik.

Esty menegaskan bahwa ketika orang tua mampu menerima kondisi anak, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga, tetapi oleh anak itu sendiri.

Kehangatan dan penerimaan yang hadir di rumah akan menciptakan rasa aman, mengurangi kecemasan, serta membantu anak mengelola perilaku yang muncul akibat tekanan emosional.

Orang tua yang telah menerima kondisi anak juga cenderung memiliki cara pandang yang berbeda.

Mereka tidak lagi terfokus pada upaya mengubah kondisi anak. Namun, lebih banyak mencurahkan energi untuk mengembangkan potensi, bakat, dan kemandirian yang dimiliki.

Dalam kesempatan tersebut, Esty turut mengajak warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk menjadi bagian dari gerakan inklusi dengan menghentikan stigma terhadap anak berkebutuhan khusus dan keluarganya.

Menurutnya, masyarakat perlu hadir sebagai sistem pendukung yang memberikan ruang aman dan nyaman bagi keluarga ABK, bukan justru menambah beban melalui penilaian ataupun penghakiman.

Baginya, menerima anak berkebutuhan khusus bukan sekadar bentuk pengasuhan.

Lebih dari itu, penerimaan merupakan bentuk penghargaan terhadap martabat manusia sekaligus wujud syukur atas amanah yang diberikan Allah SWT.

“Menerima dan memperjuangkan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bukan sekadar bentuk pengasuhan. Ini merupakan wujud syukur atas ketetapan Allah sekaligus ikhtiar untuk memuliakan martabat sesama manusia,” pungkasnya.***(FA)


메타데이터
post_id
9e8900c9abbb
slug
dosen-piaud-um-bandung-ajak-orang-tua-melihat-potensi-bukan-keterbatasan-anak-9e8900c9abbb
url
https://medium.com/@umbandungnews/dosen-piaud-um-bandung-ajak-orang-tua-melihat-potensi-bukan-keterbatasan-anak-9e8900c9abbb
canonical_url
https://medium.com/@umbandungnews/dosen-piaud-um-bandung-ajak-orang-tua-melihat-potensi-bukan-keterbatasan-anak-9e8900c9abbb
author_url
https://medium.com/@umbandungnews
status
ok
fetched_at
2026-06-14 16:15:44