← Back to list

Senjakala Gerabah: Lanskap Sitiwinangun dalam Amatan Fotografis

Pada siang yang terik, juga angin yang berembus sesekali, di sebuah dinding sisi Kantor PKK terdapat mural lusuh yang warnanya telah…

Kurnia Ngayuga Wibowo · 2025-03-17 00:33 · 35 claps · 3.3 min read
#esai #gerabah #sitiwinangun #fotografi #cirebon
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Senjakala Gerabah: Lanskap Sitiwinangun dalam Amatan Fotografis

Dokumentasi Pribadi

Dokumentasi Pribadi

Pada siang yang terik, juga angin yang berembus sesekali, di sebuah dinding sisi Kantor PKK terdapat mural lusuh yang warnanya telah memudar sepanjang hampir 15 meter. Mural itu menggambarkan tentang suatu peristiwa penting untuk desa yang sedang saya kunjungi; perihal masa kejayaan gerabah di lokasi tersebut.

Peristiwa penting itu adalah potret suasana pameran geraba pengrajin Sitiwinangun yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta pada 4–7 April 2017 dengan tajuk “Antara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat”. Kita bisa melihat gerabah dan instalasinya yang tersusun dengan rapih, suasana khidmat tamu undangan yang hadir, serta tentang bagaimana gerabah menjadi fokus perhatian utama dari setiap gestur manusia yang dihadirkan.

Mural, seperti halnya fotografi, ia hanya memproyeksikan apa yang dikehendaki oleh sang pembuat, ataupun otoritas yang memerintahnya. Sementara sesuatu yang terjadi diluar bingkai (frame) bisa jadi berbanding terbalik atau memiliki citra yang berlainan.

Sebagaimana yang terlihat di desa ini, pemandangan yang berlainan justru dapat kita saksikan secara langsung di depan gedung PKK. Lanskap desa yang diklaim sebagai sentra kerajinan gerabah, justru lebih didominasi oleh tumpukan ban bekas yang menghiasi jalanan desa hingga membanjiri halaman Kantor Kepala Desa.

Lanskap ban bekas dalam pemandangan sentra kerajinan gerabah di Sitiwinangun tentu membuat saya kebingungan. Terlebih karena jumlahnya yang masif dan beberapa memiliki ukuran yang intimidatif, sehingga secara otomatis fokus kita langsung tertuju dan tertanam dengan mudah akan hal itu.

Ban bekas mungkin tidak hanya hadir sebagai pelengkap lanskap desa yang terletak di Kabupaten Cirebon itu. Ia seolah sudah menjadi ikon yang secara otomatis menggantikan posisi gerabah yang seharusnya memegang peranan sentral seperti apa yang dicitrakan dalam mural.

Dalam suatu kesempatan, saya bertemu dengan Nurjaji, salah satu pengrajin gerabah di Sitiwinangun. Kami mengobrol banyak hal dan sesekali ia bercerita tentang masa kecilnya, serta ingatannya tentang kejayaan gerabah yang pernah mewarnai desanya.

“Dahulu hampir setiap penduduk adalah pengrajin. Saat siang hari diterik matahari, kita bisa melihat gerabah dijemur di setiap rumah, juga suara dentingan gerabah yang bersautan, juga anak-anak pengrajin yang membantu pekerjaan orang tuanya. Saya masih ingat betul akan hal itu.” ujar Nurjaji sambil tersenyum.

Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 70–80an. Ia juga menceritakan bahwa pada saat itu permintaan gerabah Sitiwinangun sangat tinggi. Para bandar atau pengepul bahkan rela menunggu di depan tungku pembakaran agar produk pesanannya bisa langsung dikirim. Gerabah yang umumnya merupakan produk domestik, masih diminati dan diandalkan, karena karakteristik gerabah Sitiwinangun yang dinilai kuat untuk peruntukan itu.

Lanskap Sitiwinangun dalam ingatan Nurjaji dapat dikatakan sebagai pemandangan ideal sentra kerajinan gerabah. Ia tidak hanya hadir sebagai pusat putaran ekonomi yang menghidupi masyarakatnya, tetapi juga merepresentasikan dirinya sebagai ikon natural desanya yang mudah diidentifikasi. Lanskap dalam ingatan Nurjaji juga yang mungkin diharapkan oleh pengunjung yang ingin mengenal tentang sentra kerajinan gerabah. Suasana yang baru bagi mereka, sekaligus menciptakan ingatan tertentu yang sejalan dengan apa yang ditampilkan dalam wujud ideal.

Sementara mural yang memiliki kaitan dengan gerabah tidak cukup kuat menjadi representasi identitas, selama tumpukan ban bekas mengintimidasi pemandangan dan suasana desa. Pun ketika suatu saat dibangun sebuah monumen besar dengan prasasti dengan tanda tangan pejabat di depannya.

Kehadiran ban bekas yang mendominasi di tengah sentra kerajinan gerabah tentu saja memiliki kompleksitas permasalahannya sendiri. Barangkali ban bekas merupakan juru selamat dan upaya untuk bertahan hidup dari kondisi pasar gerabah yang terombang-ambing.

Mereka yang mengharapkan penghidupan dari ban bekas, yang umumnya didominasi oleh pengepul, kelak akan menjumpai semacam persimpangan mengingat pengepul ban bekas bukan profesi spesifik yang menuntut seseorang untuk menjadi ahli dan persaingannya akan semakin ketat serta terus bertambah di berbagai daerah. Sehingga, tidak bisa dimungkiri, bahwa suatu saat akan membentuk pola penghidupannya yang baru, lengkap dengan lanskap yang menyesuaikannya.

Sementara itu, kerajinan gerabah yang padat karya dan diperlukan keterampilan tertentu, idealnya memilki potensi lebih besar untuk terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan zamannya. Sehingga, langkah yang perlu dilakukan adalah perumusan strategi, seperti penyesuaian produk dengan pasar, tidak jumud dengan hanya mengandalkan produk tradisional sebagai basis kepercayaan diri yang berlebihan, dan bila perlu menarasikan ulang tentang gerabah dan desanya.

Sialnya, para pengrajin gerabah maupun masyarakat desanya seolah memiliki tanggung jawab untuk melestarikan warisan leluhur tersebut, berupa pakem dan beragam turunannya yang sebenarnya sudah berada di masa genting. Hal ini menjadi beban moral tersendiri bagi mereka yang memilih untuk bertahan dengan pertimbangan tertentu di tengah peluang inovasi yang sebenarnya menjanjikan. Apakah dalam hal ini kita bisa menyebutnya sebagai kutukan kebudayaan?

Pada akhirnya lanskap Sitiwinagun menjadi pertaruhan tentang bagaimana sebuah wilayah ingin direpresentasi. Ingatan Nurjaji, maupun mural yang menghiasi dinding Kantor PKK, kelak akan terputus oleh waktu dan generasinya.***

*Tulisan ini sebelumnya sudah pernah terbit dalam Zine *“Twilight pottery of Sitiwinangun — Klab Buku Jamblang”.**

Klab Buku Jamblang

Klab Buku Jamblang

Jika kamu menyukai artikel ini dan tertarik untuk mendukung kegiatan saya dalam menulis, kamu bisa melakukannya melalui https://trakteer.id/yugaknow/tip

Terima Kasih!


메타데이터
post_id
a12d1899bc03
slug
senjakala-gerabah-lanskap-sitiwinangung-dalam-amatan-fotografis-a12d1899bc03
url
https://medium.com/@yugaknow/senjakala-gerabah-lanskap-sitiwinangung-dalam-amatan-fotografis-a12d1899bc03
canonical_url
https://medium.com/@yugaknow/senjakala-gerabah-lanskap-sitiwinangung-dalam-amatan-fotografis-a12d1899bc03
author_url
https://medium.com/@yugaknow
status
ok
fetched_at
2026-07-20 15:35:23