← Back to list

Di Antara Sorak dan Pasal-Pasal Tak Tertulis

Ia masih kecil ketika hati pertama kali belajar gundah — bukan gundah yang gaduh, melainkan yang bekerja diam-diam di kardia. Episode masa…

haizuaf · 2025-12-26 00:45 · 22 claps · 1.2 min read
#academic-validation #life #writing
Open on Medium ↗
Wiki topics: MM · Multimodal & Generative Media

Di Antara Sorak dan Pasal-Pasal Tak Tertulis

Ia masih kecil ketika hati pertama kali belajar gundah — bukan gundah yang gaduh, melainkan yang bekerja diam-diam di kardia. Episode masa kecil tidak pernah benar-benar kosong sebab penuh oleh daftar yang tak tertulis, oleh syarat-syarat yang tidak diumumkan. Sejatinya, Ia mencintai rumahnya, tetapi rumah itu malar-malar meminta bukti, seolah cinta adalah kontrak yang harus diperpanjang berkala.

Cukup bukan ukuran, cukup hanyalah jeda sebelum tuntutan berikutnya. Juara diraih, angka-angka berbaris rapi, nama dipanggil dengan nada berseru. Prestasi gemilang itu berjalan amikal di hadapan orang dewasa, membuat kepala diangguk-anggukkan, membuat senyum singgah sebentar. Ia juga membantu hal-hal yang semestinya belum dipikul. Namun semua itu terasa seperti menimba air dengan keranjang: ada yang masuk, tapi tak pernah tinggal. Tidak cukup. Selalu tidak cukup.

Kata-kata disusun rapi seperti pasal, menuding dengan tenang. Kepetang-kepetang tertentu menjadi saksi. Semesta, dalam rumah itu, bekerja dengan logika oksimoron.

Pelan-pelan, dunia di kepalanya merakit sebuah kesimpulan: menang adalah bahasa yang dimengerti semua orang. Maka Ia mengejar kemenangan seperti doa, seperti ritual, seperti jalan pulang. Nomor satu menjadi kompas. Takut jika turun satu langkah, kasih akan pungkur, memunggungi tanpa pamit. Ia belajar jadi bajingan, menyingkirkan empati yang dianggap menghambat.

Obsesi itu tumbuh subur. Ia menakar nilai dirinya dengan peringkat, menimbang napasnya dengan medali. Setiap kemenangan terasa seperti oksigen tambahan, setiap kekalahan seperti sesak yang tak boleh diakui. Di hadapan orang, berseru dengan percaya diri. Di belakang pintu, kardia berdebar terlalu keras, menagih pengakuan yang tak kunjung datang. Ia mengira keras adalah kebal, padahal keras hanya cara lain untuk menahan runtuh.

Bertahun-tahun kemudian, Ia baru mengerti. Kasih yang bersyarat melahirkan anak yang selalu lapar. Ia menjadi juara, ya — tetapi di sela sorak, ada seorang anak kecil yang masih berdiri di kepetang, bertanya pada semesta yang janggal: apakah aku boleh dicintai tanpa harus jadi nomor satu?


메타데이터
post_id
a0c3eaa5a4c9
slug
di-antara-sorak-dan-pasal-pasal-tak-tertulis-a0c3eaa5a4c9
url
https://medium.com/@haizuaf/di-antara-sorak-dan-pasal-pasal-tak-tertulis-a0c3eaa5a4c9
canonical_url
https://medium.com/@haizuaf/di-antara-sorak-dan-pasal-pasal-tak-tertulis-a0c3eaa5a4c9
author_url
https://medium.com/@haizuaf
status
ok
fetched_at
2026-06-24 23:31:39