#2 Reruntuhan yang Kusebut Rumah
Pernah kucoba memberi nama pada luka, tapi ia menjelma menjadi rumah yang sunyi — pintunya tak pernah terbuka, menyimpan debu hari-hari…
#2 Reruntuhan yang Kusebut Rumah

Photo by Hailey Kean on Unsplash
Pernah kucoba memberi nama pada luka, tapi ia menjelma menjadi rumah yang sunyi — pintunya tak pernah terbuka, menyimpan debu hari-hari lama dan serpih kenangan yang mengelupas perlahan seperti cat dinding yang tak lagi dirawat.
Orang-orang berlalu, mereka tak tahu: mataku menampung cerita yang retak, berdiri setengah remuk, menggigil di antara parade sunyi.
Kadang aku ingin meninggalkan tubuh ini, menyusuri lorong-lorong sepi mencari serpih diriku yang hilang ketika waktu menggerogoti semua yang kupeluk.
Malam sering mengajakku bicara, tapi ia hanya menatap dengan tatapan kosong yang membuatku lebih paham: tak semua yang pecah perlu disatukan kembali.
Mungkin sebab itu aku masih di sini, menjaga reruntuhan dengan kesabaran yang tak kupunya dulu, merawat sunyi sampai ia berubah menjadi sesuatu yang tak lagi meluka.
Aku tidak menunggu pulang, tidak berharap sembuh. Hanya ingin belajar bagaimana berdamai di ujung sunyi yang tak bernama namun selalu memanggilku kembali.
Di sini aku tinggal, menjaga reruntuhan, membiarkannya berdebu, agar aku tak lupa bagaimana rasanya kehilangan.
Dan barangkali, aku akan belajar memanggilnya rumah.
Yogyakarta, Juli 2025
메타데이터
- post_id
- 9ff2dbe899a0
- slug
- 2-reruntuhan-yang-kusebut-rumah-9ff2dbe899a0
- url
- https://medium.com/@asadapages/2-reruntuhan-yang-kusebut-rumah-9ff2dbe899a0
- canonical_url
- https://medium.com/@asadapages/2-reruntuhan-yang-kusebut-rumah-9ff2dbe899a0
- author_url
- https://medium.com/@asadapages
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 16:52:42