← Back to list

Kenangan Duolingo Bersama Si Bungsu

Ramadhan tahun sebelumnya menyisakan kenangan yang lumayan unik untuk dikenang. Sebagai mahasiswa taun pertama yang masih membawa idealisme…

Kangud · 2026-03-17 20:16 · 0 claps · 2.7 min read
#reflections #ramadhan #family
Open on Medium ↗
Wiki topics: 👨‍👩‍👧 · Family & Parenting

Kenangan Duolingo Bersama Si Bungsu

Ramadhan tahun sebelumnya menyisakan kenangan yang lumayan unik untuk dikenang. Sebagai mahasiswa taun pertama yang masih membawa idealisme membara, sedang semangat-semangatnya, dan lagi gila-gilanya dengan segala hal berbau literasi, maka wajar saja kalau aku ingin memasukkan budaya serupa dalam lingkup lebih kecil dan lebih dekat denganku, yaitu keluarga.

Jadi aku pulang dengan tekad akan menghabiskan banyak waktu dengan membaca buku. Atau, lebih pas dibilang bergaya baca buku. Aku pernah mendengar bahwa daripada memberi perintah atau berulang-ulang ceramah, lebih efektif jika langsung mencontohkan. Aku memasang target untuk selesai membaca tetralogi pulau buru karya Pram — empat novel yang amat tebal hingga bisa dijadikan bantal.

Aku membaca buku-buku itu di tengah kumpulan adikku yang kesetanan bermain ponsel. Sebenarnya wajar jika mereka berlaku begitu, setelah berbulan-bulan dikerangkeng tanpa memegang ponsel di pesantren, bisa dikatakan waktu liburan adalah saat yang tepat untuk membalas dendam. Adik-adikku selalu asyik-masyuk dengan ponselnya, dan di situlah aku masuk ke tengah-tengah perkumpulan orang-orang yang sedang lalai dengan dunianya, sembari membawa buku, kemudian ikut asyik juga dengan bukuku. Kami bersama, tapi sibuk dengan masing-masing dunianya.

Ketika rasa bosan menghampiri, aku menutup buku dan mengganggui adik-adik dengan beragam cara. Tiba-tiba menarik ponsel yang ada dalam genggaman, rusuh mencet sembarangan di layarnya, atau hanya sekedar mencolek-colek tangan mereka. Seringkali mereka merasa terganggu dan hampir marah, maka aku segera berpura-pura asyik dengan buku lagi seraya memasang muka serius. Dan setelah itu mereka membalas dengan menutup halaman buku atau sekedar balas mencolek. Selalu begitu.

Kalau sudah bosan mengusili, biasanya aku akan ikut jua membuka ponsel dan bermain Duolingo di dekat adik-adik. Volume ponsel sengaja kukeraskan agar suara bahasa Inggris yang asing ini ikut terdengar oleh telinga mereka. Mula-mula, mereka cuek saja. Tapi kelamaan, karena aku juga ikut mengucapkan kalimat-kalimat bahasa Inggris, akhirnya satu adikku kepo lalu mendekat. Dialah adikku yang bungsu, baru lulus Sekolah Dasar.

Si Bungsu menonton bagaimana aku bermain Duolingo. Sampai lama sekali dia di sampingku. Hingga hari-hari berikutnya, setiap aku bermain Duolingo, Si Bungsu akan tiba-tiba menclok di dekatku. Maka aku goda ia untuk bermain sendiri saja. Dia mengiyakan, dan langsung aku men-download-kan untuknya. Kuajari bagaimana cara bermainnya, mendampinginya sampai akhirnya dia paham sendiri. Bahkan ia akan bertanya padaku, mengingatkan apakah sudah bermain Duolingo hari ini?

Kemudian tiba waktunya diriku untuk kembali ke Jogja. Aku masih memantau Si Bungsu dari kejauhan apakah ia masih konsisten bermain Duolingo. Akun kami memang berteman dalam aplikasi itu, dan membangun runtutan teman, menjaga agar api runtutan itu tidak padam. Kadang, saat aku terlampau sibuk, dan waktu sudah hampir malam, maka ia akan langsung mengirim pesan mengingatkan untuk segera bermain. Kalau aku lama merespon, Si Bungsu tak segan untuk menelepon hanya untuk mengingatkan api runtutannya nanti padam lho!

Suatu ketika, akun Duolingo Si Bungsu tidak aktif sampai dua hari. Karena penasaran, aku langsung meneleponnya, menanyakan mengapa ia tak bermain lagi. Dia menjawab, dengan suara terdengar sedih, ternyata aplikasi Duolingo di ponselnya dihapus oleh kakak tertua. Saat men-download ulang, ia tak tau cara untuk login ke akun sebelumnya. Aku membantunya untuk login kembali, dan syukurnya bisa. Ia senang bukan kepalang mendapatkan kembali akun Duolingo miliknya. Setelah itu, bermain tiap hari seperti biasa.

Begitu terus hingga berbulan selanjutnya, kini tiba saatnya adik bungsuku itu untuk berangkat ke pondok pesantren. Sebelum berangkat, ia mengabariku, dan mengatakan bahwa ia sangat bersedih nanti di pesantren tidak bisa bermain Duolingo lagi.

Dan, oh, ya, aku lupa bilang bahwa setiapkali Si Bungsu meneleponku, ia akan sedikit-sedikit bergaya dengan bicara menggunakan Bahasa Inggris denganku. Ya, walaupun kalimat-kalimat yang masih umum seperti how are you, what do you do, dan sebagainya, tetapi aku merasa sangat bahagia dengan itu.

Kini, setahun Si Bungsu berada di pondok pesantren, dan pulang libur Ramadhan tahun ini, aku bertanya apakah ia bermain Duolingo lagi. Bahasa Inggris sudah bukan hal yang menarik lagi baginya. Dunia pesantren salaf telah memberinya ritme baru, mungkin juga prioritas yang berbeda.

Dan aku mengangguk saja, seperti orang yang pura-pura tidak kehilangan apa-apa.

Dan begitulah, Duolingo pernah menjadi kenangan indah yang menghubungkan diriku dengan adik bungsu, meski dari jarak yang teramat jauh, Cirebon-Jogja.

Akan tetapi, ada kejutan lain dari apa yang kuusahakan saat libur lebaran tahun lalu. Mungkin nanti kuceritakan dalam tulisan selanjutnya. Tunggu saja tanggal mainnya.

Cirebon, 18 Maret 2026


메타데이터
post_id
9f29d107bfd2
slug
kenangan-duolingo-bersama-si-bungsu-9f29d107bfd2
url
https://medium.com/@kangud42/kenangan-duolingo-bersama-si-bungsu-9f29d107bfd2
canonical_url
https://medium.com/@kangud42/kenangan-duolingo-bersama-si-bungsu-9f29d107bfd2
author_url
https://medium.com/@kangud42
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33