← Back to list

Departemen Ke-10

Cerita baru sebelum kita masuk ke departemen koas yang baru, departemen ke sepuluh. Selalu begini, setiap pergantian departemen, selalu…

Salamatusshodri A. · 2025-06-28 13:50 · 2 claps · 1.6 min read
#kedokteran-gigi #dentistry #dental #student-life #heal
Open on Medium ↗
Wiki topics: EDU · Education & Learning

Departemen Ke-10

Photo by Hannah Smith on Unsplash

Photo by Hannah Smith on Unsplash

Cerita baru sebelum kita masuk ke departemen koas yang baru, departemen ke sepuluh. Selalu begini, setiap pergantian departemen, selalu muncul rasa was-was.

Mau ada musibah apa lagi?

Mau ada hancur yang seperti apa lagi?

Mau ada nangis keras yang gimana lagi?

Bisa jadi pertanyaan semacam itu muncul karena respons tubuh yang sangat familiar dengan keadaan berulang selama menjalani koas di departemen yang berbeda kali, ya? Walaupun ga semua departemen itu keras. Tapi sekalinya keras, jejak traumatisnya… wah luar biasa. Bahkan di saat mengetik tulisan ini aku pun was-was. Aku adalah bagian dari generasi Z. Apakah dengan tulisan ini dibuat aku akan dipandang sebagai individu strawberry?

Tapi ngomong-ngomong, aku sudah jauh lebih baik. Sudah sangat berdamai dengan takdir dan keadaan. Aku percaya bahwa segala trauma yang kudapatkan selama koas adalah caranya Allah agar aku bisa menyelami lebih dalam perjalanan spritualitasku. Aku jadi lebih banyak merenung, lebih banyak diam, lebih banyak bertanya dan ngobrol sama diriku sendiri.

Aku secapek ini, sebenarnya apa yang kucari?

Aku hidup untuk apa?

Kenapa aku lahir, menjadi manusia, dan ditakdirkan untuk menjalani koas?

Apa harus sepedih ini biar aku berhasil dan tenang di masa tua?

Andai ada orang bertanya, “Apa pelajaran paling berharga yang kamu dapati selama koas?” Aku dengan yakin menjawab, aku jadi lebih mengenal diriku sendiri. Aku jadi lebih perhatian tentang isu kejiwaan, keimanan, dan spritualitas. Aku jadi lebih mengejar kedamaian dan keseimbangan. Aku bersyukur, Allah memilih aku untuk ngejalanin takdir yang asliiii… hahah, pedih pedih pedih pedih pedih. Sakit sakit sakit sakit.

Aku jadi belajar bagaimana mengelola napas yang baik saat serangan anxiety menyergap. Aku jadi akrab dengan pelukan kupu-kupu untuk diriku sendiri. Aku jadi lebih berteman dengan diriku sendiri. Lebih mudah melakukan words of affirmation untuk diriku sendiri.

Through suffering, we grow. We heal, we grow.

Tidak terhitung entah berapa ribu kali aku rapal kalimat itu di saat aku lagi dihentak kendala. Dari ribuan episode pedih dalam hidupku selama koas, ada banyak hasil yang kudoa-doakan. Semoga banyaknya ujian hidup, tidak membuatku pulang dengan tangan kosong.

Semoga aku jadi lebih bijaksana. Lebih berempati, lebih memaklumi, lebih merangkul, lebih lembut. Pedihnya hidup membuatku jadi lebih berminat akan disiplin ilmu humaniora. Mempelajari manusia dan kejiwaan adalah bagian dari keping takdir yang ga pernah aku sangka akan terjadi pada diriku.


메타데이터
post_id
9e8ef1e73c06
slug
departemen-ke-10-9e8ef1e73c06
url
https://medium.com/@salaamatusshdr/departemen-ke-10-9e8ef1e73c06
canonical_url
https://medium.com/@salaamatusshdr/departemen-ke-10-9e8ef1e73c06
author_url
https://medium.com/@salaamatusshdr
status
ok
fetched_at
2026-07-20 06:28:39