← Back to list

Merdeka Bicara, Asal Ga Bikin Murka

Tentang Suara, Kuasa, dan Nomor Asing yang Tiba-Tiba Menelepon

Brigita Blessty in Komunitas Blogger M · 2026-08-17 08:17 · 50 claps · 3.9 min read paywalled
#komunitas-blogger-medium #bahasa-indonesia #indonesia #kemerdekaan #nasionalisme
Open on Medium ↗

Merdeka Bicara, Asal Ga Bikin Murka

Tentang Suara, Kuasa, dan Nomor Asing yang Tiba-Tiba Menelepon

ChatGPT Image dibuat oleh Blessty

ChatGPT Image dibuat oleh Blessty

Beberapa malam lalu teman saya yang sudah menetap di Jerman mengirim WhatsApp. Kami teman gosip. Kalau dia tiba-tiba chat, biasanya memang ada yang mau digosipkan. Soal kehidupan, soal kenyataan yang makin aneh, atau hal-hal yang kalau dibicarakan terlalu serius malah bikin kami tambah stres. Tapi kali ini beda. “Bless, gue baru buka medsos lagi. Anjir langsung stress gue lihat kondisi Indonesia sekarang. Setelah sekian lama ga memaki dan misuh, gegara buka medsos misuh lagi gua.” Saya membaca pesannya sambil sedikit tertawa. Bukan karena lucu. Tapi karena saya yang tinggal di sini, setiap hari, setiap macet, setiap harga naik, sudah lama berhenti kaget. Dan mungkin ada satu perbedaan penting antara dia dan saya: dia bisa misuh. Saya harus berpikir dulu.

Mungkin itu karena ada perbedaan sederhana antara orang yang melihat Indonesia dari luar dan orang yang hidup di dalamnya. Yang di luar masih bisa kaget. Yang di dalam mulai menghitung. Apa yang saya tulis? Siapa yang akan membaca? Siapa yang akan tersinggung? Siapa yang akan menelepon? Dan pertanyaan paling menyebalkan: setelah saya bicara, apa yang akan terjadi pada saya?

**Non-member dan mau baca GRATIS? Klik link ini yaa…**

Nah, di titik ini Albert Camus, dalam The Myth of Sisyphus (1942), tiba-tiba nongol. Maaf ya, Camus. Saya sedang tidak berniat mengadakan seminar filsafat. Tapi kalau bicara soal hidup yang absurd, memang susah menghindari kamyuu, Camus. Saya teringat dia ketika melihat betapa hati-hatinya orang Indonesia berbicara tentang negaranya sendiri. Bukan karena kita tidak punya pendapat. Justru karena kita punya. Hanya saja, sebelum pendapat itu keluar dari mulut atau masuk ke media sosial, kepala sudah lebih dulu menjalankan simulasi risiko.

Pendapat yang tidak pernah diucapkan memang aman. Tidak ada yang tersinggung. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang menelepon. Tidak ada yang mencari tahu. Masalahnya, pendapat yang terus disimpan juga tidak pernah sampai kepada orang yang seharusnya mendengarnya. Lama-lama kita belajar melakukan sensor sebelum siapa pun meminta kita melakukannya. Kalimat dihapus sebelum diposting. Kritik disimpan di draf. Nama pejabat diganti menjadi inisial. Bahkan sebelum ada orang yang menyuruh kita diam, kepala kita sudah lebih dulu berkata, “Jangan. Cari aman.” Di situlah self-censorship bekerja. Ia tidak selalu datang sebagai larangan. Kadang ia datang sebagai kebiasaan menghitung risiko.

Ada satu konsekuensi yang paling mudah membuat orang berpikir dua kali: pekerjaan. Kehilangan pekerjaan bukan perkara sederhana ketika uang sekolah tetap harus dibayar, tagihan tetap datang, dan pasar kerja tidak sedang ramah. Jadi ketika seseorang bertanya, “Kenapa tidak bicara saja?”, jawabannya kadang sederhana: karena orang juga punya dapur untuk dijaga.

Di tengah semua itu, kita masih diminta untuk bersuara. Silakan kritik. Silakan berpendapat. Silakan berbeda. Tentu saja. Asalkan jangan terlalu berbeda. Jangan terlalu keras. Jangan menyebut nama. Jangan membuat orang berkuasa merasa tidak nyaman. Kita menyebutnya kebebasan berpendapat. Kadang rasanya seperti kebebasan memilih ukuran borgol.

Saya tahu ini terdengar sinis. Karena memang sinis. Saya sendiri pernah belajar bahwa suara di media sosial tidak selalu berhenti di media sosial. Foto saya pernah digunakan orang lain. Nama saya dipakai dengan nomor yang bukan milik saya. Lalu orang itu menghubungi mertua saya. Tiba-tiba sesuatu yang awalnya hanya sebuah unggahan bisa merembet ke keluarga. Sejak saat itu, saya belajar bahwa konsekuensi bicara tidak selalu datang dalam bentuk komentar marah atau akun anonim yang memaki. Kadang ia datang lewat pintu yang sama sekali tidak kita duga.

Teman saya di Jerman kemudian berkata, “Ih, gila ya, masih mau maju nyalon lagi loh dia di 2029.” Dia bisa mengatakannya sambil santai. Saya membalas dengan optimisme yang saya kumpulkan dari cadangan paling dalam: “Semoga masyarakat lebih kuat melawan, sehingga dia dan titisan Mul tidak bisa lagi duduk di kursi nomor 1 dan 2.” Saya mengetiknya sambil menghitung banyak hal. Bukan karena saya tidak percaya pada demokrasi. Justru karena saya masih percaya. Saya hanya tahu bahwa hidup di dalam sebuah sistem membuat setiap kalimat punya biaya yang berbeda.

Demokrasi yang sehat seharusnya membuat orang merasa aman untuk tidak setuju. Kalau untuk mengatakan “saya tidak setuju” saja seseorang harus menghitung risiko terhadap pekerjaan, keluarga, atau keselamatannya, masalahnya bukan lagi sekadar keberanian individu. Kita sedang berbicara tentang ruang publik yang membuat orang belajar menyensor dirinya sendiri.

Dan ini yang membuat saya prihatin. Kadang tidak ada siapa-siapa yang menyuruh kita menghapus kalimat itu. Kita sendiri yang menghapusnya. Kita sendiri yang mengganti nama. Kita sendiri yang memasukkan kritik ke folder draf. Kita sendiri yang akhirnya bertanya, “Aman enggak kalau saya ngomong begini?” Sensor paling efisien memang tidak perlu datang membawa gunting. Cukup membuat kita membawa gunting sendiri.

Saya juga tahu tidak semua ketakutan berasal dari pemerintah. Ada atasan. Ada perusahaan. Ada keluarga. Ada massa di media sosial. Ada orang asing yang tiba-tiba merasa punya hak untuk mengatur hidup kita. Justru karena sumber ketakutan itu banyak, kita membutuhkan ruang publik yang tidak menambah ketakutan baru. Negara seharusnya menjadi salah satu tempat paling aman untuk mengatakan, “Ini tidak benar.”

Teman saya di Jerman bisa membuka media sosial lalu misuh. Saya ingin suatu hari bisa melakukan hal yang sama: membuka berita, marah kalau memang perlu, tertawa kalau memang lucu, mengkritik kalau memang salah, lalu menutup ponsel tanpa sibuk memeriksa apakah ada nomor asing yang menelepon.

Mungkin itu permintaan yang sederhana. Tapi kalau kebebasan berbicara mulai terasa seperti kemewahan, berarti ada yang salah dengan ruang publik kita. Saya masih ingin percaya kita belum sampai sejauh itu.

Saya tidak belajar untuk diam. Saya belajar memilih kapan harus bicara, kepada siapa, dan bagaimana mengemasnya supaya yang saya katakan tetap sampai tanpa kehilangan giginya. Saya pernah belajar dengan cara yang tidak menyenangkan bahwa kata-kata, foto, dan nama kita bisa dipakai orang lain lalu merembet ke keluarga. Jadi sekarang saya berpikir dua kali sebelum menekan tombol send.

Saya tidak kehilangan suara. Saya cuma belajar memegangnya lebih hati-hati.

Ternyata kedewasaan kadang datang dalam bentuk yang sangat tidak puitis: trauma buka WhatsApp.


메타데이터
post_id
a1f51575c4db
slug
merdeka-bicara-asal-ga-bikin-murka-a1f51575c4db
url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/merdeka-bicara-asal-ga-bikin-murka-a1f51575c4db
canonical_url
https://medium.com/komunitas-blogger-m/merdeka-bicara-asal-ga-bikin-murka-a1f51575c4db
author_url
https://medium.com/@brigitablessty
status
ok
fetched_at
2026-08-17 21:28:55