Sebelum Satu Pekerjaan Pun Dimulai
Refleksi dari baptisan Yesus di sungai Yordan dan perumpamaan anak yang hilang, sebuah renungan tentang jati diri yang berakar bukan pada…
Sebelum Satu Pekerjaan Pun Dimulai
Refleksi dari baptisan Yesus di sungai Yordan dan perumpamaan anak yang hilang, sebuah renungan tentang jati diri yang berakar bukan pada perbuatan, melainkan pada anugerah.
Banyak hal yang dapat dijadikan landasan penilaian atas nilai seseorang: karir dan bisnis yang sukses, jabatan dan gaji yang tinggi, keluarga yang bahagia: pasangan sempurna dan anak-anak yang luar biasa, status sosial, kekuasaan dan pengaruh yang besar, pengetahuan dan kemampuan, dan banyak hal lainnya. Baik terpenuhinya, atau sebaliknya, ketiadaan hal-hal tersebut seringkali menentukan bagaimana seseorang melihat yang lain, menyematkan nilai dan kemudian menentukan identitas atau jati diri orang tersebut. Lebih jauh lagi, tidak hanya hal-hal ini menjadi penentu bagaimana seseorang melihat orang yang lainnya, tetapi juga bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri, menyematkan nilai, dan kemudian menentukan identitas atau jati dirinya. Rasanya, ini bukanlah pengamatan yang terlalu melenceng dari realita yang ada.
Beberapa waktu yang lalu, salah satu vikaris di gereja saya menyampaikan kotbah di ibadah Minggu, di mana dia mengingatkan bagaimana orang sering terjebak dalam apa yang dia sebut sebagai “ work-based identity.” Dalam kerangka ini, seseorang menentukan jati diri dan harga dirinya dari apa yang ia lakukan, dan apa yang berhasil, atau gagal, ia capai. Mengingatkan kita kembali kepada kalimat yang dulu sering terlontar, “Belajarlah yang rajin, supaya kamu pintar. Kalau kamu pintar kamu bisa cari uang yang banyak, supaya kamu bisa jadi ‘orang.’” Disadari atau tidak, benar nampaknya bahwa mindset ini memang diadopsi hampir semua orang.
Vikaris mendasarkan kotbahnya dari teks Alkitab di Matius 3, dan dia menyoroti baptisan Yesus di sungai Yordan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Kotbah yang cukup singkat namun menawarkan perspektif berbeda dari sebuah peristiwa yang mungkin sudah kita ketahui sebelumnya.
Beberapa saat setelah ibadah, dalam perjalanan menuju ke negeri orang, saya teringat akan perumpaan anak yang hilang (Lukas 15:11–32); akan si bungsu dan si sulung itu. Konteks di awal pasal tersebut adalah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut karena para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia, dan bagaimana Yesus mau menerima dan duduk bersama-sama dengan mereka, suatu respon yang nampaknya dianggap tidak seharusnya terjadi. Yesus kemudian menanggapi dengan memberikan perumpaan tentang domba yang hilang, dirham yang hilang, dan anak yang hilang. Perumpamaan tentang anak yang hilang sering disampaikan dalam konteks pertobatan, terutama pertobatan si bungsu, dan bagaimana sang ayah bersedia menerima kembali anaknya yang telah hilang. Saya tidak menampik pandangan itu, namun saya mendapatkan gambaran yang sedikit berbeda saat itu.
Perumpamaan tentang anak yang hilang ini terasa sangat dekat dan memberikan “contoh nyata” atas kotbah oleh vikaris dari Matius 3. Sebuah perspektif baru dari sebuah perumpamaan yang sudah sering saya dengar sebelumnya. Betapa dalam dan luasnya Firman Tuhan.
Saya akan mencoba mengulasnya dan mari kita lihat apakah anda sepakat atau tidak.
Baptisan Yesus: Titik Awal
Matius menggambarkan peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis di pasal ketiga, ayat ketigabelas sampai ketujuhbelas. Sebuah peristiwa yang cukup familiar, di mana Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya, tetapi Yohanes merasa tidak layak. Pada akhirnya ia tetap melakukannya supaya digenapkan seluruh kehendak Allah. Setelah dibaptis, langit terbuka dan Roh Allah turun ke atas Yesus dalam rupa seperti burung merpati, dan terdengar suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Kurang lebih demikianlah Matius menggambar peristiwa baptisan Yesus di sungai Yordan.
Vikaris kemudian mengangkat satu poin yang menarik. Dia menyoroti bahwa kedatangan Yesus ke Yordan ini terasa out of nowhere, tidak ada angin tidak ada hujan, tanpa prakata. Kesan yang muncul adalah bahwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes ini hanya untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah saja (ay. 15). Memang betul, tetapi bukan “hanya” dan “saja”, seolah-olah peristiwa ini merupakan formalitas tanpa makna belaka. Mengesampingkan hal itu terlebih dahulu, kesan out of nowhere itu muncul, salah satunya, adalah karena ayat tigabelas adalah kali pertama Yesus digambarkan melakukan sesuatu, Ia datang dari Galilea ke Yordan. Dua pasal sebelum ini, Matius “hanya” mencatat silsilah Yesus, kelahiran Yesus, orang-orang Majus untuk menemui Yesus yang baru lahir, penyingkiran ke Mesir, dan kembalinya keluarga mereka ke Galilea ke Nazaret. Tidak ada kehidupan Yesus yang diceritakan, tidak ada pelayanan dan pekerjaan Yesus di titik ini.
Tanpa pelayanan, tanpa pekerjaan, tanpa pencapaian apapun, dan tiba-tiba Yesus datang untuk dibaptis, dan Allah Bapa secara publik mendeklarasikan Yesus sebagai Anak yang dikasihi-Nya, yang kepada-Nya Ia berkenan. Perkenanan Bapa kepada Yesus bukanlah karena pekerjaan-pekerjaan Yesus yang luar biasa, karena Ia belum melakukan apa-apa. Bukan berarti juga bahwa sebelum peristiwa ini Bapa belum berkenan kepada Yesus, dan hanya setelah Ia dibaptis barulah Bapa berkenan kepada-Nya. Perkenanan Bapa kepada Yesus adalah karena siapa diri Yesus. Ia adalah sang Anak, yang selalu bersama-sama dengan Bapa, sejak kekekalan, dan akan terus bersama dengan-Nya sampai kekekalan. Bapa berkenan kepada Yesus, sejak sebelum baptisan di sungai Yordan, namun baru di situlah Bapa mendeklarasikan secara publik, dan itu menjadi titik awal pelayanan dan pekerjaan-pekerjaan Yesus. Poin yang menarik juga untuk dipikirkan bahwa Bapa memberikan deklarasi-Nya pada momen baptisan.
Kaitannya Dengan Kita
Yesus diperkenan oleh Bapa karena Ia adalah sang Anak yang hakiki. Saya rasa sebagian besar orang akan setuju bahwa kita tidaklah sama dengan Yesus. Namun, nampaknya bukan tanpa alasan pula bahwa sekian miliar orang Kristen di dunia mengatakan bahwa mereka adalah anak Allah. Perjanjian Baru cukup banyak mengatakan hal ini, misalnya Yoh 1:12 “tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Yohanes mengatakan mereka yang percaya kepada Kristus, diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Paulus mengatakan hal yang serupa bahwa kita semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus (Gal 3:26), dan bahwa Yesus Kristus diutus untuk menebus kita, dan dengan demikian kita diterima menjadi anak (Gal 4:5). Yesus sendiri mengajar kedua belas murid-Nya untuk bertindak dan berlaku layaknya anak-anak Bapa di sorga (Mat 5:44–45, 48), dan secara umum di seluruh rangkaian kotbah di bukit, Yesus menempatkan Allah Bapa seperti Bapa mereka, dan mereka adalah anak-anak Bapa. Dan tentu saja kita tahu bagaimana Yesus mengajarkan para murid untuk berdoa, “Bapa kami yang di sorga,…”
Kita memang bukan anak Allah secara hakiki, sebaliknya manusia adalah musuh Allah, pendosa yang layak mendapatkan murka-Nya. Tetapi Kristus telah mati bahkan ketika kita masih berdosa, sehingga kita dibenarkan oleh darah-Nya, dan kita diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:8–9). Dan dengan demikian, mereka yang percaya dalam nama Yesus Kristus diberi anugerah untuk menjadi anak-anak Allah. Bukan karena perbuatan baik mereka, melainkan karena pekerjaan Kristus dan kebenaran-Nya. Bukan murka lagi yang ada, melainkan perkenanan Allah Bapa. Dalam hal inilah, baptisan Yesus dan deklarasi perkenan Bapa menjadi relevan dengan setiap orang yang percaya, yang turut berbagian di dalam peristiwa baptisan itu. Inilah jati diri kita. Orang berdosa, yang mendapatkan anugerah keselamatan, dan perkenanan Bapa, bukan karena apa yang kita lakukan, karena tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan perkenanan Bapa, tetapi karena apa yang Yesus lakukan. Kita adalah anak-anak Allah karena anugerah. Dan inipun menjadi titik awal bagi kita.
Pekerjaan Sebagai Manifestasi Jati Diri
“karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” Efesus 2:10
“For we are his workmanship, created in Christ Jesus for good works, which God prepared beforehand, that we should walk in them.” ESV
Paulus mengatakan, di dalam Kristus Yesus, kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik, dan ia mengatakan bahwa Bapa mau supaya kita hidup di dalam pekerjaan-pekerjaan baik itu. Apa maksudnya hidup di dalam pekerjaan-pekerjaan baik itu? Terjemahan LAI menggunakan kata hidup, sedangkan terjemahan bahasa Inggris ESV menggunakan kata “ walk” yang adalah terjemahan lebih literal dari kata Yunani yang digunakan, yaitu “ peripatēsōmen”, yang berarti berjalan . Ada hal yang menarik di sini. Kita perlu mengingat bahwa Paulus adalah orang Farisi yang terlatih (Gal 1:14, Kis 22:3, di bawah Gamaliel). Dia hidup dan berpikir dalam kerangka konseptual Yahudi meski menulis dalam bahasa Yunani. Dalam Perjanjian Lama, kata halak (berjalan) dipakai berulang kali untuk menggambarkan cara hidup atau perilaku sehari-hari, misal “berjalan dalam ketetapan-Ku” (Im 26:3), “berjalan di hadapan Allah” (Kej 17:1), dst. Ketika kitab-kitab Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), mereka menggunakan kata peripateō/ poreuomai untuk menggambarkan idiom Ibrani tersebut. Dari akar kata yang sama inilah lahir istilah halakha, suatu kumpulan hukum agama orang Yahudi yang mengatur berbagai aspek kehidupan sehari-hari mereka . Ketika Paulus mengatakan bahwa Bapa mau kita “berjalan” dalam perbuatan-perbuatan baik itu, dia tidak sedang menggambarkan tindakan sesaat, melainkan tindakan yang dilakukan setiap hari, setiap saat, sesuatu yang dihidupi. Kita bisa mengerti mengapa LAI menggunakan kata “hidup di dalamnya.”
Lantas, pekerjaan baik seperti apa yang dimaksud oleh Paulus? Paulus menggunakan kata ἔργοις ἀγαθοῖς ( ergois agathois), yang terdiri dari dua kata, ergon dan agathos.
Ergon berarti pekerjaan, perbuatan, tindakan . Kata ini merujuk kepada tindakan yang aktif dan nyata, bukan hanya niat, gagasan, atau pemikiran. Bapa menginginkan kita benar-benar melakukan tindakan nyata.
Sedangkan kata kedua, agathos, berarti baik, berguna, memilliki nilai instrinsik . Bandingkan dengan kalos, yang juga berarti baik, indah, tetapi baik secara estetika atau secara eksternal nampak baik . Bukan kebetulan Paulus menggunakan kata agathos, perbuatan yang secara intrinsik baik, yang berkenan di hadapan Bapa. Kita tidak diciptakan untuk melakukan perbuatan baik yang berpusat pada diri, untuk mendapatkan pujian, atau mendapatkan keuntungan tertentu, melainkan untuk memuliakan Bapa di sorga.
Jadi, Bapa mau supaya kita, anak-anak-Nya, melakukan tindakan-tindakan nyata yang baik, yakni yang berkenan kepada-Nya, yang memuliakan Dia, setiap hari, setiap saat. Dengan kata lain, seluruh kehidupan kita, adalah satu perjalanan panjang, yang dijalani setiap hari, dengan kesadaran, bahwa setiap tindakan-tindakan kita adalah untuk memuliakan Dia.
Amnesia
Permasalahannya adalah kita sering lupa. Bahkan dengan kesadaran akan jati diri yang benar, masih terlalu mudah bagi kita untuk lupa. Kegagalan seringkali membuat kita hancur dan merasa tidak layak. Sebaliknya, kesuksesan seringkali membuat kita merasa berjalan di atas awan, lupa daratan. Kita melupakan Bapa, dan kembali melihat apa yang berhasil, atau gagal kita capai, sebagai penentu jati diri.
Perumpaan akan anak yang hilang yang dicatat oleh Lukas (Lukas 15:11–32) rasanya memberikan satu perspektif akan hal ini.
Si bungsu
Tidak banyak yang menolak rasanya jika saya mengatakan bahwa si bungsu ini mewakili kita yang merasa gagal, tidak layak, tidak ada harga diri, dan bahkan durhaka dan memberontak. Diceritakan bahwa si bungsu ini meminta harta warisan yang menjadi haknya, selagi ayahnya masih hidup. Sebuah tindakan yang bisa dikatakan lancang dan nir etika, bahkan mungkin untuk jaman sekarang. Ia kemudian menjual semua bagiannya, pergi ke negeri yang jauh (meninggalkan ayahnya), dan di sana dia hidup berfoya-foya. Setelah habis semua hartanya, datanglah bencana kelaparan, dia jatuh miskin, dan dia pergi bekerja menjadi penjaga babi. Ketika dia lapar dan ingin mengisi perutnya dengan ampas makanan babi itupun tidak ada seorangpun yang memberikan kepadanya.
Di titik terendahnya itu, ia teringat banyaknya pegawai ayahnya yang kelimpahan dengan makanan, sementara dia mati kelaparan. Ini poin menarik pertama untuk saya. Ada pergeseran yang saya amati di sini. Di awal si bungsu memposisikan diri sebagai anak, sekalipun durhaka, yang merasa pantas minta warisan bahkan selagi ayahnya masih hidup. Di titik terendahnya, dia membandingkan dirinya dengan pegawai upahan ayahnya, bahkan dia berkata “aku tidak layak lagi disebutkan sebagai anak bapa, jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa” (Lukas 15:19). Dosa dan kegagalannya, apa yang dia lakukan dan kerjakan, membuat dia merasa tidak layak disebut sebagai anak. Tetapi, bagaimana dengan respon ayahnya? Dari jauh, ia telah melihatnya, dan ia berlari mendapatkan dia, merangkul dan mencium dia, menyuruh pegawai-pegawainya untuk membawa jubah terbaik dan menyiapkan pesta baginya, dan berkata “Anakku telah mati dan hidup kembali, ia hilang dan sekarang kudapatkan kembali.” Pada akhirnya, sekalipun si bungsu telah durhaka kepadanya, berfoya-foya, hidup semaunya, jatuh miskin dan dianggap hina, bahkan mungkin lebih rendah daripada babi, sang ayah tetap melihat dan menerimanya sebagai anaknya.
Si sulung
Sekarang mari alihkan perhatian kita kepada si sulung. Si sulung yang kembali dari ladang, setelah dekat dengan rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian dan tari-tarian. Ia bertanya kepada salah satu pegawai ayahnya dan bertanya apa yang sedang terjadi. Setelah mengetahui bahwa ayahnya mengadakan pesta bagi adiknya yang telah kembali, ia menjadi marah dan tidak mau masuk ke dalam rumah. Ayahnya keluar dan berbicara dengan dia, tapi si sulung menjawab, “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.” Sungguh prestasi yang luar biasa bahwa telah bertahun-tahun ia melayani ayahnya, dan ia belum pernah sekalipun melanggar perintah ayahnya. Dan agaknya, si sulung hendak membandingkan dirinya dengan adiknya yang sangat berkebalikan (ayat 30).
Namun, ada satu hal yang si sulung pun lupakan. Dalam bahasa Yunani, Lukas menggunakan kata douleuo, dari akar kata doulos, yang berarti melayani, tetapi dalam kapasitas sebagai hamba atau budak, untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh si sulung. Si sulung menempatkan dirinya selayaknya hamba meskipun ia tinggal bersama dengan ayahnya di rumahnya. Ia merasa dirinya hanya sejauh apa yang sudah ia hasilkan lewat kepatuhannya. Ia melakukan semua pekerjaannya dengan baik, selama bertahun-tahun, dan berharap karena pekerjaannya inilah ia layak mendapatkan imbalan. Bisa dibayangkan betapa marahnya dia, ketika adiknya yang telah gagal total melakukan “kewajibannya”, malah dirayakan dengan pesta meriah, yang tidak pernah ia dapatkan.
Tetapi, bagaimana dengan respon ayahnya? “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.” Sang ayah kembali menegaskan status si sulung dengan mengatakan siapa dirinya sebenarnya, bahwa ia adalah anak, bukan hamba. Sang ayah melanjutkan, semua kepunyaannya, adalah kepunyaan si sulung juga. Bukan akan menjadi miliknya, tetapi adalah miliknya, terlepas dari kerja keras dan kepatuhan yang si sulung klaim. Sang ayah tidak menyangkal kerja keras si sulung, sama seperti si ayah tidak menyangkal kejatuhan dan ketidaktaatan si bungsu, tetapi ia mengoreksi kekeliruan logikanya. Semua privilege itu diberikan sebagai upah atas jasa yang mereka berikan, melainkan diberikan karena status mereka sebagai anak.
Dua Anak, Satu Akar
Kedua anak memiliki akar masalah yang sama, mereka sama-sama mengukur dirinya melalui kinerja; yang satu sadar telah gagal, yang satu merasa ia telah patuh dan berhasil. Mereka berdua gagal melihat bahwa privilege sebagai anak itu diberikan, bukan dicapai.
Ayah yang sama harus keluar rumah dua kali dalam perumpaan ini. Sekali ia berlari dan mendapati si bungsu, dan sekali lagi ia menasihati dan membujuk si sulung. Inisiatif penerimaan bukan hanya untuk orang yang kelihatan “berdosa” seperti si bungsu, melainkan juga untuk orang yang merasa “berhasil” seperti si sulung.
Si bungsu di awal merasa jumawa dan merasa layak mendapatkan warisan dari ayahnya, berfoya-foya, jatuh miskin, dan menyadari bahwa ia telah gagal, merasa tidak layak menjadi anak dan ingin menjadi hamba saja. Sebaliknya, si sulung setia berada di rumah, bekerja keras, taat dan patuh, namun menempatkan dirinya seperti pekerja upahan. Keduanya diingatkan kembali oleh sang ayah, bahwa mereka berdua adalah anak.
Pada Akhirnya
Saya tidak mengatakan bahwa tidak menjadi soal apapun yang kita lakukan, bahwa kita bisa berbuat dosa saja kalau begitu, toh kita adalah anak. Sekali-kali tidak! Paulus di Efesus 2:10 kembali mengingatkan, bahwa Bapa mau supaya kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik, untuk memuliakan Dia. Tetapi biarlah cerita ini menjadi pengingat, bahwa penerimaan Bapa tidak bergantung dari apa yang kita lakukan. Jati diri kita tidak bergantung dari apa yang kita kerjakan.
Baptisan di Yordan dan perumpaan tentang kedua anak ini agaknya menyuarakan satu kebenaran yang sama, bahwa perkenanan Bapa mendahului segala kinerja kita, baik kegagalan maupun keberhasilan. Kita melakukan pekerjaan-pekerjaan baik bukan untuk mendapatkan pengakuan sebagai anak, melainkan sebagai manifestasi dari jati diri kita yang sudah lebih dahulu diberikan, yaitu anak-anak Allah yang telah dibenarkan oleh pekerjaan Kristus.
Soli Deo Gloria.
Originally published at https://coramdeoid.substack.com on July 27, 2026.
메타데이터
- post_id
- 9ea6d7bbc328
- slug
- sebelum-satu-pekerjaan-pun-dimulai-9ea6d7bbc328
- url
- https://medium.com/@coramdeoid/sebelum-satu-pekerjaan-pun-dimulai-9ea6d7bbc328
- canonical_url
- https://medium.com/@coramdeoid/sebelum-satu-pekerjaan-pun-dimulai-9ea6d7bbc328
- author_url
- https://medium.com/@coramdeoid
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-24 11:41:09