Menunda Kematian Kakek
Cerita meninggalnya laki-laki umur 78 tahun
Menunda Kematian Kakek
Photo by Tim Kilby on Unsplash
Laki-laki tua itu akhirnya menghembuskan napas terakhir di umurnya yang ke-78, tepatnya pada Jumat, 5 September 2025. Sebut saja namanya S. Di akhir hayatnya, kakek tua itu meninggalkan empat orang anak dan cucunya yang berjumlah tiga belas.
Membaca tulisan lebih dulu akan membantu pembaca memahami konteks:
[embed]Merindukan Nasi Goreng Buatan Nenek Sedikit nostalgia di rumah tuamedium.com
Tiga hari sebelumnya, ibuku mendapat kabar dari pamanku yang berada di Jogja. “Mbah kritis, Le.” ujarnya lewat WhatsApp sembari bertanya apakah aku akan pulang malam itu. Untung saja rapat isu di organisasi jurnalistik sudah kelar. Aku pun menawarkan diri untuk mengantarnya ke kediaman kakekku menggunakan sepeda motor sejauh 80 kilometer dari rumahku, tetapi ibuku menolak. Ia bilang, akan menebeng tanteku yang berada di Kartasura.
Malam itu juga, ibuku berangkat, sementara aku menunggu rumah. Setibanya di sana, ibuku mengabari jika napas dan jantung kakekku sempat berhenti. Dokter memberi saran agar diusahakan lebih dulu dengan Restitusi Jantung Paru (RJP) dan, ternyata berhasil; kakekku masih bisa diselamatkan.
Keesokan malamnya, tepatnya Rabu malam, aku menyusul ibuku ke Jogja dan meninggalkan kucingku sendirian di rumah. Setibanya di sana aku langsung beristirahat. Kamis paginya, aku diminta gantian berjaga di RSUD Wates. Pamanku harus mengurus sesuatu dan giliranku bersama ibuku berjaga di sana.
Aku pun mengajaknya ke ruang tunggu karena cuaca di luar mulai memanas, sementara kami tidak boleh masuk ke ruang Intensive Care Unit (ICU) karena keluarga hanya diperbolehkan membesuk pasien pada sore hari. Keluarga hanya akan dipanggil jika pasien kritis.
Aku membuka pembicaraan tentang kenangannya bersama sang bapak, S. Ia tidak berkomentar banyak, hanya bilang kalau tidak tega saat melihatnya meringis menahan sakit. “Sedih kalau dilihat.”
Ibuku bilang bahwa bapakku (bukan yang kandung, tentu saja) sebetulnya tidak setuju ventilator dipasangkan ke tubuh kakekku. Alasannya adalah, sakaratul maut sakitnya bukan main dan mengupayakan jantung berdetak kembali berarti membatalkan kematian.
Bapakku berargumen, meski masih ada kesempatan membantu jantung kembali berdetak dengan RJP, kakekku sejatinya sudah dianggap tiada saat itu. Sudah meninggal secara alamiah. Jika RJP berhasil, berarti kakekku justru harus merasakan kembali pedihnya sakaratul maut. Dan itu sama sekali bukan hal yang bagus.
Aku terhenyak beberapa saat sambil mengunyah roti O yang dibelikan di rumah sakit itu.
“Iya juga, ya.” ucapku lirih.
Sekitar satu jam mengobrol, pamanku menelpon. Ada panggilan keluarga pasien barusan. Benar saja dugaan kami, sekitar pukul 10 kakekku kritis lagi. Kami pun diminta segera mendatangi ruang ICU.
Menggunakan lift, kami pun memasuki ruangan itu. Ternyata ruang ICU di rumah sakit ini berukuran besar dengan sekat-sekat gorden yang bisa dibuka-tutup. Kakekku ada di ujung. Aku bisa melihat tubuhnya yang kurus. Timbangan digital yang ada pada ranjang rumah sakit menunjukkan bobot 40 kilogram. Alat dan selang bantu pernapasan memenuhi sekujur tubuhnya, seperti dibelenggu selang-selang.
Ia terkulai lemah, suster di sampingnya sudah naik ke ranjang, bersiap melakukan RJP, tetapi batal karena keluargaku tak bersedia itu dilakukan. Kami pun memilih untuk menalkin dan membacakan ayat suci Al-Qur’an.
Dokter pun menyodorkan kepada ibuku surat pernyataan persetujuan bahwa jika terjadi henti jantung lagi pada pasien, maka tidak akan dilakukan RJP atau pun penanganan lainnya. Artinya, jika nanti kami mendengar lagi panggilan keluarga pasien, bisa dipastikan kakekku sudah meninggal dunia. Ibuku, aku, dan pamanku pun menandatangani surat tersebut.
Pukul 1 siang, aku izin kepada ibuku untuk pulang. Aku terpaksa kembali ke Solo karena harus menyelesaikan suatu urusan dan berjanji akan segera kembali keesokan paginya. Setiba di rumah, aku tak menaruh banyak barang karena aku tak akan lama di rumah itu, membereskan urusanku, dan segera beristirahat. Pukul 01.35 Jumat dini hari, ibuku bilang lewat WhatsApp.
“Mbah meninggal, Le.”
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Tidak terkejut, tetapi cukup membuatku bergeming beberapa saat.
Selepas subuh, aku langsung bersiap, bergegas kembali ke Jogja pagi harinya menggunakan sepeda motor. Pukul 9 pagi aku sudah sampai di sana. Aku menemui ibuku, tak ada raut sedih di wajahnya.
“Iya, karena kita memang sudah siap juga, Le.” katanya. Aku ber-oh pelan.
Aku pun berpikir. Mungkin RJP dan pemasangan ventilator itu bukanlah keputusan yang sepenuhnya buruk. Berkat itu, kakekku dinyatakan meninggal pada hari Jumat, yang konon adalah hari yang baik untuk orang Islam meninggal.
Warga kampung pun mulai berdatangan hendak menyolati jenazah kakekku. Aku sudah lebih dulu menyolatkannya bersama bapak. Karena ini adalah jenazah laki-laki, maka posisi imam berada di sisi kepala jenazah. Sampai menjelang salat Jumat, aku bersama keluargaku yang lain masih menunggu di depan, menyambut tamu-tamu yang berdatangan. Kakekku baru dikebumikan selepas Jumatan.
Sepulang dari makam, aku membayangkan segalanya yang menyangkut almarhum kakekku. Ia lumayan sering mengomeli cucu-cucunya, terutama aku, hanya karena bermain laptop. Ia mengira bahwa layar laptop sama dengan televisi yang tidak boleh ditonton terlalu dekat dengan mata. Penyakit stroke yang ia derita membuat cara bicaranya saat mengomeliku (tentu saja dengan maksud agar mataku tidak sakit) terdengar seperti kaset rusak.
Ia tidak terima jika aku mengabaikannya (karena aku sudah menjelaskan berkali-kali bedanya layar televisi dan laptop). Padahal sifatnya yang tempramen itu bisa-bisa menurun kepadaku. Seketika aku khawatir terkena hipertensi. Aku meriset bagaimana kehidupan orang umur 78 pada umumnya. Sebab, penyakit stroke itu membuat setengah bagian tubuh kirinya lumpuh. Membuka kelopak mata kiri saja ia bahkan sudah tidak sanggup lagi.
Ibuku bilang kalau kakekku pernah menjadi perokok berat. Saking beratnya, pernah suatu ketika kakekku sampai tak bisa berbicara. Pita suaranya bermasalah. Membayangkannya saja sudah mengerikan sekali.
Ada hal lucu yang pernah dilakukan kakekku. Dulu, di rumah tua itu pernah ada televisi berukuran besar, tetapi umurnya tak lama di rumah itu. Kakekku melihat televisi itu penuh dengan debu dan berinisiatif membersihkannya.
Nasib, ia malah mengelapnya dengan kain basah. Televisi besar itu pun kehilangan fungsinya.
Sebelum menjadi kakek, konon ia amat sayang dengan ayam jagonya. Ya, dia adalah tukang sabung ayam. Saking sayangnya, ia membawa ayam jago itu tidur bersamanya.
Tak lupa juga jika dia pernah mengajariku matematika. Ia mengajariku cara berhitung menggunakan biji jagung. Benar, dia adalah seorang guru PNS. Namun, kepiawaiannya dalam matematika ternyata hanya berhenti di ibuku. Sebaliknya, aku tak suka dengan matematika. Aku malas berhitung-hitungan angka (meski itu sejatinya sangatlah penting).
Belakangan aku malah sempat memandang keahlian ilmu eksak seperti itu cenderung membatasi pikiran dari berbagai kemungkinan, biner, bahkan picik. Iya, itu memang terlalu berlebihan. Sungguh keterlaluan memandang seseorang dengan stereotipe yang terlalu dangkal. Tapi, setidaknya, itulah yang mungkin pernah ada di benak bocah soshum (baca: sosial-humaniora).
Tenang, kabar baiknya, aku sudah bertobat. Bagaimanapun, soshum dan saintek (baca: sains-teknologi) hanyalah genre ilmu yang tak perlu dibentur-benturkan.
Kini, kakek, bapak, sekaligus guru itu telah pergi untuk selamanya. Kematiannya mengingatkanku agar aku tak mudah melepas amarah, serta menjaga diri baik dari segi fisik maupun mental agar di usia senja nanti, aku bisa mati tanpa harus bersakit-sakit parah lebih dulu.
메타데이터
- post_id
- a1bfd97676e0
- slug
- menunda-kematian-kakek-a1bfd97676e0
- url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/menunda-kematian-kakek-a1bfd97676e0
- canonical_url
- https://medium.com/ruang-kontemplasi/menunda-kematian-kakek-a1bfd97676e0
- author_url
- https://medium.com/@hanabadie
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16