← Back to list

TBC: Penyakit Lama yang Masih Membuat Orang Takut Datang Berobat

TBC dan pekerjaan rumah yang belum selesai di ruang-ruang tunggu klinik

Ronald Susilo · 2026-03-29 23:40 · 0 claps · 5.2 min read
#bahaya-tbc #tbc #satu-tb #resistensi-obat #obat-paru-paru-basah
Open on Medium ↗

TBC: Penyakit Lama yang Masih Membuat Orang Takut Datang Berobat

Photo by CDC on Unsplash

Photo by CDC on Unsplash

TBC dan pekerjaan rumah yang belum selesai di ruang-ruang tunggu klinik

Setiap kali baca dan dengar kata TBC, saya selalu teringat pada pasien-pasien yang duduk lama di ruang tunggu klinik dengan wajah letih, badan kurus, batuk yang tak juga berhenti, dan cerita yang hampir mirip satu sama lain. Sudah batuk lebih dari sebulan. Kadang disertai demam yang datang terutama sore atau malam hari. Keringat malam membuat baju basah. Nafsu makan menurun. Ada yang dadanya mulai nyeri. Ada juga yang baru benar-benar takut saat dahaknya mulai bercampur darah.

TBC, di tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama, bukan penyakit langka. Ia justru terlalu sering datang, terlalu akrab, dan ironisnya masih terlalu sering terlambat dikenali atau ditangani. Di tingkat global, tema resmi Hari Tuberkulosis Sedunia 2026 adalah “Yes! We Can End TB: Led by countries, powered by people”, sedangkan tema nasional Indonesia menekankan semangat “SATU TB: Sinergi Aksi Tuntaskan TB.” Kedua tema ini sama-sama mengingatkan kita bahwa TBC tidak akan selesai hanya dengan obat, tetapi juga dengan kemauan sistem dan keberanian masyarakat untuk bergerak bersama.

Batuk yang dianggap biasa, padahal bisa menjadi tanda bahaya

Masalahnya, di banyak tempat, batuk lama masih terlalu sering dianggap sebagai hal sepele. Orang membeli obat batuk sendiri. Minum antibiotik beberapa butir. Berhenti kalau agak mendingan. Lalu sakitnya kambuh lagi. Padahal, secara medis, batuk lebih dari dua minggu saja sudah cukup menjadi alarm untuk curiga TBC, apalagi bila disertai demam, keringat malam, berat badan turun, dan dahak berdarah. TBC menular melalui udara ketika penderita TBC aktif di paru batuk, berbicara, atau bersin, lalu orang lain di sekitarnya menghirup percikan halus yang membawa kuman. Karena itu, rumah yang padat, ventilasi yang buruk, dan kebiasaan hidup berdekatan dalam ruang sempit membuat penularannya jauh lebih mudah. Orang dengan infeksi TBC laten tidak menularkan, tetapi orang dengan TBC aktif yang belum diobati bisa menjadi sumber penularan bagi keluarganya sendiri.

Di klinik swasta, kecurigaan ada; tetapi jalan menuju obat sering berliku

Di lapangan, kami para dokter layanan pertama sering sudah bisa mencurigai TBC dari cerita pasien, lamanya gejala, dan pemeriksaan fisik. Tetapi mencurigai belum sama dengan bisa langsung mengobati.

Di klinik swasta yang saya kelola, tidak tersedia obat program TBC. Pasien harus dirujuk atau dianjurkan melanjutkan pemeriksaan ke Puskesmas atau rumah sakit untuk pemeriksaan dahak, foto rontgen, dan bila perlu TCM atau tes cepat molekular.

Secara sistem, ini benar, karena pengobatan TBC memang harus terstandar dan dipantau. Namun, di titik inilah banyak pasien mulai mundur. Ada yang merasa prosesnya ribet. Ada yang takut ketahuan tetangga. Ada yang merasa belum terlalu sakit. Ada pula yang cemas bila nanti seluruh isi rumah harus ikut diperiksa. Maka, tak sedikit pasien suspek TBC yang berhenti di tengah jalan: sudah dicurigai, tetapi tak pernah benar-benar masuk ke sistem diagnosis dan pengobatan. Padahal, Indonesia masih menghadapi beban TBC yang sangat besar. WHO memperkirakan sekitar 1,09 juta kasus TBC terjadi di Indonesia pada 2023, dan kematian akibat TBC juga tetap tinggi.

Buah simalakama bernama stigma

Saya sering merasa bahwa pada TBC, kadang-kadang yang paling berat bukan hanya penyakitnya, tetapi juga rasa malu yang menempel padanya. Begitu kata “TBC” disebut, wajah pasien berubah. Sebagian seperti merasa mendapat cap. Di banyak keluarga, TBC masih dianggap penyakit memalukan, penyakit orang yang “tidak bersih,” penyakit yang identik dengan kemiskinan, kelemahan, atau bahkan kutukan sosial.

Ketika petugas kesehatan meminta pemeriksaan kontak serumah, niatnya sangat baik: menemukan penularan lebih dini dan memutus rantai penyebaran. Tetapi di mata pasien, langkah itu kadang terasa seperti membuka rahasia keluarga kepada lingkungan sekitar. Mereka takut diperiksa bukan karena tak mau sembuh, melainkan karena takut dihakimi. Di sinilah TBC menjadi buah simalakama. Kalau tidak diperiksa, penyakit bisa menular. Kalau diperiksa, stigma bisa menyebar lebih cepat daripada pemahaman. Tema tahun ini menjadi penting justru karena mengingatkan kita bahwa mengakhiri TBC harus digerakkan oleh manusia, bukan hanya oleh protokol. Artinya, pendekatannya juga harus manusiawi.

Mengapa banyak pasien tidak melanjutkan pemeriksaan?

Kadang kita, termasuk saya sebagai dokter, terlalu mudah menyalahkan pasien sebagai “tidak patuh.” Padahal, kalau mau jujur, alasan mereka sering sangat manusiawi. Pergi ke Puskesmas atau rumah sakit berarti ongkos tambahan, waktu yang hilang, pekerjaan yang tertunda, dan pertanyaan dari keluarga atau tetangga yang belum tentu nyaman dijawab. Untuk sebagian orang, hasil pemeriksaan yang positif bukan hanya berarti mulai minum obat, tetapi juga berarti harus menerima identitas baru sebagai “orang TBC.” Itu sebabnya edukasi tentang TBC tidak cukup hanya menyebut gejala dan obat. Kita harus bicara juga tentang rasa takut, rasa malu, dan kelelahan menghadapi birokrasi layanan kesehatan. Kita perlu membuat pasien merasa bahwa melanjutkan pemeriksaan bukanlah langkah menuju pengucilan, melainkan langkah untuk melindungi diri sendiri, anak-anak mereka, pasangan mereka, dan orang tua yang tinggal satu atap.

Rumah padat, ventilasi sempit, dan penularan

TBC sangat suka pada situasi yang membuat manusia sulit menjaga jarak dan sulit mendapat udara segar. Dalam rumah yang sempit dan padat, satu orang yang batuk setiap hari bisa menjadi titik awal penularan panjang yang tidak disadari. Ini sebabnya pemeriksaan terhadap kontak serumah bukan tindakan berlebihan. Itu justru bentuk kewaspadaan yang rasional.

Kuman TBC berpindah lewat udara, bukan lewat salaman, tetapi orang yang tinggal serumah tentu menghirup udara yang sama berjam-jam setiap hari. Anak-anak, lansia, orang dengan gizi buruk, diabetes, atau daya tahan tubuh lemah berada pada risiko lebih tinggi untuk jatuh sakit bila terinfeksi. Jadi, ketika petugas meminta anggota keluarga lain diperiksa, pesan yang ingin dibawa seharusnya bukan “ada aib di rumah ini,” melainkan “jangan sampai ada yang sakit diam-diam.”

Ancaman resistensi obat yang tidak bisa dianggap sepele

Sebagai dokter, salah satu kekhawatiran terbesar saya adalah resistensi obat. TBC bukan penyakit yang bisa diobati setengah hati. Ia menuntut kedisiplinan, kombinasi obat yang tepat, dan durasi pengobatan yang cukup. Bila pasien minum obat tidak lengkap, berhenti di tengah jalan, atau mendapatkan obat secara terpisah tanpa pengawasan yang baik, maka kuman bisa belajar bertahan. Dari sinilah lahir TBC resisten obat, yang pengobatannya jauh lebih sulit, lebih lama, lebih mahal, dan hasilnya tidak selalu sebaik TBC sensitif obat. Karena itu, penjualan obat-obat TBC secara bebas dan terpisah di apotek seharusnya menjadi perhatian serius. Yang kita hadapi bukan hanya soal satu pasien sembuh atau tidak, tetapi juga soal ancaman kesehatan masyarakat yang lebih besar. Data Kementerian Kesehatan sendiri menunjukkan bahwa keberhasilan pengobatan TBC resisten obat masih jauh dari target. Ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak.

Mengakhiri TBC berarti membuat pasien berani masuk ke sistem

Kalau saya membaca tema tahun ini dengan pengalaman praktik sehari-hari, saya menangkap satu pesan sederhana: mengakhiri TBC berarti membuat negara hadir lebih dekat, dan membuat orang merasa aman untuk mencari pertolongan. “Led by countries, powered by people” bukan slogan kosong.

Negara perlu memastikan diagnosis dan obat mudah diakses, alur rujukan tidak berbelit, edukasi sampai ke klinik swasta, dan pengawasan penjualan obat lebih tegas. Tetapi semua itu tidak akan cukup tanpa kepercayaan dari masyarakat. Orang harus merasa bahwa ketika mereka datang memeriksakan batuk lama, mereka tidak sedang melangkah ke ruang penghakiman. Mereka sedang melangkah ke jalan sembuh. TBC adalah penyakit yang dapat dicegah dan diobati. Yang sering membuatnya terasa menakutkan bukan semata kumannya, tetapi jarak antara sistem kesehatan dan rasa aman pasien.

Pada akhirnya, TBC bukan hanya urusan paru-paru

Hari Tuberkulosis Sedunia seharusnya mengingatkan kita bahwa TBC bukan hanya urusan batuk, paru-paru, atau hasil foto rontgen. Ia adalah soal kemiskinan, kepadatan rumah, stigma, ketakutan, akses layanan, kedisiplinan minum obat, dan keberanian keluarga untuk saling melindungi.

Di faskes tingkat pertama, saya sering menjadi orang pertama yang mendengar batuk itu, melihat kurusnya, menangkap kecemasan itu. Tetapi perjuangan melawan TBC tidak selesai di ruang periksa. Ia baru benar-benar dimulai ketika pasien mau melanjutkan pemeriksaan, keluarga mau diperiksa, masyarakat berhenti memberi cap, dan sistem kesehatan berhenti membuat orang merasa sendirian. Karena kalau tahun ini dunia berkata, “Yes! We Can End TB,” maka di ruang-ruang kecil pelayanan primer, kalimat itu harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang lebih membumi: ya, kita bisa mengakhiri TBC, asal pasien tidak dibiarkan takut sendirian.

Ruteng, 22 Maret 2026.


메타데이터
post_id
a02a2e949281
slug
tbc-penyakit-lama-yang-masih-membuat-orang-takut-datang-berobat-a02a2e949281
url
https://medium.com/@ronald.susilo950/tbc-penyakit-lama-yang-masih-membuat-orang-takut-datang-berobat-a02a2e949281
canonical_url
https://medium.com/@ronald.susilo950/tbc-penyakit-lama-yang-masih-membuat-orang-takut-datang-berobat-a02a2e949281
author_url
https://medium.com/@ronald.susilo950
status
ok
fetched_at
2026-06-13 16:00:06