Konflik dalam Percintaan adalah Berebut Perhatian
Yang akan terjadi adalah muncul sikap apatis yang disebabkan karena seringnya terjadi salah persepsi, lama-lama akan minimbulkan rasa muak,
Konflik dalam Percintaan adalah Berebut Perhatian
Haiii… sobat matasukma. Pernahkah kalian terpikirkan kenapa kadang kita merasa sulit membuat orang lain paham? Yuk pahami ilustrasi contoh berikut ini.

dokumentasi pribadi
Ketika ada dua orang melihat suatu benda yang sama, yaitu handphone berwarna biru di atas sebuah meja kayu. Pertanyaannya apakah yang dipikirkan kedua orang adalah handphone berwarna biru di luar simbolisasinya? Selanjutnya, ilustrasi kedua yang sedikit lebih detail. Si Samsul mengatakan “Mobil Hijau” kepada tiga orang temannya. Lalu si Samsul menanyakan terkait tanggapan ketiga temannya tadi tentang mobil hijau. Teman pertama yang menangkap maksud dari mobil hijau adalah mobil dengan cat bodi berwarna hijau. Teman kedua menangkap maksud dari mobil hijau adalah tulisan mobil hijau. Teman ketiga yang menangkap maksud dari mobil berwarna hijau adalah mobil dinas tentara. Ternyata ketiga teman si Samsul bisa memiliki tanggapan yang berbeda. Setelah itu, ketiga temannya mengonfirmasi ke si Samsul soal mobil hijau, lalu si Samsul menjawab yang ia maksud soal “Mobil Hijau” adalah mobil yang ramah lingkungan.

dokumentasi pribadi
Kenapa orang bisa menjawab hal yang berbeda? Padahal mereka melihat atau mendengar suatu hal yang sama. Orang bisa jadi melihat hal yang sama, tetapi realitas mereka berbeda karena realitas orang lebih sering merupakan hasil dari persepsi dan interpretasi mereka daripada kejadian objektif itu sendiri. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengalaman, pengetahuan, dan kondisi internal dari masing-masing orang. Jadi, realitas tiap orang sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara mereka menafsirkan dunia.
Perbedaan tersebut tak jarang menimbulkan konflik. Konflik berkaitan erat dengan kondisi keterbatasan. Keterbatasan bisa meliputi soal sumber daya, komunikasi, pemahaman, dan aturan. Beragam keterbatasan tersebut bisa memunculkan perebutan baik antarindividu maupun antarkelompok. Dalam relasi dengan pasangan (saya tidak membedakan pasangan dalam konteks pernikahan atau pasangan dalam konteks model lain), konflik itu muncul karena perebutan atensi/perhatian.
Konflik akan selalu ada, maka perlu untuk dikelola.
Analoginya mungkin mirip dengan sifat energi yang tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diubah ke bentuk lain, begitu pula dengan konflik yang akan selalu ada dan tidak dapat dimusnahkan ketika manusia hidup, melainkan hanya dapat dikelola. Salah satu bentuk pengelolaan konflik adalah kemampuan verifikasi dalam berkomunikasi. Hal ini juga kemudian dalam beberapa literatur menjadikannya sebagai indikator kematangan dalam relasi, termasuk dengan pasangan.
Dalam konteks relasi dengan pasangan semisal pernikahan, sering kita mendengar curhatan di media sosial menyoal susahnya bilangin suami atau sebaliknya susahnya membimbing istri. Kenapa demikian? Kebanyakan dari kita memahami bahwa komunikasi yang terpenting adalah menyampaikan pesan. Padahal menyampaikan pesan adalah bagian kecil dari komunikasi itu sendiri. Komunikasi itu tidak hanya menyampaikan, tetapi juga memastikan pesannya diterima dengan baik. Kadang kita ingin menyampaikan sebuah pesan penting, tetapi pesan yang disampaikan tidak pernah diterima sesuai dengan apa yang diharapkan.
Kemudian, hal lain yang sering kali terjadi : kita hanya berpuas ketika sudah menyampaikan pesan. Seperti respons jawaban “iya” terhadap suatu perintah, itu belum tentu penerima pesan mau melakukan atau setuju atas pesan tersebut. Jangan-jangan jawaban “iya” adalah respons supaya penerima pesan tidak lagi mendapat gangguan atau tekanan dari si pemberi pesan, tetapi penerima pesan tidak benar-benar melakukannya.
Kegagalan Komunikasi Menyebabkan Sikap Apatis
Dalam sebuah relasi dengan pasangan, kita tentu punya rasa peduli yang besar terhadap pasangan, tapi pengaruh kita ternyata kecil terhadap pasangan, maka apa yang akan terjadi? Yang akan terjadi adalah munculnya sikap apatis yang disebabkan oleh seringnya terjadinya salah persepsi, lama-lama akan mengakibatkan rasa muak, capek, bahkan kekerasan verbal, fisik, dan lain-lain. Mengkawatirkan bukan? Tentu sobat tidak mau hal itu terjadi. 😊
Salah satu cara mencegah munculnya sikap apatis adalah menekankan pada mindset bahwa dalam menjalin relasi dengan pasangan, harus membangun serta memiliki fokus dan kesadaran. Apakah saya sudah berbagi realitas yang sama dengan pasangan? Atau jangan-jangan selama ini…?
Seperti yang telah disinggung pada awal paragraf, realitas orang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perlu kita mencari tahu realitas dari pasangan seperti contoh lewat hal-hal berikut : pengalaman masa lalu, lingkungannya, dan juga hal yang paling menarik perhatiannya.

dokumentasi pribadi
Memverifikasi dalam Berkomunikasi
Kemampuan verifikasi menjadi penting karena berkaitan dengan kejelasan. Proses mendapatkan kejelasan tidak jarang mendapatkan perlawanan dari individu seperti playing the victim dengan mengungkit masalah yang lalu dan lain-lain. Kadang dari kita sendiri ogah melakukan tindakan verifikasi karena kita akan terlihat bodoh dan dicap sebagai tukang nanya oleh orang lain. Kalau dalam bahasa Jawa istilahnya “pekok” gaiss. Kita akan sering mendengar kalimat “Kok kamu nanya terus?!! Kamu gak dengerin aku ngomong yaaa?!!” Meski membuat kita tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut, hal yang kudu dicoba agar tidak dicap sebagai tukang nanya adalah menjawab dengan nada dering lemah-lembuh nan sopan.😆
Perlu kita sadari, dalam praktiknya, masa-masa membangun kebiasaan verifikasi dalam komunikasi banyak sekali rintangan, tidak mudah, dan sering kali gagal di tengah jalan. Namun, ketika dilakukan dengan konsisten, akan terjadi apa yang disebut dengan “Transactive Memory” yang kemudian secara otomatis kita bisa langsung mengerti apa yang dilakukan oleh pasangan.
Sebagai penutup untuk mempermudah membangun kebiasaan tadi, perlu menyepakati cara terlebih dahulu, seperti cara berkomunikasi, mengenali pola yang berulang, menyepakati kaidah clear and clarify, dan tak lupa mempraktikkan komunikasi dengan penuh kesadaran adalah koentji.
메타데이터
- post_id
- 9edd12e2ab77
- slug
- konflik-dalam-percintaan-adalah-rebutan-perhatian-9edd12e2ab77
- url
- https://medium.com/@matasukma/konflik-dalam-percintaan-adalah-rebutan-perhatian-9edd12e2ab77
- canonical_url
- https://medium.com/@matasukma/konflik-dalam-percintaan-adalah-rebutan-perhatian-9edd12e2ab77
- author_url
- https://medium.com/@matasukma
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 06:18:42