← Back to list

Ternate Dalam Ukiran Gamalama

Menjulang dengan puncak setinggi 1715 mdpl, gunungapi itu terlihat dari seluruh penjuru kota Ternate. Sebelum mendarat di Bandara Sultan…

Anton Jo · 2020-06-03 16:46 · 75 claps · 4.4 min read
#gamalama #gunung-gamalama #ternate
Open on Medium ↗

Ternate Dalam Ukiran Gamalama

Batuangus sebgai foreground Gamalama, 2011.

Batuangus sebgai foreground Gamalama, 2011.

Menjulang dengan puncak setinggi 1715 mdpl, gunungapi itu terlihat dari seluruh penjuru kota Ternate. Sebelum mendarat di Bandara Sultan Babullah, pemandangan dari udara memperlihatkan bangunan setempat tampak kecil dan pemukiman yang menyemut hingga ke lereng kakinya.

Masyarakat setempat menyebutnya Kie Gam Lamo–’negeri yang besar’, yang kemudian disingkat menjadi Gamalama.

Seperti pada umumnya pulau yang terbentuk dari sisa letusan gunungapi, Gamalama juga menyuburkan Ternate; kondisi tanah vulkanis, menghasilkan Cengkeh Afo khas Desa Marikurubu, yang menjadi komiditi legendaris sejak jaman kolonial; tanah regosol yang berpasir dan podsolik yang beku, keduanya bermanfaat sebagai material dan fondasi mayoritas bangunan di kota kepulauan seluas 547,736 km² ini.

Peran Ternate sebagai salah satu kota perekonomian penting di timur Indonesia juga berpengaruh pada peningkatan jumlah penduduknya. Sensus terakhir (2010) mencatat terjadi peningkatan 22.539 jiwa dari 5 tahun sebelumnya, menjadi 185.705 jiwa. Peningkatan ini seakan tak menghiraukan ancaman letusan gamalama yang menghancurkan dan tak terprediksi.

Uniknya, mereka melakukan ritual agar terhindar dari bencana Gamalama: Setahun sekali mereka mengelilingi gunung yang dianggap suci ini. Ritual yang terinspirasi dari Tawaf — tradisi umat muslim mengelilingi Ka’bah (bangunan suci umat muslim). Untuk menjalankan ritual ini Kesultanan Ternate menugaskan seorang Kapitan (berperan sama dengan kuncen di Jawa — jabatan bagi pengurus gunungapi untuk menjaga dan menginformasikan kondisi Gamalama dari sisi spiritual atau mistis).

Bertemu Sang Kapitan Gamalan

Saya menemui Pak Djamal, Sang kapitan Gamalama. Dia mengatakan setiap bulan April masyarakat melakukan ritual Kololi Kei atau berjalan mengelilingi Gamalama. Mereka berharap agar Gamalama tak meletus. “Kegiatan itu rutin kami lakukan, meski letusan tak bisa dihindari,” jelas kapitan yang tinggal di Desa Marikurubu itu.

“Letusan awal Gamalama telah terjadi sejak tahun 1510,” seperti ditulis dalam jurnal Smithsonian Institution, lembaga swasta yang meneliti sejarah alam. Letusan itu terjadi melalui beberapa periode yang menghasilkan letusan kecil dan besar. Secara vulkanologis gamalama memiliki dua jenis erupsi yang umum terjadi; yaitu erupsi freatik–material magma akan ikut terlontar keluar, dan erupsi magmatik–berupa aliran lava yang biasanya disertai awan panas.

Gamalama tak seperti gunungapi pada umumnya yang hanya memiliki kawah di dekat puncak, uniknya disini ia juga menyebar hampir diseluruh pulau. Hingga kini sisa letusan itu masih bisa dijumpai; selain memanfaatkan sebagai bahan tambang, warga menjadikanya sebagai atraksi wisata.

Tolire Besar, 2011

Tolire Besar, 2011

Desa yang Tenggelam

“Batunya om.. seribu saja,” ujar salah seorang anak kecil yang mendatangi pengunjung di pintu masuk objek wisata Tolire Jaha. Mereka menjual batu seukuran kerikil yang dibungkus dalam seikat plastik sebesar genggaman tangan. Nantinya batu-batu itu akan dilemparkan ke dasar kawah. Mereka yakin batu-batu itu tak akan sampai ke dasar kawah berair yang berjarak kurang lebih 50m itu.

Sebelum menjadi objek wisata, sisi bawah baratdaya Gamalama ini adalah lokasi Desa Soela Takomi. Terletak 500m dari garis pantai, dulu desa itu sangat makmur. Catatan Gogarten, seorang vulkanolog asal Belanda yang melakukan penelitian tahun 1918, menyebutkan erupsi freatik yang terjadi pada 20 Agustus hingga 6 September 1775 adalah penyebab tenggelamnya desa seluas 5 ha ini dan menelan 141 korban jiwa.

Bagi Pulau Ternate, sisa erupsi itu meninggalkan kawah berdiameter 700m. Sementara bagi warga, peristiwa itu meninggalkan kisah tentang pesta warga desa yang berlangsung sesaat sebelum erupsi: saat itu banyak harta milik warga yang tenggelam. Hingga kini banyak pengunjung kesini untuk mencari kebenaran kisah itu.

“Mereka turun ke dasar kawah sambil membawa detektor logam. karena pernah ada yang nemu emas disini,” ujar Ali, penjaga Tolire Besar. Ali menjelaskan, satu-satunya alasan yang membatasi aktivitas mereka adalah keberadaan seekor buaya liar berwarna hitam yang kerap menampakkan diri. “Banyak dari pengunjung sering melihat buaya dengan panjang hampir 4m ini,” katanya.

Tolire Jaha atau lubang besar, memiliki nama lengkap dalam bahasa setempat: warga menyebutnya Tolire Gam Jaha — lubang besar kampung (ditujukan untuk desa yang tenggelam itu).

Tolire Kecil

Bersamaan dengan erupsi tahun 1775 yang menenggelamkan Desa Soela Takomi; erupsi serupa juga terjadi di lokasi 250m arah barat laut Tolire besar– hasilnya berupa kawah berdiameter 300m. Warga menyebutnya Tolire Kecil yang berarti lubang kecil. Seperti dijelaskan dalam laporan tahun 1980 Jack Lockwood, vulkanolog dari U.S. Geological Survey.

Selain perbedaan diameter yang lebih kecil dari Tolire Jaha, erupsi disini tidak memakan korban jiwa, karena letaknya jauh dari perkampungan. Saat kami berada di lokasi yang terletak di pingir jalan pesisir pantai, sudah tak jelas batas antara bibir kawah Tolire Kecil dengan garis pantai; Karena hanya berjarak sekitar 10m.

Sejumlah ahli vulkanolog menduga, pergeseran garis pantai ke arah darat yang menyebabkan Tolire Kecil tidak terlihat sebagai suatu kawah. Ditambah dengan tumbuhnya vegetasi sebagai pemicu pendangkalan.

Berbeda dengan Tolire Jaha yang menjadi objek wisata, di Tolire Kecil tak seorang pun kami temui.

Batas pertemuan Tolire Kecil (kanan) dengan garis pantai (kiri), 2011.

Batas pertemuan Tolire Kecil (kanan) dengan garis pantai (kiri), 2011.

Berhadapan langsung dengan Pulau Hiri, Pantai Sulamadaha merupakan tujuan wisata akhir pekan yang menawarkan banyak pilihan. Air laut nya yang jernih biasa dimanfaatkan untuk berenang, snorkeling, hingga diving.

Pantai Sulamadaha adalah pantai berpasir hitam yang merupakan endapan dari Volcanic Ash–abu sisa erupsi Gunungapi Gamalama. Sementara warna hitam pada pasir disebabkan adanya kandungan mineral magnetit berwarna gelap dan menjadi indikasi pasir yang dihasilkan dari erupsi gunungapi.

Pantai pasir hitam, 2011.

Pantai pasir hitam, 2011.

Bahan Galian ‘C’

Siang itu sejumlah truk hilir-mudik di sepanjang pesisir pantai timurlaut Ternate. Mereka sibuk mengangkut batu-batu yang bentuknya tak beraturan. Batunya hitam, keras, berlubang, sebagian ada yang melingkar, dan ia terlihat layaknya seni pahatan abstrak hasil ukiran Gamalama.

Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang melakukan penelitian di Ternate pada tahun 1858, pernah mendeskripsikan batu-batu itu dalam buku The Malay Archipelago: “Aliran lava berwarna hitam, mengalir jauh menuju laut, mengeras dan tumbuh sedikit vegetasi diatasnya. Oleh karena warnanya yang hitam seperti batu yang hangus, maka warga menyebutnya batuangus.”

Secara ilmiah batuangus adalah blocky lava atau aliran yang sudah membeku dari lahar dingin puncak utara Gamalama. Menurut buku Volcanology Survey of Indonesia (VSI), erupsi pertama terjadi pada 10–13 Maret 1737. Buku VSI terbitan tahun 1994 itu juga mencatat ukuran blocky lava terbesar–berdiameter 6m.

Jumlahnya yang melimpah menyebabkan warga menggunakan batuangus sebagai sumber bahan galian C, untuk fondasi bangunan. Soleh, warga yang ikut menambang batuangus, mengatakan: “Sebagian besar bangunan di Ternate menggunakan batuangus. Fondasi Masjid Apung Ternate juga memakainya.” (*)


메타데이터
post_id
a0ff715f63c2
slug
ternate-dalam-ukiran-gamalama-a0ff715f63c2
url
https://medium.com/@antonrjo/ternate-dalam-ukiran-gamalama-a0ff715f63c2
canonical_url
https://medium.com/@antonrjo/ternate-dalam-ukiran-gamalama-a0ff715f63c2
author_url
https://medium.com/@antonrjo
status
ok
fetched_at
2026-07-29 01:30:10