Last Breath
TW Angst // No Evol // Sad Ending(?) // Pardon for any typo because no beta read as always, it is what it is
Last Breath
TW Angst // No Evol // Sad Ending(?) // Pardon for any typo because no beta read as always, it is what it is

Jawab Skenario dari anon

Caleb’s POV
Tidurku hanya bisa nyenyak dengan satu syarat, yaitu dengan ada adik perempuanku — wanita yang paling kusayangi dan kucintai seumur hidupku yang mendekap manis di dalam pelukanku. Barulah aku bisa tertidur delapan jam pada hari biasa atau bahkan lebih di hari liburku. Mungkin karena aroma shampoo dan harum dari sabun badannya yang menenangkan tubuhku secara tidak sadar, makanya aku juga lebih rileks dan lebih cepat tidur.
Seperti biasa, aku selalu bangun lebih dulu daripadanya.
Biasanya aku betah berlama-lama menatap wajahnya yang sudah kulakukan bertahun-tahun lamanya, kemudian aku akan mengecup keningnya dan mengukir senyum — bersyukur bahwa dia masih milikku dan selamanya akan tetap begitu.
Setidaknya itu yang kuharapkan.
Impianku tidak muluk-muluk, aku hanya ingin habiskan seluruh waktu yang kumiliki bersamanya. Aku ingin menjadi suaminya, kakaknya, ayahnya, semua figur yang tidak ada dihidupnya, aku ingin memenuhi semua itu. Bahkan jika adik kesayanganku tidak menginginkan anak, aku tidak masalah. Sejatinya tubuhnya adalah miliknya, jika ia tidak mau mengandung, biarlah. Cintaku tidak akan berubah bagaimanapun juga.
Aku cukup hidup berdua saja bersamanya.
Selamanya.
Apapun yang adikku inginkan, aku akan memenuhinya.
“Dek…?” Panggilku pelan, tetapi dia diam saja.
Tidak seperti biasanya, ada respon tubuh dimana ia membalikkan badannya atau menguselkan rambutnya manja karena mendengar suaraku.
Kali ini, nihil.
Tiada reaksi.
“Adek?” Panggilku sekali lagi dan aku menyadari satu hal.
Dadanya tidak naik turun.
Tidak ada nafas yang keluar masuk.
Tubuhnya kaku dan kulitnya yang menempel pada kulitku terasa dingin.
“Sayang? Sayang bangun.”
‘Jangan panik. Jangan panik. Jangan panik.’ Ucapku dalam hati, berusaha menenangkan diri sendiri dan mengguncang bahunya pelan, berharap mungkin ini adalah salah satu dari tindakan usilnya yang kadang dia lakukan padaku karena senang melihat reaksiku yang panik.
“Sayang.” Badanku setengah bangun, memeluknya dan lagi-lagi menggoyangkan bahunya perlahan, tetapi seolah kaku, leher adikku malah berbelok pelan dengan kelopak mata yang tertutup rapat.
Barulah nafasku mulai kehilangan ritmenya, hormon adrenalin yang ada di diriku langsung meningkat tajam, aku langsung menggendongnya secara bridal dan berlari keluar rumah. Masih mengenakan kaos biru dongker dan celana abu-abu yang kupakai, aku bahkan tidak ingat lagi membawa ponsel atau dompet.
Pikiranku kusut bagai benang yang semerawut, aku tidak bisa berpikir jernih. Menelpon ambulans? Bagaimana kalau mobil dari rumah sakit itu terlambat datang? Lebih cepat lebih baik, kakiku lebih duluan bergerak daripada otakku yang berkata bahwa sebaiknya aku telepon saja nomor darurat dari instansi yang berisi puluhan dokter itu.
Aku tidak bisa kehilangannya.
Aku punya apa lagi selain adikku?
Aku tidak perlu harta berlimpah karena hartaku satu-satunya hanyalah adikku.
Otakku sudah hapal betul seluk beluk kota ini. Rumah sakit terdekat berjarak 10 menit jika berjalan tetapi aku berlari, aku tidak peduli betapa banyak pasang mata yang melihatku aneh atau bingung, Jantungku seperti ingin melompat keluar, belum pernah kurasakan ia berdetak secepat ini. Sesekali iris unguku melirik ke bawah dan aku menangkap raut pucat adikku yang makin membuatku memaksa agar kakiku melangkah lebih cepat lagi.
Bulir keringat menetes bebas dari daguku, poni rambut yang bahkan sudah basah oleh keringat tidak kupedulikan lagi. Dadaku kembang kempis karena mengeluarkan tenaga yang ekstrem untuk mencapai lantai rumah sakit, aku langsung menuju area Instalasi Gawat Darurat (IGD).
“Tolong…tolongin saya..”
“Adik saya…udah ga nafas pas saya bangun,” Suaraku sedikit tersendat, berusaha menyelesaikan satu kalimat langsung dalam satu tarikan nafas. Ada dokter yang langsung mengarahkanku untuk membaringkan adikku di atas ranjang rumah sakit, aku melakukannya.
Aku bukan ahli medis, aku percayakan saja pada yang berpengalaman.
“Permisi pak, bapak juga terluka. Biar saya obati,” Suara suster membuyarkan fokusku yang terpaku pada adikku yang terbujur tanpa daya. Aku melihat diriku, tepatnya ke bawah. Menyadari bahwa darah sudah menodai lantai putih rumah sakit, bekas jejak merah bercampur hitam terpampang jelas.
Anehnya, aku tidak merasa sakit sama sekali.
Seharusnya — jika sampai berdarah dan terluka oleh butiran aspal dan benda asing lainnya yang tidak kuketahui, akan terasa sangat menyakitkan, bukan?
Seperti enggan meninggalkannya, aku malah terdiam dan tak menjawab suster yang mengajakku ke bed sebelah yang terpisah tirai putih.
“Pak, nanti adiknya sedih kalo lihat bapak terluka sampai berdarah. Saya obatin dulu, ayo.” Mungkin karena suster tersebut menyenggol soal adikku, aku pun mengikuti perkataannya.
Ketika diobati, aku meringis saat larutan garam yang mengandung 0,9% Natrium Klorida itu membasahi lukaku. Barulah terasa perih. Aku tidak bisa tidak gelisah, aku cemas setengah mati. Aku mengkhawatirkan adikku.
Mataku bergerak tidak karuan, aku ingin berdiri lagi dan menghampiri adikku. Ketika sudah dioleskan antisepetik dan dibalut perban, baru mau bangkit tetapi pria berjas putih itu sudah mendekatiku lebih dulu.
“Gimana dok? Adik saya kenapa?”
Perasaanku tidak enak. Tindakanku untuk memanipulasi fakta bahwa saat aku bangun, ia sudah tidak bernafas, ingin ku hapus. Aku tidak mau mengingatnya.
“Anda walinya?”
“Iya saya walinya.”
“Mohon maaf sebelumnya, tetapi adik anda sudah meninggal — “
Meninggal.
Meninggal katanya.
Selanjutnya cuman dengingan panjang di telingaku yang terdengar.
Apa? Meninggal? Sudah meninggal?
Tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak. tidak.
Tidak mungkin adikku meninggal.
Adikku tidak akan tega meninggalku sendirian.
Teratih-tatih langkahku, buyar pandanganku juga ketika tanganku menyibak tirai itu kencang lalu samar-samar aku mendengar soal jam kematian adikku, namun indera pendengaranku sudah tak fokus. Darah kembali menembus perban yang baru saja dililitkan oleh suster itu ke telapak kakiku.
Linglung. Hatiku serasa diremas kencang dan dadaku seperti dipukul batu yang keras sampai aku merasa pilu. Aku mengenggam tangan kecilnya lalu menggoyangkannya,
“Dek?”
“Adek…?”
“Adek bangun.”
“Ga lucu bercandanya.”
“Kakak ga suka kamu bercanda.”
“Bangun.”
Jauh dalam relung hati, otakku juga sadar, perempuan yang paling kusayang dan kucintai itu sudah menghembuskan nafas terakhir saat kami terlelap bersama. Tetapi hatiku tidak mau menerimanya.
Aku tidak punya orang tua.
Aku juga tidak punya kerabat.
Satu-satunya yang kupunya hanyalah adikku.
Kami berjanji tidak akan meninggalkan satu sama lain.
Orang lain pasti sudah menangis tersedu-sedu karena ditinggalkan orang yang paling mereka sayang, tetapi aku tidak mau percaya bahwasanya perempuan yang kulindungi dari kecil — kini diam tergeletak layaknya mayat.
“Kakak tungguin kamu sampe kamu bangun.” Aku duduk di kursi plastik yang terletak disebelah ranjangnya, masih mengenggam tangannya, beberapa jam berlalu dan aku menarik selimut sampai menutupi lehernya. Aku tidak bisa membiarkan adikku kedinginan, tangannya saja sekarang sudah terlalu dingin.
Beberapa kali aku meniup tangannya dengan nafasku yang hangat, menggosok telapak tangannya dan masih menunggunya bangun dan berkata bahwa ia adalah leluconnya saja.
Tapi itu tidak kunjung terjadi, yang ada malah dokter yang kembali menjelaskan kebohongan soal kematian adikku. Mimpi buruk yang selama ini terjadi ketika aku tidak tidur bersamanya, kini seakan menjadi kenyataan — terlalu nyata sampai akhirnya aku menampar pipiku kencang.
Aku harus bangun dari mimpi buruk ini.
Tidak mungkin adikku tidak bernafas lagi.
Satu tamparan.
Dua tamparan.
Tiga, empat, lima.
Aku tidak kunjung bangun juga dari mimpi buruk ini. Sudut bibirku robek, alirkan cairan merah segar yang tidak sengaja kucicipi. Aku..aku tidak tahu harus apa sekarang. Aku tidak tahu apa yang kurasakan, aku cuman berharap kekasihku yang semalam masih tersenyum dan memelukku itu — akan bangun dan mengecup bibirku lembut.
Perlahan kudekatkan wajahku pada wajahnya, menyatukan bibir kami berdua.
“Kamu ga boleh ninggalin kakak,”
“Kamu udah janji.”
Aku akan mengawetkan tubuh adikku sendiri, menyuntikkan bahan kimia pengawet sebanyak yang aku perlukan; supaya kamu tinggal sama kakak selamanya.
메타데이터
- post_id
- 9edd39b60494
- slug
- last-breath-9edd39b60494
- url
- https://medium.com/@Reenacyh/last-breath-9edd39b60494
- canonical_url
- https://medium.com/@Reenacyh/last-breath-9edd39b60494
- author_url
- https://medium.com/@Reenacyh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 19:40:15