Aku ingin Hidup
Akan kucatat di lembar sunyi ini, agar suatu hari — ketika riuh kerusuhan telah reda — aku bisa membacanya kembali, seperti doa yang…
Aku ingin Hidup
Photo by Kyle Glenn on Unsplash
Akan kucatat di lembar sunyi ini, agar suatu hari — ketika riuh kerusuhan telah reda — aku bisa membacanya kembali, seperti doa yang berulang kali kuucapkan pada langit.
Aku ingin sebuah negeri, bukan dari batu bata dan undang-undang semata, tapi dari tawa anak-anak yang tak pernah lapar, dari suara rakyat yang tak lagi dibungkam oleh ketakutan. Di sana, kebebasan bukan sekadar kata, melainkan udara yang kita hirup bersama.
Penjaga hukum tak lagi bertaring, mereka adalah telapak tangan yang menenangkan, mata yang jernih membedakan salah dan benar, lidah yang tahu sopan santun. Mereka bukan serdadu yang menghardik, melainkan pelindung yang sabar — hanya menghunus keberanian kepada kejahatan sejati.
Pemimpin negeri itu — ia tidak berdiri di singgasana, melainkan berjalan di antara warganya, menyeka keringat petani, mendengar rintih seorang ibu yang terjaga semalaman, merangkul pemuda yang masih mengejar mimpinya. Ia berkata pelan namun tegas: “Aku bersama kalian, dan kalian bersamaku.”
Perwakilan rakyat? Mereka bukan boneka pesta yang menari di panggung, tapi dada yang lantang berteriak demi keadilan. Mereka pulang dengan harapan sederhana: “Semoga hari ini, jerit rakyat terdengar.” Dan ketika pintu rumah mereka diketuk, mereka membuka lebar, seraya bertanya dengan tulus: “Apa yang bisa kami lakukan untuk kalian?”
Di negeri itu, dokter bukanlah penjaga kasir kesehatan, melainkan pengobat luka yang bicara lembut: “Ibu tak perlu cemas, di sini, sakit bukanlah beban yang ditawar dengan uang. Kesejahteraan adalah hak, bukan hadiah.”
Para menteri — mereka tak sibuk menjajakan angka di papan, melainkan menanam bukti nyata di tanah rakyat. Jembatan dibangun bukan untuk berfoto, tapi untuk mempertemukan yang jauh. Transportasi bukan sekadar mesin, tapi sayap yang memudahkan perjalanan hidup. Setiap minggu, pekerjaan tumbuh, bukan hanya bagi mereka yang berpengalaman, tapi juga bagi yang masih ingin belajar.
Dan di atas segalanya — cinta bersemi di negeri itu. Cinta yang tak menuntut sempurna, cinta yang mengisi kekosongan satu sama lain. Cinta yang menumbuhkan kesejahteraan, seperti pohon yang berbuah tanpa henti, akar yang menahan bumi, dan daun yang memberi teduh.
Negeri itu fiksi, tapi mungkin — hanya mungkin — jika kita mau, ia bisa tumbuh dari tangan kita sendiri.
메타데이터
- post_id
- 9fb4b6edf8bf
- slug
- aku-ingin-hidup-9fb4b6edf8bf
- url
- https://medium.com/@masbrayy/aku-ingin-hidup-9fb4b6edf8bf
- canonical_url
- https://medium.com/@masbrayy/aku-ingin-hidup-9fb4b6edf8bf
- author_url
- https://medium.com/@masbrayy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 03:29:41