Bab 10 — Sebelum Nama-Nama Itu Dibacakan
Satu hari sebelum semuanya mulai terasa nyata.
Bab 10 — Sebelum Nama-Nama Itu Dibacakan
Satu hari sebelum semuanya mulai terasa nyata.
Langit sore menggantungkan sunyinya di atas halaman sekolah. Angin berjalan pelan, seolah tahu bahwa besok ada yang akan berubah. Hari ini … bukan sekadar sehari sebelum LDKO. Tapi juga … satu hari sebelum semuanya terasa lebih dekat, lebih jelas — dan mungkin, lebih rumit.
Senara duduk di kursi panjang depan kelas, rundown acara tergenggam di tangan, namun tak satu pun kata benar-benar ia baca. Matanya menatap kertas, tapi pikirannya sibuk merangkai pertanyaan-pertanyaan yang tak sempat ia ucapkan.
Satu minggu setelah perjalanan motor itu, dan belum ada chat dari Eez. Satu minggu setelah diam mereka terasa begitu penuh … dan tak satu pun keberanian untuk melanjutkan.
“Lo bawa kaus kaki cadangan, kan?” tanya Nala sambil memeriksa tas kecilnya yang penuh.
“Udah,” jawab Senara singkat, matanya masih tertuju ke depan. Bukan karena ingin menghindar. Tapi karena hatinya sedang sibuk memeluk satu nama: Eez.
“Kayaknya bakal capek, ya. Tapi seru juga kalau sekamar sama orang baru,” celetuk Fira di sampingnya.
Senara mengangguk kecil. Ia terlalu sibuk menahan hal-hal yang tak bisa ia ceritakan — tentang rasa penasaran, tentang diam yang membuat dadanya penuh.
Malam harinya, di kamar. Lampu temaram menyorot bayangan di dinding. Senara duduk bersandar di kasur, menatap isi tas yang sudah rapi. Di sela tumpukan baju, terselip secarik kertas kecil yang belum sempat ia buang.
“Kalau kamu emang perhatian, kenapa kamu nggak pernah nanya apa yang sebenarnya aku pikirin?”
Kalimat yang ia tulis sendiri. Tapi tak pernah ia kirim. Karena Eez… tak pernah bertanya. Dan ia terlalu takut jika harus jujur duluan.
Layar ponselnya menyala pelan.
Eez Danendra
“Jangan lupa bawa minyak kayu putih. Nggak semua pusing butuh alasan.”
Bibir Senara membentuk senyum kecil. Karena perhatian itu… tak selalu besar. Kadang justru muncul lewat hal-hal remeh yang datang paling diam.
Pagi harinya.
Gedung aula utama tampak berbeda hari ini. Siswa-siswi baru — terpilih jadi peserta LDKO — duduk berseragam rapi, wajah tegang, tapi penuh harap. Tak ada yang tahu pasti, siapa akan jadi apa. Tapi semua paham, setelah hari ini… semuanya akan berubah.
Senara berdiri di barisan belakang, langkahnya melambat saat matanya menemukan Eez.
Ia duduk di sisi kanan aula. Tenang. Seperti biasa. Tapi ada sesuatu di matanya — seperti sedang mencari. Dan ketika pandangan mereka bertemu, hanya sedetik… tapi cukup untuk membuat waktu terasa berhenti.
Tak ada senyum. Tak ada sapa. Hanya tatapan… dan rasa yang menggantung di antaranya.
Di sisi Senara, Nala mencolek lengannya.
“Eh, itu bukan yang nganterin lo waktu itu?” bisiknya, pelan tapi tajam.
Fira yang mendengar langsung membelalak. “Apa? Lo dianterin cowok?!”
“Shhh!” Senara menoleh cepat, pipinya memanas. “Udah, deh.”
Tapi dua temannya itu sudah penuh tanda tanya.
Dan Senara… hanya bisa menarik napas. Karena sebelum ia menjelaskan apa pun — semuanya sudah berubah jadi perasaan yang belum sempat diceritakan.
To be continued…
메타데이터
- post_id
- a056ca7beb43
- slug
- bab-10-sebelum-nama-nama-itu-dibacakan-a056ca7beb43
- url
- https://medium.com/@dellazulfia28/bab-10-sebelum-nama-nama-itu-dibacakan-a056ca7beb43
- canonical_url
- https://medium.com/@dellazulfia28/bab-10-sebelum-nama-nama-itu-dibacakan-a056ca7beb43
- author_url
- https://medium.com/@dellazulfia28
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 21:52:29