← Back to list

Yogyakarta 2026 — Part 1

Jadi, Januari lalu, aku melakukan migrasi musiman besar-besaran tapi cuma 2 hari dari Bungurasih menuju Jogja. Sialnya kami terdampar di…

fahreza aswin · 2026-03-14 16:02 · 16 claps · 2.8 min read
#yogjakarta #travel
Open on Medium ↗
Wiki topics: ✈️ · Travel

Yogyakarta 2026 — Part 1

Tugu Jogja

Tugu Jogja

Jadi, Januari lalu, aku melakukan migrasi musiman besar-besaran tapi cuma 2 hari dari Bungurasih menuju Jogja. Sialnya kami terdampar di Terminal Giwangan tepat jam tiga pagi karena Pak Supir bus malam Eka kelihatanya sedang kesurupan arwah Max Verstappen dan merasa sedang menyetir RB19 V6 Turbo Hybrid. Betul-betul jam tiga, sebuah waktu yang secara biologis hanya diperuntukkan bagi para hantu dan penderita insomnia akut. Sebetulnya rencana kami untuk mengambil motor sewaan masih jam setengah tujuh pagi. Perasaan kami seketika seperti melihat proyek konstruksi yang mangkrak akibat salah estimasi jadwal.

Dalam keadaan yang dinginnya sanggup menjaga ayam marinasi bertahan selama seminggu, kami berjalan gontai keluar terminal. Di sanalah, teori pengembaraan Amedeo Doda betul-betul kurasakan. Mata angin justru menyeret kami ke sebuah angkringan mungil. Penjaganya adalah sepasang suami istri yang wajahnya adalah representasi absah sebuah ketabahan — Kelak aku menyadari bahwa kenangan dari perjalanan dua hari yang kami susun seperti perencanaan audit industri ini justru kalah telak oleh sebuah angkringan tanpa nama.

Di sana, aku bertemu dengan sang Bapak yang memiliki kemampuan public speaking yang luar biasa. Sembari membakar jadah, beliau memaparkan sepak terjang anaknya di Jakarta dengan nada bicara yang frekuensinya lebih tinggi dari sirine ambulans. Menurut paparan beliau, sang anak di Jakarta sana bukanlah sekadar buruh migran biasa sepertiku di Gresik, melainkan sosok sentral yang pergerakannya sanggup memengaruhi indeks ekonomi makro. Oiya beliau menunjukan foto anaknya bersama Pak Purbaya juga.

Kami duduk pura-pura takzim saja, mendengarkan narasi kejayaan sang anak yang melesat jauh, sementara sang istri tetap setia menjaga perapian tungku teh nasgithel di sebelahnya. Di titik itu aku menyadari sebuah anomali : Inilah destinasi paling “Jogja” menurutku, sebuah ruang di mana kebahagiaan diukur bukan dari seberapa estetiknya destinasi wisata, melainkan dari seberapa kita mengosongkan gelas diri dan menengadah untuk menerima perspektif baru dari seseorang yang umumnya tidak kita datangi untuk bertukar cerita.

lanjut…

Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo

Setelah berhasil mengamankan Beat Street dan Scoopy, kami mulai menelusuri gang-gang sempit menuju Pasar Beringharjo. Di sana, mataku dimanjakan oleh ekosistem sosial warga lokal yang sangat terjaga. Anak-anak kecil menyapu halaman yang membuatku teringat para genin yang sedang menjalankan misi tingkat D tepat setelah lulus akademi ninja konpha. Ibu-ibu mengantre sayur di bak Tosa sambil membicarakan isu geopolitik lingkungan warga setempat, sementara para bapak berdiri di depan rumah dengan tatapan tajam, seolah sedang menjadi staf Quality Control yang sedang memastikan aspal jalanan masih memenuhi standar kualitas.

Sesampainya di pelataran Beringharjo, kami disambut oleh seorang mas-mas yang penampilannya melampaui standar tuksng parkir biasa. Jika kamu mengetik “American Street Outfit Inspo” di Pinterest, mas-mas ini adalah perwujudan nyatanya. Dengan jaket jins, celana corduroy yang dilinting presisi, dan topi Harley Davidson, ia tampak lebih siap ikut fashion show dibanding mengatur motor. Namun, kesaktiannya yang paling hakiki adalah memori jangka pendeknya. Ia menghafal letak ratusan motor dengan akurat. Tanpa perlu bertanya pada kami terlebih dahulu, ia sudah lebih duluan menarik motor kami dari seluruh barisan motor di sana. justru sebetulnya kami sendiri yang lupa memakai motor mana.

Singkat saja, ternyata Jogja panasnya luar biasa saat siang hari. Matahari seolah sedang menunjukkan otoritasnya dengan radiasi yang biadab. Di gang-gang menuju Keraton, kami berempat — para pemuda jomblo dengan fisik yang meragukan — resmi gagal memenuhi titah suci Dokter Tirta untuk berjalan 10 ribu langkah.

Baru sebentar melangkah, kalori hasil pembakaran getug lindri kami sudah mencapai titik bawah. Ambisi untuk hidup sehat seketika rontok, menguap bersama keringat yang membanjiri kaos. Tanpa banyak tedeng aling-aling, kami segera menempuh jalur diplomasi paling praktis: pesan becak. Biarlah target 10 ribu langkah itu menjadi urusan mereka yang punya stok tenaga tak terbatas, kami simpan untuk lain kali saja.


메타데이터
post_id
a165c72f6d62
slug
yogyakarta-2026-part-1-a165c72f6d62
url
https://medium.com/@fahrezaaswinfadillah/yogyakarta-2026-part-1-a165c72f6d62
canonical_url
https://medium.com/@fahrezaaswinfadillah/yogyakarta-2026-part-1-a165c72f6d62
author_url
https://medium.com/@fahrezaaswinfadillah
status
ok
fetched_at
2026-07-13 19:15:17