What happened to my money?
Photo by Jason Leung on Unsplash
What happened to my money?

Photo by Jason Leung on Unsplash
Setelah perayaan idul fitri dengan gegap gempita yang memerlukan pengeluaran lebih dari biasanya, saatnya kita kembali ke realita. Huru hara polemik Amerika Serikat dan Israel yang menyerang Iran dan menyebabkan ditutupnya selat Hormuz menjadi pemicu krisis energi yang terjadi di dunia.
Lonjakan harga minyak, gas, listrik serta bahan pokok adalah dampak dari krisis energi yang terjadi. Indonesia yang masih termasuk ke dalam negara berkembang tentu akan menjadi yang sangat terdampak dalam situasi ini.
Di tambah lagi pemerintah dengan program unggulan MBG nya yang memakan anggaran luar biasa yang seharusnya bisa dialihkan untuk menanggulangi adanya krisis ini.
Tentu sebagai rakyat kita tidak bisa berharap pada pemerintah kita, kebijakan aneh yang nantinya mereka keluarkan sudah diluar dari kendali kita. Begitu juga dengan perang yang terjadi. Satu-satunya cara yang harus kita lakukan adalah mempelajari dan menerapkan ilmu keuangan.
Mendapatkan materi literasi keuangan secara cuma-cuma dari upgrading kantor saya, membuat pemikiran saya menjadi lebih terbuka. Menjadi generasi sandwich sempat menjebak saya di pemikiran “untuk apa dicatat toh uang yang saya dapatkan ujungnya juga akan habis”
Saya jadi tidak tau pendapatan saya ini larinya kemana saja, pengeluaran bulanan saya untuk listrik atau bensin dalam sebulan tuh berapa? yang ada dipikiran ya selagi uangnya masih cukup bertahan sampai akhir bulan kenapa engga.
Namun pemikiran itu semakin terkikis dengan adanya upgrading keuangan, obrolan dari rekan kerja yang membahas investasi sampai akhirnya ada rekan kerja yang membuat website pencatatan keuangan. Padahal sebelumnya dengan gaji 3 juta hidup saya rasanya sudah cukup.
Lalu dengan naiknya pendapatan, seharusnya ada bagian pendapatan yang bisa dialihkan untuk investasi. Namun saya malah tergiur membeli liabilitas yang rasanya ga ada urgensi nya.
Langkah kecil pertama yang saya lakukan adalah mencatat, awalnya dari aplikasi gratisan di play store dan spreadsheet, tapi ya itu tidak konsisten akhirnya. Akhirnya saya tertarik menggunakan website pencatatan keuangan yang dibuat temen saya, rinkweb namanya.
Alhamdulillah sudah 2 bulan berturut-turut ini saya konsisten catatkan semua pengeluaran saya disana, memang seringkali rasa malas menghantui saya, ya itu dia cobaan nya. Tapi kalau dibiarkan terus saya tidak tau kemana larinya uang saya, tidak tau sebagian besar pengeluaran saya dimana dan yang paling gawat tidak punya dana pribadi.
Dengan perubahan kebiasaan pencatatan keuangan yang saya lakukan, membawa dampak yang cukup signifikan. Ada perasaan senang tersendiri ketika saya bisa melihat laporan keuangan diri saya sendiri, sebagai bentuk pertimbangan dan evaluasi apa yang saya harus lakukan selanjutnya.
Baik itu investasi, tabungan untuk tiap-tiap pos, sampai buat anggaran khusus. Agar ke depannya pencatatan keuangan saya bisa lebih rapih lagi.
Jadi jangan tunggu ada uang nya dulu, tapi catat pemasukan dan pengeluarannya dulu. Sekecil apapun uang yang masuk atau keluar akan berdampak besar di kemudian hari nanti.
Kalau bukan sekarang kapan lagi? nunggu sampai uangnya habis tak tersisa dan cuma rasa penyesalan saja? jangan sampai seperti itu apalagi di tengah ekonomi yang segila ini.
Ingat, kebiasaan kecil hari ini bisa menentukan kondisi keuanganmu di masa depan. Jadi, mulai catat sekarang juga! Jangan sampai jadi aku di masa lalu ya!
메타데이터
- post_id
- a08510b5697c
- slug
- what-happened-to-my-money-a08510b5697c
- url
- https://medium.com/@zharafh/what-happened-to-my-money-a08510b5697c
- canonical_url
- https://medium.com/@zharafh/what-happened-to-my-money-a08510b5697c
- author_url
- https://medium.com/@zharafh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-17 21:26:36