← Back to list

Catatan Perjalanan — Wonosobo

Kala matcha bersua menyan, srawung rasa di Jawa Tengah

Albert Harsono · 2026-03-13 15:23 · 0 claps · 24.7 min read
#self #mountains #trip #wonosobo #central-java
Open on Medium ↗

Catatan Perjalanan — Wonosobo

Kala matcha bersua menyan, srawung rasa di Jawa Tengah

Sekitaran tahun 2006, ada satu iklan susu bubuk dari merek yang cukup populer berseliweran di televisi. Bintang iklannya adalah Aston Taminsyah, pecatur junior yang baru saja mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional berkat kemenangannya di ajang catur level sekolah di Chalkidiki, Yunani. Dia digadang-gadang sebagai calon grandmaster termuda Indonesia, penerus GM Susanto Megaranto, yang sekitar 2 tahun sebelumnya berhasil merengkuh gelar prestisius tersebut di usia 17 tahun. Dalam iklan tersebut, Aston yang saat itu masih berusia 7 tahun, jingkrak-jingkrak di atas trampolin yang ada dalam kamar tidurnya.

“Temenku bilang, [aku] gila banget. Bisa duduk selama 6 jam! Tiap kali mau tanding, aku loncat-loncat kayak gini,” cerita bocah jebolan sekolah catur Utut Adianto tersebut. “Itu yang bikin aku siap duduk tenang.” Dia lalu melanjutkan dengan pesan promosi susu bubuk rasa cokelat keluaran merek yang dimaksud, sembari menyeruput versi yang sudah diseduh di dalam gelas. Cuplikan itu diikuti adegan wajib di mana ia mengalahkan bocah lain di suatu ajang turnamen junior catur. Sudah pasti bocah lain itu kalah karena tidak minum susu cokelat lezat yang mengandung active-care formula™ tersebut.

Konten iklan ini kembali muncul lagi di pikiran saya belum lama ini. Bukan karena konsep atau copywriting-nya spesial, tetapi lebih karena kontennya terasa relevan dengan apa yang saya rasakan. Beberapa tahun lalu, saya menyadari satu hal baru. Saya baru dapat bekerja secara optimal saat perasaan saya landai. Tidak sedang sedih, marah, atau bahkan senang sekali pun. Tidak tinggi, tidak rendah, landai saja. Saya kesulitan untuk bekerja dengan baik saat saya sedang merasakan suatu emosi yang kuat. Itu terjadi beberapa kali. Pikiran saya rasanya ada di mana-mana, kecuali di tempat yang paling esensial.

Penjelasannya sederhana. Manusia cenderung membuat kesalahan dalam membuat keputusan dan penilaian saat emosi mereka berada di tingkatan yang tidak biasa. Terlalu jemawa misalnya, bisa bikin lengah dan ceroboh. Itu kenapa kecerdasan buatan cenderung lebih efisien, karena mereka dapat mengambil keputusan tanpa perlu melibatkan elemen perasaan. Kecerdasan artifisial memang dapat memahami, tetapi mereka tidak dapat merasakan. Kesadaran indrawi atau kesentienan inilah yang jadi pembeda utama antara kita dengan mereka, setidaknya hingga detik ini.

Dari ilham baru tersebut, saya mencari cara untuk menciptakan kelandaian rasa agar dapat memosisikan diri saya secara ideal untuk dapat beroperasi dengan efektif dan efisien. Manusia memang memiliki perbedaan fundamental dengan kecerdasan artifisial, dan cukup jelas, bahwa kita tidak harus jadi robot untuk dapat bekerja dengan baik. Apa yang dilakukan Aston di kamarnya sebelum bertanding — setidaknya dalam situasi yang digambarkan dalam iklan tersebut — menjadi semakin masuk akal buat saya sekarang. Pekerjaan saya kebetulan juga membutuhkan saya untuk duduk berjam-jam dengan fokus maksimal, jadi saya juga perlu “buang-buang” energi serta emosi berlebih sebelum pikiran saya bisa benar-benar dapat fokus.

Saya jelas tidak dapat meniru aktivitas yang dilakukan dalam iklan ini karena keterbatasan ruang dan risiko hernia. Situasi tersebut, membuat saya harus berimprovisasi. Jadi, saya memutuskan untuk melakukan aktivitas fisik lainnya. Pokoknya biar gerak saja. Aktivitas pilihan saya adalah berjalan kaki. Saat saya berjalan, gejolak rasa apa pun yang dirasakan, akan melandai secara perlahan. Lagipula, berjalan kaki itu menyenangkan. Penyair kenamaan, Simon Armitage pernah menulis bahwa tidak ada orang yang pulang dari sesi berjalan kaki dengan perasaan yang lebih buruk.

Tentu, hal-hal semacam polusi berlebihan atau cuaca ekstrem dapat mengurangi kenikmatan dalam berjalan kaki. Namun secara umum, ini masih adalah aktivitas olahraga menyenangkan yang paling mudah diakses dan paling minim modal. Untuk dua hingga tiga tahun terakhir, ini adalah metode yang dapat saya andalkan… sampai pada titik di mana saya merasa bahwa saya membutuhkan sedikit elemen variasi untuk situasi-situasi berbeda yang saya jalani dalam beberapa bulan terakhir. Mungkin ini saatnya menyelam lebih dalam dan menjelajahi semua warna, seperti yang disenandungkan oleh Banda Neira dalam hit perdana mereka “Berjalan Lebih Jauh”.

Belum lama ini, saya membaca dan mendengar hal-hal yang berkaitan dengan falsafah Jawa. Biasanya muncul saja selintas. Mayoritas hanya di permukaan saja, baik dari orang-orang yang saya temui dalam perjalanan, hingga artikel-artikel daring. Salah satu yang menarik perhatian saya belum lama ini adalah roso sejati, yang kurang lebih jika diindonesiakan adalah rasa yang sejati. Roso atau rasa dapat didefinisikan sebagai respons emosional terhadap suatu hal, entah itu hal yang dialami secara langsung atau tidak. Ini mencakup berbagai ekspresi serta emosi yang paling sederhana hingga yang terlalu kompleks untuk dapat digambarkan dengan kata-kata.

Saat keadaan roso sejati tercapai, roso yang dirasakan sudah mencapai sebuah kesatuan di mana itu terasa alami. Sebagai manusia, lumrah jika kita sering merasa tinggi atau rendah, bergantung pada perasaan kita terhadap apa yang terjadi atau kita alami. Namun saat kondisi ideal ini dicapai, tidak ada lagi tinggi atau rendah, semuanya akan terasa sama. Ini adalah titik di mana kedamaian dan ketenteraman dicapai. Tujuan akhir ini sebenarnya tidak terlampau jauh dengan beberapa konsep keagamaan dan kepercayaan tradisional di berbagai tempat.

Bagaimana roso sejati ini dapat dicapai? Jawabannya ternyata tidak begitu rumit, yakni dengan menyadari bahwa manusia adalah tempat di mana segala rasa akan bersatu. Diri dianalogikan sebagai wadah. Dalam khazanah pemikiran masyarakat Jawa, ini disebut sebagai manunggaling roso atau yang biasa disingkat sebagai manungso. Manungso sendiri adalah kata yang juga memiliki arti dalam bahasa Jawa. Artinya manusia. Entah yang mana yang lahir duluan, frasanya atau katanya. Jadi, penyatuan rasa (manunggaling roso) terjadi di dalam diri kita sebagai manusia (manungso). Saya lumayan suka struktur linguistik bahasanya.

Hal yang saya pahami soal ini adalah bagaimana kita sebagai manusia, idealnya dapat memisahkan diri kita dengan rasa yang kita rasakan, selayaknya memisahkan seniman dengan seni yang ia hasilkan. Ini adalah soal memahami bahwa rasa tersebut tidak mendefinisikan diri kita sebagai manusia, karena itu hanya bersifat temporer. Namun di satu sisi, kita juga perlu menerima rasa-rasa itu dan bersahabat dengannya, karena apa yang kita gambarkan sebagai rasa, adalah hal yang tidak terhindarkan. Walau terdengar sederhana, ini sulit dilakukan.

Seseorang pernah menyebut hal yang hingga saat ini masih melekat di pikiran saya. Ia menyampaikan jika perasaan tidak pernah salah, tetapi bagaimana kita bereaksi terhadap perasaan tersebut, itu yang dapat dinilai benar atau salahnya. Ini adalah proses penerimaan yang dimaksud. Jadi, perasaan ‘negatif’ seperti marah atau sedih misalnya, bukanlah hal yang salah. Itu lumrah, dan semakin cepat kita dapat mengidentifikasi dan menerima perasaan tersebut, akan sedikit lebih ringan untuk mengarungi gejolaknya.

Pada akhirnya, rasa adalah hal yang tidak dapat dihindarkan karena itu adalah bukti bahwa kita masih hidup. Jadi, alih-alih mencoba menjadi baal alias mati rasa, ini adalah soal memitigasi rasa. Tujuan utamanya adalah tetap seimbang di tengah-tengah gempuran ombak rasa, karena jika gagal melakukannya, kita dapat kehilangan diri kita sendiri — terombang ambing, hingga bahkan tenggelam dalam lautan rasa.

Saat saya berada di Bandung beberapa pekan lalu, saya menemukan koneksi baru. Koneksi acak ini menghadirkan peluang baru, sebuah kesempatan baru. Saya mengenal dua orang yang secara tiba-tiba mengajak saya untuk mendaki Gunung Sumbing, sekitar 2 pekan lagi. Mungkin ini variasi yang saya maksud tadi? Entah. Mendaki gunung tertinggi ketiga di Pulau Jawa, bersama orang yang baru saya kenal sekitar beberapa menit yang lalu terdengar sebagai sebuah hal yang terlalu acak. Sebagai catatan, saya tidak pernah mendaki gunung apapun sebelumnya, bahkan dalam mimpi sekali pun. Namun dapat dikatakan jika ide naik gunung ini sebenarnya tidak sepenuhnya di luar kewajaran berpikir saya, mengingat sudah ada beberapa rencana trekking, camping, dan glamping yang saya bahas dengan teman-teman sebelumnya, yang selalu berakhir tanpa realisasi. Saya juga tergolong menyukai alam dan warna-warna berkisar cokelat, biru, dan hijau. Jadi, ini sebenarnya masih wajar.

Mungkin, melakukan suatu aktivitas baru yang saya tidak ketahui sama sekali teknisnya, dengan orang yang belum terlalu saya kenal, akan menjadi solusi untuk masalah yang saya alami belakangan ini. Ada terlalu banyak variabel yang tidak dapat dikendalikan. Saking banyaknya hal yang dapat berjalan salah, saya tahu saya tidak akan punya waktu untuk cemas mengenai apa yang ada di antara Jakarta, Riyadh, dan Den Bosch, tiga kota yang bikin pikiran saya morat-marit tiap pekan. Saya juga melihat ini sebagai kesempatan untuk mencoba bepergian tanpa membawa pekerjaan sama sekali dalam pikiran. Ini akan jadi “pekan tanpa laptop”.

Tidak dapat dipungkiri, beberapa hari sebelum kepergian saya ke gunung yang dimaksud, saya sempat khawatir soal pekerjaan yang akan saya limpahkan ke kolega selama seminggu penuh. Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya telah menyusun apa-apa saja yang mesti saya sampaikan ke kolega dan klien. Ini krusial. Lagipula, ini seharusnya sudah saya lakukan sejak setahun sebelumnya. Dengan mengiyakan ajakan ini, saya memaksa diri sendiri untuk mempercayakan orang lain sepenuhnya. Kalau tidak ada kesempatan ini, saya tidak akan pernah membuat lompatan itu secara profesional.

Semakin dekat dengan hari-h, apalagi saat tiba di lokasi, pikiran saya penuh dengan kekhatiwaran lain. Sulit untuk mengkhawatirkan pekerjaan saat pikiran Anda tertuju penuh pada langkah kaki yang mungkin menjerumuskan diri ke alam lain. Setidaknya, sebuah kesuksesan kecil saya ketahui akan saya rayakan di Gunung Sumbing: saya tidak akan cemas soal pekerjaan.

Berangkat Senin malam dari Jakarta, saya bertolak menuju Bandung untuk bertemu dengan dua kenalan saya di sana, sebelum melanjutkan perjalanan kami ke stasiun Kutoarjo yang terletak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Saat menapakkan kaki untuk pertama kali di bumi Jawa Tengah, rasanya agak berbeda dari kota-kota lain yang pernah saya singgahi. Hawanya sejuk, dengan kehangatan orang-orang di sana hadir sebagai kontras yang pas. Keramahtamahan yang kami dapatkan, tidak berakhir di gerbang stasiun, tetapi juga berlanjut sepanjang kami berada di area Jawa Tengah.

Setibanya di Stasiun Kutoarjo kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke basecamp Gajah Mungkur yang berjarak sekitar 60km dari stasiun menggunakan transportasi taksi daring. Sepanjang perjalanan, kami beristirahat di dalam mobil, karena kami kesulitan tidur di kereta yang bangkunya nyaris tegak lurus, mirip tebing-tebing yang akan kami jumpai keesokan harinya. Entah siapa yang mendesain bangku-bangku ini. Mungkin kursi-kursi ini warisan zaman kolonialisme, yang dulu digunakan untuk menyiksa orang Indonesia yang tidak kooperatif.

Perjalanan ke basecamp yang terletak di Desa Lamuk, Wonosobo cukup meliuk-liuk dan naik turun. Sepanjang perjalanan, saya mengamati satu fenonema unik. Banyak mobil bak terbuka (pick-up) yang dinaiki rombongan orang yang berdiri di bagian belakang, sembari berpegang pada teralis atau bibir bak terbuka mobil. Saya bertanya pada pengemudi kami dan dia menjelaskan bahwa ini adalah hal lumrah, tidak hanya di sekitaran sana, tetapi juga di Jawa Tengah secara menyeluruh. Dengan keterbatasan kendaraan umum yang dapat mengangkut banyak orang, mobil bak terbuka acap kali digunakan keluarga besar atau sekelompok orang yang ingin bepergian jauh dari satu desa ke kota kabupaten, begitu juga sebaliknya. Keberadaan taksi online seperti Grab dan Gojek juga sangat terbatas di daerah semacam ini, sehingga penting untuk mengetahui jasa charter perjalanan untuk daerah yang lebih pinggir.

Saya membahas cukup banyak hal dengan si pengemudi, salah satunya soal program pemerintah, yakni Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang dinilai si pengemudi, banyak tumpang tindih dengan peranan koperasi desa yang sudah ada. Dari obrolan ini, muncul lagi istilah-istilah yang terakhir kali jadi hafalan saya ketika masih mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, seperti KUD (Koperasi Unit Desa) hingga tabungan simpan pinjam. Kami juga membahas soal salah satu partai politik yang memegang kuasa di area tersebut, meski sepanjang jalan, saya melihat lebih banyak bendera parpol lain yang saat ini berada di posisi berseberangan dengan partai “tuan rumah”.

Tak terasa, setelah sekitar 2 jam perjalanan, kami akhirnya tiba di depan gapura yang menjadi pintu masuk Desa Lamuk. Tempatnya lumayan menanjak karena berada langsung di kaki gunung. Setibanya di sana, kami disambut oleh seorang pria paruh baya yang sudah menunggu kedatangan kami. Saat masuk ke rumah singgah yang akan kami tempati, kami langsung disuguhi oleh beberapa toples camilan dan teh hangat yang sudah tersaji di atas tikar. Pria yang menyambut kami bukanlah tuan rumah dari rumah singgah ini, ia hanya mengarahkan kami ke rumah tersebut. Pemilik rumah tampaknya sedang bekerja, sehingga bapak tadi yang menyambut kami, menemani kami sejenak.

Setelah beristirahat sejenak, orang yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang. Dia adalah Mas Singgih, sosok yang akan menjadi porter kami dalam pendakian kami di Gunung Sumbing. Perawakannya cukup tinggi, dengan carrier yang tingginya tidak kalah imposing. Orangnya ramah, tetapi ada satu hal yang mengganggu saya sedikit, yakni dia gemar sekali merokok. Merokok dalam ruangan tertutup tampaknya adalah hal lumrah di daerah. Bapak yang tinggal di rumah singgah kami juga melakukan hal yang sama, dengan rokok lintingan khusus yang berisi campuran tembakau dan menyan. Ya, ini adalah salah satu implementasi “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” yang tidak begitu saya sukai. But it is what it is… karena kami cuma menumpang.

Kami menghabiskan satu hari penuh di rumah singgah untuk beristirahat sebelum memulai pendakian di hari Rabu. Hari pemulihan ini penting untuk saya karena dua hal. Pertama, jelas untuk pemulihan fisik. Kedua, saya berniat menyerap sebanyak-banyaknya informasi tentang kedua rekan saya, Singgih sang mas porter, dan medan yang akan kami tempuh keesokan harinya. Saya mengobrol cukup banyak dengan mas Singgih. Buat saya, dia sosok terpenting dalam pendakian ini. Saya tahu dua rekan saya sudah berkali-kali naik dan turun gunung, tetapi mereka belum pernah melakukannya di Gunung Sumbing. Mas Singgih sudah bolak-balik gunung ini seperti Anda dan saya pergi ke swalayan.

Satu hal yang membuat saya terkejut adalah, dia ternyata baru berusia 21 tahun. Saya sempat mengira usianya hampir menginjak kepala tiga. Bukan karena mukanya boros, jauh dari itu. Jika ditelaah lebih lanjut, mukanya memang masih keliatan hijau. Hal yang membuat saya terkejut adalah pembawaannya. Satu hal yang paling ketara saat Anda melihat seseorang untuk pertama kali adalah kehadirannya. Sedikit sekali laki-laki umur 20-an awal yang saya temui yang sudah bertransformasi jadi pria. Singgih jelas adalah salah satunya. Pembawaannya tenang, tidak grasak-grusuk, baik dalam tindakan maupun perkataan. Tampaknya bolak-balik hutan dan gunung memang benar membentuk karakter.

Tidak mengherankan, karena untuk hidup di alam, bahkan hanya untuk dua hari satu malam saja, melibatkan kemampuan pemecahan masalah yang sangat baik. Itu yang saya pelajari dalam perjalanan pendakian pertama saya ini. Dari obrolan saya yang tampak acak, saya memahami sedikit banyak latar belakang porter yang merangkap sekaligus sebagai guide kami. Secara bersamaan, saya juga semakin mengenal dua rekan saya yang berasal dari Bandung, dan sejauh mata memandang, telinga mendengar, dan diri merasakan, tidak ada yang membuat saya ragu untuk melanjutkan pendakian kami sesuai jadwal, yakni Rabu pagi.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Kami akan naik. Gunung Sumbing via jalur Gajah Mungkur. Porter kami melakukan registrasi di basecamp, sembari kami menyantap sarapan kami di salah satu warung yang terletak sekitar 50 meter dari lokasi pendaftaran. Setelah selesai makan, kami mengikuti briefing sekilas, yang menurut salah satu rekan saya, cukup lengkap, bahkan mencakup briefing khusus untuk perempuan. Dalam briefing ini, dijelaskan soal banyak pantangan, semacam tidak meniup klarinet, melambaikan senter cepat, makan keju, menggunakan topi sombrero, memakai rok panjang, atau **berlagak seperti kera**.

Saat briefing rampung, kami bersiap. Ada dua cara untuk tiba di gapura pertama Gunung Sumbing. Pertama cukup jelas, dengan kaki. Kedua, dengan ojek motor. Cara kedua cukup populer karena dapat memangkas waktu dan energi. Kami memilih cara kedua. Dengan medan bebatuan yang curam, motor yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat melaju dengan baik di medan ini, dipacu dengan maksimal melewati lahan-lahan tani di kaki gunung. Saya sama sekali tidak menyesal kami memilih opsi ini, karena rasanya sangat seru. Seperti naik wahana Dufan di Ancol. Hal yang saya sesali adalah timing-nya saja. Kami benar-benar habis sarapan, jadi perut kami yang diisi nasi, tempe orek, telur, dan buncis lumayan terkocok-kocok setibanya di atas. Meski begitu, tidak satupun dari kami yang mengeluarkan isi perut kami di gerbang masuk.

Setibanya di gerbang, kami berfoto, berdoa dengan ajaran kepercayaan masing-masing, lalu mulai mendaki. Hal pertama yang saya rasakan adalah… oke, ini gampang-gampang susah, tetapi lebih condong ke gampang! Haha, pemula memang suka terlalu jemawa. Biasanya kalau di film-film, ini tipikal karakter yang bakal mati duluan. Sudah tertulis di naskahnya. Tanjakan awal di jalur ini masih tergolong oke untuk pemula seperti saya. Sedikit latar belakang, saya tidak melakukan persiapan fisik apa pun untuk pendakian ini (di mana ini sebenarnya lumayan bikin saya was-was), tetapi saya punya bekal yang ternyata cukup membantu. Saya terbiasa berjalan 200–350km setiap bulan, walau di daerah Jakarta yang tergolong landai. Kami naik ke pos satu, dan beberapa blok yang ditandai dengan huruf berurutan A, B, C, …, dst. Tidak ada masalah berarti.

Satu hal yang langsung saya pahami sejak beberapa langkah kaki pertama saat mendaki adalah etika basa-basi dan wording berulang yang kerap digunakan saat berpapasan dengan sesama pendaki, baik yang searah, maupun berlawanan arah. Namun setidaknya, ini tidak secanggung saat kita berpapasan dengan teman sekantor yang tidak terlalu akrab di sekitaran toilet.

“Misi mas.”

“Mari.”

“Naik atau Turun?”

“Semangat, kak/mas!”

“Dari mana?”

“Sering naik gunung?”

“Sendirian/berdua/bertiga [aja]?”

“Pos X masih jauh?”

“Dikit lagi, kak.”

“Masih sekitar 45 menit.”

“Udah deket kok.”

Sekitar jam makan siang, kami tiba di sebuah shelter a la kadarnya yang terbuat dari beberapa potongan kayu kaso dan genteng seng. Kami masuk karena dua rekan saya hendak sholat dzuhur. Momen ini juga dibarengi dengan makan siang. Tak lama setelah kami masuk shelter tersebut, pendaki lain, baik yang dari arah naik maupun turun, mulai meramaikan lokasi. Selama di shelter, menunggu dua rekan kami yang sedang sholat, saya dan mas Singgih menyempatkan diri mengobrol dengan salah satu grup pendaki yang kebetulan sedang di jalur pulang. Grup ini hanya terdiri dari dua orang saja, dan mereka berasal dari Pontianak, kota yang setahun lalu sempat saya singgahi untuk satu dan lain hal.

Dari obrolan kami, saya memahami jika yang satu adalah pendaki andal yang sudah acap kali naik turun gunung, sementara yang satunya baru di-”baptis” di Sumbing. Dengan latar belakang itu, saya jadi keceplosan menceritakan jika saya juga pertama kali naik gunung saat itu. Jadilah kami mengulik-ngulik motivasi masing-masing untuk naik. Jadi malah curcol. Singkat cerita, biasanya alasan orang naik gunung itu-itu saja, dan kami berbagi cerita dan tawa dalam momen acak itu.

Selepas makan siang, kami melanjutkan perjalanan mendaki. Tantangan pertama saya secara pribadi adalah sebuah bebatuan terjal dekat mata air pertama (ada dua mata air yang dipublikasikan ke pendaki untuk jalur ini). Medannya bebatuan dan amat curam. Batu yang dapat dipijak juga tidak begitu lebar, dengan jurang sebagai sisinya. Ini adalah ujian pertama saya sebagai pendaki perdana. Dengan sedikit bantuan, saya dan kedua rekan saya mampu melewati area ini tanpa insiden apa pun. Perjalanan berlanjut ke Sunset Camp, area yang populer untuk menyaksikan matahari terbenam. Sayangnya, cuaca saat itu sedang tidak mendukung, jadi kami hanya dapat melihat kabut sepanjang sore dari tenda kami. Mungkin kami akan lebih mujur di puncak gunung keesokan paginya.

Bicara jujur, saya tidak ke sini untuk melihat sunset, sunrise, atau lautan awan, jadi saya tidak terlalu memikirkannya. Saya hanya ingin naik, turun, dan merasakan apa pun yang dapat dirasakan di atas sana — dan siapa tahu, saya akan jadi pribadi yang lebih baik setelahnya. Mungkin menahan buang air besar di ketinggian 3km di atas permukaan laut dapat membuat saya menjadi lebih bijak dan mawas diri. Sebuah ekspektasi yang saya akui agak berlebihan.

Kami bermalam di Sunset Camp yang berjarak mungkin hanya 2 jam dari puncak Rajawali (puncak tertinggi Gunung Sumbing), dengan tujuan untuk bangun dini hari dan mencoba mencapai puncak gunung demi melihat matahari terbit, atau setidaknya, sisa-sisanya jika kami telat. Kami berangkat sekitar setengah 4 pagi. Ini mungkin adalah ujian mental pertama saya, mendaki saat gelap. Dalam situasi ini, kami mengandalkan headlamp, tetapi dengan kabut yang cukup tebal, ini sedikit membuat saya frustrasi. Saya memulai pendakian tanpa kacamata, karena di siang hari, saya juga tidak mengenakannya. Hasilnya? Kacau. Jalan yang terjal tampak begitu landai, sebuah ilusi optik yang jelas membahayakan. Alhasil, saya sempat tertinggal karena mencoba mencari dan mengenakan kacamata terlebih dahulu.

Butuh sekitar setengah jam untuk saya membiasakan diri berjalan dalam gelap, meski dengan bantuan headlamp. Kami terus merangsek ke atas, berbarengan dengan naiknya mentari. Pada satu titik, tampak sebuah tanjakan bebatuan vertikal sekitaran 8–10 meter dengan dua utas tali tambang. Pikiran saya jadi ke mana-mana. This definitely takes some doing. Sebenarnya ada opsi lain, tanjakan vertikal yang jauh lebih pendek di sisi kiri, tetapi posisinya bersebelahan dengan jurang yang ujungnya tidak kelihatan. Itu lebih mudah, tetapi butuh mental lebih untuk melewatinya. Cojones kalau kata urang Sunda. Kami memutuskan untuk menjajal tebing vertikal pertama. Dengan dukungan moril porter kami yang reliabel, kami dapat menaklukan tebing tersebut dan melanjutkan perjalanan.

Jalan dari Sunset Camp ke puncak lumayan terjal. Hal yang ada di pikiran saya sepanjang menanjak adalah, “Hmm, turunnya nanti gimana ya, bund?” Saya nyaris tidak dapat menikmati pemandangannya karena sepanjang jalan, saya hanya berpikir tentang bagaimana cara kami turun nanti. Apakah dengan cara dievakuasi tim SAR? Mungkin. Namun semakin dekat dengan puncak, saya mencoba untuk mengurangi kekhawatiran itu. Kekecewaan prematur hadir untuk dua rekan saya, saat kami mendengar sebuah testimoni dari salah satu rombongan yang baru saja turun dari puncak. Mereka menyebut jika pemandangannya tidak begitu jelas di atas sana karena adanya kabut.

Setelah melewati beberapa rintangan yang tidak mudah, kami akhirnya sampai ke puncak tertinggi Gunung Sumbing, yakni puncak Rajawali di ketinggian 3.371mdpl. Entah bagaimana kami melakukannya. Saya memang tidak terlampau religius, tetapi saya mencoba mempercayai bahwa ini mungkin bukti kebesaran-Nya. Namun bantuan Mas Singgih selaku porter kami juga tidak kalah besar. Jujur, perasaan saya saat sampai ke atas adalah biasa saja, bukan karena merasa ini gampang atau pemandangannya buruk, tetapi lebih ke masih sedikit cemas memikirkan cara turun. “Bahkan udah naik gunung sampe puncak, lo masih belum mindful, ya,” adalah respon salah seorang teman saat saya menceritakan kembali perasaan saya di puncak gunung Sumbing saat itu. Haha, sialan. Cuma ya memang itu salah satu alasan saya pergi ke sini, untuk membiasakan diri. Untuk mencapai mindfulness, ketidakmelekatan, manunggaling roso, atau apa pun itu.

Hal yang spesial adalah, saat kami naik, langitnya menjadi cerah, sehingga kami dapat melihat lautan awan yang cukup indah. Mestakung kalau kata Prof. Yohanes Surya. Semesta mendukung. Salah satu rekan saya menitikkan air mata menyaksikan pemandangan kosmis tersebut. Perut saya agak mules karena menahan sisa-sisa makanan di perut yang tak kunjung saya buang. Sementara dua rekan saya sibuk mengabadikan foto dan montage lain di atap gunung, saya mulai menghitung aset-aset apa saja yang perlu saya warisi, jaga-jaga jika saya salah injak sesuatu saat turun. Kebetulan, saya dapat sinyal di atas, jadi bisa mengabari orang rumah soal kesuksesan saya naik ke puncak sekaligus informasi-informasi krusial seperti PIN ATM. Teman-teman seperjalanan selalu mengingatkan saya untuk berpikir positif, khususnya selama mendaki gunung, jadi saya mencoba melakukannya. Seenggaknya kalau saya salah menginjak sesuatu dan berakhir di koran lokal, saya gak perlu pusing-pusing untuk mengisi formulir pajak Coretax.

Ada hal unik yang baru saya pahami di puncak Gunung Sumbing. Ternyata ada jasa titip (jastip) foto dan video. “Selamat ulang tahun, Yati!” teriak salah satu lelaki ke arah kamera sebelum ia dan temannya tertawa terbahak-bahak. “Ya, gimana, namanya emang Yati.” Ada juga pesan-pesan custom yang disampaikan untuk rekan sejawat yang tidak dapat hadir, dan hal-hal semacamnya. Dari informasi yang dibagikan porter kami, saya memahami jika rate-nya boleh juga, sekitar 30–50k per foto. Entah berapa untuk video.

Usai berfoto-foto, kami turun. Ini bagian tersulitnya. Naik gunung itu satu hal, turunnya adalah hal lain. Perasaan takut bablas menyelimuti pikiran saya, jadilah jalannya lamban seperti lansia yang hendak turun tangga, satu kaki diangkat dan diletakkan dalam satu waktu. Ingat tanjakan vertikal yang saya sebut tadi? Kami memilih jalur satunya yang di samping jurang untuk jalur pulang, karena menurut banyak orang, termasuk porter kami, itu adalah jalan yang jauh lebih mudah. Benar saja, ternyata itu lebih mudah, dan dari angle pulang, jurang tadi tidak semenyeramkan ketimbang dari jalur saat kami pergi.

Jujur, untuk turun, saya butuh penyesuaian yang tidak sedikit. Setiap langkah kaki jadi penuh perhitungan. Rasanya seperti mencoba melakukan kalibrasi ulang, untuk menemukan formula baru yang reliabel. Saya juga mempelajari teknik baru dengan tracking pole yang saya bawa berkat panduan mas Singgih. Tak terasa, sudah lebih dari separuh jalan turun menuju ke Sunset Camp, rintik-rintik air mulai turun dari kabut yang bertiup dari atas gunung ke area bawah dan arah sebaliknya. Pada akhirnya, kami dapat sampai dengan selamat ke tenda kami untuk beristirahat, walau kami sempat kebablasan ke baris tenda yang salah.

Sampai di tenda, kami makan lalu beres-beres untuk turun gunung. Ekspektasinya, turun akan lebih cepat dari waktu naik, dan tantangan terbesar kami, antara Sunset Camp dan puncak gunung sudah terlewat, jadi tampaknya ini akan jadi jalan-jalan santai. Namun jangan pernah meremehkan alam. Hujan gerimis membasahi persiapan turun kami. Medan yang tadinya terasa tidak begitu sulit, mulai menjadi sangat licin. Ini adalah ujian mental selanjutnya untuk saya sebagai pendaki pemula, untuk turun dalam situasi hujan, sehingga kondisi medannya berubah drastis.

Saya tergelincir beberapa kali di 30 menit pertama usaha kami untuk turun dari Sunset Camp dalam situasi tersebut, dan saya akui, itu membuat saya mulai ragu. Buat saya, secara fisik, saya tidak pernah merasa terganggu dengan Gunung Sumbing. Saya tidak mengatakan jika saya tidak merasa nyeri atau lelah sama sekali, tetapi saya pernah memiliki aktivitas yang lebih melelahkan dari ini. Namun secara mental, ini mungkin salah satu yang paling menguras. Setiap pijakan yang saya buat, kaki saya bergeser 3–5 cm dari posisi awal yang saya tuju. Ini tidak hanya mengacaukan perhitungan saya, tetapi juga pikiran saya. Untuk pertama kalinya, saya tidak lagi dapat mempercayai 100 persen langkah kaki yang saya buat, dan ini hal besar buat saya. Selain kehati-hatian, menapakkan kaki di gunung itu soal keyakinan. Sing penting yakin.

Butuh 30–45 menit sebelum saya dapat berdamai dengan situasi ini. Kedengarannya memang berlebihan, tetapi ini benar-benar mengacaukan pikiran. Awalnya saya masih berkutat dengan pola pikir, “kok kaki tergelincir terus, apa salah sepatu atau tekniknya?” Ternyata, ya memang itu adalah situasi yang hanya perlu diterima dan diantisipasi. Kaki pasti akan melejit beberapa sentimeter di bidang tanah basah, atau bebatuan yang berlumuran tanah, tinggal bagaimana kita menentukan arahnya dan melakukan follow-up terhadap manuver tak terhindarkan tersebut.

Ini jelas sebuah situasi yang analog dengan kehidupan secara umum. “Kalau kepleset, yang penting (kakinya) jangan pasrah (biar tidak jatuh),” ujar mas Singgih. Jadi, ini soal berserah, tapi sambil tetap berusaha. Ada banyak terminologi untuk prinsip ini. Ikhtiar (usaha maksimal) dan tawakal (berserah) dalam ajaran Islam, misalnya. Dalam bahasa Latin, ada Ora et Labora yang menjadi etos dominan dunia belahan barat. Saat saya berdamai dengan situasinya, benar saja, langkah kaki jadi sedikit lebih ringan. Keyakinan untuk melangkah mulai kembali tumbuh setelahnya.

Ujian mental saya tidak berhenti di sana. Perjalanan ke bawah berjalan lamban karena hujan tak kunjung reda. Untuk satu dan lain hal, ada hal-hal kecil yang terjadi bersamaan membuat saya lumayan frustrasi. Celana yang saya kenakan melorot terus. Kemudian kacamata juga terus berembun. Headlamp juga mulai berkedip. Bahkan tali sepatu pun ikut bermasalah. Masalah-masalah ini tidak muncul saat saya naik. Sesaat setelah maghrib, langit sore gunung Sumbing telah sepenuhnya berganti menjadi gelap. Ini adalah momen di mana headlamp dan segala jenis lampu yang kami bawa menjadi krusial.

Kami tiba di shelter sementara lebih malam dari perkiraan awal, sekitaran jam 8. Idealnya, kami tiba di gapura paling depan sebelum jam 9, karena lewat jam itu, kami akan terkena semacam denda, ditambah lagi kami tidak yakin sampai jam berapa ojek gunung yang kami gunakan jasanya untuk naik, beroperasi di malam hari untuk mengantar kami turun ke basecamp. Kami merapikan beberapa hal di shelter, dengan saya mencoba membenahi beberapa masalah yang saya sebutkan sebelumnya. Dalam shelter tersebut, kami berpapasan dengan sepasang pria dan wanita yang hendak naik. Sungguh waktu dan kondisi yang absurd untuk membuat perjalanan ke atas. Mereka berdua mampir di shelter yang sama dengan kami, dan duduk berseberangan dari kami. Fokus dengan bongkar muatan di carrier sendiri, saya tidak begitu memperhatikan dua orang ini. Sampai ke titik saya melempar pandangan ke arah mereka dan melihat tiga orang yang duduk alih-alih dua.

Pikiran saya jadi macam-macam. Terlebih lagi, memang di sana lumayan gelap dan saya memang sedang tidak mengenakan kacamata. Sebelum pikiran saya makin liar, si pria menghampiri bayangan ketiga, dan ternyata… itu carrier dikasih ponco! Hahaha, sialan. Usai dua rekan kami selesai sholat isya, kami melanjutkan perjalanan. Beberapa hal yang tidak dapat saya jelaskan secara rinci di sini, terjadi dalam perjalanan kami ke bawah setelahnya, tetapi pada akhirnya, kami sampai ke bawah tak kurang suatu apa pun. Kami sampai di rumah singgah, dalam keadaan cukup basah kuyup sekitar jam 11 malam.

Sebuah pengalaman tak terlupakan.

Awalnya, kami berencana langsung pulang keesokan harinya, tetapi karena keterbatasan tiket kereta, kami memutuskan untuk pulang di hari Sabtu. Jumat itu, kami memutuskan untuk mengarungi daerah sekitar dan memenuhi hasrat dua rekan saya untuk makan mie ayam dan sop buah, dua makanan yang tak berhenti mereka sebut sejak kami mengincar matahari saat mendaki. Teman saya mengidekan untuk turun keluar desa untuk mencari makanan-makanan tersebut, dengan berjalan kaki. Saya sudah mencoba jalur tersebut di hari pertama sendirian, sebagai ajang pemanasan sebelum naik gunung, jadi saya setuju-setuju saja. Namun dalam hati, saya memperkirakan mereka akan menyerah setelah 500m pertama. Maklum, masih terasa sisa-sia pendakian kemarin di area paha, betis, dan telapak kaki.

Saya dan mas Singgih membiarkan kedua rekan kami berjalan lebih dulu. Mereka tampaknya bersemangat sembari membayangkan dua makanan yang sudah mereka idamkan dari lama. Porter kami yang tampaknya juga sudah lelah dan terpaksa mengiyakan ajakan berjalan kaki itu, melihat mobil pick-up lewat ke arah yang sama dengan arah berjalan kami. Ia lalu memberhentikannya dan mengundang saya naik bersamanya menumpang mobil yang supirnya ternyata ramah tersebut. Kami lalu mengajak naik dua teman seperjalanan kami yang raut mukanya mulai diwarnai penyesalan karena jalannya ternyata tidak sependek bayangan awal mereka.

Jadilah kami menumpang pick-up selayaknya warga lokal. Sesampainya gerbang desa di luar, kami hanya perlu berjalan sedikit sebelum menemukan kedai mie ayam Jawa. Salah satu dari kami yang tampaknya sudah kepalang ingin makan mie ayam, tanpa aba-aba apa pun, langsung berbelok masuk ke sana, seakan-akan ada yang memanggilnya masuk. Jadilah kami makan mie ayam untuk makan siang di hari itu. Puas menyantap mie ayam, kami melanjutkan perjalanan kami ke arah pasar untuk mencari sop buah. Beruntung untuk mas Singgih, kami menemukan kedai sop buah tak jauh dari sana, jadilah kami duduk dan memiliki dessert kami untuk hari itu. Jika tidak, porter gunung kami akan jadi guide pasar untuk sejam tambahan, karena jarak pasar yang awalnya ingin kami datangi, masih sekitar 3km lagi.

Perjalanan kembali kami ke arah desa diwarnai dengan hujan gerimis tipis yang uniknya terjadi di tengah sorot matahari. Teman saya yang berasal dari Bandung menjelaskan jika fenomena ini punya istilah sendiri dalam bahasa Sunda, yakni hujan poyan. Kurang lebih artinya hujan yang sedang berjemur. Ini pengetahuan baru yang saya sambut kemunculannya. Dari tempat saya berasal, kami biasa menyebutnya sebagai hujan orang meninggal. Etimologi katanya kurang lebih berasal dari kepercayaan bahwa langit sedang berkabung karena ada orang yang baru saja tutup usia.

Tiba di pintu masuk desa, kami menanjak sambil berharap ada sebuah mobil bak terbuka tanpa muatan yang hendak kembali ke desa. Mendaki sekitar 300m, doa kami terkabulkan. Sebuah mobil bak terbuka melewati kami dan meski awalnya tampak tidak melambat, ia berhenti sekitar 100m di depan kami. Sang pengemudi membuka pintu penumpang. Dengan ketiga rekan saya memilih untuk duduk di belakang, saya memutuskan untuk duduk di depan, di mana saya akhirnya mengobrol sedikit dengan si bapak yang menjadi pengemudi. Ia sedang dalam jalur pulang setelah mengantarkan sayur hasil panen. Dalam perjalanan, ada sebuah percabangan jalan ke dua area berbeda di desa Lamuk, satu menanjak ke area kami menginap, dan satu lainnya menurun.

Si bapak bertanya pada saya, apakah kami tinggal di atas atau bawah. Saya pun menjelaskan jika kami hendak menuju area atas tempat kami menginap. Ia pun mengarahkan kendaraannya ke sana, dan dari sana, saya baru ngeuh, jika ia ternyata tinggal di daerah Lamuk bagian bawah. Jadi, si bapak perlu memutar balik kendaraannya usai mengantar kami, dan kembali ke area bawah.

“Wah pak, jadi repot-repot, tahu gitu kami turun di persimpangan tadi.”

“Ya, gak apa-apa, daripada kalian hujan-hujanan.”

Kemurahan hati tampaknya cukup berlimpah di bumi Jawa Tengah. Tidak terhitung rasanya berapa kali kami merasakan secara langsung kebaikan orang-orang yang kami temui, baik selama di stasiun, di kedai makan, di dalam mobil yang kami tumpangi, di desa, hingga di area gunung. Mungkin perpaduan antara kesederhanaan dan tantangan hidup di area ini membentuk sikap welas asih mereka.

Atau mungkin kami saja yang sudah terlalu lama tinggal di daerah perkotaan, di mana kemerosotan moral adalah hal yang begitu lumrah kami jumpai, sehingga otak kami (terlebih saya), isinya prasangka semua. Sebagai catatan kaki, Jawa Tengah adalah provinsi yang secara konsisten memiliki UMP (Upah Minimum Provinsi) terendah se-Indonesia, dan kerap dijadikan daerah strategis kampanye oleh partai-partai politik yang ingin menancapkan pengaruh mereka di Senayan.

Saat kembali ke rumah singgah dari petualangan kami mencari kudapan lokal, kami bersantai sembari mengisi waktu luang. Ada satu momen jenaka. Saat matahari mulai terbenam, bapak tua pemilik rumah singgah yang sering kami panggil dengan sebutan mbah, sedang duduk di ruangan yang sama tempat kami beristirahat. Saat makan malam siap, ia mengajak kami untuk ikut serta dengan keluarganya. Namun saya dan seorang teman gagal paham karena kata-kata yang ia gunakan agak unik. “…yuk, buat kenang-kenangan.” Sontak salah seorang rekan saya berpikir jika si mbah mengajak kami berfoto. “Sebentar [mau pakai] lipstik dulu.” Kesalahpahaman ini menghadirkan salah satu momen paling jenaka kami selama berada di Desa Lamuk.

Keluarga yang tinggal di rumah singgah ini tampaknya beranggotakan 4 orang. Saya tidak pernah benar-benar dapat memetakan siapa adalah siapanya siapa secara definitif, tetapi secara garis besar, ada si mbah, istrinya, dan seorang anak laki-laki. Ada satu perempuan, entah dia istri si anak atau adik/kakaknya. Tidak satu pun saya kenali menggunakan nama asli mereka. Hanya mbah, bu, dan pak. Satu hal pasti, mereka semua ramah kepada kami, dan memperlakukan kami seperti keluarga mereka sendiri sejak hari pertama. Si mbah khususnya, tak jarang menghabiskan waktu duduk di area kami beristirahat. Meski kami tidak selalu mengobrol dengannya, ia kelihatan menikmati momen kebersamaan dengan orang-orang yang hanya singgah sebentar di rumahnya, walau kami jelas lumayan merepotkan.

Satu momen jenaka lain yang saya ingat adalah saat kami memasak air untuk menyeduh minuman hangat seperti minuman sereal, kopi hitam, dan cokelat panas berperisa matcha. Sebagai bentuk sopan santun, kami juga menawarkan si mbah yang duduk di dekat kami. Dia pun mengangguk. “Yang ini mbah?” sembari teman saya menunjuk minuman matcha yang ia seduh. “Iya,” jawab si mbah. Kami sempat mengira jika ada sedikit kesalahpahaman di sini, dengan si mbah mungkin mengira bungkus hijau yang teman saya sedang buka adalah kopi. Namun dia tetap yakin akan pilihannya. Jadilah kami menyeduh coklat matcha untuk si mbah. Saat kami memberikan minuman yang selesai diseduh tersebut, ia menghabiskannya. Masih absurd untuk membayangkan seseorang yang berusia 80-an tahun dan melinting rokok racikannya sendiri, ternyata doyan minuman cokelat rasa matcha. Rasa memang tidak mengenal usia.

Saat kami menghabiskan waktu di rumah singgah, ada sebuah obrolan menarik. Rekan bepergian saya, bercerita soal apa yang ayahnya pernah ceritakan menyoal unsur jiwa yang ada dalam diri manusia. Disebutkan bahwa setiap manusia memiliki beberapa “saudara” dalam dirinya. Setelah mencari tahu lebih dalam, saya memahami jika ini adalah bagian dari ajaran Kejawen, Sedulur Papat Lima Pancer. Empat saudara, dan elemen kelima sebagai pusatnya.

Empat saudara yang dimaksud adalah kakang kawah (cipta), adi ari-ari (rasa), getih (karsa), dan puser (karya), yang berpusat pada pancer (budi pekerti). Elemen-elemen ini dipercaya mendampingi manusia sejak lahir. Konsep ini dikembangkan oleh personel Wali Songo paling terkenal, yakni Sunan Kalijaga. Kepercayaan yang diwarisi secara turun temurun ini, mempercayai bahwa keempat saudara gaib yang ada dalam diri setiap insan, menempati 4 arah mata angin. Ada sajen khusus untuk menghormati keempatnya, dan biasanya sajen ini akan berupa aneka macam jenis nasi (sega).

Kenapa empat arah mata angin? Keempat saudara gaib ini dapat dianalogikan sebagai empat malaikat penjaga yang berada di kanan, kiri, depan, dan belakang kita. Dalam kepercayaan Kejawen, secara gaib, Sang Pencipta memberikan ilhamnya lewat keempat saudara tersebut. Namun untuk itu dapat terjadi, keempat elemen harus selaras dan dalam kondisi damai. Hanya dalam kondisi itulah, petunjuk dari “guru sejati” dapat turun dengan utuh. Guru sejati dapat dimaknai sebagai entitas yang berfungsi sebagai pembimbing batin dan pemandu spiritual manusia. Sederhananya seperti hati nurani.

Untuk mencapai ini, dibutuhkan 3 tahapan, yakni penyucian hati, pengendalian diri, dan yang terakhir, pengolahan rasa. Pada tahapan terakhir, kita didorong untuk mengenali dan bergaul dengan rasa (srawung rasa). Setelahnya, kita perlu memasrahkan diri kepada kekuatan yang lebih besar (seleh rasa). Langkah terakhir, seperti yang telah disebut sebelumnya, adalah menyatukan rasa (manunggal rasa). Saat ini semua tercapai, kita akan mencapai titik di mana kedamaian batin sejati dicapai. Roso sejati.

Hari terakhir kami di Desa Lamuk, kami bergegas. Kereta kami akan berangkat pukul 12.21 WIB, dan kami akan dijemput oleh mobil yang telah kami pesan sekitaran pukul 08.30 WIB. Kami mengemas barang-barang kami dan bersiap untuk meninggalkan lokasi saat mobil yang kami pesan datang. Namun sebelum itu, kami berniat untuk berpamitan pada keluarga pemilik rumah yang kami singgahi selama beberapa hari ini.

Saat kami mencoba menemui mbah dan keluarganya, mereka sedang tidak di rumah. Rasanya seperti ada yang mengganjal. Untuk meninggalkan rumah yang kami singgahi selama beberapa hari ini — bangunan yang seyogianya sudah kami rasakan seperti rumah sendiri karena kami diperlakukan selayaknya anggota keluarga sang empunya rumah — tanpa berpamitan, terasa kurang tepat.

Pada akhirnya kami menitipkan uang yang tak seberapa sebagai bentuk rasa terima kasih kami pada sang pemilik rumah yang tidak hanya mengizinkan kami untuk singgah dan beristirahat di sana, tetapi juga menjadi bagian dari keluarga mereka, walau hanya sejenak. Tanpa closure yang ideal, kami meninggalkan Desa Lamuk dan bertolak ke Stasiun Kutoarjo. Melihat kembali ke belakang, mungkin kami seharusnya meninggalkan secarik surat.

Kami tiba 2,5 jam lebih dini dari jadwal keberangkatan kereta yang akan kami tumpangi. Jadi, kami memutuskan untuk mencari sarapan di dekat stasiun sebelum berangkat. Saat kami keluar stasiun, seorang pria yang cukup tua, muncul dan menawarkan kami jasa transportasi. Kami menolak dengan sopan. Ia membalas penolakan kami dengan senyuman. Respon hangat itu membuat saya tidak sungkan untuk bertanya padanya, mengenai tempat makan yang mungkin ada di sekitar situ, khususnya salah satu makanan yang diidamkan dua rekan saya sejak di atas gunung, yakni soto. Sang bapak lalu memberikan arahan mendetail tentang area makan yang jaraknya tidak begitu jauh dari tempat kami berpijak.

Interaksi sederhana semacam ini seolah semakin menekankan kehangatan orang-orang daerah di kawasan Jawa Tengah di ingatan kami. Bahkan penyedia jasa pun bertanya selayaknya manusia yang memiliki niatan untuk membantu, bukan hanya sebagai seseorang yang mengincar isi kocek kami. Untuk orang-orang yang kebanyakan tidak menempuh pendidikan lanjut, apalagi pendidikan di bidang keramahtamahan (hospitality), cara mereka dalam memanusiakan manusia memancarkan keteladanan.

Sayang, saat kami semakin kerasan dengan Jawa Tengah, waktu untuk pulang sudah hadir di depan mata. Kereta Malabar di Stasiun Kutoarjo telah memanggil kami. Namun setidaknya saya membawa pulang sebuah cendera mata. Sebuah wadah untuk segala rasa yang saya rasakan selama berada di sini, dan dimanapun saya berada nanti, yang ternyata sudah saya miliki sedari lahir — diri saya sendiri.


메타데이터
post_id
9fccd8f6c071
slug
catatan-perjalanan-wonosobo-9fccd8f6c071
url
https://medium.com/@albertgfx/catatan-perjalanan-wonosobo-9fccd8f6c071
canonical_url
https://medium.com/@albertgfx/catatan-perjalanan-wonosobo-9fccd8f6c071
author_url
https://medium.com/@albertgfx
status
ok
fetched_at
2026-07-13 06:23:13