Catatan Kaki: Musim Dingin yang Hangat
Part 2 — Togakushi Nagano
Catatan Kaki: Musim Dingin yang Hangat — Part 2
Nagano
Malam itu kami tiba dan disambut dengan hujan salju yang cukup deras. Kami tak tahu ke arah mana harus berjalan, berputar-putar memastikan kompas peta digital kami benar menuju penginapan. Bersyukur penginapan kami cukup dekat dari stasiun sehingga tangan kami tidak perlu berlama-lama terkena angin dingin saat itu. Dingin sekali, namun ini salah satu yang kami cari, pengalaman yang tidak ada di negara asal kami. Sembari kami berharap rencana esok hari tak akan ada kendala.
Hari berganti, tampak tumpukan salju di atap gedung-gedung. Tampak juga bukit-bukit bersalju mengelilingi kota ini. Ah hari yang cerah.

Togakushi menjadi pilihan untuk hari itu. Di awali dengan ketidakpahaman membeli tiket bus, hahaha. Keterbatasan bahasa membuat kami mengira kami hanya bisa membeli tiket pulang secara online. Padahal kami bisa membeli tiket pergi on the spot di konter. Jadi mungkin seharusnya kami bisa membeli tiket pulang juga disana.
Terlanjur kami berangkat, sepanjang perjalaman pergi kami mencoba membeli online seperti pada instruksi. Gagal, Kartu Kredit Kami tidak ada yang berhasil digunakan. Bingung harus bagaimana, kami teringat teman-teman dekat kami. Beruntung ada teman yang membantu mengamankan tiket pulang kami. Lega.

Togakushi Okusha Path
Togakushi Village
Dengan sedikit Lapar, kami menelusuri jalan setapak menuju Kuil Togakushi Okusha, jalan yang menanjak dengan salju yang lebat. Beruntung kami menggunakan sepatu yang tepat, outsole dengan grip yang cukup kuat. Walau begitu rasa dingin masih menembus ke dalam sepatu. Banyak hal yang kami lupa persiapkan untuk perjalanan hari ini. Seharusnya kami menggunakan kaus kaki berlapis. Kami sudah lupa bagaimana mengatasi musim dingin di sini.

The Red Zuishinmon Gate
Sepertinya rasa lapar itu hilang, berganti rasa takjub akan ciptaan yang begitu besar. Manusia menjadi tampak kecil di dekatnya, the Majestic Cedar Avenue. Sayang jalur di antara pepohonan ini sedang ditutup karena tumpukan salju yang lebat. Ada sepasang bapak dan ibu, tampak seperti sudah biasa mendaki, mencoba melampaui batas aman berjalan terus lebih dalam. Belum begitu jauh, namun mereka memutuskan kembali. Memang hami harus berpuas-diri dengan melihat pepohonan yang menakjubkan itu dari kejauhan.

The Majestic Cedar Avenue
Kami tidak bisa mencapai Togakushi Okusha yang sebenarnya, sehingga kami kembali turun ke titik awal, kembali pula rasa lapar itu datang. Di dekat sana ada tempat makan mie soba yang memang ingin kami datangi. Cukup banyak orang yang tahu tempat ini, kami pun harus menunggu untuk bisa sekedar masuk ke dalam tempat makan. Seorang anak kecil dengan lincah menjelajahi ruang tunggu yang tak begitu besar, membuat kami punya tontonan. Sedikit distraksi dari dingin angin luar yang masuk melalui pintu yang tak tertutup.
“Seseorang, tolonglah, tutup pintu itu kembali”, batinku.

Okusha no Chaya — Soba Restaurant
Sampai akhirnya kami bisa masuk ke ruang makan dan memesan. Restoran di Jepang biasanya memang menyajikan mizu atau ocha secara cuma-cuma. Ketika pesanan kami datang, kami sempatkan untuk merekamnya. Berjaga-jaga jika memang ini kesempatan terakhir.

Ternyata saya lebih suka mie yang lembut seperti di warung-warung mie oriental. Mie Soba di sini tidak selembut yang saya inginkan. Tapi mungkin itulah Mie Soba, dan saya tidak menyesal memakannya. Enak-enak saja dan tetap pengalaman yang tidak mudah didapatkan. Baru kali ini menemukan matcha yang digunakan seperti cocolan garam.

Banyak jalan yang tertutup salju, sehingga kami memilih melewati jalan aspal saja menuju Togakushi Chusa, tempat kami menunggu bus untuk pulang. Jalanan yang menurun membuat kami tidak begitu lelah. Tak banyak juga kendaraan yang lewat, jadi masih aman bagi kami berjalan. Melewati pohon-pohon dan bangunan tertutup salju ditambah suasana jauh dari keramaian. Membuat kami bisa menikmati keberadaan kami. Kami manusia yang kecil ini, sepantasnya terus merasa rendah hati. Karena masih ada yang lebih besar dan berkuasa dari pada diri kita.

Togakushi Chusa Area
Togakushi Chusa yang kami datangi ternyata cukup kecil, tak banyak waktu yang diperlukan untuk melihat-lihat. Namun rasanya kami bisa menghabiskan waktu hanya dengan duduk dan merenung di sana.
Sambil melihat-lihat jadwal bus, ada seseorang yang menyapa kami. Samar-samar masih tampak asing. “Hey! You again”, kurang lebih seperti itu. Ya kami ingat, dia dan pasangannya tadi meminta bantuan untuk foto di gerbang Okusha di atas sana. Lalu mereka bercerita akan bersantai di suatu kafe karena jadwal bus mereka masih nanti sore. Sayangnya, bus kami tak lama lagi akan datang.

Sedikit tidak menyangka, bisa bertemu lagi dengan pasangan yang ramah itu.
Tak banyak yang bisa kami lakukan di sore hari. Begitu matahari mulai terbenam, sudah banyak toko dan warung yang tutup. Senyap, kota ini begitu senyap. Kami suka.

Setelah makan malam, kami kembali ke penginapan, dan bertemu kembali dengan pasangan tadi. Apakah kami berjodoh? Hahaha.
메타데이터
- post_id
- a023e2b4e259
- slug
- catatan-kaki-musim-dingin-yang-hangat-part2-a023e2b4e259
- url
- https://medium.com/@astibramasti/catatan-kaki-musim-dingin-yang-hangat-part2-a023e2b4e259
- canonical_url
- https://medium.com/@astibramasti/catatan-kaki-musim-dingin-yang-hangat-part2-a023e2b4e259
- author_url
- https://medium.com/@astibramasti
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13