Hujan dan Tumbang
cr:pinterest
Hujan

cr:pinterest
Malam itu, jam baru menunjukkan pukul 21.00, tapi langit di atas langit-langit C05Y seolah tumpah tanpa ampun. Hujan badai yang luar biasa awet mengguyur kota, membuat jalanan di depan resto-kafe mereka tergenang banjir semata kaki. Suasana kafe yang biasanya masih menyisakan obrolan pelanggan kini sepi senyap, menyisakan deru angin dan hantaman air yang memekul kaca-kaca besar di lantai satu.
Sialnya, kecelakaan kecil terjadi sebelum kafe resmi ditutup. Talang air belakang mendadak bocor parah dan mengancam area dapur. Tanpa pikir panjang, Marvin dan Kenzo nekat menerobos kegelapan malam dan amukan badai untuk membenahinya. Di saat yang sama, Jerry dan Juna juga terpaksa bolak-balik ke gudang luar demi menyelamatkan stok bahan baku yang rawan lembap, tanpa sempat mencari payung yang layak. Hanya Sakala yang dilarang keras menginjakkan kaki ke luar area kasir oleh keempatnya.
Alhasil, begitu pintu kafe resmi dikunci rapat dan sebagian lampu lantai satu dimatikan, energi empat cowok itu langsung drop ke titik nol. Badai yang mereka terjang menyisakan rasa menggigil yang menusuk tulang.
Di area ruang santai lantai dua yang luas, pemandangannya mendadak berubah mengenaskan. Marvin tampak ambruk di sofa panjang pojokan. Cowok raksasa itu meringkuk memeluk lutut, mencoba menyembunyikan tubuh bongsornya di balik selimut rajut estetik kafe yang jelas-jelas kekecilan. Kakinya mencuat ke luar, bergoyang gelisah karena kedinginan.
Tak jauh dari sana, Kenzo terduduk lemas di lantai, menyandarkan punggungnya di bawah sofa tempat Marvin berbaring. Kepalanya yang terasa seberat batu diletakkan di atas paha Marvin, sementara wajahnya sudah merah padam dengan napas yang terasa panas berhembus dari hidungnya.
Di dekat meja bar kecil lantai dua, Jerry bersandar lesu di kursinya. Kemeja linen yang tadi siang digulung gagah, kini basah kuyup di bagian pundak dan lengannya. Tangan kanannya sibuk memijat pangkal hidung yang berdenyut kencang, diselingi bersin pelan beberapa kali. Tepat di sebelahnya, Juna duduk membungkus tubuhnya rapat-rapat menggunakan jaket jeans tebal. Kedua tangannya gemetar pelan saat memeluk secangkir teh hangat yang sisa setengah.
Sakala, satu-satunya yang selamat dari amukan badai karena dilarang keras melangkah keluar dari meja kasir oleh mereka tadi, berdiri di tengah ruangan sambil berkacak pinggang. Apron kafenya sudah dilepas, menyisakan baju rajut longgar yang tenggelam di tubuh rampingnya. Mata bulatnya menatap keempat temannya bergantian dengan tatapan lurus, perpaduan antara gemas, kesal, dan cemas yang campur aduk jadi satu.
"Nah. Sukses kan proyek mandi hujannya? Keren banget, salut gue," sindir Sakala, suaranya melengking memecah keheningan ruangan, meski nada khawatirnya sama sekali gak bisa disembunyikan.
Kenzo membuka matanya sedikit, melirik Sakala dengan tatapan sayu yang sengaja dibuat semanja mungkin.
"Kal... pusing banget... bumi kayak berputar seratus delapan puluh derajat. Sumpah," rintih Kenzo dengan suara serak, tangannya bergerak lemah di udara seolah minta digapai.
"Halah, lebay lo, Ken. Dingin dikit langsung kayak mau mati," sahut Juna lemas. Suaranya sengaja dikecilkan, terdengar parau dan agak bergetar, jelas sekali sedang mencari celah agar dapet simpati juga dari Sakala.
"Lu berdua sama aja, gak usah saling ngeledek," gumam Jerry pelan sebelum kembali bersin, membuat ruangan kembali hening diiringi suara desau angin di luar.
Sakala menghela napas panjang sampai pundak sempitnya merosot. Biar pun biasanya dia yang paling galak, melihat empat orang yang biasanya tidak bisa diam tiba-tiba tumbang bersamaan begini membuat insting merawatnya langsung ambil alih.
Tanpa sepatah kata lagi, Sakala berputar balik menuju dapur bersih di lantai dua. Dia menyalakan kompor, merebus air dalam panci sedang, lalu mulai memotong jahe dan mencampurnya dengan madu dalam porsi besar. Aroma hangat pedas langsung menguar, sedikit mengusir hawa dingin yang menusuk. Sembari menunggu air mendidih, Sakala melangkah ke arah laci obat, mengambil kotak P3K dan beberapa strip obat penurun panas.
Beberapa menit kemudian, dengan langkah pelan agar nampannya tidak berguncang, Sakala kembali membawa empat gelas teh jahe yang mengepulkan uap hangat beserta obat-obatan Dia berjalan mendekati kursi bar, menghampiri Jerry terlebih dahulu. Sakala menaruh gelas pertama di meja, lalu tanpa permisi menempelkan punggung tangannya ke dahi Jerry.
"Bang Jer, nih minum dulu obatnya. Lu yang paling tua harusnya punya otak paling bener di antara mereka, kenapa malah ikut-ikutan mandi hujan ke gudang belakang?" omel Sakala pelan. Tangannya yang terasa sejuk di kulit Jerry yang panas membuat sang barista memejamkan mata sejenak menikmati sensasi nyaman itu.
"Agak anget ini badan lu. Minum, Bang, cepetan."
Jerry tersenyum lemah, menerima gelas hangat itu dari tangan Sakala. "Makasih, Cil. Soalnya kalau stok kopi di gudang luar basah semua karena bocor, lu besok gak bisa jualan di depan."
Sakala gak ngebales ucapan Jerry. Dia cuma mendengus pelan untuk menyembunyikan rasa harunya, lalu beralih berjalan menuju area sofa tempat dua badak kafenya terkapar mengenaskan. Sakala berlutut di samping sofa, menatap Marvin yang masih memejamkan mata rapat-rapat sambil memegangi kepalanya yang pening.
"Mas Mar, bangun bentar. Nih minum obatnya dulu, abis itu lanjut tidur," panggil Sakala sambil menepuk-nepuk lengan kekar Marvin yang terasa keras namun terasa panas menyengat.
Marvin membuka matanya sedikit, mengerang pelan. Suaranya kedengaran berat dan serak banget, mirip mesin tua yang dipaksa jalan. "Kal... dingin banget... selimutnya gak muat di kaki gue. Gak anget..."
Sakala berdecak pelan, namun sedetik kemudian tangannya bergerak melepas jaket rajut tebal miliknya sendiri. Jaket beraroma manis khas sabun bayi bercampur wangi teh jahe itu langsung dibentangkan Sakala di atas dada bidang Marvin, menutupi bagian atas tubuh si koki yang terekspos hawa AC. "Udah, pakai ini tambahan. Minum obatnya sekarang, jangan banyak alasan."
Melihat perhatian manis yang didapatkan Marvin, Kenzo yang posisinya di bawah lantai langsung bergerak merangkak pelan. Dengan sisa tenaga yang dia punya, cowok jangkung itu melingkarkan lengannya di kaki Sakala, memeluknya erat-erat seolah tak mau dilepas.
"Kal... Abang Kenzo juga dingin... menggigil ini... mau dipeluk juga kayak Mas Marvin..." rengek Kenzo, mendongak menatap Sakala dengan mata basah karena demam.
"Kenzo, lepasin gak! Gue tendang ya muka lo!" ketus Sakala refleks, memasang wajah judes andalannya. Namun, kontras dengan suaranya yang ketus, tangan Sakala justru terulur mengambil selembar plester kompres demam (bye-bye fever), lalu menempelkannya ke jidat Kenzo dengan sedikit tekanan.
Begitu plester terpasang, jemari lentik Sakala tidak langsung menjauh. Dia membiarkan tangannya tinggal di sana selama beberapa saat, mengelus rambut depan Kenzo yang agak lembap dengan gerakan lembut yang konstan. "Makanya jangan sok jagoan benerin talang air pas badai. Rasain tuh akibatnya."
Kenzo yang kepalanya dikompres dan rambutnya dielus langsung memejamkan mata, mengulum senyum kesenangan luar biasa biar pun badannya saat itu sedang gemetaran karena meriang. Rasa pusingnya seolah berkurang separuh karena usapan tangan Sakala.
Terakhir, Sakala bangkit berdiri dan melangkah menghampiri Juna yang masih merengut diam di kursi bar. Dari semua abangnya, Sakala paling tahu kalau Juna itu tipe yang punya harga diri tinggi; kalau sakit gak bakal mau ngaku, tapi sebenarnya manjanya paling terselubung dan butuh diperhatiin.
Tanpa mengeluarkan suara, Sakala menarik satu kursi kosong dan duduk tepat di sebelah Juna. Dia menggeser gelas teh jahe terakhir ke dekat tangan Juna, lalu dengan gerakan santai, Sakala mengulurkan tangan memegang pundak Juna, menarik kepala cowok itu untuk bersandar di bahu sempitnya.
"Sini, senderan aja. Gak usah sok kuat di depan gue," bisik Sakala, nadanya melembut, jauh dari kesan maung yang tadi dia tunjukkan di depan kasir.
Juna sempat tersentak kecil, namun sedetik kemudian pertahanannya runtuh. Dia memejamkan mata rapat-rapat, menjatuhkan seluruh beban kepalanya di bahu Sakala yang terasa pas dan nyaman banget di ceruk lehernya. Juna menghirup dalam-dalam aroma tubuh Sakala yang menenangkan, membuat rasa pening di kepalanya perlahan mereda.
"Bahu lu kekecilan, Kal... tipis, bikin tulang gue agak sakit," gumam Juna lemas, memprotes dengan nada pelan yang manja, sementara tangan kanannya diam-diam bergerak ke bawah, meremat ujung baju rajut Sakala erat-erat, enggan melepaskan sandaran ketiadaan yang begitu dia butuhkan malam itu.
Malam semakin larut, dan suara badai di luar lambat laun melandai menjadi ketukan rintik hujan yang konstan di jendela. Di dalam ruangan hangat itu, teh jahe mereka mulai mendingin, dan efek obat penurun panas perlahan-lahan bekerja, membawa rasa kantuk yang berat bagi keempat pemuda yang kelelahan itu.
Juna yang posisinya paling dekat bisa merasakan napas Sakala mulai memberat dan teratur. Kepala mungil Sakala perlahan terkulai ke samping, mendarat dengan lembut di atas pucuk kepala Juna sebelum akhirnya merosot ke ceruk leher Jerry yang entah sejak kapan sudah ikut merapat di sisi mereka. Si kecil yang baru saja menjadi suster dadakan itu akhirnya ikutan tumbang, tertidur pulas dalam dekapan hangat yang protektif.
메타데이터
- post_id
- 9eb3de95eaf4
- slug
- hujan-dan-tumbang-9eb3de95eaf4
- url
- https://medium.com/@vynesolitude/hujan-dan-tumbang-9eb3de95eaf4
- canonical_url
- https://medium.com/@vynesolitude/hujan-dan-tumbang-9eb3de95eaf4
- author_url
- https://medium.com/@vynesolitude
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 17:51:13