Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Milik Negara
Ulasan Kisah Sang Handmaid (The Handmaid’s Tale) karya Margaret Atwood
Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Milik Negara
Ulasan Kisah Sang Handmaid (The Handmaid’s Tale) karya Margaret Atwood
Foto oleh The Cleveland Museum of Art di Unsplash
Ibuku suka menonton acara macam itu: bersifat sejarah dan mendidik. Dia berusaha menjelaskan kepadaku setelahnya, memberitahuku bahwa hal-hal di acara itu benar-benar telah terjadi, tapi bagiku mereka hanyalah cerita. Kukira seseorang mengarangnya. Kurasa semua anak-anak berpikir demikian, tentang sejarah apa pun yang terjadi sebelum zaman mereka. Kalau itu hanyalah cerita, ia menjadi tak terlalu menakutkan. hlm. 215
Bayangin kalau suatu hari dunia tiba-tiba berubah total. Hak-hak yang selama ini kita anggap biasa—seperti kebebasan berpikir, bekerja, atau bahkan menentukan jalan hidup sendiri—tiba-tiba direnggut begitu saja. Kedengaran seperti mimpi buruk, kan? Itulah gambaran yang dibawakan Margaret Atwood dalam Kisah Sang Handmaid, sebuah novel distopia yang walaupun sudah terbit berpuluh-puluh tahun yang lalu, kisahnya dapat menjadi sebuah refleksi yang mengajak kita mempertanyakan makna kebebasan, kekuasaan, dan hak asasi manusia.
PERINGATAN! Buku ini memuat tema perselingkuhan, kematian, kehamilan yang dipaksakan, hukuman gantung, prostitusi, pemerkosaan, dan seksisme.
Bagiku, novel distopia ini masih sangat relevan hingga saat ini. Berbagai isu yang diangkat di dalamnya tetap menjadi perbincangan di berbagai belahan dunia, terutama mengenai kerentanan kebebasan perempuan yang sewaktu-waktu dapat direnggut atas nama kepentingan negara.

The Handmaid’s Tale series via IMDb
Kisah berlatar di Republik Gilead, sebuah negara yang lahir setelah runtuhnya pemerintahan Amerika Serikat akibat krisis politik, lingkungan, dan menurunnya angka kelahiran.
Gilead menerapkan sistem pemerintahan yang sangat otoriter dengan berlandaskan tafsir agama yang ketat. Dalam masyarakat ini, setiap orang memiliki peran yang telah ditentukan, terutama perempuan. Di sana, perempuan tidak lagi memiliki hak atas dirinya sendiri. Mereka diklasifikasikan berdasarkan fungsi yang bisa mereka jalankan, yakni menjadi istri, pelayan rumah tangga (Martha), dan Handmaid.

The Handmaid’s Tale series via IMDb
Para Handmaid adalah perempuan-perempuan yang dipaksa mengandung dan melahirkan anak bagi para pejabat tinggi yang istrinya tidak lagi dapat memiliki keturunan. Identitas mereka dihapus, pilihan hidup mereka dirampas, dan keberadaan mereka direduksi menjadi satu fungsi biologis semata, yakni menjadi wadah untuk melahirkan anak.
Tokoh utama dalam cerita adalah Offred, seorang perempuan yang kehilangan identitas, keluarga, dan kebebasannya. Nama Offred sendiri bukanlah nama asli, melainkan penanda bahwa ia adalah milik seorang Komandan bernama Fred.
Offred dulu memiliki suami, anak, dan pekerjaan yang ia cintai. Namun, setelah rezim baru mengambil alih, semua yang ia punya sirna begitu saja. Kini ia hanyalah seorang Handmaid yang ditempatkan di rumah seorang Komandan dan istrinya, menjalani hidup di bawah pengawasan ketat, tanpa kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Melalui sudut pandang Offred, kita diajak melihat kehidupan sehari-hari di Gilead yang penuh aturan, pengawasan, dan nuansa ketakutan. Pun, perlahan-lahan kisah masa lalu Offred sebelum Gilead berdiri mulai terungkap, memperlihatkan bagaimana kebebasan hidup yang dulu kita anggap biasa saja ternyata bisa hilang dalam waktu sekejap mata.

The Handmaid’s Tale series via IMDb
Isu-isu yang dibahas
Yang dia sampaikan kepada kami, seperti yang disiratkan senyum tenangnya, adalah untuk kebaikan kami sendiri. Semuanya akan segera baik-baik saja. Saya berjanji. Perdamaian akan tercipta. Kalian harus istirahat. Kalian harus pergi tidur, seperti anak-anak penurut. Dia memberitahukan apa yang ingin kami percayai. Dia begitu meyakinkan. hlm. 127
Salah satu isu utama dalam novel ini adalah hilangnya hak-hak perempuan. Di Gilead, perempuan kehilangan kebebasan untuk bekerja, membaca, memiliki harta, bahkan menentukan masa depan mereka sendiri. Tubuh perempuan diperlakukan semata-mata sebagai alat reproduksi yang sepenuhnya dikendalikan oleh negara. Kondisi tersebut terjadi setelah runtuhnya pemerintahan Amerika Serikat dan berdirinya rezim Gilead yang menggunakan kekuasaan serta tafsir agama untuk mengendalikan kehidupan masyarakat.
Melalui gambaran tersebut, penulis menunjukkan bagaimana pemerintahan yang terlalu kuat dapat mengontrol kehidupan masyarakat hingga ke ranah yang paling pribadi. Ketika kritik dibungkam dan kebebasan dibatasi, masyarakat perlahan kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan ketidakadilan.

The Handmaid’s Tale series via IMDb
Sebuah sistem tidak boleh diterima begitu saja tanpa dipertanyakan, terutama ketika mulai membatasi hak-hak dasar manusia. Setiap kebijakan atau aturan perlu dikritisi agar tidak menjadi alat yang digunakan untuk melegitimasi penyalahgunaan kekuasaan.
Perubahan besar dalam masyarakat sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung secara bertahap melalui pembatasan-pembatasan kecil yang awalnya dianggap wajar atau bahkan diperlukan. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, masyarakat dapat perlahan kehilangan berbagai hak dan kebebasan tanpa benar-benar menyadari bahwa ruang gerak mereka semakin sempit. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap kebijakan, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan keberanian untuk menyuarakan ketidakadilan menjadi hal yang penting agar kebebasan tidak mudah direnggut oleh pihak yang memiliki kekuasaan.
Rezim waktu itu dengan cepat menciptakan kelompok perempuan itu dengan menggunakan taktik sederhana, yaitu menyatakan bahwa semua pernikahan kedua dan hubungan seksual di luar pernikahan sebagai zina, menangkap para perempuan dalam hubungan tersebut, dan, dengan berdalih bahwa mereka cacat secara moral, mengambil anak-anak mereka yang kemudian diadopsi oleh para pasangan tanpa anak di eselon atas yang begitu ingin punya keturunan dengan cara apa pun. hlm. 432
Isu lain yang tidak kalah penting adalah manipulasi agama. Novel ini memperlihatkan bagaimana ajaran agama dapat disalahgunakan demi mempertahankan kekuasaan dan membenarkan tindakan yang sebenarnya melanggar nilai-nilai kemanusiaan. Tentunya, kritik penulis bukan ditujukan pada agama itu sendiri, melainkan pada penyalahgunaan tafsir agama untuk kepentingan politik.
Ceritakan, daripada tuliskan, sebab aku tak punya apa pun untuk dipakai menulis dan tulisan dalam hal apa pun dilarang. Tapi, kalau itu suatu kisah, bahkan di dalam kepalaku, aku pastilah menceritakannya ke seseorang. Kau tidak menceritakan suatu kisah hanya untuk dirimu. Selalu ada orang lain. hlm. 67
Novel ini pun mengangkat pentingnya menjaga ingatan sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan. Melalui kenangan Offred tentang kehidupan sebelum berdirinya Gilead, pembaca diajak melihat perbedaan yang begitu kontras antara masa lalu yang penuh kebebasan dan kehidupan yang kini dibatasi oleh aturan-aturan represif. Kenangan tersebut menjadi pengingat bahwa kebebasan sering kali baru benar-benar disadari nilainya setelah direnggut. Hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa, seperti hak untuk berbicara, belajar, bekerja, memilih jalan hidup, dan menentukan masa depan sendiri, ternyata dapat hilang ketika kekuasaan yang otoriter menguasai kehidupan masyarakat.
Novel ini menegaskan bahwa kebebasan bukanlah sesuatu yang dapat dianggap remeh atau diterima sebagai hal yang akan selalu ada. Masyarakat perlu menjaga, menghargai, dan memperjuangkan hak-hak tersebut agar tidak perlahan hilang akibat pembatasan yang dilakukan atas nama kepentingan tertentu.
Bagi generasi setelah kalian ini akan lebih mudah. Mereka akan menerima kewajiban mereka dengan hati yang rela. Dia tidak mengatakan: Sebab mereka tidak ingat, tidak tahu bahwa ada cara lain. Dia mengatakan: Sebab mereka tidak akan menginginkan hal-hal yang tak bisa mereka miliki. hlm. 176

Sampul buku Kisah Sang Handmaid (The Handmaid’s Tale) karya Margaret Atwood, edisi Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Stefanny Irawan.
Hal yang aku sukai dari novel ini adalah penggambaran latar tempat dan suasana, yakni Republik Gilead yang mencekam. Gilead terasa begitu nyata karena sistem sosial, politik, dan budayanya dijelaskan secara perlahan melalui pengalaman tokoh utama. Aku tidak merasa sedang diberi penjelasan, tetapi ikut hidup di dalam dunia tersebut.
Rasanya sangat menyeramkan. Membayangkan bahwa kebebasan yang kita punya saat ini bisa tiba-tiba hilang begitu saja karena pengaruh politik... terdengar sangat mengerikan.
Kalian para anak muda tidak menghargai banyak hal. Kalian tidak tahu apa yang harus kami lalui, hanya untuk membuat kalian menikmati apa yang ada sekarang. Tidakkah kalian tahu berapa banyak nyawa perempuan, berapa banyak tubuh perempuan, yang harus dilindas oleh tank-tank itu hanya untuk mewujudkannya? hlm. 182
Karakter Offred juga ditulis dengan sangat manusiawi. Ia tidak tampak sebagai tokoh utama yang selalu berani, melainkan tampak seperti tokoh utama yang realistis yang juga dapat merasa takut, ragu, dan ingin bertahan hidup bagaimana pun caranya. Hal tersebut membuatku lebih mudah bersimpati padanya dan memahami pilihan-pilihannya, bahkan ketika keputusan yang dia ambil terasa tidak ideal.

The Handmaid’s Tale series via IMDb
Lagipula, bagaimana mungkin mereka dapat melawan sistem yang begitu besar dan telah mengakar dengan mudah? Gagasan untuk melakukan perlawanan mungkin terdengar sederhana, tetapi kenyataannya jauh lebih sulit untuk diwujudkan. Terlebih lagi, mereka merupakan bagian dari kelompok yang rentan sehingga memiliki ruang gerak dan kekuatan yang sangat terbatas untuk menentang kekuasaan.
Bagi sebagian pembaca, alur cerita novel ini mungkin terasa lambat. Ditambah, isinya lebih banyak berupa refleksi, ingatan, dan percakapan batin tokoh utama dibandingkan aksi pemberontakan yang dramatis dan penuh kejutan. Namun bagiku, di situlah letak kekuatannya.
Atmosfer ketegangan cerita tidak dibangun lewat adegan aksi, melainkan melalui kecemasan, ketidakpastian, dan secercah harapan kecil yang terus dijaga oleh tokoh utama. Ceritanya pun mungkin akan membuat pembaca merasa tidak nyaman, marah, atau sedih.
Bagiku, novel ini merupakan pengingat bahwa kebebasan, martabat manusia, dan hak-hak dasar bukanlah sesuatu yang dapat dianggap akan selalu ada. Ketiganya perlu dijaga, dihormati, dan diperjuangkan agar tidak mudah direnggut oleh kekuasaan yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Hilangnya kebebasan seringkali terjadi secara perlahan sehingga masyarakat perlu tetap bersikap kritis terhadap setiap bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang berpotensi mengancam hak-hak tersebut.
Seperti yang diketahui oleh semua ahli sejarah, masa lalu adalah kegelapan yang luas, dan penuh gema. Suara-suara mungkin menggapai kita dari sana, tapi apa yang mereka katakan kepada kita diwarnai oleh ketidakjelasan yang melingkupi tempat asal mereka, dan sekeras apa pun mencoba, kita tidak selalu berhasil mengartikan suara-suara itu dengan tepat menggunakan pemahaman atau cahaya dari masa ini. hlm. 443
Just for your information, apabila kalian ingin merasakan ketegangan yang dialami Offred secara visual, novel ini sudah diadaptasi menjadi serial dengan judul yang sama, The Handmaid’s Tale dan disutradarai oleh Bruce Miller. Selamat membaca dan menonton! ^^
Punya tulisan tentang buku? Terbitkan di Booknotations. Daftar sekarang dan cek panduannya!
[embed]Submission Guideline — Booknotations Panduan mengirim tulisan ke Booknotationsmedium.com
메타데이터
- post_id
- a09f126b5948
- slug
- ketika-tubuh-perempuan-menjadi-milik-negara-a09f126b5948
- url
- https://medium.com/booknotations/ketika-tubuh-perempuan-menjadi-milik-negara-a09f126b5948
- canonical_url
- https://medium.com/booknotations/ketika-tubuh-perempuan-menjadi-milik-negara-a09f126b5948
- author_url
- https://medium.com/@whisperivy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 22:45:43